
Ghaisan menatapku kemudian mengatakan
“ ayla, aku bertanya pada hazel bukan padamu, biarkan hazel menjawab pertanyaanku”
Ghaisan kembali menatap hazel dan bertanya
“ apa yang ayla katakan itu benar hazel, jawab pertanyaanku? Kenapa kau seperti ini?”
“ aku mencintaimu g” ucapku dengan lentang
Ghaisan kembali menatapku, dia bangkit dari tempat ia duduk kemudian pergi meninggalkan kami di sana
“Apa begitu sulit untuk mengungkapkan cinta hazel, kau hanya harus mengatakan pada g “ ucapku
“ ada apa dengan ghaisan? Tingkahnya agak sedikit aneh” ucap haidar datang menghampiri kami
“ Wanita ini baru saja menyatakan cintanya pada tuan ghaisan” Ucap hazel dengan senang
“Apa” jawab kompak aku dan haidar
Haidar dan aku saling menatap
“ Apa yang kau lakukan nona ayla” ucap haidar
“ haidar itu tidak benar, aku memang mengatakan, aku mencintaimu, tapi maksudku hanyalah untuk mewakili hazel menjawab pertanyaan g” ucapku
“ Astaga... Bagaimana jika tuan g salah faham dan mengira kau menyatakan cintamu padanya” ucap haidar dengan nada panik
“ apalagi yang akan terjadi haidar, kau sudah tau dengan pasti, tuan ghai tidak menyukai wanita yang menyatakan cintanya, jadi aku rasa ayla akan di usir dari rumahnya” ucap hazel dengan senyum bahagia
“ Apa maksumu hazel, haidar katakan padaku apa maksud dari perkataannya, aku tidak mengerti” ucapku
“ Kau pikir saja sendiri” ucap hazel sambil beranjak pergi
“ hazel kau mau ke mana?” tanyaku
“ Aku masih banyak urusan, sebaiknya kau juga pulang dan berkemas” ucapnya sambil berjalan menjauh dan melambaikan tangan
“ nona ayla jika tuan berpikir kau menyatakan cintamu padanya, habislah riwayatmu” ucap haidar dengan nada cemas
Ucapannya membuatku semakin geram karna penasaran, hingga tanpa sadar aku memukul meja dengan kencang dan membentak haidar
“ Sudah cukup, jelaskan padaku sekarang juga, jangan membuatku semakin penasaran”
“ Nona ayla, tuan g tidak suka bila ada wanita yang menyatakan cinta padanya, selama aku mengenal tuan g, dia selalu lari dari cinta, jika ada wanita yang menyatakan cintanya pada tuan g dia akan menjauhi wanita itu seperti musuh” ucap haidar
“ Benarkah itu,, hahahaha,,, g itu benar-benar konyol, aku jadi ingin tau bagaimana dia akan menjauhiku”
“ kau ini wanita macam apa ayla, aku menghawatirkan dirimu tapi kau malah tertawa” ucap haidar sedikit kesal
“ tenanglah haidar, aku tidak akan diusir dari rumahnya, percayalah padaku” ucapku sambil menepuk pundak haidar
Aku meminta haidar untuk mencari ghaisan dan memberitahuku tentang keberadaannya, tidak lama setelah itu haidar memberitahu bahwa g sudah pulang
Aku tetap berada di arena ice skating, aku memakai kembali sepatuku dan mencoba belajar main ice skating, aku jatuh berkali-kali, bangit berkali-kali, aku tidak peduli dan terus bermain hingga berhasil, aku bertekat untuk bisa bermain ice skating sebelum kembali ke negaraku, entah sudah berapa jam berlalu, entah sudah berapa kali aku mencoba, hingga akhirnya aku merasa cukup, aku lelah dan beristirahat, aku duduk di tempat yang sama dimana ghaisan meninggalkanku, aku menyandarkan kepalaku di tangan diatas meja, melihat orang-orang berlalu lalang di depanku, kepalaku terasa berat, tubuhku terasa lemas, rasa dinginnya udara menusuk hingga ke tulangku, aku rasa aku demam, penglihatanku perlahan menjadi suram, ku putuskan untuk menutup mataku sejenak,
“ ayla bangun, ayla buka matamu” terdengar suara ghaisan memanggil namaku, aku mencoba untuk membuka, meski dengan penglihatan yang pudar aku bisa melihatnya, ghaisan terlihat khawatir, entah kenapa aku merasa senang hingga tak mampu menahan diriku untuk tersenyum, ini pertama kalinya aku melihat dia tidak dalam keadaan tenang, aku kembali menutup mataku karna merasa tak mampu lagi untuk membuka mataku lebih lama dari ini.
“ haruskah aku membangunkannya? Atau membiarkan dia tidur nyenyak seperti ini, aku akan membuatkan sarapan untuknya baru setelah itu aku akan membangunkannya” ucapku bicara pada diri sendiri,
Aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahku, kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan,
“ Aneh kenapa bi chan tidak ada, hazel juga, mungkin bi chan pergi ke pasar, dan hazel sudah berangkat kerja, kenapa juga aku harus memikirkannya, ini bagus bukan, aku bisa masak tanpa gangguan, dapur ini seutuhnya milikmu ayla” ucapku bicara pada diri sendiri
Aku mengikat rambutku, mengambil wajan dalam lemari, mengambil nasi, telur, bawang merah, bawang putih, bawang bombay, cabai, dan bahan lain untuk membuat nasi goreng, aku mulai mengiris bahan-bahanya
“ apa yang kau lakukan? “ ucap ghaisan dengan tegas yang tiba-tiba muncul di depan pintu
“ Apa semua ini, kau akan membuat nasi goreng?” tanyanya
“ iya g aku...
“ diam” ucap ghaisan sambil menaruh telunjuknya di bibirku untuk menghentikanku bicara
Ghaisan menarik tanganku dan memaksaku duduk di meja makan, dia memintaku untuk tidak bicara, dia menyisingkan lengan kemejanya, kemudian mengambil celemek dan memasangnya, melihat ghaisan mengiris sayuran dengan sangat cepat sepertinya dia sudah biasa di dapur, ghaisan sibuk memasak sementara aku hanya duduk di meja makan sambil memperhatikannya,
“ Ayla, kau makan sup ayam dan nasi saja, habiskan” ucap ghaisan dengan nada kesal kemudian ia pergi ke kamarnya
“ Apa aku tidak salah lihat kan?, g marah? “ ucapku bicara sendiri tak percaya
Aku meninggalkan makananku dan pergi mengejar ghaisan ke kamarnya, aku langsung masuk karna kamarnya tidak di kunci, dan aku bicara dengannya
“ g apa yang kau lakukan?”
“ kau tidak bisa melihat, aku sedang menyiapkan pakayanku” ucap ghaisan masih dengan nada kesal
“ g kau marah padaku Karna kejadian kemarin?” tanyaku penasaran dan tak percaya
Ghaisan menatapku dengan tatapan tajam
“ Pergi habiskan sarapanmu, aku mau mandi” ucap ghaisan masih dengan nada kesal sambil mendorongku keluar dari kamarnya
“Wah ayla, sepertinya kau harus mengemas barangmu” ucapku bicara pada diri sendiri,
Aku kembali ke ruang makan dan memakan sup buatan ghaisan, sup yang ia buat sangat lezat seperti buatan chef hotel bintang lima hingga tanpa sadar aku menghabiskannya, aku kembali ke kamarku dan mengganti pakayanku, aku kembali ke kamar ghaisan setelah itu, tapi ghaisan tidak ada di kamar, aku mencarinya ke ruang kerjanya, aku melihat dia tengah sibuk dengan berkas-berkasnya, ia memasukan beberapa berkas ke dalam brangkasnya
“ g itu brangkasmu” tanyaku sambil duduk diatas meja kerjanya
“Mmm”
“ apa kata sandinya”
“47149”
“Selain aku, siapa lagi yang tau kodenya?”
“ tidak ada, hanya kau dan aku”
Aku sangat terkejut ”ghaisan memberikan kode brangkasnya, tapi kenapa? Dia marah padaku karna aku menyatakan cinta padanya, tapi di sisi lain dia bersikap baik dengan merawatku dan membuatkanku sarapan, dia juga sangat percaya padaku hingga memberikan kode brangkasnya....
Assalamu'alaikum para pembaca, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel saya, bantu saya untuk menjadi author yang lebih baik dengan memberikan komentar kritik dan saran kalian, dan tinggalkan jekak ❤ agar aku tau kalian selalu bersamaku untuk membuatku lebih semangat lagi dalam membuat novel yang seru untuk sekedar menemani dan menghilangkan kejenuhan kalian. salam cinta dariku😍