
"Ini cerita asli dari darkor lho pak"
"Jangan jadiin sinotron azab dong pak"
Banyak anak anak yang bersorak pada guru olah raga karena telah mengnggu tontonan mereka.
"Ini kapan mau main kalau kalian pacaran terus? Apa nggak jadi saja, biar traktiran bapaj juga nggak jadi?" Ancam guru olah raga.
"Yah jangan dong pak" Ucap Juli. "Sudah sana balik duduk, gue mau main nih" Ucap Juli mendorong tubuh kekar Rian ke pinggir lapangan.
"Cium dulu dong" Ucap Rian.
"Nih cium" Ucap Juli memperlihatkan bogemannya ke wajah Rian. Rian segera melangkah mundur dan hal itu membuat semua yang melihat tertawa keras.
Juli berlari kembali ke tempatnya. Dia bersiap untuk memulia pertandingan. Guru olah raga pun mulai meniup peluitnya. Kila yang berada di belakang mulai melakukan services ke arah lawan.
Nana mundur untuk menerima bola dari Kila. Cia berlari ke tengah untuk mengoper bola ke arah Juli. Juli melompat dan mulai melakukan smash kencang ke arah kelompok Nana.
Kelompok Nana yang tidak siap pun kelimpungan dan akhirnya bola jatuh tepat di tengah lapangan lawan.
Priiit
"Tim Juli, masuk" Ucap guru olah raga menandakan tim Juli mendapat skor.
"Ayang Juli cemungut" Teriak Rian antusias.
"Siap" Jawab Juli dari tengah lapangan.
Kali ini tim Nana yang melakukan services. Karena kurang kuat pukulan dari tim Nana, Kila melompat dan langsung smash ke arah Nana. Nana yang tidak bisa menerima pun jatuh tersungkur .
"Nana, sorry. Lo nggak papa kan?" Tanya Kila merasa bersalah. Dia menerobos net lalu menghampiri Nana. Dia membantu Nana bangkit.
"Nggak papa kok Kil, santai saja" Jawab Nana.
"Lo serius?" Tanya Kila.
"Iya, sudah main lagi yuk" Ucap Nana menepuk bahu Kila. Kila menagngguk lalu kembalu ke tempatnya.
Akhirnya mereka pun telah selesai melakukan pertandingan voli itu. Dnegan hasil kelompok Juli yang menang. Seperti janjinya, saat ini guru olah raga tengah berada di kantin bersama kelompok Juli.
"Mang, mie ayam 2 es tehnya 2" Teriak Kila.
"Mang bakso kosongan sama mi ayam satu satu. Terus es jeruknya 2" Teriak Cia.
"Gue sama kayak Cia mang" Teriak Juli.
"Heh, kalian mau bikin bapak bangkrut ya" Ucap guru olah raga terkejut dengan porsi makan mereka.
"Yah bapak, ini kan cuma sedikit pak. Lagian ini nggak ada setengah porsi kita makan kok" Ucap Juli.
"Nih neng esnya dulu ya" Ucap penjual. "Pak, ini mah makan mereka kalau lagi malas makan. Kalau lagi kelaparan bisa sampai 3 mangkok perorang pak" Ucap penjual yang membuat mata guru olah raga terbelalak.
"Badan kecil kecil makannya sebanyak gajah" Ucap guru olah raga.
"Namanya juga masa pertumbuhan pak jadi wajar dong" Ucap Cia.
"Ya sudah lah, lalian makan yang kenyang. Bapak akan bayar dulu soalnya akan ada rapat setelah ini" Ucap guru olah raga.
"Makasih pak" Ucap mereka bertiga bersamaan.
"Iya, tapi nggak lagi lagi deh bapak teraktir kalian" Ucap guru olah raga yang membuat mereka tertawa keras.
Tak lama mereka sudah selesai makan. Mereka memilih kembali ke kelas untuk istirahat karena pelajaran kali ini kosong. Seperti yang di ucapkan guru olah raga, kali ini guru guru tengah rapat.
"Juli" Panggil seorang cowok yang tengah berlari ke arah Juli dan kedua sahabatnya.
"Ada apa?" Tanya Juli santai.
"Sekolah....hah....sekolah kita...." Ucap pria itu yang ngos ngosan karena lari dari depan gerbang sampai ke lantai 2.
"Kalau ngomong yang bener dong. Sekolah kita kenapa?" Tanya Kila yang kini bicara.
"Sekolah kita di serang. Bang Rian dan yang lain sudah di depan gerbang. Tapi kita kurang orang. Mereka bawa banyak anak buah" Ucap pria itu.
"Halah sudah lah, yang penting keamaan sekola dulu. Kita ikut turun juga" Ucap Juli yang di angguki oleh Kila dan Cia.
Vito yang mendengar pembicaraan mereka pun segera menghampiri Juli. Dia mencekal tangan Juli saat Juli akan berjalan ke luar sekolah.
"Lo apaan sih Vit, lepasin gue" Ucap Juli.
"Lo nggak boleh ikut turun" Ucap Vito dingin.
"Apa perduli lo" Ucap Juli mendorong tubuh Vito.
Juli akan berjalan namun ia kembali berbalik ke arah Vito. "Pinjam" Ucap Juli yang menarik dasi Vito lalu mengikatkan dasi milim Vito ke tangannya.
"Heh kok lo biarin mereka ikut turun sih? Kalau mereka kena pukul gimana?" Ucap Celo yang membuyarkan lamunan Vito.
"Oh iya, ayo kita ikut turun. Prioritas kita ketiga cewek itu" Ucap Vito yang berlari turun bersama dengan Celo dan Bayu.
Saat Juli sampai di gerbang, semua sudah mulai baku hantam. Dia terkejut ketika melihat Rian yang melawan 3 orang sekaligus.
"Kalian berdua bantu yang lain. Gue bantu Rian" Ucap Juli.
"Ok, lo hati hati" Ucap Kila.
Juli hanya menagngguk untuk menjawab Kila. Dia segera berlari ke arah Rian lalu memukul salah satu lawan Rian hingga terjatuh ke jalan.
"Yang, lo ngapain di sini? Ini berbahaya" Ucap Rian terkejut.
"Udah lah, habisi mereka dulu nanti baru bicara lagi. Yang terpenting anak anak di dalam sekolah dulu biar aman dari sebuan mereka" Ucap Juli dengan terus melawan musuh mereka.
"Juli, dia sekolah di sini?" Guman Dimas. Dimas berlari ke arah Juli lalu menarik Juli keluar dari area pertaruangan.
"Dimas. Jadi lo yang serang sekolaj gue?" Tanya Juli terkejut.
"Lo ngapain ikut turun? Lo mau babak belur?" Ucap Dimas marah.
"Kalau emang lo nggak mau gue babak belur tarik anak buah lo. Kalau enggak, gue yang akan buat mereka babak belur" Ucap Juli marah.
"Ck, sialan. Ok gue akan tarik anak buah gue" Ucap Dimas berjalan ke arah area pertarungan lagi.
"Mundur" Teriak Dimas yang membuat semua menghentikan pertarungan. Anak buah Dimas heran karena tiba tiba saja Dimas menghantikan pertaruangan.
"Gue akan hubungi lo nanti" Ucap Dimas menunjuk ke arah Juli. "Ayo balik" Ucap Dimas yang menarik anak buahnya.
Semua mata kinu tertuju pada Juli yang lebih memilih berjalan ke arah Rian. Dia mengusap lembut sudut bibir Rian yang mengeluarkan darah.
"Lo kenal sama Dimas?" Tanya Rian dingin.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏