It'S Me Rianoval

It'S Me Rianoval
Eps 45



Tanpa berbicara lagi, Rian berjalan menuju ke tangga. Dia terus berjalan menuju pintu keluar kafe.


"Rian lo mau ngapain sih?" Tanya Key.


"Mau hajar selingkuhan lo" Jawab Rian tanpa menatap Key.


"Emangnya siapa selingkuhan gue?" Tanya Key bingung.


Rian dan Key saat ini sudah sampai di luar kafe. Rian menatap Kennet yang sedang duduk di jok motornya dengan mebghisap rokok yang ada di tangannya. Kennet yang baru sadar dengan kedatangan Rian, segera membuang rokoknya. Dia menghampiri Rian dan Key.


"Lo mau ajak Key ke mana?" Tanya Rian dingin. Rian memasukkan kedua tanganya ke dalam saku celana jinsnya. Dia menatap Kennet penuh dengan keangkuhannya.


"Rencananya sih mau camp dulu bang, habis itu baru gue anterin dia pulang" Jawab Kennet.


"Bilang sama Ikbal. Mulai sekarang Key Lanakila resmi keluar dari Death Devil" Ucap Rian tegas.


Kennet dan Key sama sama terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Rian. Belum sehari mereka jadian, namun Rian sudah mengatur atur kehidupan Key. Dan hal itu membuat Key marah. Key menarik lengan baju Rian agar Rian menghadap ke arahnya.


"Lo apa apaan sih Yan? Gue memang pacar lo dan gue memang akui itu. Tapi lo nggak bisa dong atur atur kehidupan gue. Ingan ya Yan, lo itu cuma pacar nggak lebih. Jadi bukan kewajiban gue buat nurutin ucapan lo yang nggak masuk akal itu" Ucap Key marah.


"Ayo Ken, kita pergi" Ucap Key lagi dengan menarik tangan Kennet.


"Berani lo naik ke motor itu, gue pastikan kalau besuk lo nggak akan lagi melihat tuh motor" Ancam Rian.


Key menghela nafas panjang. Dia berbalik dan menatap tajam ke arah Rian. Rian tetap cool dengan kesombongannya. Dia hanya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Mau lo apa sekarang?" Tanya Key yang masih menahan amarahnya.


"Pulang sama gue" Jawab Rian singkat.


"Sudah lah Key, lo pulang saja sama bang Rian. Soal Death Devil biar nanti gue minta bantuan Ikbal, biar bantu lo bicara sama bang Rian" Ucap Kennet.


"Ok, gue pulang sama lo" Jawab Key menyerah. Rian tersenyum menyeringai karena dia sudah berhasil membuat Key menyerah.


"Gue pergi dulu bang" Pamit Kennet yang di jawab oleh anggukan dari Rian.


Key berdiri di hadapan Rian, dia mendongakkan kepalanya karena tubuhnya yang mungil membuatnya susah menatap wajah Rian.


"Lo kenapa?" Tanya Rian heran karena melihat Key yang menatapnya.


"Lo bisa nggak sih nggak usah ganteng banget begitu? Bikin nyamuk pada iri tau nggak" Ucap Key. Mendengar ucapan Key barusan, membuat Rian tersenyum. Dia bahkan sampai menundukkan kepalanya serta menutup mulutnya saat tersipu malu.


"Ehem, ayo pulang. Gue antar lo sekarang" Ucap Rian melangkah pergi lebih dulu ke arah mobilnya.


"Cih, malu kok malah pergi" Ucap Key berjalan mengekor di belakang Rian.


Tak lama Key dan Rian sudah sampai di kontrakan Key. Key dan Rian turun bersamaan dari mobil. Rian menghampiri Key dan berdiri di depan Key yang memasukkan tangannya ke dalam saku jaket kulitnya.


"Langsung istirahat, nggak usah kabur ke camp atau lo akan tau hukuman yang gue kasih ke lo jika lo berani melanggar" Ucap Rian.


"Iya, khawatir banget sih lo. Lagian nih ya, gue juga sudah capek. Gue mau tidur tanpa ada ganguan" Ucap Key.


"Bagus. Ya sudah, gue langsung balik" Ucap Rian berpamitan. Dia mengusap pucuk kepala Key dengan senyumannya yang tampan.


"Aduh" Ucap Key yang membuat Rian terkejut.


"Lo kenapa? Lo sakit?" Tanya Rian khawatir.


"Senyuman lo Rian, menusuk tepat di jantung gue" Jawab Key memegangi dadanya.


"Nggak lucu" Ucap Rian singkat. Sedangkan Key tentu saja dia tertawa lepas karena sudah berhasil membuat Rian marah.


Cup


Rian mencium bibir Key singkat dan hal itu mampu membuat Key seketika menghentikan tawanya. Dia terbelalak menatap Rian dengan memegangi bibirnya. Dia masoh saja terpaku menatap pada Rian dengan tatapan tak percaya. Rian yang melihat pun terkekeh pelan.


"Sudah sana masuk" Ucap Rian membalikkan tubuh Key dan sedikit mendorongnya.


"Ciuman pertama gue. RIAAAN LO AMBIL CIUMAN PERTAMA GUE TANPA IJIN." Teriak Key membalikkan tubuhnya. Namun Rian sudah berlari masuk ke dalam mobilnya.


🥀🥀🥀


Rian baru saja masuk ke dalam apartemennya. Dia terus tersenyum ketika mengingat wajah terkejut Key tadi saat ia mencuri ciuman pertamanya.


"Dia semakin menggemaskan" Gumannya.


Namun saat masuk ke dalam apartement, senyuman Rian seketika menghilang kala melihat lukisan diri Juli yang cukup besar di dinding kamarnya.


Entah kenapa saat melihat wajah Juli di lukisan itu, Rian melihat raut wajah sedih dan terluka. Padahal lukisan itu terlihat wajah cantik Juli yang tengah tersenyum ceria dan tampak sangat cantik.


"Kenapa kamu terlihat sedih Juli? Kenapa..... kenapa kamu kenatap ku sendu?" Ucap Rian berjalan perlahan ke arah lukisan.


"Penghianat" Ucap Juli dengan derai air mata yang kini terlihat pada lukisan itu.


"Tidak Juli, aku tidak pernah menghianati kamu. Aku tidak pernah melakukan itu sayang. Tolong jangan menangis, aku....aku tidak menghianati kamu" Ucap Rian lirih.


"Penghianat penghianat penghianat " Ucap Juli berulang kali hingga membuat Rian tersiksa dengan suara suara itu. Dia menutup kedua telingannya dengan kedua tangannya. Dia terduduk di lantai dengan terus berguman bahwa dia tidak menghianati Juli.


Namun semua itu hanya lah khayalan Rian. Jika orang biasa yang melihat, lukisan Juli masih sama. Dalam lukisan itu, Juli masih tersenyum cantik.


Sejak Juli meninggal dunia, Rian sering mengalami halusinasi. Bahkan dia sering bermimpi buruk setiap dia dekat dengan wanita lain.


Karena hal itu pula Rian lebih memilih menyendiri. Dia tidak ingin membuka hatinya lagi karena dia takut dan merasa bersalah pada Juli.


🥀🥀🥀


Hari berikutnya.


Rian berada di kafe bersama Ikbal. Mereka duduk berhadapan namun mereka sama sama tidak membuka suara untuk memulai bicara.


"Rian lo kenapa? Lo sakit?" Tanya Key khawatir saat dia melihat wajah Rian yang pucat. Sejak di datang ke kafe untuk bekerja, dia tidak melihat Rian. Namun entah sejak kapan Rian dan Ikbalsudahdi kafe. Key tidak begitu memperhatikan karena keadaan kafe yang cukup ramai.


Rian tidak menjawab ucapan Key. Bahkan Ikbal sampai menyerngitkan dahinya saat melihat Rian yang tidak bereaksi. Key semakin khawatir, dia mencoba memegang dahi Rian namun seketika itu juga,Rian menepis tangan Key.


💥💥💥


Hai hai hai...


Gimana seru nggak nih ceritanya.


Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.


Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁


👍 Like


♥️ Favorit


💬 Komen


⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.


Selamat membaca ya kak


Terima kasih banyak


See you next part


😊😊😊🙏🙏🙏🙏


Selamat menunaikan ibadah Puasa


MARHABAN YA RAMADHAN


1444 H / 2023 M


Mohon Maaf Lahir Batin 🙏