For.get

For.get
GS. tak ingin berpaling darimu.



Aku membuka mataku, aku melihat dokter haz, inspektur jasir, kapten feo dan kakek marhus berdiri mengelilingiku


“ Apa yang terjadi?” Tanyaku


“ kau jatuh pingsan di bandara karna kelelahan, dan sepertinya kau juga tidak makan dengan baik” Ucap dokter hez


“ Kenapa kalian bisa berkumpul di sini? Dan kakek juga ada di sini


“ Pilotmu menelponku dan memberi tahu kau jatuh pingsan jadi aku bergegas datang ke mari, di jalan aku bertemu dengan teman-temanmu, saat mereka mengetahui keadaanmu mereka langsung ikut denganku” Ucap kakek mahrus


“ aku baik-baik saja, kalian pergilah dan lakukan pekerjaan kalian” ucapku


“ Ghaisan apa kau sungguh tidak apa-apa” tanya kapten feo


“ aku baik-baik saja, lagi pula ada kakek di sini” ucapku


“ Ghaisan benar, kalian sudah meninggalkan pekerjaan kalian hanya untuk menjemput ghaisan, aku hawatir nanti kalian justru akan di marahi atasan kalian, jangan hawatir aku ada di sini untuk menjaga ghaisan” ucap kakek


“ baiklah, kalau begitu kami permisi, ayo haz, jasir ” ucap kapten feo kemudian menarik jasir dan haz keluar dari kamarku,


Mereka baru berjalan beberapa langkah bahkan belum sempat melewati pintu namun mereka kembali kemudian memeluku secara bersamaan


“ maafkan kami g, kami sudah tahu sejak awal bahwa haidar adalah mata-mata, tapi kami tidak mau memberi tahukan ini, karna kami takut kau akan terluka” ucap kapten feo


“ Kami sudah berusaha menasehatinya tapi kami gagal membuatnya mengerti, dia merasa bahwa kota ini maju karna dia” ucap dokter haz


“ Sejujurnya aku senang saat kau pergi, kau tahu kenapa? Karna aku berfikir setidaknya kau tidak harus terkena masalah yang di rencanakan haidar dan presiden” Ucap insktur jasir


Mereka memeluku sambil menitihkan air mata


“ Hai sudahlah,, jangan seperti ini, aku yang di jatuhkan kenapa kalian yang menangis” ucapku


Mereka pun melepas pelukan


“ kami bersedih karna rasa sakitmu, kita ini sahabat g, jika kau terluka kami juga merasakan sakitnya, apa kau tau itu” ucap inspektur jasir dengan tegas


“ jasir benar g, kita sudah bersahabat lebih dari 10thn, dan itu bukan waktu yang sebentar, jadi wajar jika kita juga ikut terluka” ucap kapten feo


“Aku memang sakit hati tapi sekarang aku sudah baik-baik saja, yang lalu biarlah berlalu, lagi pula kalian tahu bahwa apa yang sudah ghaisan tinggalkan tidak pernah ku ambil kembali, dengar! Mungkin saat ini kalian merasa kesal padanya, tapi aku berharap kalian tetap bisa bersikap profesional, jangan sampai kalian menjadi sama seperti dirinya, lakukan pekerjaan kalian dengan baik siapapun pemimpinnya, mengerti!” ucapku


“ aigooo... Lihatlah betapa beraninya dirimu menasehati kami yang lebih tua ini” ucap dokter haz


“ baiklah maafkan diriku yang masih muda ini kakak-kakak” ucapku sambil tersenyum


Kami pun tersenyum bersama


“ Jaga dirimu baik-baik, sampai jumpa” ucap inspektur jasir sambil tersenyum


“ Jaga kesehatanmu, jangan lupa makan g, sampai jumpa” ucap dokter haz


“ Ingat untuk menelpon kami jika kau butuh bantuan, sampai jumpa” ucap kapten feo


Mereka pun pergi meninggalkan rumahku dan kembali pada pekerjaan masing-masing, saat itu aku menyadari ada atau tiada alizza sudah memberiku banyak hal, melalui nur ia mengatakan hal yang baik yang memotifasi diriku.


Kakek membawaku ke rumahnya dengan di bantu oleh beberapa pengawalku, aku tengah istirahat di kamar kakek saat mendengar ayla pulang dari pasar, nenek masuk ke kamar bersama kakek


“ Bagaimana kabarmu nak?” tanya nenek


“ aku baik-baik saja nek, nenek tidak usah khawatir” ucapku


“ Nak dengarkan nenek, aku sudah punya rencana untuk menikahkanmu dengan ayla” ucap nenek


“ tapi nek, ayla sudah punya kekasih” ucapku


“ Kekasih itu tidak lebih penting dari suami, kau sudah menjadi suaminya, lagi pula tidak ada jalan lain selain menikahkan kalian lagi” ucap kakek


“ kakek benar g, coba kau pikirkan, kau dan ayla sudah menikah, dia mengingatnya atau tidak tetap saja dia tidak akan bisa menikahi orang lain sebelum kau menceraikannya, atau kau akan memilih untuk memberi tahu kebenaran ini lalu menceraikannya, begitu!” ucap nenek


“ baiklah nenek, lalu aku harus bagai mana?” Tanyaku


“ Apa kalian menyuruhku untuk membohonginya? Tidak aku tidak mau” ucapku dengan tegas


“ baiklah kalau begitu, aku akan menyuntik ayla dengan ramuan yang akan membuatnya mengingat kembali apa yang ia lupakan, jika sesuatu terjadi padanya kau yang harus bertanggung jawab” ucap kakek mengancam


“ Baiklah kakek, aku akan menuruti perintah kalian” ucapku pasrah


Aku tidak ingin ayla mengingat masa lalunya, aku khawatir ia akan trauma jika mengingat masa yang buruk yang membuatku trauma juga.


Kakek pamit untuk pergi ke kebun, aku mengobrol dengan nenek di ruang tamu sambil minum teh, namun setelah teh ku habis aku merasakan rasa kantuk yang sangat kuat, saat itu aku menyadari, nenek memasukan obat tidur ke dalam teh ku, entah apa yang nenek rencanakan dengan kakek, tapi yang pasti rasa kantukku ini semakin tak tertahankan


***


Aku membuka mataku, kepalaku terasa berat, tenggorokanku juga kering, aku merasa sangat kehausan, samar-samar aku melihat kakek berdiri di sampingku


“ nak coba lihat ke atas” ucap kakek sambil membuka mataku lebar-lebar


“ apa yang terjadi, kenapa kakek memeriksa diriku, apa dramanya sudah di mulai” ucapku dalam hati


Selain memerikasa diriku kakek juga memberiku segelas air, aku pun meminum air itu.


“ bagus sekali, kau sadar di waktu yang tepat, makan malam sudah siap ayo cepat bangun dan makan bersama kami” ucap ayla


Aku menggenggam tangan ayla


“ Maafkan aku ayla, aku tau aku sudah berkata kasar padamu, tapi aku tidak pernah berniat menyakitimu” Ucapku sambil terus menggengam tangan dan menatap ayla


“Kau mengenalku?” tanya ayla


“kau berusaha menipuku ayla, kau pura-pura kehilangan ingatanmu untuk menghindariku, tapi masalahnya sayang, orang yang hilang ingatan tidak bisa hilang ingatan lagi” ucapku dalam hati


“ hahaha... Apa kau bercanda ayla, ini tidak lucu, sungguh” jawabku sambil tersenyum


“nanti saja ngobrolnya, pria ini kelaparan, ayo sebaiknya kita makan dulu” ucap kakek


“ Oh ternyata dramanya sudah di mulai” ucapku dalam hati


Kami makan bersama, aku terus menatap ayla karna aku merasa senang bisa melihat ayla lagi, rasanya mata ini enggan berpaling. Setelah makan kami duduk bersama dan berbincang sambil menikmati secangkir teh


“ siapa namamu nak? Dan kau berasal dari mana?” tanya kakek


“ namaku ghaisan kek, aku berasal dari kota ini” jawabku sambil menatap ayla


“Ghaisan namamu seperti nama pemimpin kota, atau kau memang...”


“ Aku sedang mencari pekerjaan nek, bisakah kalian mempekerjakan aku?” ucapku memotong pembicaraan nenek sambil terus menatap ayla


“ Kenapa kau bisa pingsan di pinggir sungai?” tanya kakek lagi


“ Aku tengah mencari Ayla, calon istriku, dia mengalami kecelakaan dan jatuh ke sungai, semua orang mengatakan dia sudah tiada, tapi aku yakin dia masih hidup dan baik-baik saja, karna kucing liarku mempunyai sembilan nyawa, dia tidak akan pergi dengan mudah” jawabku masih menatap ayla


“ Kenapa kau terus menatapku seperti itu” tanya ayla


“ aku tidak tahu ayla, aku hanya merindukanmu hingga rasanya mata ini enggan berpaling darimu” ucapku dalam hati


“ Iya nak, kami perhatikan kau dari tadi menatap cucu kami, boleh kami tau kenapa?” tanya kakek


“ karna dialah alya, kucing liarku” jawabku dengan lembut


“ boleh kami tahu kapan kejadiannya nak?” tanya nenek


“Nenek, kakek, kalian sudah tahu segalanya, kenapa terus saja bertanya” ucapku dalam hati


“10 hari yang lalu nek, nek boleh aku tahu dari mana kau mendapatkan cucu seperti dia” jawabku sambil menunjukan jari ke arah ayla


Nenek dan kakek menarik tangan ayla menjau dariku, mereka bicara dengan ayla dengan berbisik-bisik, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan maupun apa yang nenek dan kakek rencanakan aku hanya melakukannya.