For.get

For.get
GS. Masa lalu Part.9



Keesokan harinya


Saat aku hendak menjemput fahim di taman bermain, ayla mengatakan padaku bahwa fahim sudah di jemput, aku pulang ke rumah kakek, aku menghampiri kakek yang tengah asik minum teh di tepian kolam renang


“Ghaisan kenapa kau pulang sendiri, dimana fahim?” tanya kakek


“loh kakek, fahim tidak bilang pada kakek kalau hari ini dia menginap di rumah temannya” Ucapku berbohong pada kakek,


Sebenarnya aku juga tidak tahu fahim ada di mana, aku bergegas pergi ke kamar dan mengganti pakayanku, setelah berganti pakaian aku bergegas pergi dengan mengatakan kepada kakek aku akan pergi mencari buku, tapi itu hanya alasan, karna sebenarnya aku pergi untuk mencari fahim yang entah hilang ke mana. Aku pergi ke semua tempat yang mungkin dia datangi tapi aku masih tidak bisa menemukan keberadaannya, aku memutuskan untuk pergi ke rumah paman dan meminta bantuannya, karna fahim adalah putranya tidak mungkin dia tidak peduli,


Setibanya di rumah paman aku melihat dari kaca jendela viida ada di sana tengah duduk bersantai dengan paman,


“aku tidak mengerti satu hal, jika viida adalah ibunya fahim, bukankah seharusnya viida sudah putus hubungan dengan paman, bukankah dia istri paman abdul, kenapa aku sering sekali melihat mereka bersama, satu hal yang sangat membuatku penasaran, sebenarnya siapa diantara fahim dan ayla yang merupakan anak kandung viida, sejauh yang aku ingat saat ayah membawa fahim kerumah ayah tidak memberi tahu siapa wanita yang berselingkuh dengan paman, apakah wanita itu adalah viida atau ada wanita lain, aku tidak tau mana yang benar dan mana yang salah, aku harus mencari tahu segalanya” ucapku bicara pada diri sendiri


Saat aku hendak masuk ke dalam gerbang rumah paman seseorang menariku dan memaksaku masuk ke dalam mobil, wajah wanita itu tidak asing, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi aku tidak ingat


“ Tenang ghaisan, jangan takut padaku, namaku belva carlise, aku adalah adik kandung ayahmu dan kakak kandung pamanmu yang berarti aku anak kedua kakemu, itu artinya tuan Rasyid itu adalah ayahku, itu berarti aku adalah bibimu, ghaisan,,, ghaisannn...kenapa kau bengong melihatku” ucapnya tanpa henti


“bibi kau cerewet” ucapku dengan nada datar


“ Kau bilang apa? Aku cerewet katamu, kau dan ayah ibumu kalian semua sama saja, menyebalkan, apa kau tau kakak dan kakak iparku yang artinya ayah dan ibumu juga bilang kali aku cerewet, aku ingin tanya padamu, apa aku ini benar-benar cerewet” ucapnya sambil menatapku


“pak sopir katakan dengan jujur padaku, apa aku ini cerewet hah” tanyanya pada sopirnya sendiri


Sopir itu hanya terdiam, sepertinya dia bingung harus bagaimana.


“Sudah cukup bibi, cukup hentikan sampai disini saja, kau itu memang benar-benar cerewet ” Ucapku


Aku membuka pintu mobil dan keluar dari mobil itu, berjalan mendekati pagar rumah paman, langkahku terhenti ketika bibi itu bertanya


“ Apa kau tidak mau bertemu fahim?”


“ bibi kau tau dimana adikku?” Tanyaku penasaran


Wanita yang mengaku sebagai bibiku hanya menganggukan kepala dan membuka pintu mobilnya, iya memukul-mukul kursi di sampingnya untuk memberi kode yang maksudnya dia ingin aku naik ke dalan mobil lagi dan duduk di sampingnya.


Wanita itu menunjukan sebuah foto keluarga, foto yang sama yang pernah kulihat terselip di buku ayah, aku mengambil foto dari tangannya, akhirnya aku ingat, dimana aku pernah melihatnya, wanita cerewet itu adalah wanita yang ada di dalam foto yang tidak ku kenali, aku melihat kebalik foto tersebut, apakah foto itu adalah foto yang sama yang terdapat tuliaan tangan ayah di dalamnya, tapi ternyata tidak ada tulisan tangan ayah, aku bertanya-tanya jika dia adalah bibiku lalu kenapa aku tidak tahu, apa yang sudah terjadi sehingga baik mendiang ibu atau ayah tidak ada yang bercerita tentangnya, kakek juga tidak bercerita ataupun menyimpan foto putrinya,


“ dengar aku tau kau tengah bertanya-tanya sekarang, tapi sebaiknya kau ikut aku sekarang” ucap wanita itu


Aku mengikuti perkataannya dan kembali naik ke dalam mobil, iya meminta sopir menginjak gas dan melaju dengan kecepatan tinggi, entah kemana ia kan membawaku, iya meminta sopir menghentikan mobilnya saat tiba di pinggiran kota, bibi turun dari mobil dan memintaku mengikutinya, dan aku melakukannya, kami berjalan cukup jauh dari tempat iya memberhentikan mobilnya, langkahnya terhenti saat kami tiba di depan rumah kecil bercat biru muda, iya membawaku masuk ke dalam rumah itu, aku melihat ke sekelilingku, berlari ke setiap sudut rumah itu tapi aku masih tidak bisa menemukan fahim di sana


“ kau berbohong padaku, katakan padaku dimana adikku fahim?” tanyaku dengan nada tinggi


“ kau sungguh mencari anak itu ghai, harusnya kau senang dia menghilang bukan, ghai dia bukan adik kandungmu” ucapnya dengan tegas


“ fahim adalah adiku, apapun yang terjadi, apapun yang orang lain katakan dan fikirkan, fahim adalah adikku, dan selamanya akan tetap menjadi adikku, katakan padaku dimana fahim? Atau...


“ atau apa keponakanku yang lucu” ucapnya sambil mencubit kedua pipiku


“ Baiklah, baiklah, aku akan memberitahu dimana fahim berada tapi sebelum itu aku ingin memberitahumu sesuatu, rumah ini kakaku yang memberikannya, kau tau kenapa? Karna dunia sudah menganggapku tiada, ghai apa kau tau selama hidup ayahmu menyembunyikanku di sini, hanya untuk melindungi aku, seseorang berusaha melenyapkanku, dan aku tau siapa orang itu, orang itu adalah ikram adikku sendiri, dia selalu merasa iri padaku, karna aku adalah anak perempuan satu-satunya bagi ayah dan ayah selalu memanjakanku, meskipun tau pasti kakak menutupi kebenaran ini dariku, aku sudah mengatakannya pada kakak, tapi kakak selalu mengatakan aku ini salah fahan, kakak juga mengatakan bahwa dia akan menangkap orang yang berusaha melenyapkan aku, tapi aku tau apa yang coba kakak lakukan sebenarnya, kakak mencoba nerubah ikram jadi lebih baik, tapi iya gagal melakukannya, karna itulah semua ini terjadi, ghaisan aku akan memberitahumu sesuatu, sebelum meninggal, ayahmu tidak pergi ke negara N, tapi dia menemuiku, dia menceritakan apa yang terjadi padaku dan aku berjanji akan membantunya tapi dengan dua syarat, syarat yang pertama, dia akan membawa ayah ke tempat ini, tapi dia tiada sebelum sempat mengabulkan permintaanku, jika kau menginginkan kebangkitan perusahaan ayahmu, bawa kakekmu kemari dan penuhi janji ayahmu padaku”


“jika kau ingin bertemu kakek, kenapa kau tidak datang sendiri kerumah?” tanyaku penasaran


“masalahnya tidak semudah itu ghaisan, mungkin kau tidak akan bisa memahaminya sekarang, sekarang dengarkan aku, bawa kakekmu kemari tapi ingat satu hal, jangan beritahu siapapun termasuk ayahku soal aku, aku akan jelaskan sisanya nanti, pergilah” ucapnya


“Dimana adikku?” tanyaku penasaran


“Adikmu ada di tempat yang aman, aku akan memberi tahumu dimana dia berada setelah kau membawa ayahku kemari”


Aku keluar dari rumah itu dan berjalan menuju jalan besar untuk mencari taksi, tapi saat aku tiba di jalan besar, sopir bibi sudah menungguku di sana, iya berdiri di samping mobil ,


“aku akan mengantarmu sampai tujuan, tapi kau tidak akan datang ke sini lagi dengan cara yang sama” ucap sopir itu sambil membukakan pintu mobil untukku


Aku masuk ke dalam mobil itu lagi dan sopir pun mengantarku kembalu ke rumah kakek, setibanta di depan rumah aku melihat kakek berdiri sambil mondar-mandir di depan rumah dengan wajah khawatir


“Ghaisan kau ...