
Aku menyadari ia telah di beri obat perangsang, aku memutuskan untuk membantu ayla, aku mencium bibirnya dengan lembut, bermain dengan lidahnya, ia terlihat sangat cantik dan menawan, saat aku menjauhkan bibirku darinya di menariku kembali, tiba-tiba laila menerobos masuk kamar
“ maaf g aku tidak tau” ucapnya sambil kembali ke luar dengan cepat dan menutup pintu,
“ G aku akan menunggu di depan pintu” Teriak laila dari balik pintu, aku tidak tau kenapa ia mengatakan hal itu,
Aku kembali pokus pada ayla, aku berusaha memenuhi hasratnya agar pengaruh obatnya menghilang, aku mencoba memuaskannya, dimulai dari mencium bibirnya dengan lembut, menjilat, menghisap dan menggigit ringan bibirnya,
“ahhh...” suara desahannya
kemudian bergeser ke telinganya, aku menciumnya, menjilatnya dan menghisap daun telinganya
“ahh..” ia mendesah lagi
bergeser ke tengkuknya, aku menjilat dan menghembuskan nafas di bagian belakang lehernya,
“ahhh...” Ia mendesah lagi
aku menggenggam kedua pergelangan tangannya, aku mencium tangannya, kemudian aku berusaha menahan tangannya dengan satu tangan agar ia tidak meronta, satu tanganku kemudian membuka bajunya, aku melepas tanganku dan bermain di sekitar buah dadanya yang besar, dimulai dari belayan tangan yang lembut, tangannya mencengkram tanganku, aku membalikan tanganku dan memegang kedua pergelangan tangannya dengan tangan kiriku, menahan tangannya di atas bantal sementara tangan kiriku memainkan putingnya, *** dan membelai buah kirinya, aku mencium, menjilat dan sesekali menghisap buah kanannya, di waktu yang sama kakiku meraba kakinya dengan sentuhan lembut, aku melepaskan tangan kiriku meraba paha bagian dalamnya, ia pun mengalungkan tangannya di leherku, aku melepaskan tangannya dan ia pun mencengkam seprai,
“Ahhh...” ia terus mendesah dari waktu ke waktu, suara desahannya terasa merdu di telinga, aku mencium bibirnya lagi tanganku mulai meraba bagian perut kemudian mencengkramnya dengan lembut, tanganku meraba semakin lama semakin ke bawah,
“ Ah... Ghaisan...” aku terkejut saat aku mendengar ia mendesah sambil menyebutkan namaku dengan merdu saat aku menyentuh titik kemaluannya dengan jari telunjukku, aku merasa senang dan bersemangat, aku kembali mencium bibirnya kemudian *** bokongnya,
“ahh....” ucapnya sambil mencengkram kemejaku, kemudian menariknya hingga robek
Aku bengun dan dukuk di atas pahanya
“ ayla aku membantumu dan kau malah merobek kemejaku, bagus sekali, kau kehilangan ingatanmu tapi sikapmu yang seperti kucing liar ternyata tidak hilang” ucapku dengan santai sambil menghela nafas
“ kakak...” ucapnya sambil bangun dan memeluku
Aku melepaskan diri dari pelukannya kemudian membuka kemejaku
“ ayla aku lelah, aku tidak mengerti kenapa hasratmu justru semakin besar?” ucapiku kemudia berbaring dan membiarkakan ia menyentuhku
“ lakukan apa yang kau mau, nikmati tubuhku sesuka hati, aku adalah suamimu jadi tidak masalah, meski kau tidak mengingatnya” ucapku sambil memejamkan mata,
Dia menggoyangkan bokongnya di atas senjataku, suara desahannya terdengar jelas di telinga kananku, aku bisa merasakan dia mengeksplorasi bagian dalam telinga kananku dengan bibir dan lidah, desahan nafasnya terdengar sexi di telinga, dia beralih ke belakan cuping telingaku sentuhan lembut bibirnya terasa di kulit hingga membuatku merinding, kemudian ia mulai menyasar area pusarku, sentuhan dan ciumannya memberikan sensasi menggelitik, perasaan itu membuatku membuka mata, aku bisa merasakan pistolku berdiri, apa arti semua ini, ini tidak seperti biasanya, biasanya pistolku hanya berdiri saat sedang pipis, untuk pertama kalinya setelah 17tahun terakhir, ini terjadi
“ ayla hentikan, kau menggetarkan perkakasku dan membuat pistolku berdiri” ucapku
aku berusaha untuk bangun dan menjauhkan ayla dariku namun iya justru memasukan tangannya ke dalam celanaku, ia meraba bola kembarku yang membuatku menjadi tidak berdaya, ia membuka resleting celanaku dan mengeluarkan pistol beserta perkakasnya, dia mengeksplorasi skrotumku hingga membuatku menjadi bergairah, sentuhan dan kecupan ringannya membuat pistolku mengeras, tangannya menyasar bagian putingku, sentuhan menggelitiknya membuatku semakin tak berdaya, ia menjelajahi setiap inci tubuhku dan itu membuat pistolku terasa sakit, aku tidak bisa mengendalikan diriku
“ Kakak”
“Kakak kenapa pistolmu sangat enak” suara ayla kecil terngiang-ngiang di telingaku,
Kenangan 17thn lalu terlintas di mataku, rasanya aku kembali ke masa lalu, hal itu membuatku sulit bernafas, aku menarik ayla dan mencoba memakai celanaku lagi namun ia malah menciumi tubuhku dengan kuat hingga timbul warna merah
“laila” teriakku dengan kencang karna aku merasa tak sanggup bertahan
“ kau harus bertahan g, sebisa mungkin cobalah untuk melakukannya” teriak laila dari balik pintu
“Keluarkan dalam tubuhnya g, kau akan merasa lebih baik setelah itu” teriak laila dari balik pintu
Aku mencoba mengambil ponselku dan menelpon dokter haz
“dokter haz, ah... cepat datang ke TKP atau aku akan kehilangan kendali atas.. Ahhh... keadaan ini” ucapku bicara sambil menahan diri ayla kemudian menepis tanganku dan membuat ponselku terjatuh
Tidak lama kemudia doktr haz masuk ke dalam kamar namun ia membalikan diri dan hendak pergi saat melihat kearah ku
“ Dokter haz, jika kau pergi aku akan mencabut ijin doktermu, cepat bantu aku jauhkan dia dariku, aku tidak bisa mengendalikan diriku” ucapku sedikit mengancamnya
“tuan apa dia di beri obat, jika benar sebaiknya kau lepaskan saja spermamu dalam tubuhnya, masalahmu dan masalahnya akan selesai dengan mudah, kenapa kau malah memanggilku kemari” ucapnya sambil membelakangiku
“ hez wanita ini masih suci, dia takan bisa memuaskanku, jika kau bersedia memuaskan aku, ahh...ss.. aku akan mengikuti saranmu dengan senang hati” ucapku mencoba membujuknya,
aku tau jika aku mengatakan itu dia pasti akan membantu menjauhkan ayla dariku, kapten feo tiba-tiba datang dengan membawa selimut, ia membalut tubuh ayla yang telanjang dengan selimut dan menjauhkannya dariku
“ cepat bawa dia dan segera obati dia” ucapku memerintah
“ tuan bagaimana denganmu” tanya kapten feo
“ Jangan hawatirkan aku, aku bisa mengurus diriku” ucapku
Kemudian aku berlari ke kamar mandi dan sambil menahan rasa sakitku, saat aku masuk kamar mandi aku melihat laila tengah duduk di atas westafel, ia turun dan memaksaku untuk duduk,
“laila apa yang kau lakukan”
“Kenapa kau tidak menuruti perkataanku g” tanyanya dengan tegas
“Bagaiman bisa aku melakukannya saat aku hendak menceraikannya”
Ia menarik kakiku dan membuatku berbaring, aku memegang pistolku dan terus menahan rasa sakit di area itu
“apa aku dengar kau bicara soal cerai, g aku tau betul cintamu untuknya dan kau bicara tentang cerai denganku” ucapnya
Laila menekan perut bagian bawahku dan rasanya sangat menyakitkan, aku menahan diri agar tidak berteriak
“Laila apa yang kau lakukan, rasanya sangat sakit”
“tahanlah, aku sedang mmbantumu “ ucapnya sambil terus menekan perutku dan perlahan tangannya semakin ke bawah
“Laila” Ucapku sambil terus menahan rasa sakit yang semakin hebat
“g singkirkan tanganmu”
Aku menggelengkan kepala sambil berkata” tidak”
Ia kemudian menyingkirkan tanganku secara paksa, ia membuka resletingku dan mengeluarkan pistolku, ia menekan pistolku dengan ibu jarinya, dan rasanya sakit luar biasa
“Laila....