
Haidar pergi meninggalkan kediaman ghaisan, ghaisan pun bergegas mengganti pakayannya kemudian pergi ke rumah sakit.
*Di rumah sakit di waktu yang sama saat haidar datang ke kediaman ghaisan dan ayla
Nizar mengantar seorang pria paruh baya yang pingsan tepat di hadapannya ke rumah sakit, setelah pria itu di tangani dokter dan keluarga pria itu datang, nizar pergi dari sana dan hendak pulang namun langkahnya terhenti saat tanpa sengaja ia melihat ayla berbaring di salah satu ruang perawatan yang pintunya terbuka, seorang perawat keluar dari ruangan itu, nizar pun menghentikannya
“Tunggu perawat, wanita itu.. bukankah dia ayla?” tanya nizar
“ Kau mengenalnya, dia adalah istri dari pimpinan kota” Ucap perawat itu
“tentu saja aku mengenalnya, dia adalah temanku, dia sakit apa? Dan di mana tuan”
“dia hanya demam, pimpinan? tadi dia di sini, tapi aku memintanya untuk pulang dulu karna pakayannya basah, aku khawatir beliau akan jatuh sakit juga, kau ingin menemuinya?” tanya perawat
“ apa boleh?” tanya nizar ragu
“tentu saja, bukankah dia temanmu?” ucap perawat sambil memegang pundak nizar kemudian berjalan pergi
Nizar berdiri di pintu dan melihat ayla tidak sadarkan diri, ia berpikir bahwa ghaisan bergegas pulang karna ayla sakit, dalam hati nizar ia merasa lega karna melepaskan ayla bahagia dengan atasannya yang ternyata mencintai ayla lebih dari cinta nizar.
Ayla pun membuka matanya dan mulai menitihkan air mata, nizar yang hawatir melihat ayla menangis pun berjalan mendekarinya
“ayla” panggil nizar
“ nizar” panggil ayla sambil menyeka air matanya, ayla mencoba untuk bangun dan nizar pun segera membantunya untuk duduk
“ Sedang apa kau di rumah sakit” tanya ayla penasaran
“tadi aku mengantar tuan pulang, saat aku hendak pulang aku melihat seseorang pingsan jadi aku mengantarnya kemari”
“kau itu tidak pernah berubah kau selalu menjadi pria baik nizar, aku minta maaf padamu karna telah meninggalkanmu”
“ meninggalkanku, jangan sembarangan bicara ayla, akulah yang telah meninggalkanmu, tolong ingat itu” ucap nizar sambil tersenyum
“(Senyum) kenapa kau sangat peduli akan hal itu”
“ tentu saja aku peduli, kau tau sebagai pria kata-katamu itu melukai harga diriku”
Di koridor ghaisan sedang berjalan menuju ruang rawat ayla, sementara nizar masih mengobrol dengan ayla
“ apa yang terjadi ayla, kau bisa cerita padaku?” tanya nizar khawatir melihat ayla yang diam termenung
“apa yang akan kau lakukan jika kau tahu istrimu tidur dengan pria lain?”
“ apa? Apa kau menghianati tuan dan tidur bersama pria lain? “ nizar balik bertanya karna terkejut mendengarkan pertanyaan ayla
“ dasar bodoh, aku hanya bertanya, aku melihat film yang menceritakan hal itu, aku hanya penasaran akan seperti apa kelanjutan ceritanya” ucap ayla berbohong
“ hanya film, aku pikir kau menghianati tuanku, awas saja jika kau melakukan itu, aku tidak akan mengampunimu”
“ Kenapa kau jadi emosi seperti itu, kenapa juga kau harus berpihak padanya, cih, apa kau pikir aku akan seperti itu?” ayla sedikit kesal
“ tuan orang baik ayla, jujur saja di bandingkan orang jahat aku lebih takut pada orang baik seperti tuan, apa kau tahu biasanya jika dia marah dia akan lebih kejam dari orang jahat (senyum) jika aku menjadi tuan” Nizar diam sejenak menatap ayla dengan penuh curiga
Di luar ruangan ghaisan menghentikan langkahnya saat mendengar nizar berkata “ jika kau berani menghianati cintaku aku pasti akan melemparmu dan pria itu ke laut”
“ Bagaimana jika pria itu ghaisan, apa kau akan melemparku dan ghaisan ke laut?” tanya ayla
“ jika itu tuan tentu saja” ucap nizar dengan sombong
“ Tentu saja apa?” tanya ayla sambil tersenyum
“ tentu saja aku akan melempar ke laut juga” ucap nizar dengan sombong
“ Kau akan melempar ghaisan ke laut?” tanya ayla terkejut
“ Tidak aku akan melempar diriku sendiri ke laut, karna jujur saja aku takut pada suamimu itu” ucap nizar dengan lemas
“ Hahaha.... Kau sangat takut pada ghaisan tapi bicara sombong”
Melihat ayla tertawa nizar pun tersenyum, namun tidak begitu dengan ghaisan, ghaisan tidak bahagia melihat ayla bahagia dengan nizar, ghaisan terluka karna merasa tak bisa mendapatkan ayla sepenuhnya meski sudah menikah dengannya, hatinya semakin terluka saat melihat ayla mengacak-ngacak rambut nizar dan memintanya pulang untuk beristirahat,
“ Baiklah tuan putri, aku permisi” ucap nizar sambil menunduk seperti pelayan kemudian berjalan keluar,
Ghaisan pun segera berbalik bersembunyi dari nizar
“Harusnya aku yang duduk di sana mendampingimu saat kau terbangun, harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia, ayla cintaku lebih besar darinya harusnya kau lebih memilihku” ucap ghaisan bicara menghadap tembok karna kesal ghaisan pun meninju tembiok.
Seorang dokter berjalan menuju kamar ayla untuk memeriksanya, di samping pintu kamar ia melihat ghaisan berdiri menghadap ke tembok
“tuan kau baik-baik saja” tanya dokter
“ Ia aku baik-baik saja, aku hanya sedikit pusing” ucap ghaisan sambil berbalik
“ astaga tuan ghaisan tanganmu terluka, dokter lihat darahnya terus menetes” ucap perawat itu dengan panik
“ Tidak apa, ini hanya luka kecil, kau tidak perlu berlebihan” Ucap ghaisan dengan tenang
Di dalam ruang rawat ayla bergegas mencabut impusannya berusaha untuk turun dan menghampiri ghaisan, ia khawatir pada ghaisan setelah mendengar tangan gaisan terluka, namun kondisinya sangat lemah hingga dia pun terjatuh, ia menangis karna tidak bisa menghampiri ghaisan, ghaisan segera berlari masuk saat mendengar suara dari kamar ayla, ia mendapati ayla sudah terjatuh ke lantai sambil menangis, ia hendak membantu ayla untuk bangun namun ayla menepis tangannya perlahan
“ Jangan, tanganmu sedang terluka” ucap ayla sambil menangis
Ghaisan tidak mengindahkan ucapan ayla
“ ghaisan, kenapa kau keras kepala” ucap ayla saat ghaisan mengangkatnya dan membaringkannya di atas tempat tidur
“ Aku tidak selemah itu ayla, lihatlah dirimu sebelum kau menceramahi orang, kau sedang sakit namun kau mencopot impusan dan berusaha untuk pergi, kenapa? Apa kau berusaha mengejar kekasihmu” ucap ghaisan dengan sinis
Ayla terdiam di hadapan ghaisan namun dalam hatinya ia berkata
“ Aku mencemaskanmu bodoh, kenapa kau tidak mengerti”
Dokter memasangkan kembali impusan pada tangan ayla, sementara perawat mengobati luka di tangan ghaisan yang sedang duduk di kursi, ghaisan dan ayla hanya saling menatap satu sama lain, keduanya saling menghawatirkan satu sama lain namun memilih untuk menyembunyikan perasaan mereka, dokter dan perawat pergi meninggalkan mereka berdua seletah selesai dengan pekerjaan mereka,
“ Haruskah aku berkata jujur pada ghaisan, apakah dia masih akan menerimaku, tidak aku tidak berani mengatakannya, bagaimana jika ghaisan meninggalkanku setelah mendengar aku dengan sahabatnya di hotel, aku tidak tahu apa yang terjadi malam itu, tapi aku bangun tanpa busana dan dia juga tidak pakai baju, tidak mungkin tidak terjadi apa-apa kan” ucap ayla dalam hati sambil menatap ghaisan
“ Apa yang kau pikirkan ayla, kau anggap aku ini apa, aku suamimu, seharusnya tubuh indahmu dan hatimu itu miliku, tapi kau malah memberikan hatimu pada nizar, apa hebatnya dia, dia hanya bisa menerbangkan pesawat, aku juga bisa melakukan itu, aku akan memberimu kesempatan, jika setelah kau sembuh kau menolak untuk ku sentuh aku berjanji aku tidak akan menyentuhmu jika kau tidak menyentuhku duluan, astaga ghaisan kenapa kau masih berharap ayla akan menyentuhmu duluan, sadarlah, tubuh ayla memang milikmu tapi hatinya milik pria lain” perdebatan hati dan pikiran dalam diri ghaisan, mata ghaisan tetap menatap ayla.