
Aku duduk di lantai sambil bersandar pada tempat tidur, aku tidak pernah tahu bahwa membaca buku ensiklopedia yang berjudul dreams ini sangat menyenangkan, saat aku tengah asik membaca, seseorang menampar kepalaku dari belakang, sontak saja tamparan itu membuatku terkejut hingga tanpa sadar aku berdiri dan berbalik, dan aku melihat ayla duduk di atas tempat tidur sambil tersenyum padaku
“ Ayla kau memukul kepalaku?” tanyaku
“ iya” jawabnya sambil tersenyum
“ kenapa?” tanyaku lagi ingin tahu
“ kakak, kami bertaruh yang kalah akan dipukul kepalanya, fahim kalah taruhan, karna kau adalah kakaknya jadi kau yang dapat hukuman, bukankah sebagai kakaknya kau harus melindunginya!” jawabnya dengan wajah tak berdosa
Aku membiarkannya karna apa yang ia katakan tidak salah, aku kembali duduk dan membaca buku, tapi dia terus melakukan hal yang sama setiap kali fahim kalah dalam permainan, satu, dua, tiga empat, lima, enam dan tujuh, semakin lama itu membuatku kesal, aku berdiri saat menyadari ayla merangkak di belakangku dan hendak menampar kepalaku lagi
“kakak kenapa kau berdiri, kembali duduk, adikmu kalah lagi” ucap ayla dengan nada tegas memerintah
“ ayla, kau ini anak perempuan, kenapa sikapmu kasar sekali” tanyaku
“ aku tahu kalau aku anak perempuan, aku tidak bersikap kasar kakak, sungguh!” ucapnya dengan lembut sambil memainkan matanya bersikap so imut
Aku tidak menyanggka anak perempuan ini bersikap seperti rubah, dia mampu merubah sikap kasarnya menjadi lemah lembut hanya dalam hitungan detik
“ apa yang sebenarnya sedang kalian mainkan, kenapa kau selalu kalah fahim” tanyaku pada fahim sambil berjalan mendekatinya,
Fahim menunjukan game yang sedang iya mainkan
“ Hanya main block puzzle saja kau tidak bisa, berikan padaku” ucapku pada fahim
“ Ayla ayo main denganku” ucapku lagi
“ Ayo main kha, siapa yang mati duluan akan di hukum” ucap ayla dengan wajah ceria
“aku tidak mau main lagi, permainan ini benar-benar menyebalkan” ucapku dengan kesal
“Hahaha... Kakak wajahmu sangat lucu saat kau sedang kesal” ucap ayla yang kemudian ia berjalan mendekatiku dan menggenggam tanganku
“ kakak, dalam permainan ini tidak membutuhkan emosi dan semangat, kau hanya harus tenang agar bisa berpikir jernih, game ini mengajarkan bahwa ketenangan dan pikiran yang jernih akan mampu membuatmu melihat cela dalam setiap kesempatan, dengarkan kata-kataku dan ayo main sekali lagi“ ucap ayla dengan lembut
Entah kenapa aku menuruti perkataan ayla yang sangat manis saat tersenyum, aku mengikuti saran yang diberikannya, dan benar saja, berkat saran dari ayla aku bisa mengalahkan waktu dan juga ayla, aku sangat senang akhirnya aku bisa menang dan mendapatkan kesempatan untuk memukul kepala ayla, namun saat aku hendak memukul kepalanya, ayla memejamkan matanya dan meringis ketakutan, entah kenapa melihatnya seperti itu aku jadi tidak tega, akhirnya aku memegang kepalanya dengan kedua tanganku dan mencium bibirnya, ayla sangat kesal dengan itu, ia mendorongku hingga terjatuh lalu ia duduk diatas perutku dan menjambak rambutku, entah kenapa alih-alih kesakitan karna jambakannya aku justru merasa bahagia, dia mengatakan bahwa aku keterlaluan dan telah melakukan pelecehan terhadapnya, sementara fahim hanya tersenyum melihat kami,
Ayla langsung turun dan duduk di sampingku yang tengah berbaring saat mendengar suara pintu dibuka
“ anak-anak ayo makan malam dulu” ucap nenek berdiri di pintu, fahim dan ayla langsung lari saat mendengar kata makanan, aku tau fahim sangat suka makan tapi aku tidak tau kalau ayla juga begitu.
Kesesokan harinya
Paman mengantarkan aku dan fahim ke pemakaman ibu, aku terkejut saat melihat ayah yang duduk diatas kursi roda, aku bertanya pada semua orang tapi mereka hanya mengatakan bahwa ayah sakit karna kelelahan, tapi aku yakin bukan itu alasannya, aku tetap diam karna aku tahu mereka tidak ingin aku mengetahui kebenarannya, setelah dari pemakaman ibu, ayah kembali ke rumah sakit, sementara aku dan fahim kembali ke rumah kakek, sejak ibu meninggal semua hal dalam hidupku berubah total, tidak ada lagi yang membuat sarapan di pagi hari, tidak ada lagi yang akan menceramahiku jika aku tidak menghabiskan susuku, tidak ada lagi yang akan mencium keningku saat malam untuk sekedar mengucapkan selamat malam, tapi aku harus tetap tegar, aku harus menjaga ayah dan adikku yang masih kecil, ayah di rawat di rumah sakit selama 2 pekan, selama ayah di rawat kakek lah yang menjalankan perusahaan dibantu oleh paman ikram dan paman abdul, fahim diantar ke taman bermain setiap hari, tapi dia tidak kesepian ataupun sedih karna ayla juga datang ke sana setiap hari, aku pergi ke sekolah di pagi hari dan siang harinya aku pergi ke kantor ayah, disana kakek mengajariku sedikit demi sedikit tentang sistim yang berjalan dalam perusahaan ayah, perlahan aku belajar tentang segala sesuatu tentang perusahaan, setelah ayah keluar dari rumah sakit kakek kembali ke kantor pusat kota, dan ayah lah yang kemudian mengajariku, setiap sore saat aku dan ayah pulang, kami menjemput fahim di taman bermain bersama paman abdul juga, setiap akhir pekan aku selalu pergi berlatih bela diri bersama ayla dan fahim, sore harinya kami akan bermain game yang sama tapi kali ini dengan taruhan berbeda, jika aku kalah ayla akan menampar kepalaku, jika aku yang menang ayla harus mencium ku, suatu ketika saat ayla merasa sangat kesal karna selalu kalah dan selalu menciumku dia memakai lipstik merah milik ibunya hingga membuat seluruh wajahku dipenuhi tanda merah bekas kecupan bibirnya, sejak saat itu ayla menjadi sangat bersemangat setiap kali dia kalah dan harus menciumku, dan kebalikannya akulah yang merasa ketakutan, saat itu aku berada dalam dilema, jika aku mengalah ayla akan memukul kepalaku, jika aku menang wajahku akan dipenuhi tanda lipstik dari bibir ayla, waktu berlalu sangat cepat hingga tanpa sadar sudah hampir 1thn aku mengenal ayla, aku pikir semuanya akan tetap berjalan baik kedepannya tapi ternyata ada masalah besar lain yang tengah menantiku
Masalah itu di mulai ketika...
Suatu hari, ayah memintaku mengambil laporan keuangan di meja paman ikram, aku masuk keruangan paman tapi paman tidak ada di sana, aku berpikir untuk mencari sendiri laporan itu, aku mendapati ada dua laporan keuangan di meja paman, aku tidak tau yang mana yang harus aku ambil jadi aku mengambil keduanya, tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundaku, saat aku berbalik....
*****
nizar nawaf ali: ghaisan kau keterlaluan, beraninya kau mencuri ciuman pertama aylaku😤😡🤬
ghaisan ahmad altamis: sabar nizar,,,, ini baru permulaan😜🤣🤣🤣