For.get

For.get
What the...



Aku membuka mataku dan menyadari aku terbangun di sebuah kamar yang sederhana namun indah, dinding kayu yang halus, sinar matahari yang masuk melalui jendela, barang-barang yang tersusun sangat rapih sejenak membuatku terpaku dan bertanya


“ Siapakah yang tinggal di kamar seindah ini?” ucapku dalam hati


“Ahhh...” suara teriakanku


Aku berteriak karna terkejut melihat diriku sendiri dalam cermin, teriakanku semakin kencang kala aku melihat seorang pria dari cermin yang keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk, pria itu juga ikut berteriak, kemudian seorang pria datang tergesah-gesah dengan nafas yang terengah-engah


“ Ada apa? Apa yang terjadi di sini?” ucap pria yang baru masuk


“ Dia yang lebih dulu berteriak” ucap pria yang hanya memakai handuk


“ Aku, ya aku berteriak karna terkejut melihat diriku dalam cermin” ucapku


“ Astaga... Aku pikir ada masalah besar yang terjadi” ucap pria yang baru masuk


“ Kau tau Haidar, wanita itu menjerit karna melihat dirinya sendiri yang seperti hantu” ucap pria yang memakai handuk sambil merangkul pria yang baru masuk


“whahahaha” suara tawa kompak dari kedua pria itu


“ Aiiissshhh.... Aku tidak teriak karna itu, aku teriak karna aku menyadari aku tidak memakai pakaian yang kemarin malam aku kenakan, kau pria berhanduk, katakan apa yang terjadi semalam, kau keluar dari kamar mandi, jadi kau pasti pembuat masalahnya” ucapku dengan nada marah


“ jangan ingatkan aku soal semalam aku mohon padamu nona” ucap pria yang memakai handuk


“ Tuan Ghaisan sebaiknya kau memakai baju dulu baru kita bicara, aku hawatir kau akan jatuh sakit jika terlalu lama seperti itu” ucap pria yang baru masuk


“Kau benar juga” Ucap pria yang memakai handuk


“ Tuan Ghaisan” ucapku sambil mendekati mereka berdua kemudian aku menarik tangan pria beranduk


“ lepaskan aku nona, jangan lagi, haidar jauhkan kucing liar itu dariku” ucap pria berhanduk sambil ketakutan kemudian ia masuk ke dalam kamar ganti


Aku melupakan masalah baju yang ku pakai karna nama ghaisan, aku bertanya pada pria yang baru masuk tapi dia malah memintaku mandi dan turun ke bawah, dia mengatakan bahwa tuan ghaisan akan menjawab pertanyaanku nanti, pria itu mengambilkan handuk dan goodie bag berisi pakaian untuku, tanpa sadar aku menuruti perkataan pria itu, aku pergi mandi dan mengganti pakaianku


“Setelah kau selesai mandi cepat keluar, kita sarapan bersama” terdengar suara teriakan seorang pria dari luar kamar mandi


Setelah selesai mandi aku keluar dari kamar itu, aku mengetahuai seluruh bagian rumah itu terbuat dari kayu yang diukir dengan indah, aku ingat dengan jelas, dari cerita Ayah Ghaisan adalah orang kaya, kenapa dia tinggal di rumah kayu yang berukuran kecil seperti ini, aku pikir dia tinggal di rumah besar nan mewah, dikelilingi pengurus rumah tangga, dan pengawal dalam jumlah yang banyak, tapi aku lihat hanya ada satu orang wanita tua dan satu orang yang entah siapa di rumah ini, aku berjalan menghampiri mereka yang tengah duduk di meja makan, wanita tua itu menyapaku dengan hangat lalu memintaku untuk duduk, aku tersenyum padanya dan membalas sapaanya, dia memperkenalkan dirinya padaku, dia bilang namanya adalah bibi chanai, tapi tuan Ghaisan dan tuan Haidar memanggilnya bichan, nama yang sangat lucu menurutku, aku hendak bertanya pada Ghaisan, tapi sebelum aku bicara dia sudah mengatakan dengan sikap memerintah untuk sarapan dulu sebelum makanannya menjadi dingin, sesudah sarapan, dia mengajakku ke ruang kerja, aku dan Ghaisan duduk bersama sementara Haidar berdiri di sampingku, kami bicara disana


“tuan aku tidak mendapatkan informasi apapun tentang wanita itu, sepertinya dia berasal dari luar kota, bukan begitu? “ ucap Haidar


“ ya aku memang tidak berasal dari kota ini, tapi aku juga tidak berasal dari luar kota, lebih tepatnya aku berasal dari luar negeri” ucapku


“Wah jadi kau adalah turis, kau sangat hebat Nona, Kau pasti berasal dari keluarga kaya, aku tebak usia mu saat ini sakit pasti sekitar 20thn, benarkan! “ ucap Haidar


“Aku bukan turis, dan aku juga bukan wanita dari keluarga kaya, tapi kau benar usiaku saat ini 20thn” ucapku


“Wah kau bukan dari keluarga kaya, tapi bisa jalan-jalan ke luar negeri, Kau pasti punya pekerjaan yang bergaji besar” ucap Haidar lagi


“aku pengangguran, Sebenarnya aku datang kemari karena memenuhi perintah mendiang ayahku, ayah memintaku menemui tuan Ghaisan” ucapku


“sudah cukup introgasi mu Haidar” ucap Ghaisan


“ jadi dari tadi aku sedang diinterogasi? Astaga... bagaimana bisa aku tidak menyadarinya” ucapku dalam hati


“Haidar tunggulah di luar sebentar, Aku ingin bicara dengan wanita ini” ucap Ghaisan memerintah Haidar


Haidar pergi dari ruangan itu


“kau diminta ayahmu untuk datang kemari?” tanya Ghaisan


“iya, sebelum meninggal ayah mengatakan aku harus menemuimu” ucapku


“Siapa nama ayahmu?”


“nama ayahku Abdul Ghaffar”


“Owh, jadi kau putri Abdul Ghaffar, pria yang tidak bertanggung jawab, pria yang meninggalkan kota ini dan pergi kabur bersama putrinya”


“ Ayahku tidak meninggalkan kota ini untuk kabur darimu tuan, dia hanya takut kehilangan ku “


“ayahmu meninggalkan banyak hutang, apakah itu sebabnya kau menjadi wanita penghibur? “


“Jaga ucapanmu itu tuan Ghaisan, aku bukan wanita seperti itu, Aku bukan wanita penggoda, dan aku tidak akan pernah menjadi wanita penggoda hanya untuk melunasi hutang ayah, jadi jaga bicaramu itu” ucapku dengan nada kesal


“ Lalu kenapa kau bisa berada di sana?”


“ Aku tidak ingat banyak tentang kejadian kemarin, tapi yang pasti aku tidak berada di sana atas kemauanku, kemarin saat aku dalam perjalanan, ada beberapa orang yang menghadang jalan, bahkan mereka memukuli sopir taksi yang aku tumpangi, aku berhasil melawan mereka semua hingga tumbang, tapi kemudian seseorang membekapku dari belakang, saat aku sadar aku sudah berada di tempat itu”


“ Cerita bagus juga, sepertinya kau seorang penulis, baiklah Ayla aku harus pergi, sampai jumpa nanti sore” ucap Ghaisan sambil pergi meninggalkanku


Aku terkejut karna Ghaisan mengetahui namaku, seingatku aku belum memberitahu namaku padanya, aku mengejarnya untuk bertanya tapi langkahku terhenti saat aku melihat Ghaisan merangkul Haidar, aku berjalan mengikuti mereka dan mendengar percakapan mereka


“ Tuan G, wanita itu sangat aneh, dia menjerit hanya karna dia tidak memakai baju yang sama, tapi kau lebih aneh, kenapa kau ikut menjerit tadi” ucap Haidar


“ Haidar Aziz, aku berteriak karna sebenarnya aku sedikit takut pada wanita itu, kau tahu dengan jelas apa yang dia lakukan padaku semalam, aku takut dia akan melakukannya lagi, bekas merah di tubuhku ini belum hilang, jika dia membuat bekas merah baru karna tidak bisa mengendalikan diri lagi, aku mungkin akan berubah jadi srigala” ucap Ghaisan


“ Tuan ini, dia seperti itu karna pengaruh obat”


“ Karna obat atau bukan dia adalah ayla, sejak kecil dia itu sudah menjadi kucing liar, apa kau pikir setelah dia sebesar itu dia bisa jadi angsa putih yang cantik”


“ tuan mengenal gadis itu”


“ Sudah jangan bahas dia lagi, kita sudah terlambat, ayo”


Merekapun pergi meninggalkan rumah, apa yang Ghaisan katakan, dan apa yang aku lakukan semalam sampai membuat tubuh Ghaisan dipenuhi merah-merah...