
"Iya, gue memang belum mencintai dia. Jujur Vito, gue memang masihmencintai lo. Bahkan rasa cinta gue ke lo tidak berkurang sedikit pun setelah apa yang sudah lo lakuin ke gue. Tapi gue nggak bisa terima lo Vito. Sudah cukup luka yang lo berikan ke gue. Gue nggak mau jatuh ke lubang yang sama dengan orang yang sama pula. Jadi maaf Vito, hentikan semua ini. Sampai kapan pun gue nggak akan bisa milih lo." Ucap Juli.
Juli menarik tangannya dari genggaman tangan Vito. Dia berjalan kembali ke tempat rombongan. Di perjalanan hati Juli sangat terasa sakit. Bahkan dia sampai memukul mukul dadanya karena sesak.
"Gue kenapa sih ini?" Gumannya. Tanpa ia sadari airmatanya sudah jatuh membasahi pipi gembulnya. Juli berpegang pada pohon yang ada di sampingnya dengan terus memukuli dadanya.
Entah sejak kapan Rian mengikutinya. Namun melihat Juli yang menangis seperti itu, membuatnya terasa sakit pula. Dia menghampiri Juli lalu kenarik tangan Juli hingga tubuh Juli berada di dalam pelukannya. Juli mencium parfum yang familiar untuknya. Dia mendongakkan kepalanya dan melihat Rian yang menatap lurus ke depan tanpa mau menatapnya.
Juli mempererat pelukannya pada Rian. Dia menangis dalam dekapan Rian hingga sesegukan. "Maafin gue Yan, maafin gue" Ucapnya lirih.
"Gue tau kalau lo pasti mendengar semuanya. Lo pasti dengar apa yang gue ucapkan tadi. Tapi memang itu lah yang gue rasakan. Gue belum mampu membalas perasaan lo Rian. Bahkan gue semakin mencintai dia. Maafin gue" Ucap Juli menangis.
Hamcur. Runtuh. Terbakar. Itu semua yang saat ini Rianrasakan. Hancur sudah hatinya mendengar ucapan Juli. Runtuh sudah dinding pertahanannya untuk terus egois pada Juli. Terbakar sudah semua yang ada dalam dirinya.
Cemburu, marah, tentu saja ia rasakan. Bahkan rasa bencinya pada Vito semakin besar. Ingin sekali ia menghajar Vito hingga mati. Namun ia sadar. Jika ia melakukan itu, maka sama saja dia menyakiti Juli.
"Maaf Juli, untuk kali ini gue akan lebih egois. Karena gue tidak ingin melepaskan lo. Bahkan gue akan lebih egois dari sebelumnya" Gumannya dalam hati.
Cukup lama Juli menangis dalam pelukan Rian. Saat Juli sudah mulai tenang, Rian menggandeng tangan Juli menuju tempat perkemahan. Dia membawa Juli ke kemah kelompok Juli. Siapa lagi kalau bukan Kila dan Cia tentunya.
Saat sampai di depan kemah kelompok Juli, Rian melepaskan tangannya dari lengan Juli. Dia bermaksud pergi namun tangannya di cekal oleh Juli.
"Lo pasti marah kan sama gue?" Tanya Juli.
Mendengar suara Juli yang parau, membuat Rian menghela nafas. Dia berbalik menatap Juli dengan senyumannya yang menawan. Dia mengusap kepala samping Juli dengan lembut. Dengan ibu jarinya yang mengusap pipi Juli.
"Lo istirahat gih, lo pasti capek kan" Ucap Rian lembut.
Rian melepaskan tangannya lalu berbalik kembali. Dengan berbalik badanya, senyuman tadi menghilang seketika. Ia kembali memperlihatkan wajah Devilnya.
"Apa lo nggak capek memperlihatkan senyuman palsu lo" Teriak Juli ketika Rian sudah sedikit jauh dari tendanya.
Cia dan Kila yang mendengar suara Juli pun segera keluar dari tenda. Mereka melihat wajah Juli yang sehabis menangis dan mereka pun melihat Rian yang berjalan menjauh tanpa menghiraukan ucapan Juli.
Kila menepuk bahu Juli. Juli menatap Kila dengan air matanya yang kembali jatuh. Kila membawa Juli ke dalam pelukannya. Di sana Juli kembali menangis. Hati dan pikirannya saat ini tengah kacau. Dia butuh sandaran untuk membagi masalahnya dan itu bisa ia bagi dengan kedua sahabatnya itu. Cia pun turut sedih dengan apa yang tengah Juli rasakan saat ini. Namun ia tidak tau harus melakukan apa, karena perasaan tidak bisadi paksa. Dia hanya bisa menguatkan Juli dengan terus berada di sisi Juli.
***
Malam harinya.
Saat ini tengah di adakan api unggung untuk mempererat persaudaraan satu sama lain. Juli dengan wajah sendunya tengah duduk di apit oleh Ocha dan Kila. Kila juga di dampingi Gilang sang suami tang terus menggenggamerat tangannya.
"Juli kenapa?" Tanya Gilang.
"Biasa, lagi ada masalah sama Rian" Jawab Kila berbisik.
"Yah, padahal gue baru juga senang melihat Juli sam Rian yang bucin. Tapi sekarang malah pada berantem" Ucap Gilang.
"Memangnya kenapa?" Tanya Kila penasaran.
"Selama gue kenal sama Rian, beberapa bulan terakhir adalah perubahan yang sangat baik untuk Rian. Dia jarang kena kasus bahkan dia masuk sekolah setiap hari." Ucap Gilang.
"Memangnya sebelum sebelumnya dia jarang masuk?" Tanya Kila penasaran.
"Saat Rian baru saja ikut MOS saja, kakak kakak OSIS sudah pada segan sama dia. Karena mereka takut dengan tatapan elang dari Rian. Rian bahkan berani melawan ketua OSIS jaman dulu" Imbuhnya.
Kila menoleh ke arah Juli. Juli tampak menatap lurus ke depan tanpa berkedip sesikitpun. Akhirnya Kila pun mengikuti pandangan mata Juli. Kila tersenyum kala tau apa yang saat ini Juli lihat. Segerombolan anak anak Death Devil yang tengah bersendau gurau dengan senyuman Rian yang tampak tampan.
"Kalau lo rindu samperin, jangan cuma lo lihatin doang. Kalau lo nggak maju, cowok lo bakal di gebet sama cewek lain. Walaupun gue tau lo belum cinta sama cowok lo itu. Tapi lo sayang sama dia. Perjuangkan dong, masak gitu doang lo lemes sih" Kompor Kila.
Mendengar ucapan Kila, Juli seketika bangkit dari duduknya. Dia terus menatap ke arah Rian yang masih tertawa tanpa beban dengan teman temannya. Juli berjalan ke arah gerombolan Death Devil lalu mengambil alih gitar yang di pegang oleh Ical.
"Woy, Rianoval. Gue mau nyanyi dan ini lagu buat lo" Ucap Juli lantang.
Mendengar hal itu, Ical segera mengambilkan kursi untuk Juli duduk. Juli duduk di kursi yang di ambilkan oleh Ical. Dia terus menatap ke arah Rian yang saat ini juga tengah menatap dirinya.
"Ini buat lo Rianoval. Maaf" Ucapnya lirih.
lagu 'Maaf' dari Jikustik:
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏
Selamat menunaikan ibadah Puasa
MARHABAN YA RAMADHAN
1444 H / 2023 M
Mohon Maaf Lahir Batin 🙏