
5 bulan kemudian di negara A
Kehamilan ayla sudah menginjak 7 bulan, perutnya sudah membesar dan orang-orang di sekitar ayla mencemoohnya, mereka semua berpikir ayla hamil di luar nikah, desas desus buruk tentang ayla yang jadi wanita penghibur, ada juga yang mengatakan dia jadi simpanan dan hal buruk lainnya menyebar di kalangan masyarakat, namun ayla tidak pernah memperdulikan mereka.
Pagi itu ayla berjalan-jalan di taman tanpa alas kaki seperti biasanya atas saran dari dokter, kebetulan hari itu di taman tengah ada acara dan hampir semua warga berkumpul di sana, semua orang menatap ayla dengan tatapan menghina namun ayla membalasnya dengan tersenyum,
“ aylaaa....” teriak alexa sambil melambaikan kertas di udara dan tersenyum
Alexa berlari menghampiri ayla,
“ ayla kha g masih hidup, lihat buktinya ada di tanganku” ucap alexa dengan nafas yang terengah-engah dan tersenyum
Ayla mengambil lembaran kertas itu dan membacanya, belum selesai ayla membacanya ia sudah merobeknya kemudian melempar potongan-potongan kecil kertas itu ke udara
“ Ayla apa yang kau lakukan” ucap alexa terkejut melihat sikap cuek ayla
“ Aku tahu dia masih hidup alexa, ghaisan tidak akan tiada semudah itu” ucap ayla sambil berjalan dengan memegang perut dan pinggangnya
“ ayla bagaimana kau bisa seyakin itu” tanya alexa sambil berjalan bersama ayla
“ kau akan mengerti jika kau sudah benar-benar jatuh cinta alexa” jawab ayla sambil terus berjalan
Sebuah mobil mewah dan beberapa mobil hitam yang parkir di sebrang taman menyedot perhatian masyarakat, beberapa orang berpakayan rapih keluar dari mobil salah satu dari mereka membukakan pintu mobil mewah itu,
“ Orang kaya memang selalu berlebihan” ucap ayla kemudian berbalik arah
“ ayla lihat” ucap alexa sambil memegang tangan ayla,
Ayla pun berhenti dan kembali berbalik
Ghaisan turun dari mobil dengan gagah, ia merapihkan pakayannya kemudian berjalan mendekati ayla, semua orang memperhatikannya dan bertanya-tanya siapa pria tampan dan kaya itu, ghaisan berdiri di hadapan ayla, dan membuka kaca matanya,
“ apa kabar ayla? “ Tanya ghaisan sambil tersenyum
“ Aku dan putriku baik-baik saja” jawab ayla sambil melipat tangan di dadanya
Ghaishan tersenyum mendengar ucapan ayla, ia mengangkat tangan dan salah satu pengawal mendekat dengan membawa sebuah berkas yang kemudian ia berikan pada ghaisan lalu menjauh dari ghaisan lagi
“ Tanda tangani berkas ini” ucap ghaisan sambil memberikan berkas pada ayla
Ayla mengambil berkas itu kemudian merobeknya, ia melempar sobekan berkas itu ke wajah ghaisan, ghaisan pun tersenyum
“ kenapa ayla, apa kau tidak mau berpisah denganku dan menikah dengan kekasihmu” tanya ghaisan
Alexa pergi menjauh membiarkan ghaisan dan ayla menyelesaikan masalah mereka
“ aku sudah menikahi kekasihku, dia berdiri di hadapanku sekarang, aku tidak membutuhkan surat cerai darimu” ucap ayla dengan tegas
“ Kenapa kau tidak mengerti ayla” ucap ghaisan dengan nada tinggi, ghaisan hendak memegang lengan ayla namun ia mengurungkan niatnya sebelum tangannya menyentuh ayla, ia melihat kedua tangannya kemudian menyilangkan tangan menyembunyikannya di belakang tubuhnya
“ kenapa ghaisan, kenapa kau tidak mau menyentuh istrimu sendiri, hah... Katakan padaku ( ayla melangkah maju ghaisan melangkah mundur) kau menikahiku, setelah kau menghamiliku kau melarikan diri dari tanggung jawabmu”
Ayla bicara sambil terus melangkah ke arah ghaisan dan ghaisan terus melangkah mundur menjaga jarak dari ayla
“ Berhenti ayla, menjauhlah dariku, ayla dengar, demi kebaikanmu dan juga putri kita, tanda tangani surat cerai dan menikahlah dengan nizar” ucap ghaisan sambil terus mundur
Tanpa ghaisan sadari ayla membuat ghaisan berjalan ke sudut taman yang sepi,
“ Jangan sentuh aku ayla, aku sudah mengotori diriku dan melenyapkan banyak orang” ucap ghaisan sambil terpuruk merunduk
“Aku mohon ayla ini demi kebaikan anak kita, aku juga tidak ingin berpisah darimu, tapi aku sudah terlanjur terjerumus ke dalam lumpur hitam, aku tidak mau kau dan anak kita ikut terseret ke dalamnya, ayla aku mohon padamu (menyatukan kedua tangannya di hadapan ayla) tanda tangani surat itu, dan menikahlah dengan nizar, berikan kehidupan yang baik bagi putriku” ucap ghaisan
“Hentikan sandiwaramu itu ghaisan, semua itu hanya alasan” ucap ayla dengan tegas
“Jangan pernah berpikir ini hanya alasan ayla, karena itu akan sangat menyakitkan”
“Kau adalah alasanku untuk tetap tinggal ghaisan”
“Jika alasan itu memaksamu untuk pergi, haruskah kau tetap bertahan ayla? “
“Mungkin iya, aku harus bertahan ghaisan, terlebih setelah setitik keraguan ku itu kini berubah menjadi keyakinan untuk mendapatkamu yang telah lama ku lupakan”
“Bagaimana jika kau sampai terluka?”
“ aku akan tetap memilih bersamamu, karna semuanya tidak ada bedanya, dari pada terluka dengan yang lain aku lebih memilih terluka bersamamu ghaisan, karna aku sangat mencintaimu”
Ayla memeluk ghaisan yang masih dalam posisi berlutut kepadanya, ghaisan menyeka air matanya dan ia pun menggendong ayla ke mobil, meninggalkan semua orang dengan pertanyaan di benak mereka, ghaisan membawa ayla ke rumahnya, ia kembali menggendong ayla sampai ke atas tempat tidur dan membaringkannya, ayla bangun dan duduk di hadapan ghaisan, ia mengalungkan tangannya ke leher ghaisan kemudian mencium bibirnya dengan mesra
“ Cukup ayla, jika di lanjutkan aku tidak akan bisa menahan hasratku” ucap ghaisan dengan lembut
“ Kalau begitu jangan menahannya” ucap ayla kemudian mencium kembali bibir ghaisan
Ghaisan menjauhkan diri
“ Ayla kendalikan dirimu, kau sedang hamil apa kau lupa”
“Aku tidak melupakannya ghaisan, jangan khawatir dokter juga menyarankannya” ucap ayla sambil kembali mencium ghaisan
Ghaisan yang awalnya menahan diri karna takut pun mulai liar, dan sejak saat itu, walau badai menghadang, walau angin topan menerpa, ayla dan ghaisan tetap bahagia dengan cinta mereka hingga 6thn kemudian....
“ Ghaisan hentikan aku sedang hamil tua apa kau lupa”
“Aku tidak lupa sayang dokter bilang aku harus sering menyentuhmu”
“ Tapi apa perlu sampai harus setiap malam”
“ Jika pisikmu kuat aku akan melakukannya setiap jam” ucap ghaisan sambil tersenyum
“ Ayah, ibu, apa yang tengah kalian lakukan?”
“ Gilana evacskaaa... Harus berapa kali ayah katakan jangan masuk kamar ayah dan ibu tanpa mengetuk pintu....
The and.