For.get

For.get
GS. Masa lalu Part.10



Aku masuk ke dalam mobil itu lagi dan sopir pun mengantarku kembali ke rumah kakek, setibanya di depan rumah aku melihat kakek di luar rumah tengah berjalan mondar-mandir dengan wajah khawatir, aku turun dari mobil dan kakek yang melihatku langsung mendekatiku dengan cepat


“Ghaisan kau kemana saja?” Tanya kakek sambil memeluku


“ kau baik-baik saja kan” ucap kakek sambil memeriksa keadaanku


“ Ada apa kakek? Kenapa kakek sangat hawatir?” Tanyaku penasaran


“ Apa kau sadar dengan yang kau lakukan, kenapa kau membohongiku? Katakan padaku kau pergi kemana?” Tanya kakek


“ maafkan aku kakek, aku tidak akan mengulanginya, tapi bisakah kakek ikut aku pergi ke suatu tempat?” Tanyaku sambil memasang wajah manis


“ katakan padaku kita akan kemana?” tanya kakek sambil memegang bahuku


“ rahasia..., kakek aku sangat lapar, bisakah kita makan sekarang”


“ Oh jadi cucuku mulai main rahasia-rahasiaan denganku, baiklah,,, ayo kita masuk, makan malam sudah siap, kau pergi dari siang sampai petang tentu saja kau lapar“


Kami pun berjalan masuk rumah sambil mengobrol


“ bagaimana kakek bisa tau aku berbohong”


“ kau bilang kau akan pergi sebentar, jadi saat hari mulai gelap kakek merasa hawatir, jadi kakek meminta orang-orang kita untuk mencarimu, mereka bilang mereka sudah mendatangi semua toko buku tapi belum menemukanmu, karna itu kakek tau kau berbohong”


Kami masuk ke dalam rumah dam berjalan ke ruang makan


“ Katakan pada kakek kau pergi kemana”


“Nanti juga kakek akan tau, karna aku akan membawa kakek ke sana”


Sejenak aku terpaku melihat makanan di meja makan yang terlihat sangat lezat


“ Ghaisan cuci tangan dulu” ucap kakek saat aku hendak mencubit makanan di piring berniat mencicipi


“ baiklah kakek” aku bergegas mencuci tanganku karna sudah tidak sabar untuk makan, setelah tanganku bersih aku duduk di meja makan dan menyantap makanan yang tersedia dengan lahapnya, ternyata bukan hanya tampilannya saja tapi rasanya memang benar-benar enak, setelah menghabiskan setengah piring makan, aku teringat pada fahim, apakah dia baik-baik saja?, apa dia sudah makan?, apakah dia tengah ketakutan?, pertanyaan itu seketika menghilangkan nafsu makanku


“ada apa g?, kau makan dengan lahap beberapa detik lalu, kemana hilangnya nafsu makanmu itu?” tanya kakek


“ Kakek kita pergi sekarang saja, aku tidak bisa menunggu lagi” ucapku


“Astaga.. Cucuku ini tidak sabaran rupanya, baiklah tapi habiskan dulu makananmu” ucap kakek


Aku makan dengan cepat Karna aku merasa khawatir pada Fahim


“Ghaisan makan dengan perlahan, nanti kau tersedak” ucap kakek


Setelah selesai makan malam aku mengajak kakek ke tempat bibi, sejujurnya aku tudak yakin, aku takut ini adalah jebakan dari musuh kami, tapi di sisi lain aku juga tidak punya pilihan, aku meminta supir berhenti di tempat yang sama,


“ Kakek dari sini kita akan berjalan kaki,”


“baiklah cucuku, jika itu yang kau mau” ucap kakek


“Tunggu kakek, kita kesana berdua saja, tolong minta para pengawal untuk menunggu di sini” ucapku saat kakek hendak melangkahkan kakinya


“ Tapi nak, kakek tidak bisa mengambil resiko, kita tidak tau apakah tempat yang akan kita datangi aman atau tidak, karna musuh selalu datang kapan saja dan dimana saja, jika kita harus pergi pengawal juga harus ikut, jika tidak kita pulang saja” ucap kakek


Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa membiarkan kakek pulang, dan ucapan kakek juga benar


“Kakek benar, tapi kakek ada sesuatu yang belum aku katakan pada kakek, sebenarnya, kita pergi untuk menemui seseorang”


“seseorang? Siapa dia?” tanya kakek ingin tau


“Kakek sebenarnya sebelum ayah meninggal ayah berjanji akan mempertemukan kakek dengan orang itu, tapi ayah meninggal sebelum melakukan itu, aku berjanji padanya untuk mempertemukan kakek dengannya, tapi dia memintaku untuk merahasiakan pertemuan ini, jadi bisakah kail ini saja”


“ Baiklah ghai, tapi untuk berjaga-jaga pegang pistol ini dan sembunyikan dalam tubuhmu, aku juga akan membawanya” ucap kakek sambil mengambil pistol dari pengawal, dan akupun menyelipkan pistol itu di pinggangku, terselip di waist band celana


“ Dengarkan aku, berjagalah di sini, kabari aku melalui ponsel jika ada yang gerak-gerik mencurigakan, jika terjadi sesuatu aku akan segera menembakkan pistol ke udara, saat itu kalian harus bergegas, ingatlah dan tetap siaga” ucap kakek memerintahkan pengawalnya


“Dimana kau aku mengajak kakeku?” Teriakku


Wanita itu keluar dari salah satu kamar dan berjalan mendekati kami, kakek terkejut melihat wanita itu hingga seluruh tubuhnya bergetar,


“ Ayah” ucap wanita itu


Aku terkejut saat kakek menampar wanita itu


“ dasar kau anak kurang ajar” ucap kakek sambil menggenggam bahunya dengan kencang


Wanita itu memegang kedua tangan kakek yang tengah menggenggam lengannya


“ maafkan aku ayah” ucapnya sambil menangis


“ Kau masih hidup tapi kau tidak menemui ayahmu, ataupun pulang kerumah, kau malah bersembunyi di tempat ini, kenapa kau menyiksa ayahmu sendiri” ucap Kakek menariknya kedalam pelukannya


“ Maafkan aku ayah” ucap wanita itu


Tangis haru pun pecah diantara kakek dan bibi, saat itu aku baru percaya bahwa wanita itu tidak berbohong padaku, aku baru percaya bahwa dia benar bibiku,


Setelah beberapa lama bibi melepaskan pelukannya dan meminta kakek dan aku duduk, bibi pergi kedapur kemudian kembali dengan membawa teh, kamipun berbincang


“ ceritakan padaku apa yang terjadi padamu bel? “ tanya kakek


“ayah semua yang terjadi padaku itu bukan kecelakaan, tapi itu pembunuhan yang di rencanakan, sampai saat ini aku masih tidak tau siapa pelakunya, hanya kakak yang tau, saat aku sadarkan diri aku sudah ada di sini, kakak mengatakan bahwa aku harus sembunyi untuk beberapa waktu karna seseorang berusaha melenyapkanku, tapi kakak tidak mengatakan siapa orangnya” jawab bibi


Kami berbincang sangat lama hingga tidak sadar waktu berlalu, aku tidak mengerti bibi mengatakan bahwa paman ikram yang ada di balik semua ini, tapi bibi tidak mengatakannya kepada kakek, bibi mengatakan bahwa besok ia akan menikah, dan pergi ke luar negri bersama suaminya, karna itulah dia memintaku untuk membawa kakek menemuinya, kakek meminta pengawalnya untuk pulang karna kami memutuskan untuk menginap malam ini, bibi sudah menyiapkan dua kamar untuk kami, kakek pergi ke kamarnya untuk istirahat, dan aku juga, aku masuk ke kamar dan membaringkan diri di tempat tidur dan berusaha untuk tidur, tapi aku tidak bisa tidur karna terus khawatir pada fahim, aku pergi ke luar kamar dan mengintip ke kamar kakek, aku melihat kakek sudah tertidur pulas, aku pergi dan mengintip ke mamar bibi, tapi bibi tidak ada di dalam kamarnya, aku berpikir kemana bibi pergi, aku mencarinya di dapur dan aku melihatnya tengah mengambil minum


“ Ghai, kau belum tidur?” Tanya bibi


“A..


“Apa kau ingin minum juga” Tanya bibi menyela


“aku..


“atau kau tidak bisa tidur ” tanya bibi menyela


“ghai jawab aku kenapa kau diam saja” ucap bibi lagi


“dari tadi aku mau bicara tapi bibi terus menyela ucapanku, bibi pertama, aku tidak bisa tidur, kedua, aku tidak ingin minum, ketiga, bagaimana aku bisa tidur jika aku merasa khawatir pada fahim, bibi katakan padaku dimana fahim”


“ fahim? Kau tidah usah khawatir padanya, karna dia di jaga dengan baik dan mungkun sekarang dia tengah tidur pulas diatas tempat tidur yang empuk, jika besok dia tidak pulang aku sendiri yang akan pergi dan membawanya kehadapanmu, sekarang pergilah tidur”


Setelah mendengar ucapan bibi aku merasa lebih tenang, aku kembali berjalan ke kamar


“ ghai apapun yang terjadi, lakukanlah apa yang menurutmu benar, jangan pernah takut kehilangan apapun, karna yang menjadi milikmu akan tetap menjadi milikmu” ucap bibi berjalan bersamaku, mengantarku dan membukakan pintu kamar untuku, akupun masuk kedalam kamar


“ Selamat malam ghaisan keponakanku yang tampan” ucap bibi sambil mencubit pipiku


“ Selamat malam juga bibi” ucapku


Aku kembali membaringkan tubuhku diatas tempat tidur, bibi keluar dari kamar dan menutup pintu, akupun menutup mataku


Keesokan harinya...


“ghaisan... Bangunlah cepat apa kau tidak mau menghadiri pernikahanku” terdengar suara bibi membangunkan aku


“bibi biarkan aku tidur 5 menit lagi” ucapku dengan mata yang terpejam


“tidak bisa tampan, cepat bangun atau aku akan membawa si coklat berantena kemari”


“Bibi aku...