
Ayah dan ibuku memutuskan untuk membesarkan fahim sebagai adikku, aku sangat senang dengan keputusan itu, namun tanpa kusadari, seiring berjalannya waktu aku mulai merasa cemburu kepada adikku, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak merasa cemburu karena perhatian Ibu lebih banyak tercurah untuknya, aku mulai membiasakan diriku untuk hidup lebih mandiri, mengerjakan semuanya sendiri, setiap kali ibu hendak membantuku aku selalu mengatakan “ Tidak usah ibu, aku bisa sendiri, aku sudah menjadi seorang kakak, aku sudah besar”
Aku bahkan sering membantu ibu mengurus adikku, Kakek sangat marah kepada ayah dan ibu karena hal itu, aku menyaksikan sendiri pertengkaran mereka hari itu
“bahtiar, naushin, apa yang terjadi?” ucap kakek dengan marah
“ada apa ayah? Kenapa ayah marah-marah?” ucap ayah pada kakek
“Aku melihat ghaisan memasak di dapur, aku hanya pergi dinas satu bulan dan sudah melihat ghaisan bekerja di dapur, apa yang terjadi, ghaisan masih terlalu kecil untuk bekerja di dapur, apa diantara kalian berdua tidak ada yang melarang ghaisan” ucap kakek
“Ayah mertua aku sudah berusaha melarang ghaisan, tapi dia bilang dia akan melakukannya sendiri, ayah mertua tidak perlu khawatir, dia hanya memanggang roti” ucap ibu pada kakek
“ Masalahnya bukan karna ghaisan memanggang roti, tapi karna kalian berdua membiarkan ghaisan kelaparan, tidak bisakah kau sebagai ibunya memasakkan dia makanan, jika kau tidak bisa mengurus putramu sendiri, jangan sok mengurusi anak orang lain” ucap kakek
Ibu menangis mendengar ucapan kakek
“ cukup ayah ini bukan salah naushin, dia sudah berusaha menjadi ibu yang baik, anak ini sedang sakit dan membutuhkan perhatian lebih...
“karna anak ini sedang sakit kau bisa mengabaikan putra kandungmu sendiri, dan membiarkan cucuku kelaparan, kau adalah ibunya, dan kau adalah ayahnya, jika ibunya tidak bisa membuatkan makanan apa kau sebagai ayahnya juga tidak bisa” ucap kakek dengan tinggi memotong ucapan ayah
“ ayah aku sedang sibuk dengan pekerjaanku...
“ ayah macam apa kau ini, kau lebih memikirkan pekerjaan dari pada putramu yang kelaparan itu” ucap kakek memotong ucapan ayah
“ cukup ayah, kenapa ayah membesar-besarkan masalah kecil seperti ini, lagipula ghaisan bisa melakukannya sendiri, dan aku bisa mengurus keluargaku sendiri, ghaisan adalah putraku, aku yang akan mengurusnya, kau tidak perlu ikut campur” ucap ayah pada kakek
“apa kau sadar dengan ucapanmu, kau bisa mengurus keluargamu sendiri, aku ini ayahmu, aku berhak atas keluargamu, jika kau tidak suka aku ikut campur, pergi saja dari rumahku” ucap kakek dengan nada tinggi
Ayah tidak senang dengan ucapan kakek, kemudian Ia memutuskan untuk pergi dari rumah, dan memulai bisnis sendiri, sejak saat itu tanpa sadar aku menjadi pemarah Ibu mengira bahwa aku menjadi pemarah, ayah dan ibu berpikir aku menjadi pemarah karna kesepian, dan aku tidak bisa mengajak main adikku karena dia masih kecil, jadi Ibu dan ayah memutuskan untuk mengirimku ke taman bermain setiap hari, agar aku bisa dapat teman dan tidak mudah marah lagi, setiap pagi ayah mengantarku ke taman bermain sambil berangkat kerja, di taman bermain aku tidak melakukan apapun, aku hanya duduk diam melihat semua anak-anak lain bersenag-senang, saat itu entah kenapa aku bener-benar merasa terbuang, saat sore hari ibu datang menjemputku di sana, setiap hari jadi membosankan saat itu, terkadang ayah mengantarku dan ibu yang menjemputku, terkadang kebalikannya, yang berbeda hanya itu, suatu ketika kakek datang kesana, saat melihat kakek aku merasa sangat senang hingga aku memanggil kakek dengan kencang kemudian lari kepelukannya sambil menangis
Aku tidak bisa bicara, air mata yang selama ini ku tahan tak mampu ku tahan lagi, aku hanya bisa menangis tersedu-sedu dalam pelukan kakek
“ anak ini cucumu tuan?” tanya seorang pengawas
“Iya, ghaisan cucuku, apa yang terjadi, kenapa dia menangis seperti ini, apa ada yang mengganggunya di sini?” tanya kakek sambil menitihkan air mata, ikut menangis melihatku menangis
“ ayah dan ibunya menitipkan ghaisan di sini tuan, sudah satu bulan dia datang kesini tapi setiap datang ke sini dia hanya duduk di kursi di bawah pohon menyaksikan anak lain berbain, dia tidak pernah tersenyum atau bicara, bahkan saat anak lain mendekatinya dan mengajaknya bermain dia tidak mengatakan apapun, setiap kali ibu atau ayahnya menelpon dia selalu mematikannya, aku pikir anak ini bisu, aku juga tidak tau kenapa dia menangis seperti ini” Ucap pengawas itu
“ cucuku tidak bisu, dia bisa bicara, dengarkan aku, aku akan membawa cucuku pulang, jika ayah atau ibunya menelpon, katakan saja ghaisan sedang bersenang-senang dan tidak ingin di ganggu, aku akan mengantarnya lagi sore hari, jam berapa biasanya dia di jemput?” ucap kakek
“ Jam 17:00 tuan” jawab pengawas itu
“ Baiklah aku akan mengantar ghaisan ke sini pukul 16:45 “ ucap kakek
“ baiklah tuan” ucap pengawas itu
“ Ghaisan sudah jangan menangis sayang, ghaisan ikut kakek ya! Ghaisan mau kan!” tanya kakek sambil mengelus kepalaku
Aku hanya mengangguk, dan kembali memeluk kakek, pelukan kakek terasa sangat hangat, rasanya enggan ku lepaskan, kakek membawaku pergi dari sana dengan menggendongku,
Sejak hari itu pergi ke taman bermain menjadi saat yang ku nantikan, aku senang bukan karna taman bermainnya menyenangkan tapi karna aku tahu kakek menungguku di sana, setiap hari aku pergi ke taman bermain saat tiba di sana aku pergi lagi bersama kakek, sebagai pimpinan kota kakek adalah orang yang sibuk, tapi aku senang karna selalu ada tempat untukku di sisi kakek, aku mengikuti setiap kegiatan kakek dari pagi hingga sore hari, saat kakek sibuk dengan berkasnya kakek memberiku buku untuk ku baca, dan pelajari, jika aku tidak mengerti akan sesuatu kakek akan menjelaskannya, saat kakek pergi ke lokasi aku juga ikut, beliau selalu menggendongku tanpa lelah, dan aku akan menyeka keringatnya sebelum keringatnya jatuh, kakek juga mengantarku ke tempat belajar bela diri setiap jam 10: 00 dan menjemputku saat makan siang, hariku jadi menyenangkan karna kehadiran kakek di sampingku, kakek mengajariku banyak hal aku, awalnya aku tidak mau berlatih bela diri, aku bahkan sampai menangis di kelas, tapi kakek mengatakan bahwa anak pria harus kuat dan harus bisa membela dirinya sendiri, Karena itulah aku juga harus belajar beladiri, kami menghabiskan waktu seharian bersama, bersenang-senang, bermain dan belajar bersama, Setelah sore kakek mengantarku lagi ke taman bermain, tidak lama setelah tiba di taman bermain ibu datang menjemputku, Ibu tidak tahu bahwa aku tidak ada di taman bermain seharian, dan itu terus terjadi setiap hari, waktu berlalu dengan cepat,
4 tahun kemudian
Ayah dan ibu berencana memasukan aku ke sekolah, tapi mereka menyadari usiaku sudah 7thn tapi aku belum memiliki kartu penduduk, setiap anak berusia 5thn diwajibkan memiliki kartu penduduk, kartu itu akan membantu mempercepat akses sebelum mendaftar kesekolah dasar tingkat 1, ayah dan ibu mengajukan surat untuk mendapat kartu penduduk untukku tapi kantor pusat kota selalu menolaknya,