For.get

For.get
GS. Masa lalu Part.14



Aku dan tuan aziz kembali ke rumah no 11 dan mengambil jalan ke arah kanan, satu per satu anak buah tuan aziz memberikan laporan bahwa mereka tidak menemukan apapun di sana, entah sudah berapa lama aku dan tuan aziz berjalan, kakiku sudah mulai lelah, kami hanya berjalan, kemudian kami melihat sebuah kebun mangga yang sangat luas di ujung Jalan dan sepertinya ada rumah di sana


“Tuan aziz, lihatlah disana, sepertinya ada rumah kecil, kita belum melihat ke sana, ayo kita lihat “ucap ku sambil berlari,


“tunggu tuan muda,” Ucap tuan aziz sambil berlari mengejarku


“Tuan muda awas...” Ucap tuan aziz lagi sambil menangkap tubuhku yang hampir terjatuh karna tersandung batu


“ wah tuan aziz kau sangat cekatan” ucapku memujinya


“astaga... Untung kau baik-baik saja, dan ini siapa yang meletakan batu sebesar ini di sini” Ucapnya mengeluh pada keadaan,


Padahal batunya tidak terlalu besar, hanya sebesar bata merah yang sering digunakan untuk membuat rumah, aku juga tidak tau kenapa ada batu tertancap di tanah seperti batu nisan


“Sepertinya di sana masih ada penunggunya, bagus kita bisa bertanya kepada mereka, di mana rumah nomor 12 “ ucapku


Tuan aziz hanya tersenyum mendengar ucapanku , aku dan tuan aziz mendekati rumah itu, tiba-tiba seorang wanita muncul dari balik pintu


“ apa yang sedang kalian lakukan di depan gubuk bambuku?” tanya wanita itu


“ Maaf kan kami nona, kami disini sedang mencari seseorang” ucap tuan aziz


“ apa kau tinggal di sini, bisakah kau bantu aku mencari rumah no.12 di kawasan sabit ini, aku sudah lelah berputar-putar” ucapku sambil duduk di depan teras rumah bambu itu


“ Ada urusan apa kau mencari rumah no.12?” tanya wanita itu sambil dusuk di sampingku


“ aku mencari dhahir tamam” ucapku


“astaga... Kenapa orang-orang senang sekali berurusan dengan dhahir, Apa kau juga mau menjual anak perempuan padanya?” Ucap wanita itu


“kau mengenal dhahir tamam?” tanyaku dan tuan aziz secara bersamaan


“ Ada apa dengan kalian, tidak perlu terkejut sampai bicara bersamaan seperti itu, ya aku mengenal dia” ucap wanita itu sambil tersenyum


“dhahir adalah penjual wanita, baru-baru ini ada seorang wanita yang meminta bantuanku untuk menemuinya, dia bilang suaminya sedang sekarat dan dia butuh uang cepat, jadi wanita itu terpaksa menjual putrinya” sambungnya lagi


Aku berpikir mungkin wanita yang dia maksud itu adalah viida


“ bisakah kau bantu aku untuk menemuinya” ucapku


“ aku akan membantumu jika kau bisa memberiku alasan yang yang bagus, katakan kenapa kau ingin menemuinya” Ucap wanita itu


“ tuan muda inggin menjual beberapa wanita padanya” ucap tuan aziz


Aku tidak mengerti kenapa tuan aziz berbohong seperti itu


“ baiklah aku akan menghubunginya, aku ambil ponselku dulu di dalam” ucap wanita itu sambil beranjak bangun dari tempat ia duduk, kemudian dia itu pun masuk ke dalam rumahnya,


“Kenapa kau berbohong tuan aziz?” Tanyaku ingin tau


“ tuan muda, kita tidak bisa percaya pada orang sembarang, kita tidak tau dia musuh atau teman” jawab tuan aziz


“ Tidak tuan aziz, berbohong itu bukan hal yang baik, aku akan mengatakan yang sebenarnya saat dia keluar, entah dia akan membantu kita atau melawan kita, aku tidak peduli, tapi aku tidak mau berbohong” ucapku


“ aku suka gayamu tuan muda” ucap wanita itu keluar dari rumahnya kemudian berjalan mendekatiku


“ yang pengawalmu katakan itu benar, kita tidak bisa percaya pada sembarang orang, karna itulah aku pura-pura masuk ke dalam rumah, aku menguping pembicaraan kalian dari dalam karna aku tidak tahu kalian musuh atau teman, namaku laila, katakan yang sejujurnya kenapa kalian mencari dhahir tamam dan rumah no.12?” sambung wanita itu


“ namaku ghaishan ahmad altamis dan dia adalah temanku tuan aziz, sebenarnya aku merasa wanita yang kau ceritakan tadi adalah orang yang aku kenal, dan anak yang dijual itu mungkin ayla, aku hanya ingin membantu temanku kembali kerumah bersama ayahnya” jawabku


“ Ya ayahnya, wanita itu menipu suaminya dan dia juga menipuku” jawabku


Wanita itu menatapku seolah dia tak percaya dengan kata-kataku, wajah tuan aziz terlihat kesal melihat tatapan itu,


“tuan muda, ayo kembali, aku akan mengantarmu pulang, hari sudah petang” ucap tuan aziz


“ Kenapa terburu-buru tuan aziz, masalahnya adalah dhahir hanya bisa di temui saat malam, jadi biarkan hari menjadi gelap, aku akan membantumu tapi aku punya satu syarat” ucap laila


“ Aku tidak butuh bantuanmu, ayo tuan muda” ucap tuan aziz dengan kesal


“Tunggu sebentar tuan aziz, aku mohon” ucapku pada tuan aziz sambil menggenggam tangannya


“katakan apa syaratmu?” tanyaku pada laila


“Nikahi aku” ucap laila


“oke” ucapku


“tuan muda” ucap tuan aziz terkejut


“Kenapa kau tidak menanyakan apa alasanku mengajukan syarat seperti itu?” tanya laila


“karna aku percaya padamu dan pada diriku, kau terlihat seperti orang yang baik” Jawabku


“ Kau satu-satunya orang yang mengatakan bahwa aku orang yang baik, aku terkesan, aku akan membantumu, kita tunggu hingga malam semakin larut, jika bukan urusan bisnis dahir tidak akan keluar dari tempatnya di siang hari” Ucap laila


Tuhan Aziz memerintahkan kepada semua anak buahnya untuk kembali ke markas, sementara paman abdul bersama kami, kami menunggu hingga malam ralut sambil duduk dan berbincang di dalam rumah laila, ada beberapa alat medis di dalam rumahnya,


“Layla Kenapa ada alat medis di sini? apa kau seorang dokter?” tanyaku ingin tau


“Usiaku masih 13 thn, mana mungkin aku seorang dokter, kau ini ada-ada saja, sebenarnya aku ingin menjadi seorang dokter, tapi ayahku melarangku dan dia justru mengusirku dari rumah karna mimpiku itu, Jadi aku tinggal di sini, ini adalah rumah peninggalan nenekku” jawab laila


“ menjadi seorang dokter itu bukan hal yang buruk, tapi kenapa ayahmu tidak suka?” Tanya paman abdul


“ itu adalah cita-cita yang mulia” saut tuan aziz


“Ayahku tidak suka karena aku ingin menjadi dokter andrologi” Jawabnya singkat


“ Pantas saja ayahmu melarang” ucap paman abdul


“ apa salahnya menjadi dokter andrologi, kau tau dokter andrologi di dunia ini sangat sedikit, bahkan bisa di hitung dengan hitungan jari, jika dia berhasil dia akan jadi orang yang sukses” ucap tuan aziz


“aku tidak mengerti apa yang kalian debatkan, apa itu dokter andrologi?, aku hanya tau dokter umun, dokter kandungan, dokter anak, dokter dalam, dan masih banyak lagi dokter-dokter lainnya tapi aku belum pernah dengar tentang dokter andrologi” tanyaku ingin tau


Aku tidak mengerti apa yang salah dengan pertanyaanku, tapi wajah semua orang menjadi pucat mendengar pertanyaan itu


“ kenapa kita harus membahas itu, hari sudah semakin malam, ayo kita pergi mencari dhahir” ucap paman abdul mengalihkan pembicaraan, kemudian berdiri siap untuk pergi


“ Iya kau benar tuan abdul ayo kita bersiap” ucap tuan aziz mengalihkan pembicaraan, dan berdiri siap untuk pergi juga


“ kita antar tuan muda pulang dulu baru kita ke sana” ucap laila memberi usul sambil berdiri


Paman abdul dan tuan aziz mengangnggukan kepala menyetujui usulan laila, aku tidak mengerti dengan orang-orang dewasa ini, mereka mengabaikan rasa ingin tauku, sangat menyebalkan


“ Tidak, aku tidak ingin pulang, aku ingin ikut, dan kalian tidak boleh pergi sebelum menjelaskan kepadaku apa itu dokter andrologi, jika kalian tidak memberitahu aku, aku akan bertanya pada kakek” ucapku mengancam


“Jangan.....