
Aku membelikan ayla gaun putih yang cantik, meriasnya seperti seorang putri, dan aku berpakaian seperti pangeran, aku memegang tangan ayla, kami lari meninggalkan tuan aziz yang sedang membayar pakayan yang kami kenakan, ayla tersenyum saat kami lari bersama keluar dari mall, sudah lebih dari sepekan aku tidak melihat senyum manisnya itu.
“Ayla aku merindukanmu” teriakku saat berhenti berlari di luar mall,
“Kakak aku lelah” Ucapnya sambil tersenyum dengan nafas yang terengah-engah
Aku mengajak ayla naik taxi, kami meminta sopir mengantar kami ke kantor catatan sipil, setelah sampai di sana kami masuk dan menemui kakak resepsionis, kami mengatakan padanya bahwa kami ingin menikah, kakak resepsionis itu kemudian meminta kami menunggu di sebuah ruangan, tiba-tiba kakek, paman abdul, tuan azis dan laila muncul dari balik pintu, mereka duduk di hadapanku
“ghaisan apakah kau tidak akan menyesalinya?” Tanya kakek
“ apa maksudmu kakek, aku tidak mengerti” Jawabku
“ kenapa kau ingin menikahi putriku?” tanya paman abdul
“paman, aku ingin ayla bahagia” jawabku
“ Ghaisan, ayla dengarkan kakek, pernikahan itu bukan permainan nak, ayo kita pulang” ucap kakek
Mata ayla berkaca-kaca saat mendengar ucapan kakek
“ Tidak kakek, aku ingin menikahi ayla dulu, baru kita pulang” ucapku
“ Ghaisan, jika kau menikahi ayla hari ini, saat dewasa nanti kau bisa menikahi wanita yang kau sayangi tapi ayla tidak akan bisa menikahi pria lain” ucap kakek
“ Kakek kenapa aku akan menikah dengan anak lain?, aku kan sudah menikah dengan kakak” ucap ayla
“ Baiklah jika kalian berdua bersikeras untuk menikah, kakek akan menikahkan kalian” ucap kakek
“ Tuan apa kau serius dengan ucapanmu? Mereka masih anak-anak” ucap paman abdul
“ tenanglah abdul, aku tau apa yang aku lakukan” ucap kakek
Kakek memanggil petugas catatan sipil, tidak lama kemudian petugas itu pun datang, ia mengambil sumpah pernikahan kami, tidak hanya mengucapkan sumpah aku dan ayla juga memberi cap jari pada surat nikah, petugas catatan sipil mengatakan bahwa aku dan ayla sudah sah menjadi setengah suami dan setengah istri, pernikahan kami di tangguhkan sampai usia kami 17thn, karna pada usia itu kami baru bisa menandatangani surat nikah diatas cap jari, di negara kami pernikahan akan di anggap sah jika telah dilakukan pengambilan sumpah, dan ada cap jari dan tanda tangan diatas surat nikah, sebelum itu lengkap maka pernikahan belum selesai, sedangkan untuk pernikahan anak di bawah umur aturannya adalah mereka hanya bisa setengah menikah, peraturan ini ada untuk anak-anak yang di paksa menikah, agar saat mereka dewasa mereka bisa memutuskan hidup mereka sendiri, akan melanjutkan atau mengakhiri.
Saat kami hendak pulang paman aziz mendapatkan kabar bahwa dhahir melarikan diri, dan ayla tiba-tiba jatuh pingsan, kami langsung membawa ayla ke ruamah sakit, dokter mengatakan bahwa ada gumpalan darah di kepala ayla, dia harus segera di oprasi jika tidak nyawanya tidak akan selamat, awalnya semuanya berjalan lancar tapi tiba-tiba dokter menolak melakukan oprasi, kami pun memutuskan untuk membawa ayla ke luar negri, kami berangkat menggunakan pesawat pribadi peninggalan ayah, kami membawa ayla ke negara A, saat di selidiki ternyata dokter menolak melakukan oprasi karna ancaman dhahir, kakek sudah memberikan uang kepada dhahir untuk membeli Ayla, dengan santainya ia mengatakan bahwa ia tidak pernah menjual wanita miliknya, dia kesal karna aku menikahi ayla, dan dhahir bukanlah orang yang mudah menyerah.
Di negara A oprasi ayla berjalan sukses, tapi dia kehilangan ingatannya, dia tidak ingat apapun bahkan kepada ayahnya sendiri, dia seperti baru di lahirkan kembali, kakek memberikan sebuah rumah dan meminta paman abdul dan ayla menetap di negara A, karna hawatir dhahir akan melukai ayla lagi, sementara aku dan kakek kembali ke negaraku,
9thn kemudian
Waktu berlalu begitu cepat, Aku mendapatkan gelar sarjana tingkat 2 di usia 17thn, laila kembali setelah mendapatkan gelar dokter andrologi, selama bertahun-tahun aku selalu berurusan dengan dhahir, ia selalu memberi masalah dalam hidupku, keinginannya hanya satu, yaitu mendapatkan ayla kembali, namun aku tidak pernah memberikan apa yang menjadi keinginannya.
Tidak hanya dhahir tapi masalah juga datang dari paman ikram, suatu hari paman ikram mencoba mencelakaiku, ia tidak ingin aku mengambil alih kursi kepemimpinannya di perusahaan, namun rencananya itu diketahui kakek, perlahan-lahan kakek mengetahui semua kejahatan yang dilakukan paman ikram, kakek meninggal saat berusaha menyelamatkan aku dari rencana jahat paman ikram, sebelum tiada dalam kemarahan kakek mengutuk paman ikram bahwa sama seperti kakek tiada ditangan putranya paman ikram juga akan mengalami hal yang sama, tapi di sisi lain kakek juga berpesan padaku untuk berusaha agar kutukan itu tidak menjadi kenyataan, untuk menjaga kedamaian keluarga, aku membuat kesepakatan dengan paman ikram, aku tidak akan mengambil alih perusahaan dan dia tidak boleh mengusik hidupku.
Aku mencari jalanku sendiri, aku memilih mengajukan diri untuk menjadi pemimpin kota mengikuti jejak kakek, terlepas dari gangguan paman masih ada pengganggu lain yaitu dhahir, hidupku tidak pernah bisa damai, meski begitu aku juga merasa bahagia, walau terpisah jauh dengan ayla, aku sering menelpon paman abdul, kadang dia juga mengirimiku foto, seperti saat ayla jadi juara renang di sekolah, saat dia latihan bela diri, dan momen penting lainnya, hal itu menjadi semangatku saat aku lelah, menjadi semangat saat aku lemah.
Saat kampanye dhahir memfitnahku, merusak nama baikku di hadapan publik, tapi aku bukan orang yang mudah menyerah, dengan bantuan tuan aziz aku berhasil mengembalikan nama baiku, namun aku kalah dalam pemilihan, saat mempelajari politik dari buku harian kakek aku baru tahu kalau kota ini dinodai dengan politik uang, dan itu membuatku geram, aku dibantu oleh puluhan anak buah tuan aziz, dan teman-teman seperguruanku jasir syihab, dan feodora bilha yang merupakan anggota kepolisian, secara diam-diam aku membebaskan pencuri kecil dan menjebloskan para pejabat negara yang melakukan korupsi kedalam sel, haidar aziz yang merupakan putra dari tuan aziz membantu juga, ia membajak komputer kantor news kota dan menyebarkan bukti-bukti para koruptor itu di media, hal itu membuat kegaduhan di kota, para petinggi kepolisian tidak punya pilihan selain tetap membiarkan mereka berada dalam tahanan, selain itu aku juga mengirim bukti korupsi para koruptor dan bukti korupsi pimpinan kepolisian ke kantor pimpinan kepolisian agar beliau tidak berusaha melakukan politik uang dan membebaskan mereka dengan alasan kurangnya bukti, semua orang mencari siapa orang yang sudah melakukan semua ini, akupun muncul di hadapan publik, dan mengungkapkan semua yang kulakukan, demonstrasi terjadi di gedung pusat kota, mereka menuntut agar pimpinan kota di turunkan dan aku yang maju jadi penggantinya. Dan akhirnya aku pun berhasil meraih kursi pimpinan kota.
Setelah berhasil menduduki jabatan pimpinan kota, aku mengendalikan kota dalam genggamanku, aku menyingkirkan para pejabat yang tidak menyukai cara kerjaku, orang-orng yang lebih memikirkan uang dari pada mengabdi pada rakyat.
8thn kemudian
Aku berhasih mengubah kota dalam waktu singkat, tidak ada lagi politik uang di jajaran pemerintah kota maupun kepolisian, aku berhasil mendapatkan rasa hormat, dan di takuti oleh para penjahat, aku menggunakan kekuasaanku untuk mengubah kota menjadi seperti yang kuinginkan, kota yang damai, rakyat yang sejahtera, minimnya kejahatan dan kebodohan di kota, aku membuat kota ini maju dalam segi pembangunan namun tetap mempertahankan keasrian. Aku mewujudkan kota impian kakek yang tidak bisa ia lakukan semasa hidupnya. Ini bentuk rasa sayangku untuk kakek, ia mungkin tidak ada lagi di sampingku tapi aku harap ia bahagia melihat hasil dari kerja kerasku siang malam.