
Keesokan harinya...
“ghaisan... Bangunlah cepat, apa kau tidak mau menghadiri pernikahanku” terdengar suara bibi membangunkan aku
“bibi biarkan aku tidur 5 menit lagi” ucapku dengan mata yang terpejam
“tidak bisa tampan, cepat bangun atau aku akan membawa si coklat berantena kemari”
“Bibi aku sudah bangun”
Sontak saja aku bangun dari tidurku dan berdiri diatas tempat tidur, bibi melihatku sambil tersenyum
“bagus pria tampanku” ucap bibi sambil meletakan pakayan diatas tempat tidur,
“ Bagaimana bibi bisa tau aku takut pada si coklat berantena?”
“tentu saja aku tau, aku inikan bibimu” ucap bibi sambil mengelus kepalaku
“Cepat mandi dan bersiaplah” Ucap bibi sambil berjalan keluar kamar kemudian menutup pintu kamar
Aku mandi dan segera bersiap memakai celana hitam, kemeja putih, dasi kupu-kupu dan jas yang bibi siapkan untuku, setelah rapih aku pergi ke luar kamaar, aku melihat kakek juga sudah berpakaian rapih, bibi keluar dengan mengenakan gaun pengantin berwarna putih, dia terlihat sangat cantik dengan pakaian itu, kami pun pergi ke kantor catatan sipil bersama, disana kekasih bibi sudah menunggu, aku pun berkenalan dengannya, namanya lateef nohan, paman lateef sangat tampan dan gagah, sepertinya dia juga baik, setelah selesai menandatangani surat nikah bibi dan paman langsung pergi ke bandara, kembali ke tempat asal paman, sebelum pergi paman berpesan, jika aku membutuhkan bantuan atau kekuatan aku bisa menghubungi tuan aziz, dia adalah asisten paman yang cukup kuat dan dapat diandalkan paman untuk mengurus usahanya di kota ini, saat itu aku baru tahu bahwa paman lateef adalah kepala mafia. Aku dan kakek pulang kerumah setelah mengantar bibi dan paman ke bandara, sesampainya di rumah aku terkejut melihat fahim berdiri diantara paman ikram dan viida di depan rumah, aku dan kakek pun menghampiri mereka
“ Ikram Bagaimana fahim bisa bersamamu, ghaisan mengatakan fahim menginap dirumah temannya kemarin?” tanya kakek
“aku menjemputnya pagi ini ayah, ayah ada yang ingin aku bicarakan “ ucap paman
“apa yang terjadi sebenarnya, kenapa paman mendukung kebohongku pada kakek, apa fahim bersama paman sejak kemarin, aku belum sempat menemui paman dan mengatakan fahim hilang, astaga.. aku tidak mengerti” ucapku dalam hati
“baiklah ikram, kita bicara di dalam saja, ayo masuk” ucap kakek
Kami pun masuk kedalam rumah dan duduk bersama di ruang tamu
“ Ghaisan masuk ke kamarmu dan ajaklah fahim bersamamu” pinta kakek
“Baiklah kek ...
“Tunggu ghaisan, duduklah kembali, ayah maafkan aku, tapi yang ingin aku katakan ghaisan dan fahim juga harus mendengarnya” ucap paman memotong ucapanku saat aku bangun dari tempat duduk dan hendak pergi
Aku melihat kearah kakek, aku kembali duduk saat kakek menganggukan kepalanya
“ Hallo ayah mertua, namaku viida, aku adalah ibu kandung fahim, aku dan ikram melakukan kesalahan 5thn lalu, dan kami ingin memperbaikinya” ucap viida
“ ayah, viida benar, untuk memperbaiki kesalahan kami, kemarin malam aku mencari ayah untuk meminta restu, tapi ayah tidak di rumah jadi aku menikahi viida pagi ini tanpa memberitahumu, maafkan aku ayah karna sudah lancang, maksud kami datang kemari adalah untuk meminta restu ayah dan kami ingin meminta ijinmu juga untuk membawa fahim, untuk ikut serta tinggal bersama kami” Ucap paman
“ tidak,,, fahim adalah adiku, tidak ada seorang pun yang bisa membawanya jauh dariku” ucapku
“ baiklah fahim jika kau menginginkan ini” ucap kakek
“ Kakek...!” ucapku sambil cemberut
“ ghaisan mereka lebih berhak atas fahim, aku harap kau bisa mengerti dan merelakan adikmu tinggal bersama mereka, lagi pula kau masih bisa bertemu dengannya” ucap kakek mencoba memberiku pengertian
Aku hanya bisa menerimanya, meski aku benci mengakuinya tapi ucapan kakek sangatlah benar, ditambah lagi fahim masih terlalu kecil dan masih membutuhkan banyak perhatian .
Kakek pergi ke luar saat ponselnya berdering, entah siapa yang menghubungi kakek
“ kakak kau sangat menyayangiku kan!” tanya fahim
“ Itu tidak perlu ditanyakan lagi fahim” jawabku dengan lembut
“ Jika aku meminta sesuatu apa kau akan memberikannya?” tanya fahim lagi
“ Jika aku bisa aku akan berikan” jawabku
“ kakak bisakah kau berikan rumah ayah padaku, aku ingin tinggal di sana bersama ayah dan ibuku” ucap fahim
“Baiklah aku akan memberikan rumah itu untukmu” jawabku
Paman memberikan sebuah berkas yang didalamnya terdapat surat pengalihan kepemilikan rumah atas namaku menjadi fahim, saat itu aku merasa bahwa semuanya sudah di rencanakan, aku merasa mungkin fahim dipaksa untuk melakukan ini, namun ketika melihat fahim tersenyum saat aku mengambil berkas itu, aku menjadi tak mengerti, ini bukan sifat fahim yang aku kenal, jika dia terpaksa dia tidak akan tersenyum bahagia, tapi meminta rumah ayah bukanlah hal yang wajar untuk di minta anak berumur 5thn, aku pun menandatangani surat itu tanpa ragu, setelah selesai memberikan tanda tangan paman ikram menarik surat itu dan bergegas menyembunyikannya, dia pun mengeluarkan berkas lain dan memberikannya padaku
“ berkas apa itu ikram?” tanya kakek yang kembali setelah selesai menerima telepon
“ini surat kuasa perusahaan ayah, isinya tentang penyerahan tanggung jawab untuk mengurus perusahaan, aku akan mengambil tanggung jawab mengurus perusahaan, karna ghaisan masih terlalu kecil untuk menjadi pimpinan” ucap paman dengan percaya diri
“ benar juga, ghaisan masih harus fokus dengan pelajarannya, agar saat besar nanti dia bisa mengurus perusahaan dengan baik” saut kakek
“ Baca dulu baik-baik ghaisan, setelah itu baru tanda tangani, percayalah pada pamanmu ini, aku akan berusaha keras menjaga dan memajukan perusahaan” ucap paman sambil tersenyum menyeringis
Aku membuka berkas itu dan mulai menbaca dokumennya dengan seksama, aku tidak tau paman sengaja atau tidak membuat dokumen kuasa dengan bahasa latin, namun aku tau pasti paman sama sekali tidak mengetahui aku sudah menguasai bahasa latin
“ Apa ini paman? Aku tidak mengerti” tanyaku iseng
“ Jika kau tidak mengerti biar paman beri tahu, dalam surat kuasa itu kau menyatakan bahwa kau menyerahkan kuasa dan tanggung jawab penuh kepadaku untuk menjalankan perusahaan sampai kau menyelesaikan pendidikanmu” ucap paman
paman benar-benar menganggapku bodoh, dalam surat itu jelas tertera aku memberikan kuasa penuh atas perusahaan kepada paman sampai aku menikah, jika usiaku sudah mencapai 28thn dan aku belum juga menikah maka perusahaan secara resmi menjadi milik paman, satu hal yang tidak ku mengert, aku tahu betul bahwa paman sangat menginginkan perusahaan itu tapi kenapa harus menunggu 20thn untuk mendapatkannya,
“ Ghaisan ada apa, apa ada masalah dalam surat itu, kenapa kau sepertinya ragu, biar kakek baca,, sini berikan g ” ucap kakek sambil mengulurkan tangan meminta berkas itu
Wajah paman berubah jadi pucat saat kakek meminta berkas itu, entah mengapa aku senang melihatnya, aku memberikan berkas itu pada kakek, namun....