For.get

For.get
Apa yang terjadi?



#dari sudut pandang ayla di waktu dan tempat yang sama


*****


Ghaisan menampar fahim sebelum iya menyelesaikan ucapannya


“ sudah beberapa kali ku bilang padamu, kau sudah salah paham pada ibu dan ayahmu, pulanglah jangan temui aku bila kau hanya mengatakan hal yang sama” Ucap ghaisan dengan tegas


“Ghaisan bersikap kasar pada adiknya sendiri dan itu membuatku terkejut, kenapa ghaisan,, kau baik pada semua orang, tapi tidak padaku dan pada adikmu, apa yang ada dalam hatimu itu, kenapa ghaisan? Kenapa?” Ucapku dalam hati


Wajah fahim terlihat sangat menyedihkan, aku keluar dari balik pohon berjalan mendekati mereka


“ kakak” ucap fahim sambil merengek


Ghaisan menatap tajam fahim seperti inggin menghabisinya


“ Pergi kau, pulang ke rumahmu sana” Ucap ghaisan sambil mendorong fahim untuk pergi menjauh


Namun fahim terus saja memanggil nama kakaknya dengan lembut sambil menitihkan air mata, namun ghaisan terlihat biasa saja.


Aku menariku kemudian menamparnya dengan kencang karna geram


“ Apa kau sudah hilang akal g, kenapa kau bersikap kasar pada adikmu sendiri, tidak bisakah kau bersikap baik sedikit saja padanya” ucap ku memarahinya


Aku berdiri diantara kakak beradik itu untuk melindungi fahim dari amarah ghaisan


“ alya, apa pun yang dia katakan ( menunjuk fahim) itu tidaklah benar, dia hanya membual, jangan percaya pada kata-katanya, menjauhlah darinya, biarkan aku memberi anak ini pelajaran” Ucap ghaisan dengan tegas


“ kakak” ucap fahim dengan nada sedih


“ Berhenti merengek seperti anak kecil di hadapanku fahim, kemarilah aku akan memberimu pelajaran” ucap ghaisan sambil berusaha meraih tubuh fahim namun aku berdiri tepat di hadapannya menghalangi ghaisan untuk menyakiti fahim


“ G hentikan, jangan macam-macam dengannya, aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya” ucapku sambil berusaha menghalanginya namun ghaisan tidak mau mendengarkanku


“ Ghaisan cukup” ucap ku berkali-kali namun ghaisan tidak juga mau menyerah


“ ghaisan hentikan” ucapku


Aku terus melindungi fahim dari amarah ghaisan hingga aku merasa lelah


“ Sudah cukup, aku tidak bisa terus begini, aku harus bisa meredakan amarahnya, aku punya ide cemerlang, orang bilang pria yang tengah marah akan hilang amarahnya jika di cium, aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi aku harus mencobanya, aku tidak kuat jika harus menahan ghaisan yang tenaganya lebih kuat dariku ” ucapku dalam hati


Aku pun mencengkram kepalanya dengan kedua tangan kemudian menciumnya dengan kuat, dari reaksinya aku bisa merasakan amarahnya mulai mereda, aku memberi isyarat pada fahim dengan tanganku, seolah memintanya pergi, aku berhenti menciumnya saat fahim sudah pergi jauh, namun saat hendak menjauhkan diri, ghaisan memeluk pinggangku menarik tubuhku ke dalam dekapannya,


“ ghaisan apa yang kau lakukan?, lepaskan aku” ucapku sambil berusaha melepaskan tangannya yang memelukku


“ lepaskan? Kenapa aku harus melepaskanmu” Ucap ghisan kemudian meniup telinga kirinku


“ ghaisan (teriak karna merasa geli) bagaimana jika ada yang melihat, cepat lepaskan aku” ucapku sambil terus berusaha melepaskan diri dari dekapannya


Ghaisan menurunkan tangannya dengan cepat memeluk pahaku dan mengangkatku ke atas pundanya, sontak saja itu membuatku terkejut


“ Ghaisan apa yang kau lakukan cepat turunkan aku” ucapku sambil meronta-ronta, aku berusaha untuk turun namun ghaisan memegangi kaki atasku dengan kuat, aku terus memintanya untuk menurunkan aku namun ucapanku tidak di gubris olehnya, aku tidak tau apa yang ada dalam pikirannya, ghaisan membawaku masuk dalam rumah bambu, kemudian menurunkanku di salah satu sudut dan memojokanku


“ Kau sudah membuat adiku kabur sebelum aku sempat menghajarnya, dan kau juga sudah menyerangku 2 kali” ucapnya


“ Ghaisan...”


“ Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhi diriku, karena jika terjadi sesuatu, kau lah yang harus bertanggung jawab, tapi kau tidak pernah mendengarkan aku dan inilah akibatnya, sekarang kau tidak bisa lari dariku ayla (menyentuh dagu)” ucap ghaisan dengan lembut


Aku mengalungkan tanganku di lehernya


“ jadi kau menantangku tampan, sekarang rasakan ini” ucapku sambil merengkas kakinya


Aku mencoba menjatuhkan ghaiaan namun ia memegang tanganku dan membuatku jatuh ke atas tubuhnya, dengan cepat ghaisan memelukku hingga membuatku tak berdaya


“ wah kucing liar, aku tak pernah menyangka kau adalah orang yang tidak sabaran” Ucapnya sambil tersenyum, Dan senymnya itu membuatku kesal


Ghaisan menggelengkan kepala, dan membuatku kesal, aku mencengkram kepalanya dengan kedua tanganku


“ Lepaskan pelukanmu atau aku akan..


“ Menciumku lagi, silahkan saja, lagi pula aku menantikannya sepanjang waktu” Ucap ghaisan sambil tersenyum memotong ucapanku yang belum selesai, karna merasa kesal padanya aku menjambak rambutnya


“cukup g, ini tidak lucu, lepaskan pelukanmu atau aku akan membuatmu botak” ucapku mengancam, ghaisan pun kemudian melepas pelukannya, saat aku berusaha bangun rambutku yang panjang tersangkut di kancing kemejanya


“ sepertinya yang kuasa tidak ingin kau jauh dariku sayang” ucapku sambil tersenyum, membuatku jengkel


“ Benarkah! Jangan banyak bicara cepat bantu aku” ucapku dengan kesal


Ghaisan membantuku melepaskan rambutku dari kancing kemejanya, namun rambutku jadi sakit karnanya


“ awawaw... Ghaisan pelan-pelan” aku terus menjerit kesakitan namun rambutku yang tersangkut tak juga lepas


“ ayla rambutmu tidak bisa di lepaskan, bagaimana jika kita potong rambutmu saja” ucapnya sambil tersenyum jahil


aku memukul dadanya dengan keras karna kesal padanya dan iapun menjerit kesakitan


“ Jangan bicara sembaranga, ahha...aku punya ide bagus!” ucapku


Aku hendak membuka kancing kemejanya namun ia mencengkram tanganku


“ Hei ayla apa yang mau kau lakukan?”


“ Ghaisan... Aku tidak mau memotong rambutku yang indah ini, jadi tidak ada cara lain selain melepaskan pakayanmu” ucapku dengan lembut mencoba membujuknya


“ tidak”


“ Iya”


“ tidak”


“ Iya, terimakasih” ucapku, aku membuka kancing kemejanya dengan paksa


“ Ayla, hentikan, aku tidak mau” ucapnya, aku mengabaikan kata-katanya, perlahan aku membuka kancing bajunya hingga tak tersisa, aku tidak bisa melepas kemejanya jika ia berbaring jadi aku memintanya unruk duduk, saat aku hendak melepas kemeja dari tubuhnya


“ ayla” terdengar teriakan alexa dari belakang


“ ghaisan” teriak beberapa orang secara bersamaan di waktu yang sama


“ alexa, kau di sini” ucap tanyaku


Aku senang bisa melihatnya di sini. Alexa menarik tanganku menjauh dari ghaisan


“ apa yang kau lakukan ayla, kenapa kau mau memperkosa tuan ghaisan yang baik hati itu?” tanya alexa dengan nada tinggi


“ Apa maksudmu alexa, aku memperkosa pria itu, apa tidak salah? Yang benar saja!” ucapku dengan kesal


“ Kami ini masih bisa melihat dengan jelas nona, kau duduk diatas tubuhnya dan memaksanya membuka bajunya, hai mahrus ajari cucumu itu, aku sarankan kalian nikahkan saja mereka berdua, jika tidak! Kalian tidak boleh tinggal di tempat ini” ucap kepala rukun tetangga dengan tegas


“ Benar.. Benar... Nikahkan mereka atau pergi dari sini” ucap warga


Aku terkejut dengan kata-kata mereka, aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya, ghaisan berdiri dan berjalan mendekatiku, ghaisan melepaskan rambutku yang tersangkut di kancing kemejanya


“ cukup, hentikan perdebatan ini, kalian sudah salah faham, aku tidak akan menikahi ayla” ucap ghaisan


Ia kemudian berjalan sambil memakai baju, ghaisan pergi dan semua orang pun membubarkan diri, tinggalah kakek, nenek, dan alexa, kakiku mendakak menjadi lemas hingga tak sanggup berdiri, alexa pun duduk di sampingku


“ Ada apa denganmu ayla? Kenapa kau berubah begitu drastis seperti ini, kau tidak pernah bersikap seagresif ini bahkan pada nizar, tapi kau bersikap tanpa tau batas denhan tuan ghaisan” ucap alexa


Aku hanya bisa diam, karna dadaku merasa sesak, aku tidak tau apa yang terjadi dan apa yang harus aku katakan, rasa sakit ini, kebisuan ini, membuatku menyadari aku telah jatuh hati...