
Paman berlari dengan sangat cepat, ketiga penjahat itu mengikuti paman, aku melihat paman mulai kelelahan, nafasnya mulai terengah-engah
“ Paman bertahanlah, sedikit lagi ayo” teriakku
Paman mempercepat larinya...
“ Ayo paman sedikit lagi” teriakku
Paman terus berlari dengan nafas yang terengah-engah
Paman berhasil meraih tanganku, iya melompat ke dalam kereta, kamipun tersenyum bersama, paman mengajaku duduk di dalam, kami tidak saling bicara di dalam kereta, paman kemudian mengajaku turun saat tiba di stasiun transit, dari stasiun kami naik taksi menuju rumah paman, saat tiba disana aku melihat gadis kecil berdiri di balkon, gadis kecil dengan celana jean diatas lutut, dengan kaus tanpa lengan, rambut yang terurai dengan topi yang ia pakai terbalik, dia melihat kami berjalan sambil tersenyum, jujur saja aku baru pertama kali bertemu dengan anak wanita yang berpakayan seperti itu, jika rambutnya tidak panjang dan jika kausnya tidak bergambar disney aku akan berpikir dia adalah anak laki-laki
“ tuan muda, dia adalah putri tunggal saya, namanya ayla shanum az zahra, saat ini usianya 4thn” Ucap pak abdul memberitahuku
Paman membuka pintu dan kamipun masuk,
“ Bagus sekali,,, ayah dan ibu memang benar-benar pasangan yang serasi, ibu membawa seorang anak laki-laki, dan ayah juga, ada apa dengan orang dewasa, aku tidak mengerti” ucap ayla dengan nada tidak senang sambil menuruni anak tangga dengan perlahan dan berjalan mendekati kami
“ Ibu membawa anak laki-laki?” tanya paman abdul pada putrinya
Ayla menunjuk ke arah sofa di depan telvisi, terlihat seorang anak laki-laki duduk di sofa membelakangi kami, entah kenapa aku seperti mengenal anak itu,
“ ayah aku tidak mengerti dengannya, aku sudah memberinya air dan pop corn, tapi dia tidak menyentuhnya, apa ayah tau, sejak dia datang dia hanya melihat telvisi, dia tidak bicara apapun, atau melakukan apapun, dia hanya duduk mematung” ucap ayla sambil memegang tangan ayahnya
Aku berjalan mendekati anak itu, semakin dekat aku merasa yakin bahwa anak laki-laki itu adalah adiku fahim, aku memegang pundaknya, dia berbalik dan berdiri di atas sofa yang semula ia duduki, matanya berkaca-kaca setelah melihatku,
“Kakak” ucap fahim memanggilku dengan nada bicara yang terdengar sedih, dia tiba-tiba memeluku sambil menangis dengan kencang,
Melihatnya seperti itu, aku tau apa yang tengah iya rasakan saat itu, perasaan yang sama yang juga aku rasakan saat usiaku 4thn, perasaan yang sama yang kurasakan pada saat orong tuaku menitipkan aku di sebuah taman bermain, rasa kesepian di tengah keramayan yang megitu menyiksa, rasa marah melihat orang lain bahagia, tidak ada orang yang akan memahami perasaan itu lebih baik dariku, aku memeluk adiku dengan erat, menepuk-nepuk pundaknya untuk membuat iya lebih tenang
“ Kakak, bibi itu yang membawaku kemari, kakak aku tidak mau berpisah denganmu, aku ingin bersama denganmu saja, kakak bawa aku pulang sekarang, aku tidak mau berada di sini” ucap fahim dengan tersedu-sedu sambil melepaskan pelukannya
“ bibi itu, apa maksudmu dia adalah orang yang datang kerumah kemarin?” bisiku bertanya pada fahim
Fahim hanya menganggukan kepala sambil menatapku.
“ fahim, jangan katakan apapun tentang bibi itu kepada siapapun, kau mau menuruti kakak kan! Kakak janji jika kau menurut pada kakak, kakak tidak akan membiarkan wanita itu membawamu jauh dariku” bisiku pada fahim
Seorang wanita tua dan pria tua masuk kedalam rumah, ayla sangat senang melihat mereka hingga dia langsung lari dalam pelukan mereka, aku tidak tau siapa mereka sampai paman memberitahu bahwa mereka tidak lain adalah orang tuanya paman yang berarti kakek dan neneknya ayla,
“ abdul ada apa, kenapa kau terluka, dan siapa mereka?” tanya kakeknya ayla penasaran
“ aku akan beritahu nanti, tapi bisakah ibu mengobati luka tuan muda,” Ucap paman bicara pada ibunya sambil menunjuk ke arahku
“ hallo nak, namaku aidah, kau bisa memanggilku nenek idah sama seperti ayla, duduklah nak, aku akan mengobatimu “ ucap nenek ayla padaku dengan lembut
Kakek ayla juga berjalan mendekati kami sambil menggendong ayla
“ Namaku waazin, kalian bisa panggil aku kakek azin” ucap kakek
“Siapa nama kalian?” tanya kakek sambil mengelus kepalaku dengan lembut
“namaku ghaisan ahmad altamis, dan dia adiku fahim hayatuna” jawabku
“ Aku ayla shanum az zahra” sahut ayla
Ayla meminta kakeknya menurunkan ia dari gendongannya, kemudian dia duduk di sampingku, paman abdul datang membawa kotak obat, nenek aidah pun mengoleskan obat pada lukaku
“ Ahhh... Pelan-pelan nenek, itu pasti terasa sakit “ ucap fahim sambil menitihkan air mata
“ dasar bodoh kakamu yang di obati saja diam, kenapa kau yang menjerit?” Ucap ayla pada fahim
Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka, setelah nenek selesai mengobatiku beliau pergi ke dapur untuk membuat makan malan, ayla mengajak aku dan fahim ke kamarnya, sebenarnya aku tidak ingin ikut, tapi saat melihat fahim memegang tangannya dan pergi dengannya aku pun mengikutinya, sementara paman dan kakek tetap duduk di sana.
Saat masuk kamar ayla aku merasa kamar itu terlihat aneh menurutku, tidak ada satupun boneka atau mainan di sana, kamar itu nampak sederhana seperti bukan kamar seorang anak wanita, tapi lebih seperti kamar orang dewasa, hanya ada rak buku, lemari, telvisi, dan meja belajar dengan leptop yang tergeletak di sana,
“kakak ayo main game ular tangga dengan kami” ucap fahim sambil memegang tanganku
“ Tidak fahim, kalian saja yang main” jawabku
Aku memperhatikan setiap sudut kamar itu dengan seksama
“ayla kenapa tidak ada satupun boneka atau mainan di kamarmu” tanyaku penasaran
“ Kakak aku tidak suka boneka, aku juga tidak bermain dengan mainan nyata, aku hanya bermain game di telvisi dan membaca cerita dongeng” jawab ayla
Aku memperhatikan satu per satu buku yang ada di rak, hanya ada buku doneng anak-anak, namun ada satu buku yang membuatku tertarik, satu-satunya buku yang tebal di antara yang lain, dan sepertinya buku itu bukan buku dongeng, buku yang berjudul dreams itu sepertinya bagus menurutku.
“ ayla apa aku boleh baca buku ini” tanyaku
“ Baca saja apa yang kau mau jangan ganggu aku nanti aku kalah” jawab ayla yang tengah sibuk dengan permainnan gamesnya bersana fahim
Aku duduk di lantai sambil bersandar pada tempat tidur, aku tidak pernah tahu bahwa membaca buku ensiklopedia yang berjudul dreams ini sangat menyenangkan, saat aku tengah asik membaca, seseorang menampar kepalaku dari belakang, sontak saja tamparan itu membuatku terkejut hingga tanpa sadar aku berdiri dan berbalik, dan aku melihat....