
Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur di samping ayla yang tengah terlelap, aku melipat tanganku dan menjadikan telapak tangan sebagai bantal, menarik napas panjan aku hendak menutup mataku namun ayla berguling ke kiri, dan membuang tangannya tepat di atas dadaku, ia juga menumpangkan kaki kanannya di atas kakiku, lututnya menyentuh pistolku dan membuat nya berdiri, ia menyandarkan kepalanya di bahuku, memeluku seperti ia memeluk guling, rambutnya yang halus terasa menggelitik dagu, ayla membuatku tidak bisa bergerak atau tidur dengan nyenyak karna takut ia akan terbangun, 1, 2, 3, 4 jam berlalu ia masih mempertahankan posisinya dan aku masih belum bisa memejamkan mata, aku tidak ingin tidur sendiri tapi ayla malah membuatku terjaga sepanjang malam, waktu menunjukan pukul 04:35 ayla membuka matanya dan melihat ke arahku, ia mennutup matanya kembali
“ kakak kau sangat jahat, kenapa kau terus mengabaikanku” ucapnya mengigau,
“ Ayla maafkan aku” Ucapku kemudian aku mengambil sebagian kecil rambut ayla dan mulai menggelitik telinganya, perlahan ia mulai terganggu dan itu membuatnya berguling ke kanan, aku menjatuhkan diriku ke bawah tempat tidur sebelum ayla menyadari keberadaanku, aku bergegas keluar dari kamar ayla dan pergi mandi, aku bersiap untuk pergi ke kantor pusat kota. sampainya disana haidar dan instruktur Jasir, terlihat berdiri sejajar di depan pintu masuk,
“ Selamat pagi semuanya” ucapku sambil melewati mereka, aku berjalan menuju ruanganku
“ Pimpinan, apa kau yakin akan mengirim mereka ke penjara ibu kota” ucap inspektur jasir sambil mengikutiku berjalan
“sejauh aku mengenalmu kau selalu menghukum siapapun yang berani berbuat jahat di wilayahmu, apa kau juga akan menghukum mereka sebelum mengirimnya” ucap haidar sambil mengikutiku berjalan
“hukuman apa yang akan kau berikan kepada mereka” Ucap inspektur jasir sambil mengikutiku berjalan
“Aku sungguh ingin tahu bagaimana caramu untuk menghukum mereka, karena sangat tidak mungkin Kau membiarkan mereka pergi begitu saja” Ucap haidar sambil mengikutiku berjalan
“kau tahu bahwa ada orang besar dibalik kasus ini, aku sangat penasaran siapa orang besar itu, apa kita akan benar-benar menyerahkan kasus ini, sungguh sangat disayangkan rasa penasaran ini harus tenggelam begitu saja” Ucap inspektur jasir sambil mengikutiku berjalan
Aku hanya diam mendengarkan mereka yang terus bicara sambil terus berjalan, aku hendak membuka pintu untuk masuk ruangan saat seorang pegawai memanggilku
“ Pimpinan” ucap seorang pegawai menghentikan langkahku
“Aku ingin bicara masalah pemberian beasiswa untuk sekolah fx” Ucapnya
“ baiklah kita bicara di dalam” ucapku mempersilahkan pegawai itu masuk dan menutup pintu sebelum haidar dan inspektur jasir masuk
“Tunggu pimpinan, kau tidak bisa mengabaikan kami seperti ini” ucap haidar di waktu yang sama
“pimpinan urusan kita masih belum selesai” ucap inspektur jasir di waktu yang sama
Aku mempersilahkan pegawai itu duduk di sofa tamu ruanganku
“ Katakan” ucapku
“ Pimpinan seperti yang sudah kita tentukan bersama, setiap sekolah akan menerima uang beasiswa untuk 10 orang siswa dari pemerintah kota, kemari sekolah menengah fx mengajukan lebih dari yang seharusnya”
“berapa banyak yang mereka ajukan?”
“ mereka mengajukan 18 orang untuk mendapat beasiswa pimpinan”
“ luangkan sedikit waktumu dan coba kau lakukan observasi ke sekolah itu, selain memeriksa kemampuan mereka dalam belajar periksa juga latar belakang mereka, Jika memang ke 18 anak itu berbakat dan keadaan finansial orang tua mereka memenuhi kriteria, tidak masalah, kau bisa menambahkannya”
“ Baik pimpinan, kalau begitu saya permisi” ucap pegawai itu kemudian pergi meninggalkan ruanganku
Aku berdiri dan berjalan menuju pintu aku membuka dan berdiri bersandar di pintu sambil melipat tanganku, kulihat haidar dan inspektur jasir tengah bersandar pada dinding kaca ruanganku,
“ ini keterlaluan” ucap haidar tanpa melihatku
“ aku tidak bisa menerima ini” ucap inspektur jasir
Mereka bicara tanpa menyadari keberadaanku yang tengah memperhatikan mereka
“ Aku memintamu menyiapkan berkas-berkas untuk pemindahan kasus kelompok gerbong narkoba republic tapi kau malah berdiam diri di depan ruanganku, dan kau juga haidar apa kau tidak punya pekerjaan lain” ucapku menegur mereka
Mereka menundukan kepala dan memasang wajah sedih setelah ku tegur dan itu membuatku merasa bersalah
“Huh...” aku menghela nafas sambil memberi kode meminta mereka masuk ke ruanganku, wajah yang tertunduk sedih seketika berubah menjadi bersemangat, mereka pun masuk ke ruanganku dan langsung duduk begitu saja
“ baiklah dengar, aku sudah memutuskan tidak melakukan apapun untuk sementara ini, mereka akan di bawa pergi dari kota ini dan aku rasa itu cukup, aku tahu kalian pasti heran karena ini di luar kebiasaan ku, selama ini aku membuat peraturan sendiri, dan pengadilan sendiri di kota ini, tapi kali ini tidak, aku memutuskan untuk mengikuti peraturan yang ada, Aku harap kalian bisa menerima keputusanku, jika tidak ada hal lain lagi silakan kembali ke ruangan masing-masing dan kerjakan tugas kalian” ucapku dengan tegas
“ g apa kau yakin?” tanya inspektur jasir tak percaya
Aku hanya menganggukan kepala menanggapi ucapannya, mereka kembali ke ruangan masing-masing dengan wajah kecewa, aku tidak bisa memberitahu mereka dan membiarkan mereka terlibat dalam rencanaku kali ini, karena ini akan sangat beresiko bagi jabatan mereka, mereka sudah bekerja keras untuk mencapai titik ini, aku tidak bisa menghancurkan kerja keras mereka hanya karena kebiasaan ku, aku melanjutkan pekerjaanku sampai kemudian aku merasa sangat lelah dan kantuk yang tak mampu ku tahan, aku pun memutuskan untuk tidur sejenak, aku membaringkan diri di sofa dan memejamkan mataku, saat tengah terlelap aku merasa seseorang menyentuh lenganku, samar-samar aku mendengar suara orang berbincang
“apa pimpinan kota ini tidak punya pekerjaan sampai tidur seenaknya di waktu kerja” suara tak di kenal
“Ini sungguh memalukan, tidak seharunya pimpinan kota melakukan hal ini” suara tak di kenal
Aku merasakan tepukan ringan di lenganku
“ biarkan dia tidur, mungkin ia lelah” suaranya mirip pak presiden
Aku menarik nafas panjang sambil melakukan peregangan otot ringan dan membuka mata,
“kenapa terburu-buru pak presiden, duduk sebentar denganku, kita berbincang sambil minum teh bersama” ucapku sambil bangun kemudian duduk
Aku melihat jam di tanganku, waktu menunjukan pukul 16:30, tanpa ku sadari aku tidur dalam waktu yang lama bahkan sampai melewatkan makan siang,
“oh pimpinan ibu kota dan jendral polisi juga ada di sini rupanya, maaf aku tidak melihat kalian, mari silahkan duduk” ucapku
Pimpinan ibu kota dan jendral polisi merasa tidak senang mendengar kata-kataku, tapi aku tidak peduli
“Haidar tolong minta pek diman membuat teh dan membawanya kemari ” ucapku sambil menatap haidar
Haidar hanya menganggukan kepala sambil tersenyum
“suatu kehormatan anda menyempatkan diri manpir ke kota kami pak presiden”
“Gaisan sepertinya kau sangat kelelahan sampai tertidur pulas seperti itu” ucap pak presiden sambil tersenyum
“sebenarnya tidak juga pak presiden, hanya saja semalam aku bekerja lembur sampai tengah malan dan saat pulang istriku tidak membiarkan aku tidur, kau tau bagaimana para istri bukan” ucapku sambil tersenyum
“hahaha..kau benar nak gaisan, aku tahu betul jika keinginan istri tidak di penuhi maka ia akan merajuk dan merepotkan kita, baiklah lupakan masalah istri sebenarnya kedatangan kami ke sini untuk memintamu mengalihkan kasus komplotan gerbong narkoba ke pusat kota secepatnya” ucap pak presiden
“jangan khawatir pak presiden masalah itu sedang dalam proses pormalitas, setelah semua selesai kami akan segera mengirim mereka” ucapku
“Tuan ghaiaan bukankah seharusnya kau sudah mengirim mereka siang ini” ucap jendral polisi
“ Kau benar juga, tunggu sebentar” ucapku
Aku bangun dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kerjaku, aku menelpon inspektur jasir dan memintanya datang ke ruanganku dengan membawa berkas pemindahan kasus, diam-diam aku juga mengirim pesan kepada penjaga bukit untuk melepas elang kesayanganku, masalahnya adalah aku merasa musuhku ada di dekatku dan aku tidak terbiasa menyerang musuh tanpa pertingatan.