For.get

For.get
GS. Masa lalu Part.8



Ayah di bawa masuk ke UGD, sementara kami menunggu di luar dengan cemas.


3 jam kemudian.


Dokter keluar dari UGD, aku dan kakekpun mendekatinya


“ Dokter bagaimana keadaan putraku” Ucap kakek


“ Maafkan aku tuan, kami sudah berusaha, tapi takdir berkata lain, putramu tidak selamat”


“Ayah....” Jeritku sambil berlari menerobos UGD kemudian memeluk tubuh ayah yang terbaring kaku diatas tempat tidur


Aku sangat terguncang kala itu, rasanya hidup ini tidak adil untukku,


Aku tengah duduk di kamar saat paman abdul memeluku, tapi aku mendorongnya hingga dia terjatuh,


“ menjauh dariku abdul ghaffar, semua yang terjadi padaku itu karna dirimu, jika kau bisa mengendalikan istrimu, semua ini tidak akan terjadi” Ucapku sambil berteriak padanya


Paman abdul hanya duduk terdiam sambil menitihkan air mata


“Kau harus membayar semua kerugian yang telah istrimu berikan pada perusahaan, kau harus menggantinya, apa kau mengerti” teriakku padanya sambil memegang kerah bajunya, namun paman abdul hanya duduk terdiam sambil menangis


“ Katakan sesuatu kenapa kau diam saja” ucapku sambil melempar barang yang ada di dekatku saat itu


“ Baiklah tuan muda, aku minta maaf untuk semua yang telah istriku lalukan, aku akan mengganti semua kerugianmu, tapi aku mohon padamu, berikan aku waktu” ucap paman abdul


“ kau bisa mengembalikan uang yang istrimu curi dari kami, tapi bagaimana dengan nyawa yang sudah hilang karnanya, dia dan kau harus menggantinya” ucapku sambil memegang lagi kerah bajunya


“jika kau ingin mengambil nyawaku maka ambilah, aku sama sekali tidak keberatan” ucapnya


“jika aku mengambil nyawamu, kau tidak akan merasakan kepedihanku, apa yang berharga bagimu, ah... ya! Aku baru ingat, bagaimana jika kita tukar nyawa ayah dan ibuku yang telah hilang dengan ayla” ucapku


Paman abdul sujud di kakiku, dan memintaku melepaskan ayla, tapi aku tidak peduli padanya, aku meminta pengawalku untuk menyeretnya keluar, karna aku tidak ingin melihat wajahnya, aku mengatakan bahwa aku memberinya waktu satu minggu untuk bersama putrinya saat kedua pengawalku menyeretnya keluar kamar,


Kakek masuk kedalam kamarku dan kemudian beliau menamparku


“ Kenapa kakek menamparku, kakek tidak tau apapun, sebaiknya kakek tidak usah ikut campur” ucapku berteriak pada kakek


Kakek kemudian keluar dari kamarku dan mengurungku di kamar,


“Kakek buka pintunya, kau tidak bisa melakukan ini padaku” teriakku sambil menggedor-gedor pintu


“Aku akan membuka pintu kamar ini saat kau menyadari kesalahanmu ghaisan,” ucap kakek dari balik pintu


Aku mendengar seseorang mengetuk kaca jendela, saat aku membuka gordeng aku melihat fahim dibalik jendela


“sedang apa kau disini, pergi dan menjauhlah dariku, aku tidak mau melihatmu karna kau adalah anak kandung wanita penyihir itu” ucapku dengan kasar pada fahim


Fahim terlihat sedih setelah mendengar kata-kataku, matanya berkaca-kaca, sejujurnya aku merasa tidak tega, tapi aku tidak bisa melupakan bahwa sebenarnya fahim adalah anak kandung viida dan paman ikram


“kakak, apa kau lupa kata-kataku, kau hanya harus tenang agar bisa berpikir jernih, kita bermain game setiap akhir pekan kenapa kau masih tidak mengerti juga bahwa ketenangan dan pikiran yang jernih akan mampu membuatmu melihat cela dalam setiap kesempatan, apa kau tau kakak, aku pernah mendengar nenek idah mengatakan pada ayah bahwa hidup ini seperti permainan, jika kau ingin menang, kau tau harus apa kan!” ucap ayla yang tiba-tiba muncul di samping Fahim


“ayo fahim, biarkan kakakmu sendiri saat ini” ucap ayla mengajak fahim pergi


Fahim dan ayla pun pergi dari sana,


Aku merenungkan ucapan ayla semalaman, aku mencoba menenangkan diri, aku tahu tanpa sadar aku sudah bersikap kasar pada kakek, aku akan minta maaf pada kakek tapi sebelum aku mengetahui kebenarannya, aku tidak akan bisa merasa tenang,,


Aku kabur dari rumah kakek melalui jendela kamar, aku pergi ke rumahku, disana aku melihat mobil paman ikram terparkir tepat di depan rumah, aku menyelinap masuk ke dalam rumah dan aku melihat paman ikram dan viida tengah minum-minum sambil maka popcron dan nonton telvisi di ruang keluarga, diam-diam aku pergi ke ruang kerja ayah, aku mengambil semua berkas penting yang mungkin bisa menjadi bukti, tanpa sengaja aku menjatuhkan buku yang tergeletak di meja, ada sebuah foto terselip di buku itu, saat aku mengambilnya, aku melihat foto semua orang sangat bahagia di foto itu, kakek, mendiang nenek, ayah dan ibu yang tengah menggendong bayi, aku yakin itu pasti aku, paman ikram dan seseorang yang tidak ku kenal, dibalik foto itu aku melihat tulisan tangan ayah yang bunyinya, ‘aku hanya ingin keluarga yang bahagia dan utuh seperti ini, tidak ada kebencian, rasa iri, ataupun dendam di dalamnya’ saat membaca pesan itu aku menangis dan teringat pada ayah, ayah juga mengatakan itu sebelum ia meninggal, aku menaruh semua berkas yang hendak ku bawa kedalam brangkas ayah, aku juga mengganti kata sandinya, dan aku pergi diam-diam hanya dengan membawa selembar foto itu, saat aku tiba di luar rumah, aku melihat fahim sedang mengintip di jendela, aku menghampiri fahim dan memegang pundaknya, fahim melihat kearahku dan kemudian menarik tanganku dan memaksaku untuk duduk, aku tidak tau apa yang diinginkannya, dia memeluk tanganku dan bersandar di pundaku, tanpa sadar aku tertidur, entah sudah berapa lama aku tertidur, aku mendengar suara fahim memanggil namaku, namun aku memintanya membiarkanku tidur sebentar lagi, namun fahim tidak menyerah dan memintaku untuk bangun, saat aku membuka mata, aku melihat kakek tengah jongkok dengan mata yang berkaca-kaca, kakek menarik tangan ku dan fahim kedalam pelukannya, alih-alih memarahi kami karna pergi diam-diam kakek justru menangis karna mencemaskan kami, aku dan Fahim meminta maaf pada kakek untuk kesalahan kami, dan kakepun membawa kami pulang, siang harinya pengacara datang kerumah kakek, beliau membacakan surat wasiat yang ditinggalkan ayah untuk kami, dalam surat wasiat itu ayah mengatakan bahwa semua harta atas nama ayah secara sah berpindah tangan atas namaku, sementara fahim tidak mendapatkan apapun, paman terlihat sangat marah dan tidak terima mendengar hal itu.


Paman pergi dari rumah kakek dengan wajah kesal.


Keesokan harinya


Saat aku hendak menjemput fahim di taman bermain, ayla mengatakan padaku bahwa fahim sudah di jemput, aku pulang ke rumah kakek, aku menghampiri kakek yang tengah asik minum teh di tepian kolam renang


“Ghaisan kenapa kau pulang sendiri, dimana fahim?” tanya kakek


“loh kakek...