
Aku membuka mataku, aku melihat seorang nenek dan seorang kakek tengah menatapku
“ Kau sudah sadar nak” Ucap kakek
“ Memangnya aku kenapa kek?” Tanyaku heran
Aku mencoba untuk bangun tapi seluruh tubuhku terasa sakit,
“ Kau masih terluka jangan bangun dulu” Ucap nenek
“Kakek nenek badanku terasa sakit, apa yang terjadi?” Tanyaku ingin tau
“ kami tidak tau nak, kami menemukanmu di pinggir sungai dalam keadaan terluka dua hari yang lalu” jawab kakek sambil membantuku untu duduk
“ Siapa namamu nak?” Tanya nenek
“ Namaku....hehe sepertinya aku lupa siapa namaku nek” jawabku sambil tersenyum
“ apa kau ingat dimana rumahmu” tanya kakek
Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, aku melihat sebuah foto pernikahan yang terlihat sangat mesra dan bahagia,
“ kek, nek, itu foto siapa?” tanyaku ingin tahu
“ Itu foto pernikahan anak kami, tapi sekarang dia sudah meninggal, dia meninggal saat melahirkan anaknya, anak mereka sangat manis, kami memaksa menantu kami untuk menikah lagi, sejak saat itu kami tidak pernah bertemu dengan menantu ataupun cucu kami” ucap nenek
“ Semua ini kesalahanku, aku yang memaksa menantu menikah lagi, terkadang aku menyesalinya, karna ternyata istri keduanya bukan wanita yang baik, menantu tidak pernah datang lagi saat tau kebenaran tentang istrinya, karna dia takut istrinya juga akan mengambil harta kami” ucap kakek sambil menitihkan air mata
“Seandainya saja kami percaya bahwa menantu bisa membesarkan cucu kami seorang diri, kami pasti masih bersamanya, dan cucu kami pasti sudah sebesar dirimu saat ini” ucap nenek
Aku juga ikut menangis mendengar cerita mereka,
“tidak apa-apa nak, semuanya baik-baik saja sekarang, nak maukah kau menjadi cucu kami?” ucap nenek itu sambil membelai rambutku
“ apa yang kau katakan itu rania, apa kau sadar dengan apa yang kau pinta darinya, dia memang lupa pada dirinya, tapi dia pasti punya keluarga yang sedang mencarinya saat ini” ucap kakkek
“ Aku mau nek” ucapku sambil memeluk nenek tua itu
“ Nenek kakek kau harus memberiku nama, karna aku tidak tau namaku, kakek dan nenek tidak usah khawatir, meskipun mungkin aku punya keluarga dan mungkin suatu saat aku akan pergi dari sini tapi kalian akan tetap jadi nenek dan kakeku” ucapku sambil masih memeluk nenek tua itu
“ Tentu saja nak, namamu adalah...”
“ bolehkah aku menggunakan nama putri kalian yang telah wafat?” tanyaku memotong ucapan kakek
“ tentu saja nak, mulai sekarang namamu adalah rashiqa” ucap kakek sambil mengelus kepalaku
Sejak saat itu aku menjadi cucu nenek rania dan kakek mahrus, hari-hari berlalu tidak terasa sudah satu minggu sejak siuman aku tinggal di sini, kakek dan nenek merawatku dengan baik, aku pulih dalam waktu tiga hari, aku bahkan sudah bisa membantu kakek di kebun dua hari ini, kebun kakek memang tidak luas tapi hasil dari kebun cukup untuk kami, pagi hari kami ke pasar untuk menjual hasil berkebun, sore harinya kami berkebun untuk kami jual esok hari, kami hidup dengan damai dan bahagia sampai hari ini, meski terkadang aku bertanya-tanya siapa aku? Tapi aku tidak pernah sekalipun merasa ingin kembali kemasa lalu, ini aneh bukan, aku kehilangan jati diriku tapi aku merasa bahagia mendapatkan identitas baru.
“Rashiqa ayo pulang ini sudah siang” Ucap nenek
“ nenek sudah beli pupuknya?” Tanyaku
“ sudah sayang, ayo!” ucap nenek
Aku berjalan pulang dengan nenek sambil menggandeng tangannya yang kurus keriuput, saat kami pulang ke ruamah ada beberapa orang yang berbadan besar seperti penjahat di dekat rumah, mereka melihat ke arahku kemudian berbisik, entah apa yang tengah mereka bisikan, aku dan nenek bergegas masuk ke dalam rumah, saat aku dan kakek hendak memetik jeruk di kebun orang-orang itu juga masih ada di sana, entah siapa orang-orang itu tapi keberadaannya membuatku merasa tidak nyaman, aku pikir mereka akan sudah pergi saat aku dan kakek kembali dari kebun tapi ternyata orang-orang itu masih berada di sana, aku terkejut saat masuk rumah, seseorang berbaring di kursi ruang tamu,
“ nek siapa pria ini” tanya kakek yang juga terkejut
“ apa dia mengalami kecelakaan dan hanyut di sungai kek?” tanyaku penasaran
“ Tidak rasiqa, dia tidak hanyut terbawa sungai, pakaiannya bersih, aku rasa dia kelelahan, dari pengalamanku sepertinya dia juga tidak makan selama beberapa hari” jawab kakek
“ baiklah pak dokter, kau tidak akan menjadikannya cucumu juga kan!” tanyaku iseng
“ahhhh....” jeritku kesakitan karna kakek menjewer telingaku
“ anak nakal, sana cepat mandi badanmu bau keringat, anak gadis tidak baik berpenampilan seperti ini” ucap kakek sambil tersenyum
Aku pergi mandi kemudian membantu nenek di dapur untuk menyiapkan makan malam, saat kami hendak makan malam pria yang pingsan itu sadarkan diri, kakek bergegas memeriksa pria itu, dan memberinya segelas air,
“ bagus sekali kau sadar di waktu yang tepat, makan malam sudah siap ayo cepat bangun dan makan bersama kami” ucapku
Pria itu tiba-tiba memegang tanganku
“ Maafkan aku ayla, aku tau aku sudah berkata kasar padamu, tapi aku tidak pernah berniat menyakitimu” Ucapnya sambil terus menggengam tanganku dan menatap mataku
“Kau mengenalku?” tanyaku
“ hahaha... Apa kau bercanda ayla, ini tidak lucu, sungguh” ucapnya sambil tersenyum
“nanti saja ngobrolnya, pria ini kelaparan, ayo sebaiknya kita makan dulu” ucap kakek
Kami makan bersama, dia terus menatapku dengan tatapan tajam membuatku tidak nyaman, setelah makan kami duduk bersama dan berbincang sambil menikmati secangkir teh
“ siapa namamu nak? Dan kau berasal dari mana?” tanya kakek
“ namaku ghaisan kek, aku berasal dari kota ini” jawab pria itu sambil menatapku
“Ghaisan namamu seperti nama pemimpin kota, atau kau memang...”
“ Aku sedang mencari pekerjaan nek, bisakah kalian mempekerjakan aku?” ucap ghaisan memotong pembicaraan nenek sambil terus menatapku
“ Kenapa kau bisa pingsan di pinggir sungai?” tanya kakek lagi
“ Aku tengah mencari Ayla, calon istriku, dia mengalami kecelakaan dan jatuh ke sungai, semua orang mengatakan dia sudah tiada, tapi aku yakin dia masih hidup dan baik-baik saja, karna kucing liarku mempunyai sembilan nyawa, dia tidak akan pergi dengan mudah” jawabnya sambil masih menatapku
“ Kenapa kau terus menatapku seperti itu” tanyaku penasaran
“ Iya nak, kami perhatikan kau dari tadi menatap cucu kami, boleh kami tau kenapa?” tanya kakek
“ karna dialah alya, kucing liarku” ucapnya dengan lembut
“ boleh kami tau kapan kejadiannya nak?” tanya nenek
“10 hari yang lalu nek, nek boleh aku tau dari mana kau mendapatkan cucu seperti dia” ucapnya Sambil menunjukan jari ke arahku
Nenek dan kakek menarik tanganku
“ nak mungkin dia adalah kekasihmu, dia bilang kau alyanya, lagipula kau kehilangan ingatanmu, coba kau cari tahu, siapa tau dia berkata jujur...
Siapa aku sebenarnya?