For.get

For.get
GS. Perpisahan.



Satu minggu sebelum meninggalnya ayah mertua yang tidak lain adalah ayahnya ayla, paman abdul


*****


Aku sedang rapat saat mendengar kabar ayah mertua masuk rumah sakit, aku meminta haidar untuk mengambil alih pekerjaanku sementara aku pergi ke negara A untuk menemui ayah mertua, aku pergi menggunakan pesawat pribadiku, saat tiba di rumah sakit aku mendapati ayah mertua hendak melarikan diri dari rumah sakit


“ Kau mau pergi kemana pak tua” Ucapku dengan nada santai


“ Ghaisan, sedang apa kau di sini?” Tanyanya dengan nada jutek


“ Aku!, aku di sini untuk menjenguk pak tua yang sedang sakit” jawabku


Aku mengangkat kaki ayah mertua dan memikulnya di atas bahu, dia terus berteriak dan memintaku menurunkannya tapi aku tidak mendengarkannya, aku membawanya kembali ke ruang perawatannya, aku menurunkannya di atas tempat tidur dan memasangkan kembali impusan yang ia lepaskan


“Kau sedang sakit, kau butuh perawatan, Kenapa kau malah berkeliaran di luar?” tanyaku dengangan nada santai


“Kenapa kau peduli? Bukankah kau sudah melupakan aku?” ucapnya dengan nada jutek


“ada apa denganmu pak tua? apa kau marah padaku?” tanyaku lagi


“ Kenapa aku harus marah padamu, dulu kau selalu mengunjungi ku walau hanya satu tahun sekali, tapi sudah 8 tahun kau tidak pernah datang menemuiku, saat aku menelponmu pun kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu” ucapnya dengan nada kesal


“ Baiklah... jadi kau marah karna itu, aku minta maaf, aku sibuk mengurusi urusan kota hingga tidak punya waktu untuk mengunjungimu, mau bagai mana lagi aku adalah pimpinan kota, dan ini lah resikonya” ucapku sambil duduk di sampingnya memegang tangannya mencoba untuk membujuknya


“ dasar anak nakal, aku hanya bercanda, aku tidak marah padamu, aku justru sangat merindukanmu” ucapnya dengan nada sedih


“ Aku juga merindukanmu ayah mertua” ucapku sambil memeluknya


“ Apa drama pertengkaran suami istrinya sudah selesai” ucap dokter dias yang tiba-tiba muncul mengolok-ngolok pertengaranku dengan ayah mertua


“ bagus sekali kau datang dok, aku ingin tahu penyakit apa yang berani mendekati ayah mertuaku?” tanyaku


“ Aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan, dokter saja yang berlebihan” ucap ayah mertua


“benarkah itu dok?” tanyaku tak percaya


“Tuan abdul aku rasa tuan muda harus tau kebenarannya?” ucap dokter


“ Ada apa? Apa yang kalian sembunyikan dariku, cepat katakan, ayah mertua, aku mohon katakan yang sebenarnya” ucapku


“ Baiklah, ghaisan... aku mengidap kangker” ucap ayah mertua


“ Apa? kangker otak, sudah berapa lama?, kenapa kau baru memberitauku?, apa sudah di ambil tindakan?, apa ayla tau?” tanyaku


“Aigooo... Kau dengar itu dok, ini lah alasannya aku tidak ingin memberi tahunya, lihat berapa banyak pertanyaan yang ia ajukan” ucap ayah mertua sambil menggelengkan kepala


“ Ayah mertua aku sedang bicara serius” Ucapku dengan tegas sambil menatapnya


“ tuan muda mengajukan banyak pertanyaan karna dia sangat khawatir padamu tuan, ini adalah bentuk kasih sayangnya” ucap dokter


Aku hanya menganggukan kepala menanggapi ucapan ayah mertua


“ tuan muda menurut diaknosa kankernya sudah lama tapi aku baru mengetahui ini kemarin saat tuan abdul dibawa ke rumah sakit” ucap dokter


“ apa kau bilang, kankernya sudah lama tapi kau baru tahu kemarin" ucapku sontak saja aku berdiri karna terkejut


"apa saja pekerjaanmu, aku menjadikanmu dokter keluarga untuk menjaga kesehatan ayla dan ayah mertua, bisa bisanya kau mengatakan kau baru tahu kemarin” ucapku sambil mencengkram kerah kemeja dokter dengan kuat karna marah


“ ghaisan lepaskan dokter dias, dokter dias melakukan tugasnya dengan baik, dia sudah memintaku untuk melakukan pemeriksaan saat dia tahu aku sering sakit kepala, tapi aku mengabaikannya, jadi ini bukan kesalahannya” ucap ayah mertua


Aku melepaskan tanganku dan meminta maaf, dokter dias pun memakluminya, aku bertanya pada dokter apa ayah mertua bisa di sembuhkan, dokter mengatakan sudah tidak ada lagi yang bisa di lakukan, kankernya sudah mencapai stadium akhir, tanpa sadar aku menitihkan air mata saat mendengarnya, ayah mertua memukul bahuku, dia memarahhi ku karna untuk pertama kalinya aku mengingkari janjiku, aku berjanji tidak akan menangis tapi aku justru menangis seperti anak kecil, ayah mertua memeluku sampai aku merasa lebih tenang, selama berhari-hari aku merawat ayah mertua, ayah mertua memintaku untuk tidak mengganggu ayla yang tengah sibuk mengurus surat-surat kelulusanya, nanun semakin hari kondisinya semakin buruk aku memutuskan menelpon guru pembimbing ayla agar iya datang ke rumah sakit


“ ayah mertua, aku memberitahu ayla kalau kau di rawat di sini, maafkan aku” ucapku


“ tidak apa-apa, aku juga merasa ini sudah saatnya aku pergi” Ucapnya sambil menghela nafas


“ kenapa kau berkata seperti itu, aku akan keluar karna sebentar lagi ayla pasti akan sampai” ucapku


“ kenapa kau melakukan ini, apa kau tidak ingin ayla mengetahui kebenaranmu” ucapnya


“ jangan beri tahu ayla kebenaran tentangku, aku mohon padamu, ini adalah urusan suami istri, aku akan melakukan apa yang harus ku lakukan untuk membuatnya berada di sisiku” ucapku


“ baiklah aku percaya padamu” ucap ayah mertua


Aku keluar dari ruangan ayah mertua, langkahku terhenti saat aku melihat ayla berlari dan berlalu di hadapanku, ia masuk ke ruangan ayah mertua, aku membiarkan ayah dan anak itu bicara berdua saja, meski sebenarnya aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan,


1 jam kemudian


Dokter dias berlari menghampiriku


“ Tuan muda, ayah mertuamu... ia sudah...” ucapnya dengan nafas terengah-engah karna lelah berlari kemudian ia menggelengkan kepalanya


Aku mengerti arti gelengan kepalanya itu, aku berlari menuju ruangan ayah mertua, air mataku terus mengalir meski aku mencoba menghapusnya, saat tiba di depan pintu kamar aku melihat ayla memeluk jasat ayahnya sambil menangis, ingin rasanya aku memeluknya, jika saja dia mengingatku, kita bisa berbagi duka bersama, mungkin ini tidak akan terlalu menyakitkan, itulah yang terlintas dalam pikiranku saat itu, kenyataannya aku hanya bisa memperhatikannya dari jauh.


Aku mengikutinya ke pemakaman, setelah pulang dari pemakaman aku datang ke rumah ayla, namun saat aku melihat dia bicara dengan seseorang aku mengurungkan niatku untuk menemui ayla, aku fikir dia akan mengijinkanku masuk dan mencari buku harian ayah mertua, aku tidak tau apa yang sudah ayah mertua katakan, di sisi lain aku juga tidak bisa bertanya pada ayla karna ayla tidak mengingatku, aku menunggu di luar rumah ayla sampai semua orang pergi, aku duduk di samping pintu pagar sambil menangissi kepergian ayah mertua, setelah melihat semua orang pergi, perlahan aku berjalan masuk, dari balik jendela aku melihat ayla sendirian di rumah, saat ayla masuk kamar, diam-diam aku masuk rumah dengan kunci cadangan yang ku pegang, aku masuk ke kamar ayah mertua untuk mencari buku hariannya, karna aku tau ayah mertua memiliki kebiasaan menulis buku harian setelah ibu rashiqa meninggal, di buku itu terdapat rahasia besar dan aku tidak ingin ayla sampai mengetahuinya, aku menggeledah kamar ayah mertua tapi tidak bisa menemukannya, aku berpikir mungkin ayah mertua meletakan buku hariannya di kamar ayla, aku pun berpikir untuk mencarinya di sana, saat aku mengintip ke kamar ayla, aku melihat ayla masih terjaga, ia duduk bersandar di atas tempat tidur di samping jendela, entah apa yang tengah ia pikirkan, aku duduk di samping pintu kamar menunggunya terlelap, saat ayla tidur aku masuk ke dalam kamar


“ ayah mertua, kau lihat bagaimana putrimu ini tidur, dengan ceroboh ia membiarkan jendela terbuka, jika dia seperti ini bukankah dia akan sakit” ucapku bicara sendiri dengan suara pelan seperti sedang berbisik


Aku menutup jendela dengan hati-hati karna takut ayla terbangun, aku menggeledah kamarnya tanpa menimbulkan suara tapi aku tidak menemukan buku harian itu, setelah lelah mencari aku duduk diatas tempat tidur, tepat di samping ayla yang tengah terlelap


“ Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik, aku tidak pernah menyangka ini akan terjadi ayla, setelah ayahmu aku juga akan meninggalkanmu, tapi jangan pernah berpikir kau hanya sendiri di dunia ini, karna aku akan selalu ada disaat kau membutuhkanku, sejujurnya aku tidak tahu apakah aku bisa menjalani hidupku dengan melihatmu bahagia bersama orang lain, tapi aku tidak punya pilihan, aku bukan pria yang normal, aku harap kau tidak akan pernah menemuiku” ucapku bicara sendiri dengan suara pelan seperti sedang berbisik


Aku menatap ayla, melihatnya berguling ke kanan dan ke kiri, tanpa terasa malam pun telah berlalu, saat aku melihat jam waktu sudah menunjukan pukul 05:15 pagi, aku membuka kembali jendela yang semalam ku tutup karna tak ingin meninggalkan jejak sebelum pergi,


“I love you” aku mencium keningnya