
Aku sudah selesai dengan rencanaku, aku mengambil kembali kerja keras yang diakui oleh Jenderal dan pimpinan ibukota, aku memberi tahu haidar dan inspektur jasir untuk membiarkan aku mengurus semua masalah ini karna berurusan dengan ayah akan membahayakan martabat dan mempertaruhkan jabatan, setelah selesai berbincang kami melanjutkan pekerjaan kami masing masing, aku pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan kantor setelah menyelesaikan semua pekerjaanku, dalam perjalanan menuju rumah aku terkejut saat tiba-tiba seseorang berlari di hadapan mobilku, sontak saja aku menginjak rem mobilku, aku bergegas keluar dari mobil, aku melihat seorang wanita merunduk di depan mobilku,
“ bangunlah, kau tidak apa-apa” ucapku sambil memegang lengannya dan membantunya berdiri
Beberapa orang pria kemudian menghampiri kami hingga membuat wanita itu ketakutan dan bersembunyi di belakangku
“ Pimpinan kota, wanita itu mencuri di toko ku” ucap seorang pria
“ Apa yang ia curi darimu” tanyaku
“ Dia mengambil uang dan makanan” jawab pria itu
Aku mengambil dompet dari saku
“ Apa uang ini cukup untu ganti rugi apa yang ia ambil” tanyaku sambil memberikan pedagang itu sejumlah uang
“ Ini lebih dari cukup pimpinan, terimakasih banyak, kami permisi” Ucap pria itu kemudian merekapun pergi
“ kau baik-baik saja” tanyaku
Wanita itu hanya menganggukan kepala dan terus makan seperti orang yang kepalaparan, penampilannya yang berantakan membuatku heran, aku pun meminta wanita itu naik ke dalam mobil dan membawa wanita itu ke kantor polisi, aku juga meminta haidar untuk datang, setelah tiba di sana aku membawa wanita itu ke hadapan inspektur jasir yang tengah berdiri di depan sel, dimana ia mengurung fahim,
“ kakak, akhirnya kau datang, kakak aku minta maaf padamu, aku janji aku tidak akan berbuat bodoh lagi” ucap fahim dari balik jeruji besi
“ Pimpinan, dari mana kau menangkap wanita ini, anak buahku sudah mengejarnya sejak kemarin namun dia selalu berhasil lolos” Ucap inspektur jasir
“ ada masalah apa pimpinan, kenapa kau menyuruhku buru-buru datang ke sini” ucap haidar dengan nafas yang terengah-engah
“ apa kau berlari saat datang kemari” tanyaku pada haidar
Haidar hanya menganggukan kepala menanggapi ucapanku
“ Tangani pengemis ini, jika dia warga kita pastikan ia hidup sejahtera tapi jika bukan makan kembalikan dia ke tempat asalnya” ucapku
“ Tunggu “ ucap wanita itu sambil memegang lenganku
“ aku bukan pengemis, aku datang ke kota ini untuk mencari sahabatku, tapi saat aku datang aku kerampokan, semua barang-barangku hilang di curi orang, aku tidak akan kembali sebelum menemukan sahabatku” ucap wanita itu
“ kakak bebaskan aku, aku akan membantu wanita itu untuk mencari temannya, aku janji aku tidak akan membuat masalah” ucap fahim dari balik jeruji besi
Inspektur jasir menariku menjauh dari mereka semua
“ g wanita itu berkata jujur, aku mendapat laporan perampokan 2 hari yang lalu, wanita itu adalah korbannya, kami juga sudah menemukan barang-barangnya, karna itulah sejak kemarin anak buahku mencarinya, jadi aku sarankan kau turuti saja fahim, g kau lebih tahu adikmu di bandingkan siapapun, jadi aku rasa kali ini turuti saja dia” ucap inspektur jasir,
“ baiklah, kau berikan semua barang-barangnya pada haidar dan minta dia untuk menyimpannya di rumahku dulu” ucapku
“ Aku tidak bermaksud menjelekan tapi aku menduga mata-mata ayah itu...
“aku tau siapa yang kau maksud, aku akan menanganinya dengan caraku” ucapku memotong ucapan inspektur jasir
Inspektur jasir menganggukan kepala kemudia ia pun melepas fahim, fahim langsung memeluku setelah di keluarkan dari jeruji besi
“ Kakak kau yang terbaik, aku menyayangimu (sambil memeluk) aku janji (melepas pelukan) aku tidak akan membuat masalah baru” ucap fahim
“ aku pegang janjimu, jika kau membuat masalah baru lagi aku akan mengirimmu ke luar negri” ucapku dengan tegas
Aku pergi dari sana bersama wanita itu dan fahim, kami pun pergi ke rumah fahim, setibanya di sana para pengawal sudah menyambut kami
“ Selamat datang kembali di rumah tuan” ucap salah satu pengawal
Wanita itu terlihat takjub melihat rumah fahim, kami pun masuk rumah, beberapa pelayan menyambut kami
“ Selamat sore tuan, anda mau di buatkan teh?” tanya salah satu pelayan
“ ya! buatkan tiga cangkir teh, dan kalian berdua antar nona ini ke kamar tamu, agar dia bisa mandi dan mengganti pakayannya” ucapku memerintah
“ baik tuan” jawab kompak ke tiga pelayan
“ Kak aku juga akan mandi dulu” ucap fahim
Wanita itu pergi ke kamar tamu untuk membersihkan diri, setengah jam kemudian wanita itu keluar dari kamar tamu dan menghampiriku, ia duduk di hadapanku, saat itu aku menyadari bahwa aku mengenalinya.
“ Tuan terimakasih karna kau sudah bersedia membantuku” ucap wanita itu
“ tidak masalah, karna barang-barangmu hilang dicuri orang, untuk sementara ini kau tinggal di sini, adikku fahim akan membantumu mencari temanmu, siapa namamu?” ucapku
“ namaku Alexa rawnie, aku datang dari negara A” ucap alexa
“ Usiaku 22 thn” jawabnya
“ kau sudah punya pekerjaan” tanyaku lagi
“ Aku baru lulus kuliah tahun ini, aku belum bekerja, sebenarnya aku dan sahabatku berencana untuk membangun usaha sendiri, dia bilang dia akan kembali setelah 1 minggu, tapi karna hawatir aku datang ke kota ini untuk menjemputnya” ucap alexa
“ Ghaisan....” terdengar teriakan suara laila,
Ia mengalungkan tangannya ke leherku dari belakang dan bersikap manja padaku
“ kakak kau di sini” ucap fahim sambil berjalan menuruni tangga
Laila langsung lari dan memeluk fahim, ia menciumi pipi fahim kemudian mengacak-ngacak rambut fahim
“ Sayangku, aku amat merindukanmu” ucap laila pada fahim
“ berhenti bersikap seperti ini padaku kakak, aku bukan anak kecil lagi” ucap fahim
“ kau memang bukan anak kecil, tapi bagiku kau tetap adik kecilku” ucap laila sambil mencubit kedua pipi fahim dengan gemas
Laila merangkul fahim dan merekapun berjalan mendekatiku, laila duduk di sampingku kemudian memeluk lenganku sambil menatapku dengan manja
“ Apa suamimu melakukan kesalahan lagi sampai kau bersikap seperti itu pada kak g” ucap fahim
“ bukan kesalahan fahim, dia bersikap manja seperti ini karna dia menginginkan sesuatu dariku, katakan padaku apa yang kau mau?” ucapku
“ Kau memang yang terbaik g, g aku ingin ikut pergi ke negara z bersama khritik, bolehkan!” tanya laila dengan wajah meinta di kasihani
“ jika kau pergi bagaimana denganku?” tanyaku
“ ayolah ghaisan, hanya aku hanya pergi selama tiga hari, aku ingin bersenang-senang, aku dengar di negara z ada tempat-tempat yang indah” ucapnya dengan manja
“ baiklah, pergilah... “ ucapku
“ Terimakasih sayangku ( mencium pipi) kau yang terbaik “ Ucap laila
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan laila langsung pamit kemudian pergi
“ nona dia adalah kakak pertama ku, dia selalu bersikap seperti itu padahal dia sudah menikah” ucap fahim menjelaskan
“ alexa, namaku alexa, aku pikir dia adalah istri tuan”
“ Aku! Ya semua orang selalu meledekku seperti itu, karna kakakku selalu bersikap manja padaku, dan sebenarnya karena aku juga, aku tidak pernah memanggilnya kakak di hadapan umum, aku selalu memanggil dengan namanya Laila” Jawabku
“ maaf jika tidak salah dengar tadi dia memanggil tuan ghaisan?” tanya alexa
“ ya! Namaku memang ghaisan” jawabku
“ dan manaku fahim hayatuna, kenapa kau terlihat heran mendengar nama kakakku?” tanya fahim
“ Apa nama mu ghaisan ahmad altamis? “ tanya alexa
Aku hanya menganggukan kepala sambil tersenyum, dan alexa pun ikut tersenyum
“ Apa kau mengenal kakaku?” tanya fahim
“ aku tidak mengenalnya tapi aku pernah mendengar namanya dari sahabatku” ucapnya sambil tersenyum
“ Dia sahabatnya ayla” ucapku
“ apa dia sahabatnya kakak ipar? (bicara dengan nada yang tinggi) bagus sekali kalau begitu, itu artinya kita mencari orang yang sama” ucap fahim dengan bahagia
“ tunggu dulu, bagaimana tuan ghaisan bisa tau kalau sahabatku itu ayla, dan apa kau bilang tadi? (Menatap fahim) Kenapa fahim menyebut ayla kakak ipar? ( menarapku)” tanya alexa
“ Kau tanya saja pada fahim, ini sudah petang aku harus pulang” ucapku kemudian beranjak pergi
“ Tunggu kakak (memegang lenganku untuk menghentikanku)
Tinggalah bersamaku di sini, aku mohon, lagi pula ikram dan viida tidak di rumah” ucap fahim
Aku menampar perlahan pipi fahim
“ harus berapa kali aku katakan padamu, panggil mereka dengan sebutan ayah dan ibu, aku ingin tinggal denganmu, tapi tidak untuk saat ini, cobalah untuk mengerti fahim” ucapku
Aku melepaskan tangan fahim yang memegang lenganku kemudian pergi dari sana.