For.get

For.get
GS. Masa lalu Part.12



Wajah paman berubah jadi pucat saat kakek meminta berkas itu, entah mengapa aku senang melihatnya, aku memberikan berkas itu pada kakek, namun sebelum kakek membacanya paman ikram merampas berkas itu,


“ Tidak ada yang salah dengan berkas ini ayah, aku tidak akan mencurangi keponakanku sendiri” ucap paman dengan wajah panik


Aku jadi ingin tertawa melihatnya,


“ Berikan padaku paman, aku akan menandatanganinya” ucapku sambil tersenyum


Aku bisa saja memberitahu kakek tapi aku tidak mau kakek mengetahui apa yang putranya coba lakukan, aku khawatir kakek akan jatuh sakit karna tertekan keadaan, tiba-tiba aku teringat pesan bibi kepadaku, bibi pernah mengatakan kepadaku untuk tidak takut kehilangan apapun, karena yang jadi milikku akan tetap menjadi milikku, akhirnya aku pun menandatangani surat itu tanpa ragu,


Setelah selesai dengan urusan tandatangan itu, paman berpamitan dan membawa fahim pergi, sebelum pergi fahim memeluku dengan sangat kencang


“ Kakak aku sangat menyayangimu, apapun yang terjadi sampai kapanpun adalah kakaku” bisik fahim


“Aku juga sangat menyayangimu fahim, jaga dirimu baik-baik” jawabku berbisik padanya


Fahim pun melepas pelukannya, Aku melihat fahim perlahan berjalan pergi dengan menggandeng tangan paman, sesekali ia melihat kearahku, ia masuk ke dalam mobil paman, ia melihatku dari kaca mobil kemudian dia mengedipkan mata kanannya, aku tidak dapat mengerti arti dari kedipan matanya tapi aku merasa kedipan matanya itu memiliki arti, apa yang fahim lakukan itu membuatku berpikir keras,


“ghaisan, sampai kapan kau akan terus berdiri dan melihat fahim menjauh, ayo masuk, mobilnya juga sudah tidak terlihat, sudahlah... tegarkan hatimu, yakinlah semua yang terjadi adalah untuk yang terbaik” ucap kakek


Aku pun menuruti perkataan kakek dan hendak masuk rumah namun langkahku terhenti saat mendengar suara keributan, rasanya seseorang memanggilku


“tuan muda...tuan muda...” ucap seseorang yang mencoba menerobos masuk namun di halangngi oleh para penjaga


“ Ada keributan apa di luar?” Tanya kakek


“ entahlah kek, sebaiknya kita melihatnya” jawabku


Aku dan kakek berjalan mendekati keributan itu, tiba-tiba seorang pria menerobos penjaga dan berlari ke arahku, kemudian ia menjatuhkan dirinya dihadapanku bersujud di kakiku,


“ Maafkan kami tuan, kami sudah berusaha mencegahnya masuk tapi pria itu tetap memaksa, kami akan membawanya pergi” ucap salah satu pengawal


“Biarkan aku akan mengurusnya, kalian pergilah ke tempat masing-masing” ucap kakek dengan tegas


“Tuan muda tolong ampuni aku, kau bisa menghukumku jika kau mau, tapi aku mohon kepadamu kembalikan putriku” ucap pria itu


Kakek memberiku isyarat seolah iya bertanya siapa pria itu dan apa yang terjadi, akupun membalas isyarat kakek dengan isyarat seolah berkata aku tidak tau,


Pria paruh baya itu bersujud di kakiku sambil menangis, aku mencoba mengambil langkah mundur karna tidaklah pantas orang yang lebih tua bersujud di kakiku, tapi pria itu memegang kedua kakiku dengan kuat hingga aku tidak bisa beranjak dari sana, aku memegang lengannya dan memintanya untuk berdiri


“ Pak Abdul” ucapku dan kakek bersamaan, kami terkejut melihatnya dengan penampilan berantakan


“Tuan muda tolong ampuni aku, kau bisa menghukumku jika kau mau, tapi aku mohon kepadamu kembalikan putriku” ucap paman abdul sambil memohon


“Paman Apa yang kau lakukan, dan apa maksudmu aku tidak mengerti” tanyaku


“ghaisan , kau yang harus menjelaskan, apa yang sudah kau lakukan pada putrinya pak Abdul?” tanya kakek


“aku tidak melakukan apa pun pada ayla, sungguh!” jawabku


“ tuan muda tolong kembalikan ayla padaku,” ucap paman abdul terus memohon mengucapkan kedua tangannya


“paman Abdul, kakek, ayla tidak bersamaku, kemarin aku memang bohong pada kakek, tapi aku tidak melakukan hal yang salah, sungguh! jika tidak percaya telepon saja bibi, kemarin aku bersamanya” jawab ku


“kakek percaya padamu, pak Abdul sepertinya kau sudah salah paham pada cucuku” ucap kakek


“ jika bukan tuan muda, lalu Siapa yang menculik putriku?” ucap paman Abdul dengan wajah hawatir dan kebingungan


“ Paman coba ceritakan dengan detail apa yang terjadi? “ tanyaku penasaran


“sebaiknya kita bicara di dalam saja” ucap kakek


Kami pun masuk ke dalam rumah dan duduk bersama di ruang tamu,


“Paman katakan apa yang terjadi” tanyaku sambil memegang tangannya


“ tuan, sebenarnya ...


Pak abdul menghentikan ucapannya saat mendengar suara ponsel berdering, ternyata ponsel itu milik kakek, kemudian kakek mematikannya


“ kakek Siapa yang menelpon? Kenapa kau tidak menjawab telponnya” tanyaku ingin tau


“Ini panggilan dari kantor pusat kota, ada beberapa berkas yang harus aku tandatangani hari ini, tapi kau tidak perlu cemas, kurasa urusan berkas bisa ku tunda, yang penting sekarang kita menyelesaikan masalah putri pak Abdul” Jawab kakek


“ kakek, jika kakek memang harus pergi, pergi saja, aku akan meminta bantuan tuan aziz jika masalahnya serius, “ ucapku


“ Tuan muda benar tuan, jika kau harus pergi maka pergilah, urusan kota lebih penting dari putriku, jangan sampai masalahku menghambat pekerjaanmu ” ucap paman


Ponsel kakek kembali berdering,


“kakek pergilah” ucapku


“Sepertinya aku memang harus pergi, pak abdul jangan cemas cucuku pasti membantumu, ghaisan minta bantuan aziz untuk menyelesaikan masalah ini, jangan bertindak sendiri, mengerti” ucap kakek


Aku hanya menganggukan kepala menanggapi ucapan kakek, kakek pergi sambil mengangkat telpon,


“ paman tolong ceritakan padaku, apa yang terjadi?” pintaku


“ kemarin aku menjemput Ayla di taman bermain, tapi ayla sudah tidak ada di sana, mereka bilang ayla dijemput oleh ibunya, sementara aku tahu viida pergi ke luar negri sejak ayahmu meninggal” Ucap paman abdul


“ dari mana paman tahu viida pergi ke luar negri?” tanyaku heran karna aku tahu viida tidak pergi ke luar negri, ia masih ada di kota ini,


“Aku mengetahuinya dari tagihan kartu kredit yang kuberikan pada viida” jawab paman


“Aku merasa ada yang aneh, pertama sikap fahim yang tidak biasa, ditambah lagi dengan ucapannya yang seperti orang dewasa, ayla menghilang dibawa viida, viida membeli tiket ke luar negri tapi ia tidak pergi kemanapun, apa mungkin ayla diculik oleh paman dan bibi untuk mengancam fahim, jika itu yang terjadi ini tidak bisa dibiarkan” ucapku dalam hati


Aku memasukan tanganku kedalam saku kanan dari celanaku untuk mengambil ponselku, saat aku menarik ponselku, aku melihat selembar kertas terjatuh, aku mengambil kertas itu, karna seingatku, aku tidak menaruh kertas dalam saku kananku, aku membuka lipatan kertas itu dan baca tulisan yang tertera di sana, *jln. sabit no.12 _dhahir tamam* itulah yang tertulis dalam kertas itu, aku sama sekali tidak mengerti maksud dari tulisan itu, aku melipat kembali kertas itu dan melemparnya kedalam tong sampah, kemudian aku menelpon tuan aziz, aku meminta bantuan tuan aziz untuk mencari tau kemana hilangnya ayla,


1 jam kemudian


“Tuan muda aku mendapatkan informasi yang tidak terduga tentang hilangnya ayla, aku sarankan sebaiknya kita tidak terlibat dengan masalah ini, karna...