For.get

For.get
GS. Masa lalu Part.4



Dari cara mereka mengikatku, aku tahu mereka menganggap remeh diriku, mereka mengikatku dengan simpul hidup, mereka berpikir aku hanya anak kecil biasa.


“mereka tidak tau guru karateku tidak hanya mengajariku untuk bertarung, tapi juga mengajariku untuk bertahan dan melepaskan diri, tidak hanya dari sembilan simpul tali tapi juga dari tangan manusia, aku belum belajar melepaskan diri dari tangan manusia tapi aku sudah belajar cara melepaskan diri dari 9 simpul tali selama 3thn ini, jika aku bisa melepaskan diri dari simpul tali mati apalagi simpul tali hidup, aku merasa kasihan pada mereka semua, mereka pasti akan kena damprat bos mereka, karna saat ada kesempatan maka aku akan melarikan diri, jika kesempatan itu tidak datang maka aku yang akan membuatnya, lihat saja nanti....” Ucapku dalam hati


Setelah selesai mengikatku salah satu dari penculik itu keluar dari ruangan dan menelpon seseorang, aku tidak tau siapa yang ada di balik kejadian ini, tapi siapapun itu, aku merasa orang yang kini menculikku dan orang yamg membunuh ibuku adalah orang yang sama, selang beberapa lama, orang yang tadi keluar kembali lagi, dia mengatakan pada anak buahnya umtuk berjaga-jaga di luar dan meninggalkan aku sendiri, aku melihat keadaan sekitar mencari jalan untuk melarikan diri dari tempat itu, aku melihat jendela di ruangan itu, aku bisa lari dari tempat ini melalui jendela pikirku, aku memejamkan mata menarik nafas panjang sebelum membuka ikatanku, saat aku membuka mata dan hendak membuka ikatanku, mataku tercengang melihat si coklat berantena hinggap di kaca ventilasi tepat di atas jendela,


“ mmmm....” aku mencoba berteriak untuk meminta tolong karna ketakutan tapi suaraku jadi terdengar seperti tengangah bergumam, tidak lama kemudian aku melihat kaki seseorang dibalik kaca ventilasi, sepertinya itu kaki hantu yang melayang-layang di udara pikirku, aku semakin terkejut saat melihat paman abdul yang terlihat dalam pisisi jongkok dan mengintip dari kaca ventilasi, paman abdul sudah jadi hantu,,


“ mmmm....” aku mencoba berteriak, tapi kemudian paman abdul memberiku kode untuk diam dan tenang, aku menuruti perintah paman untuk tidak bersuara, tapi tangan dan kakiku menjadi gemetar karna ketakutan, paman abdul mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, iya berusaha membuka kaca ventilasi dari tempat ia berada, tidak lama kemudian paman membuka kaca ventilasi hingga membuat si coklat berantena jatuh ke lantai membuatku semakin ketakutan, saat paman loncat ke dalam aku merasa lega dan langsung melepaskan ikatanku sendiri


“ kau bisa melepas ikatanmu sendiri?” tanya paman heran


“ Hehee... Aku akan sudah melarikan diri dari sini jika si coklat berantena tidak muncul dihadapanku” jawabku sambil tersenyum


“ bagaimana paman bisa tau aku di sini” tanyaku penasaran


“ Saat aku hendak pulang, aku melihatmu di bawa oleh mereka, aku mengikuti mobil itu dari belakang dan sampai di sini, jika aku tidak mendengar gumamanmu aku tidak akan tau kau di sini” jawab paman


“ Oh ya, kau bilang soal si coklat berantena tadi, dimana dia sekarang” tanya paman


“ Di bawah kaki paman” jawabku


Paman mengangkat satu kakinya untuk melihat si coklat berantena, ia tersenyum sambil menggelengkan kepala ketika melihat si coklat berantena yang telah mati terinjak olehnya


Aku mengajak paman pergi dari tempat itu, saat aku mencoba membuka jendela paman menepuk pundaku dan memberitahu bahwa ruangan tempat mereka menyekapku adalah ruang separuh bawah tanah, kaca jendela yang ku coba buka itu bukan jendela sungguhan, itu hanya hiasan dinding yang di buat menyerupai jendela sungguhan yang di beri gambar pemandangan luar rumah sehingga terlihat nyata, hanya kaca ventilasi saja yang bisa dibuka dan menuju keluar rumah, paman kemudian menarik kursi tempat aku terikat, kemudian paman naik ke atasnya dan menggendongku, mendorongku keluar dari ruangan itu, perlahan aku merangkak melewati jendela, keluar dari tempat itu, saat paman hendak naik salah satu penjahat itu masuk dan memergoki kami yang hendak kabur, beruntung paman bisa naik dengan cepat, paman memegang tanganku, kami lari bersama dari sana namun tiga penjahat tiba-tiba muncul dihadapan kami dan menghalangi kami untuk lari,,


“ mau kabur kemana kalian? aku tidak punya urusan denganmu tuan, jadi sebaiknya kau serahkan bocah itu baik-baik dan kami akan melepaskanmu” ucap salah satu penjahat itu


“ mimpi saja kau sepuas hati, aku tidak akan menyerahkan anak ini, jika kalian ingin anak ini, langkahi dulu mayatku” ucap paman dengan yakin kepada para penjahat itu


“mundur tuan muda, cobalah untuk melarikan diri dari sini, aku akan menghalang mereka” bisik paman abdul padaku


“ mereka bukan lawan yang sebanding denganmu, turuti aku, dan larilah dari sini” ucap paman sambil memasang kuda-kuda bersiap untik bertarung


“Bagaimana denganmu paman” ucapku


“ Tidak usah khawatirkan diriku, larilah cepat” ucap paman


Orang-orang itu kemudian maju dan menyerang paman, pertarunganpun tidak terelakan, aku menuruti perintah paman dan lari dari sana tapi salah satu dari tiga orang itu menghalangiku, aku melihat ke arah paman yang tengah bertarung dengan mereka, paman berusaha mengalahkan mereka berdua, namun pertarungan cukup sengit, aku tersenyum pada penjahat yang menghalangi jalanku, tapi kemudian dia menangkapku, aku menggigit tangannya untuk melepaskan diri, aku berusaha melawan penjahat itu, ternyata benar kata paman penjahat itu bukan tandinganku, aku sudah jatuh berkali-kali hingga ujung bibirku dibuat berdarah olehnya, tangan dan kakiku juga dipenuhi luka-luka, saat orang itu berniat menghajarku lagi, paman menarik tangan penjahat itu dan membuatnya terjatuh,


“ Tuan muda,,, si kancil arah jam 12” teriak paman


Aku mengerti apa yang di maksud paman, ia memintaku berlari mengambil jalan lurus ke arah rel kereta, aku berlari sekencang yang aku bisa, aku menghentikan langkahku tepat di pinggir rel menunggu kereta yang akan lewat kala itu, saat kereta itu lewat di hadapanku aku langsung melompat ke arah pintu masuk kereta yang terbuka


“Selamat,, selamat,, untung guru sudah mengajariku beberapa istilah saat bertarung, si kancil artinya lari arah jam artinya menunjukan arah jalan” ucapku bicara sendiri sambil bersandar di pintu kereta yang tengah melaju


“ astaga paman...” ucapku khawatir, aku melihat ke arah luar, ternyata paman sedang berlari mengejar kereta yang ku naiki


“ Paman cepat, pegang tanganku” ucapku sambil mengulurkan satu tanganku sementara tanganku yang lain memegang pegangan dekat pintu kereta


Paman berlari dengan sangat cepat, ketiga penjahat itu mengikuti paman, aku melihat paman mulai kelelahan, nafasnya mulai terengah-engah


“ Paman bertahanlah, sedikit lagi ayo” teriakku


Paman mempercepat larinya...


“ Ayo paman sedikit lagi” teriakku


Paman terus berlari dengan nafas yang terengah-engah


Paman....