For.get

For.get
Pernikahan



Ayla yang awalnya bersembunyi menampakan dirinya di hadapan ghaisan,


“ kau” ucap ghaisan terkejut


“ ghaisan nikahi aku, ku mohon, ya!” ucap ayla dengan manja


“ Apa?” ucap ghaisan terkejut


“ ghaisan... Yang tampan... Maukah kau menikahiku” ucap ayla dengan senyum manja


“ tidak” Ucap ghaisan kemudian berjalan meninggalkan ayla sendiri


“ Ghaisan... Ya! Ya! Ya! Kumohon” ucap ayla sambil mengajar memeluk tangan ghaisan dan bersikap manja


“ ghaisan” Ayla berteriak sambil melepas pelukannya karna kesal dengan sikap ghaisan yang tidak mempedulikannya, ayla hanya berdiri terdiam namun ghaisan terus berjalan sampai parkiran, ghaisan mengambil mobilnya kemudian menghampiri ayal yang masih berdiri di tepi jalan,


“ masuklah” pinta ghaisan dengan wajah datar, ayla pun masuk ke dalam mobil, sepanjang perjalanan ayla hanya diam semenata ghaisan diam-diam mengirim pesan meminta kakek menyiapkan pernikahannya, ghaisan mengajak ayla ke sebuah butik, ayla pun menatap ghaisan dengan tatapan heran


“ Kau ingin menikah bukan, pilihlah gaun pernikahannya” ucap ghaisan sambil tersenyum


Ayla tersenyum sambil menitihkan air mata karna terharu dengan sikap ghaisan, ghaisan pun menatap ayla kemudian menghapus air matanya, manajer toko datang dan menghampiri mereka, ia menyambut mereka dengan sangat ramah


“ berikan aku gaun pengantin yang cantik yang akan membuat mata suamiku hanya tertuju padaku” pinta ayla pada manajer toko sambil menatap ghaisan


Manajer toko itu pun mengajak ayla dan memperlihatkan beberapa gaun pengantin, ayla mencobanya satu-persatu dan memperlihatkan gaunnya kepada ghaisan hingga akhirnya menemukan gaun yang mereka sukai, ghaisan pun bersiap dengan jas pengantinnya, mereka pergi meninggalkan butik dengan mengenakan pakayan pengantin, ghaisan membawa ayla ke rumah kakek mahrus, setibanya di sana sebuah pesta pernikahan sederhana sudah di siapkan, ayla dan ghaisan turun dari mobil bagaikan raja dan ratu, mereka berdiri di atas altar pernikahan, di hadapan semua orang ayla dan ghaisan pun mengucapkan janji pernikahan, janji untuk saling setia, janji untuk selalu bersama dalam suka maupun duka, janji untuk saling membahagiakan satu sama lain, acara pernikahan mereka berlansung dengan hikmat, walau semuanya sederhana namun kedua mempelai terlihat bahagia.


Ghaisan membawa ayla ke rumahnya, setibanya di rumah ghaisan tidak membiarkan ayla berjalan kaki, ia menggendong ayla dengan kedua tangannya sementara ayla mengalungkan kedua tangannya di leher ghaisan, di dalam kegelapan ghaisan membawa ayla masuk ke dalam kamar sambil terus saling memandang, ia membaringkan ayla di tempat tidur, perlahan tangan ghaisan membelai rambut ayla penuh dengan kasih sayang, ia melepas satu-persatu hiasan rambut yang ayla kenakan sambil terus saling menatap, rambut ayla pun berceceran di atas bantal di buatnya, ghaisan mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir ayala yang menawan


“ Hatsyi!” ayla bersin dengan kencang hingga membuat air liurnya mendarat di wajah ghaisan,


“ maaf” ucap ayla sambil membersihkan wajah ghaisan,


“Hatsyi!” ghaisan bersin dengan kencang sambil menutup mulutnya dengan tangan


“ sepertinya aku harus membersihkan rumah kita, debunya bertebaran di mana-mana” ucap ghaisan sambil beranjak bangun


Ayla memegang tangan ghaisan saat ghaisan hendak pergi


“ Ijinkan aku membantumu ya!” pinta ayla dengan lembut


“ membantu! Cium aku dulu” pinta ghaisan sambil menepuk pelan bibirnya dengan jari telunjuknya


Ayla beranjak dari tempat tidur dan memeluk ghaisan lalu mencium ringan bibirnya


“ Sudah, apa sekarang aku boleh membantumu?” tanya ayla


“ ganti gaunmu dulu jika kau ingin membantuku” bisik ghaisan di teling kanan ayla


Ayla melepas pelukan dan pergi ke ruang ganti, sementara ghaisan pergi ke luar rumah untuk menyalakan pembangkit listrik pribadinya dan lampu pun menyala, ghaisan masuk kembali ke rumah dan melihat ayla memakai kemejanya, ghaisan menarik ayla dalam pelukannya


“ siapa yang menyuruhmu memakai kemejaku, cepat lepaskan” ucap ghaisan sambil memegang bagian kancing atas kemeja ghaisan


Ayla memegang tangan ghaisan ketika ghaisan hendak membuka kancing bajunya


“ Ayolah g, aku tidak punya baju satupun, bajuku hilang saat kecelakaan, aku selalu memakai baju mendiang ibu saat tinggal di rumah kakek”


“ alasan” ucap ghaisan


“ g, tenangkan dirimu (melepas tangan ghaisan) dengar! Maru kita bersihkan rumah ini dari debu jika tidak kita tidak akan bisa melakukan hal lain” ucap ayla sambil mengelus-ngelus dada ghaisan dengan lembut


Ghaisan pun melepas pelukan sambil tersenyum, mereka membersihkan rumah bersama sambil sesekali saling melirik satu sama lain, setelah selesai ayla dan ghaisan mandi di bersama di ruangan yang berbeda, ayla mandi di kamar ghaisan sementara ghaisan mandi di kamar tamu, setelah mandi ghaisan masuk ke kamar hanya memakai sehelai anduk di saat yang sama ayla keluar dengan memakai kemeja ghaisan yang lain, rambutnya yang basah membuat gairah pria dalam diri ghaisan bangkit, namun rasa lelahnya seolah menghalangi, ia memeluk ayla lalu mendorong ayla perlahan hingga jatuh perlahan di atas tempat tidur, ia memeluk erat ayla lalu terdiam, ayla yang mulai terbebani dengan berat tubuh ghaisan pun menepuk pundak ghaisan sambil memanggil namanya, namun ghaisan tidak merespon panggilannya, ayla mengangkat bahu ghaisan dengan perlahan, ia tersenyum sambil menggelengkan kepala saat melihat ghaisan tertidur pulas, ayla membaringkan ghaisan di sampingnya


“ tunggu dulu haruskan aku melakukan ini?” ucap ayla dalam hati saat hendak menarik handuk yang ghaisan pakai,


“bodoh! Aku kan istrinya, tentu saja aku boleh menyentuhnya” ucap ayla dalam hati, ia meraba handuk ghaisan untuk mencari tahu apa ghaisan memakai celana atau tidak, ghaisan menarik tangan ayla dan membuatnya jatuh di atas tubuhnya saat ia menyadari sentuhan ayla, ayla pun tidur dalam pelukan suaminya.