
Suatu hari, ayah memintaku mengambil laporan keuangan di meja paman ikram, aku masuk keruangan paman tapi paman tidak ada di sana, aku berpikir untuk mencari sendiri laporan itu, aku mendapati ada dua laporan keuangan di meja paman, aku tidak tau yang mana yang harus aku ambil jadi aku mengambil keduanya, tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundaku, saat aku berbalik dan melihat ternyata itu paman ikram
“Sedang apa kau di sini” Tanya paman ikram
“ Tidak ada paman” Jawabku
Aku tidak menjelaskan apapun pada paman karna aku merasa sikap paman sangat aneh saat itu, aku hendak pergi dari ruangan paman kerika iya bertanya dokumen apa yang ku bawa dan apakah aku melihat dua dokumen di atas mejanya, aku berbohong pada paman ikram dengan mengatakan aku tidak melihat dokumen apapun diatas meja paman dan aku memberi tahunya bahwa dokumen yang kubawa kudapatkan dari sekolah,
Aku pergi dari ruangan paman ikram dan memeriksa kedua dokumen yang aku ambil tadi, di ruangan ayah, aku mendapati ada laporan yang janggal, dalam laporan keuangan itu, tanggal dan waktunya sama tapi isinya jauh berbeda, aku mengatakan pada ayah dan memperlihatkan kedua dokumen itu padanya,
“ Sepertinya kita mengalami banyak kerugian” Ucap ayah
“Apa maksudmu ayah, bukankah data statistik kita menunjukkan kita mendapatkan keuntungan berlipat bulan ini” Sahut ku
“ tidak nak, kemarilah” ucap ayah memintaku mendekat
Aku mendekat pada ayah dan ayah membuatku duduk di atas pahanya,
“Lihatlah baik-baik, diantara kedua berkas ini yang satunya adalah berkas palsu, sepertinya ada yang bermain-main dengan uang perusahaan” ucap ayah
Sejak saat itu aku dan ayah mencari tahu kebenarannya, dan ternyata benar seseorang dari perusahaan menghianati kami, dia mengambil keuntungan dengan memberikan laporan palsu, iya membuat ayah terlilit hutang sementara orang itu bersenang-senang menggunakan uang perusahaan, Ayah stress karena dia harus membayar hutang ke bank.
Sementara kami sibuk mencari dalang dibalik masalah ini, orang itu justru mengambil uang yang akan disetorkan yang sudah dengan susah payah ayah dapatkan, saat kami mengetahui pelakunya adalah viida, mantan kariawan keuangan, semuanya sudah terlambat, semua uang perusahaan baik uang hasil dari keuntungan dan modalnya raip dibawa kabur olehnya,
Ayahku tidak mampun menerima kenyataan bahwa perusahaan yang sudah iya rintis dengan kerja keras selama bertahun-tahun terancam bangkrut, ayah melakukan berbagai cara, pergi ke berbagai tempat, namun semua itu hanya sia-sia, namun ayah masih tidak ingin menyerah, ia tetap yakin bahwa semuanya bisa kembali, kemudian kakek memberikan jalan keluar untuk ayah, kakek meminta ayah pergi ke negara N dan menemui sahabat kakek, dengan secerca harapan itu ayah pergi menemui teman kakek di negara N, setelah ayah pergi seharian ayah tidak bisa di hubungi, dan itu membuat aku merasa khawatir hingga tidak bisa tidur, di malam yang dingin itu, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, suara petir pun terdengar sangat menakutkan, aku hanya duduk di atas tempat tidur sambil memeluk fahim yang kemudian terlelap dalam pelukanku.
Aku mendengar suara dering ponsel, tapi itu bukan dering ponselku, aku mencari darimana asal suara dering itu hingga berjalan keluar kamar dan aku menemukan ponsel kakek tergeletak di atas meja di dekat vas bunga di ruang keluarga, saat aku berjalan mendekati meja itu, aku melihat kakek terbaring di kursi dengan sebuah buku di tangannya, sepertinya beliau tertidur saat tengah membaca, aku mengambil buku dari tangan kakek, dan aku mengambil ponsel kakek untuk ku matikan, karna aku tidak ingin kakek terganggu dengan suara ponsel yang terus berdering, namun ku urungkan niatku untuk mematikan ponsel kakek saat aku melihat ayahlah yang sejak tadi membuat ponsel kakek berdering, aku mengangkat telpon dari ayah
“ hallo” ucapku
“ Hallo ayah, ayah aku berhasil mendapatkan pinjaman untuk hutang-hutangku dari sahabatmu, aku sangat berterimakasih padamu ayah, ayah besok aku akan segera pulang, tolong jaga kedua putraku” ayah bicara tanpa henti di telpon dan tidak membiarkanku bicara padanya,
saat aku hendak bicara telponnya terputus begitu saja, Ayah berfikir yang menjawab telponnya itu adalah kakek, padahal sebenarnya yang mengangkat telponnya bukan kakek tapi aku, setelah aku mendengar suara bahagia ayah di telpon aku merasa tenang, aku meletakan kembali ponsel kakek di tempat semula, dan pergi ke kamar untuk tidur,
Keesokan harinya
Setelah mengantar fahim ke taman bermain supir mengantarku kesekolah, namun setelah sopirku pergi aku tidak masuk ke sekolah, aku bolos sekolah dan pergi ke bandara naik taksi, saat aku tiba di bandara aku melihat ayah tengah bicara dengan paman ikram dan viida, aku tidak bisa mendengar percakapan mereka karna jarak yang sangat jauh, namun dari jauh aku bisa melihat mereka sedang bertengkar, aku tidak tau apa yang sedang mereka debatkan, aku melihat ayah mengangkat ponsel dan menelpon seseorang, di waktu yang sama ponsel dalam sakuku berdering, saat itu aku menyadari, ponselku tertukar dengan ponsel kakek, aku mengangkat telpon dari ayah namun tidak bicara karna aku ingin tau apa yang ingin ayah katakan pada kakek
Aku melihat ke arah ayah, beliau berkali-kali mengusap air matanya, aku mendengar nafas ayah yang semakin berat dari telpon, aku melihat ayah memegang dadanya,
“ ghaisan kau bolos sekolah dan datang kemari” ucap kakek yang muncul dari belakangku
Aku berbalik sambil menitihkan air mata
“ kakek ayah” ucapku sambil menunjuk pada ayah, saat itu paman ikram dan viida sudah tidak ada di sana, entah kemana perginya mereka, aku dan kakek berlari menghampiri ayah saat melihatnya terjatuh ke lantai sambil terus memegang dadanya, tepat diatas jantungnya, aku dan kakek bergegas membawa ayah ke rumah sakit, dalam perjalanan ayah selalu menatapku yang terus menangis tanpa henti,
“ ghai...san ponselmu” ucap ayah sambil menunjuk ke arah ponsel yang tengah aku genggam
“ ponselku tertukar dengan kakek ayah” ucapku sambil menangis
“ Kau mendengar segalanya?” Tanya ayah dan aku hanya menganggukan kepala menjawab pertanyaan ayah
“ ghaisan...putra ayah..., dengarkan ayah...baik-baik sayang...,semua yang terjadi...itu memang sudah seharusnya...terjadi..semua itu...takdir untuk ayah...kau bolos sekolah...untuk menjemput ayah...ayah merasa sangat bahagia nak...terimakasih...tapi jangan...lakukan ini lagi... karna jika ini terulang...ayah tidak akan merasa senang.. (bicara dengan terengah-engah dan nafas yang berat)
“ Berhenti bicara dan diamlah, kondisimu sedang kritis” ucap kakek sambil menitihkan air mata menyela pembicaraan ayah
“tidak ayah...aku ingin bicara...sekarang..karna mungkin..aku tidak akan..bisa bicara lagi nanti...ghaisan pangeran ayah... apapun yang kau dengar...apapun yang ayah...katakan di telpon...lupakan semuanya...ayah tidak ingin...ada perpecahan..kebencian...dan juga dendam... dalam keluarga kita...(bicara dengan terengah-engah dan nafas yang berat)
“ Apa maksud dari ucapanmu itu, jangan bicara sembarangan kau akan baik-baik saja, dan kau bisa bicara nanti, setelah kondisimu membaik beritahu aku juga, aku juga berhak tau apa yang kau katakan pada putramu, karna aku yakin kata-kata itu harusnya untuk diriku” ucap kakek sambil menitihkan air mata
“Kau... sudah... menjadi...kakek...berhati...hatilah...dengan...amarahmu..atau kau..akan..terkena...darah tinggi” ucap ayah dengan nada terengah-engah dan nafas yang berat
“ Dasar kau anak kurang aja, berani sekali kau bercanda di saat seperti ini, bertahanlah kau akan baik-baik saja” ucap kakek
Kami sampai di rumah sakit dalam waktu yang cepat, pihak rumah sakit menurunkan ayah dari ambulan dan membawa ayah dengan cepat ke UGD,
“ Tunggu...sebentar” ucap ayah saat hendak dibawa masuk ke UGD, ayah memegang tangan kakek kemudian mengatakan
“ayah... bisakah.. kau.. maafkan.. putramu..yang..kurang..ajar..ini.. dan...tolong...jaga...cucu...cucumu... dengan...baik..jangan...terlau... sering...marah...marah...jaga..
kesehatanmu...juga..” ucap ayah dengan nada terengah-engah dan nafas yang berat sambil tersenyum
Ayah di bawa masuk ke UGD, sementara kami menunggu di luar dengan cemas