
Dia memintaku mengikutinya, kami menaiki tangga, kemudian berjalan diantara kamar-kamar yang berjejer seperti di tempat penginapan, dhahir mengajaku masuk ke salah satu kamar, aku melihat ayla tengah berbaring dengan gaun anak wanita yang tak pernak ia kenakan sebelumnya, ia terlihat cantik dengan pakaian itu,
“ kakak" ucap ayla sambil bangun kemudian duduk diatas tempat tidur, wajah sedih dan mata berkaca-kaca itu membuat aku kesal, aku tidak terbiasa dengan wajah sedihnya itu, karna dia biasanya selalu ceria
" kalian saling kenal?" tanya dhahir yang terlihat terkejut saat ayla memanggilku kakak
"tuan dia temanku, bolehkah aku membawanya pulang bersamaku? aku mohon.." tanyaku sambil memasang wajah minta dikasihanin
" boleh ghaisan, tapi kau harus melakukan sesuatu dulu untuku" ucap dhahir
" apa itu?" tanyaku
“ buka baju kalian berdua” ucap dhahir
“ aku tidak mau” jawabku
“ kakak turuti saja, aku tidak mau tinggal di sini” ucap ayla
“ Ayla tenang saja, kita tidak harus melakukan perintahnya, kita pasti bisa keluar dari sini” ucapku mencoba menenangkan ayla
Dhahir menutup pintu kamar dan menguncinya,
“kau tidak punya pilihan lain ghaisan, ayo kita mainkan sebuah permainnan, yang kalah buka baju” Ucap dhahir kemudian duduk di atas tempat tidur
Aku dan ayla mengikutinya dan kami duduk diatas tempat tidur sambil berhadapan, kami bermain ludo bersama sambil tertawa, hingga tanpa sadar waktu berlalu aku, ayla dan dhahir hanya tinggal memakai celana dalam,
“ baiklah ghaisan ayo kocok dadunya, setelah ronde ini yang kalah harus mengikuti kata-kata yang menang “ ucap dhahir
“ oke!” jawab kami serentak
Satu ronde berlalu aku dan ayla kalah hingga harus membuka celana dalam, satu ronde lagi berlalu dan dhahir menang lagi, ia meminta pengawal memanggil wanita dewasa masuk ke dalam kamar, wanita yang sangat cantik dan berpakaian minim, ia langsung membuka pakaiannya setelah masuk ke dalam kamar,
“ oke ghaisan, kali ini permainan pasang-pasangan, aku dengan lisa dan kau dengan ayla, kita akan main kuda-kudaan, siapa yang bisa bertahan lebih lama maka dia yang menang” ucap dhahir
“ Tuan jika aku menang aku bisa ajak ayla pulang denganku?” tanyaku dengan penuh semangat
“ayo ghaisan berbaringlah, aku akan mengajarimu permainan yang paling menyenangkan di dunia”
Aku berbaring di sebelahnya, ayla kemudian menjilati pistolku mengikuti apa yang dilakukan oleh lisa, aku merasakan perasaan yang sangat aneh, rasanya seperti aku ingin pipis tapi berbeda,
“kakak, kenapa pistolmu sangat enak” ucap ayla
Aku tidak mengatakan apapun karna menahan rasa aneh itu, aku takut akan pipis di wajah ayla, pistolku yang semula tidur terasa kencang
“ oke ghaisan ayo kita masuk ronde ke dua, ayla sekarang kau yang berbaring” ucap dhahir
Kami hanya menuruti perintahnya tanpa tau apa yang sedang kami lakukan hanya agar dia membuka pintu dan membiarkan kami pergi
“ Ghaisan masukan pistolmu ke dalam lubang ini” ucap dhahir sambil menunjuk ke **** ayla
“ Tapi kakak aku ingin pipis dulu boleh tidak” ucapku sambil memegang pistolku yang tegang
“ Tidak bisa kau harus memasukannya dulu baru kau pipis” ucap dhahir sambil tersenyum
“ cepat lakukan saja tuan muda, kau ingin segera pulang atau tidak” ucap lisa
“ Iya kakak ayo cepat turuti saja, aku ingin segera pulang” ucap ayla
Aku pun melakukannya, aku memasukan pistolku ke dalam lubang **** ayla
“ahhh.....” kami menjerit kesakitan bersama
Aku melihat darah mengalir dari lubang **** ayla dan itu membuatku ketakutan, pistolku juga terasa sangat sakit hingga tidak bisa bergerak, ayla menangis karna kesakitan, tiba-tiba pintu kamar hancur dan paman abdul, tuan aziz dan laila muncul dari pintu, tuan aziz langsung menggendongku sementara paman abdul menggendong ayla, dhahir dan lisa kabur karna ketakutan, ayla terus menangis kesakitan dan aku juga menangis karna tidak bisa menahan rasa sakit dari pistolku, rasanya seperti aku ingin mengeluarkan sesuatu yang keras dari lubang pistolku,
“ Dhahir... Kau memang bi**b, kau mengajari anak kecil melakukan hubungan, aku akan melenyapkanmu” ucap tuan aziz dengan nada tinggi
“ Ini bukan saat yang tepat untuk melenyapkannya tuan, kita harus membawa ghaisan dan ayla ke rumah sakit” ucap laila
Mereka pun membawa kami pergi dari kamar itu, rasa sakit dari pistolku membuat kepalaku pusing, samar-samar aku mendengar tuan aziz memintaku untuk tetap membuka mata, tapi aku tidak bisa menahannya