For.get

For.get
Keinginan ku



Ayla pun memutuskan untuk mengejar ghaisan namun ghaisan sudah pergi terlalu jauh dari ayla, ayla kembali ke rumah begitu pun dengan ghaisan.


Keesokan harinya


Di saat ghaisan melakukan kebiasaannya di akhir bulan mendatangi sebuah panti jompo yang ada di dekat taman kota, Ayla justru mencari ghaisan dengan mendatangi kantornya untuk mengajaknya bicara, namun setibanya di sana ayla terkejut dengan keadaan kantor yang terasa suram, pegawai yang dulunya ramah dan ceria kini bersikap serius dan dingin, ayla pergi ke ruangan ghaisan namun bukannya ghaisan yang ia temui ia justru bertemu dengan haidar di ruangan pimpinan kota


“ haidar di mana ghaisan?” Tanya ayla


“ kenapa kau mencari rubah licik itu di sini, apa kau tidak tahu kalau dia sudah di pecat jadi pimpinan kota” ucap haidar dengan kasar


“ Apa yang terjadi haidar?” ayla bertanya karna rasa penasarannya dengan keadaan yang terjadi, ia melihat papan nama pimpinan kota yang awalnya bertuliskan nama ghaisan kini berubah menjadi atas nama haidar aziz


Haidar kemudian mengajak ayla pergi ke luar, mereka pun mendatangi taman kota, ayla sama sekali tidak tahu apa tujuannya tapi ia tetap pergi dengan haidar, ayla dan haidar berjalan sambil berbincang


“ ghaisan itu bukan orang yang baik ayla, dia selalu bersikap tidak sopan pada presiden, dan pada para pimpinan kota lain, selain itu dia juga sudah memfitnah jendral polisi agar ia di pecat, namun semua rencananya di ketahui presiden, kau tahu ayla! ghaisan menjadi pimpinan kota dengan cara mengancam presiden dan maksanya melantik dirinya menjadi pimpinan kota, presiden sudah tidak tahan terus di tekan olehnya, selama ini ghaisan selalu bersikap seenaknya, dia bahkan hanya berleha-leha di kantor, kadang dia keluar bersenang-senang dengan para gadis, sekarang lihat apa yang terjadi padanya, dia di pecat dengan cara tidak hormat” haidar menjelek-jelekan ghaisan di depan ayla


Ayla hanya diam saat haidar bicara buruk tentang ghaisan, ia tidak percaya pada ucapan haidar ia merasa bahwa ucapan haidar hanyalah kebohongan belaka.


“lihatlah ke sana ayla” ucap haidar sambil menunjuk ke salah satu sudut taman,


Seorang pengemis buta yang sudah tua renta tengah duduk di sana, haidar mengajak ayala berjalan mendekatinya


“ jangan percaya pada ghaisan, dia seorang pendusta besar, tidak seharusnya dia menjadi pimpinan kota” ucap pengemis buta dengan suaranya yang sudah tak merdu lagi termakan usia


Tidak ada seorang pun yang peduli pada pengemis itu, ayla mendekati pengemis itu kemudian mengambil tangannya dan menyelipkan sejumlah uang, pengemis itu mengelus-ngelus tangan ayla mencoba mencari tahu siapa yang memberinya uang, pengemis itu mengembalikan uang itu ke genggaman ayla kemudian menyembunyikan tangannya ke belakang tubuhnya


“ kau sangat baik hati nona, tapi maaf aku tidak mau menerima uang darimu, aku do’a kan semoga sang pencipta memberimu kebahagiaan yang berlimpah” ucap pengemis itu


Haidar melakukan apa yang ayla lakukan, ia menyelipkan uang ke tangan pengemis itu namun pengemis itu melakukan hal yang sama, ia mengembalikan uang itu ke tangan haidar, haidar pun menjadi kesal


“ Kau itu hanya seorang pengemis, kenapa kau bersikap sombong” ucap haidar


“ Anak muda sekeras apapun kau berusaha kau tidak akan mendapatkan tujuanmu jika itu bukan hak mu” ucap pengemis buta itu


Haidar yang kesal meninggalkan pengemis itu dan juga ayla di sana, ia pergi sambil bergumam


“ Maafkan temanku pak, dia tidak bermaksud bersikap kasar padamu” ucap ayla dengan nada lembut


Ayla pun pergi dari sana namun ia tidak pulang ke rumah ia hanya menjauh dari pengemis itu, ayla duduk sambil memperhatikannya,


“ jangan percaya pada ghaisan, dia seorang pendusta besar, tidak seharusnya dia menjadi pimpinan kota” pengemis itu terus mengatakan hal yang sama berulang ulang


Setelah memberikan uang bulanan kepada pengurus panti jompo ghaisan pergi menghampiri pengemis yang tengah menjelek-jelekan namanya di sudut taman kota, ayla terkejut melihat ghaisan menghampiri pengemis itu.


“ hem aroma ini” ucap pengemis itu sambil tersenyum


Ghaisan menyelipkan uang di tangan pengemis itu, kemudian pengemis itu memegang tangan ghaisan lalu memasukan uang yang ia dapatkan dari ghaisan kedalam saku celananya, ayla semakin terkejut melihat apa yang terjadi, ia merasa tak percaya hingga memukul pipinya sendiri untuk memastikan ia tidak bermimpi.


Ghaisan tersenyum kemudian membantu pengemis itu berdiri, ia menggendong pengemis itu masuk ke salah satu lestoran ternama yang ada di samping taman, tanpa ghaisan sadari ayla tengah mengikutinya dari belakang, ghaisan mendudukan pengemis tua itu di kursi, ayla yang mengikutinya pun duduk membelakangi ghaisan sambil terus memperhatikan mereka, ghaisan memanggil pelayan dan memesan makanan tanpa bicara, ia menggunakan bahasa isyarat seperti orang bisu, tidak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang


“ wah.. aromanya sangat lezat” ucap pengemis tua itu


Ghaisan menggenggam tangan pengemis itu dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang sendok dan menyuapi pengemis itu, dengan lembut dan penuh kesabaran, pengemis itu makan dengan lahapnya, ia menikmati makanan dari tangan orang yang ia hina-hina.


Setelah selesai makan ghaisan berdiri, mengambil uang dalam dompet yang ia letakan di saku kemejanya, ghaisan menaruh uang di meja untuk membayar makanan itu kemudian membantu pengemis itu berdiri, sontak saja ayla langsung merunduk karna tidak ingin ghaisan melihatnya, ghaisan kembali menggendong pengemis itu,


“ kau tau teman! Ghaisan itu bukan pria yang baik, dia seorang pembohong besar, apa kau tau! Kota kita ini sedang di ambang kehancuran dan semua itu karna pemimpin kita yang bernama ghaisan itu, beberapa waktu yang lalu aku denger listrik padam selama 3hari 4malam, selama itu air pun tidak mengalir, semua perusahaan meliburkan kariawannya dan semua pedagang kebingungan semuanya kacau karna pemimpin kota yang bernama ghaisan itu” ghaisan terus berjalan sambil menggendong pengemis tua itu yang tidak henti-hentinya menjelekan namanya.


Ayla terus mengikuti ghaisan dari belakang, ia semakin yakin untuk menikah dengan ghaisan, mereka pun sampai di sebuah panti jompo, ghaisan menurunkan pengemis tua itu, pengemis itu kemudian di bawa masuk oleh kedua wanita paruh baya pengurus panti, pengemis itu kemudian menceritakan bahwa ia telah di ajak makan makanan enak dengan wajah bahagia, ghaisan tersenyum melihat tingkahnya, ayla yang awalnya bersembunyi menampakan dirinya di hadapan ghaisan,


“ kau” ucap ghaisan terkejut


“ ghaisan nikahi aku, ku mohon, ya!” ucap ayla dengan manja


“ Apa?” ucap ghaisan terkejut


“ ghaisan... Yang tampan... Maukah kau menikahiku” ucap ayla dengan senyum manja


“ tidak, aku tidak mau” Ucap ghaisan kemudian meninggalkan ayla sendiri


“ Ghaisan... Ya! Ya! Ya! Kumohon” ucap ayla sambil memeluk tangan ghaisan dan bersikap manja


“ ghaisan....