For.get

For.get
GS. Rencana



Aku mengikuti mobil polisi yang membawa para tahanan dengan mobil spotku bersama inspektur jasir, sepanjang perjalanan inspektur jasir berkali-kaili melayangkan tatapan heran, ada apa dengannya? aku tau pasti, dia mengenalku dengan baik, selama ini aku tidak pernah membiarkan orang yang berbuat jahat di kota yang ku pimpin ini pergi keluar dari kota tanpa menerima hukuman lebih dulu, ia merasa heran karna kali ini aku mengirim mereka pergi tanpa melakukan apapun.


Setibanya di ibu kota kami di sambut hangat oleh pimpinan ibu kota dan jendral polisi, kehangatan yang mereka berikan menimbulkan banyak kecurigaan dalam benakku, karna aku tau pasti mereka tidak pernah menyukaiku, semua berjalan dengan baik sampai kami pergi dari sana, inpektur jasir kembali ke kota bersama polisi lain sementara aku tetap di ibu kota, aku pergi menemui anak buah tuan rivan yang bekerja di ibu kota, baik yang menjadi tentara, polisi atau yang menjadi pengawal presiden, selain berbincang mengenai pekerjaan, aku meminta sedikit bantuan dari mereka untuk melancarkan rencanaku, dan mereka bersedia mendukungku, aku berpamitan pada mereka saat hari mulai gelap, saat melihat ponsel ada 45 pangilan tak terjawab dari haidar, 30 panggilan dari inspektur jasir dan 74 pesan dari keduanya yang isinya sama, mereka memintaku menghubungi mereka, entah apa yang mereka inginkan dariku, aku pun memutuskan untuk menelpon haidar terlebih dahulu,


“ Hallo g, kau kemana saja sejak tadi kami mencoba menghubungimu” ucap haidar di telpon


“ g ada masalah besar terjadi” ucap inspektur jasir di telpon


“ inpektur jasir kau di sana?” tanyaku terkejut mendengar suaranya


“ Iya g, aku dan haidar sedang bersama di ruanganmu” ucap inspektur jasir


“ Baiklah, ada masalah apa sampai kalian menghubungiku berkali-kali” tanyaku


“ Ada kabar buruk g, ibu kota mengakui penangkapan kelompok gerbong narkoba republic sebagai kerja keras mereka” Ucap inspektur jasir


“ bahkan beritanya di tayangkan di seluruh saluran telvisi” Ucap haidar


“ itu berita bagus, kelompok gerbong narkoba republic sudah di tangkap dan kalian justru jadi risau” Ucapku


“ G kita lah yang sudah bekerja keras untuk itu” ucap inspektur jasir


“ lalu apa yang kalian inginkan” tanyaku


“Setidaknya kita harus melakukan sesuatu g” Ucap haidar


“ Haider bener, kita harus memberi mereka pelajaran karna sudah mencuri kerja keras kita” ucap inspektur jasir


“ Baiklah, aku akan memikirkannya, untuk saat ini Jangan lakukan apapun, kalian fokus saja pada pekerjaan kalian masing-masing, aku masih ada pekerjaan jadi aku tutup dulu teleponnya, kita bicarakan lagi nanti” Ucapku


“ baiklah g, sampai jumpa” jawab mereka kompak kemudian telponnya terputus.


“ ghaisan ahmad altamis” terdengar seseorang memanggil dari belakang, aku membalik badan untuk melihat siapa yang memanggilku,


“ Bari sahabatku, apa kabar?” ucapku


“ aku baik g, bagaimana denganmu?” tanyanya


“ Ya seperti yang kalu lihat, aku dalam keadaan sehat”


“ aku banyak mendengar tentangmu g, aku dengar kau jadi pimpinan kota sekarang, dan kau menjadikan kampung halamanku tempat yang indah dan nyaman di tinggali”


“ Kau sibuk apa sekarang” tanyaku


“ aku, aku hanya menjadi kepala penjara, g aku juga tau apa yang terjadi hari ini, tim kepolisianmu menangkap penjahat besar dan polisi ibu kota mengakuinya sebagai kerja keras mereka (senyum paksa) kau tau g, ini bukan pertama kalinya terjadi, sejujurnya aku sudah muak dengan sistim pemerintahan negara kita, orang yang jujur semakin tersingkir dan penjahat-penjahat besar semakin berkuasa”


“ aku tidak peduli semua itu, memikirkan hal itu hanya akan membuatmu pusing, tidak akan merubah apapun”


“ Kau tau ucapanmu sama dengan perkataan istriku, dia juga mengatakan hal yang sama, oh ya g, para tahanan yang kau tangkap ada dalam pengawasanku, jika kau butuh bantuan aku bisa membantumu ”


“ benarkah (tersenyum) kalau begitu bisakah kau bantu aku bertemu mereka malam ini, karna besok aku akan kembali” ucapku


Bari memintaku mengikutinya, ia membawaku ke penjara, tempat yang sama di mana para penjahat itu di tahan, sebelum melangkah masuk aku membetulkan pin bajuku, mengencangkan dasi, baru setelah itu aku melangkah masuk, beri mengajakku berkeliling penjara, aku melihat ke setiap sudut ruangan di sana, setelah melihat keseluruhan bangunan penjara itu aku menemui komplotan gerbong narkoba republic di ruang jenguk, Aku duduk di hadapan mereka dengan melipat tangan di dada sambil menegakan kepala, aku menatap mereka tanpa bicara selama 15 menit, aku tersenyum kemudian pergi dari sana, aku pamit pada basil dan pergi dari penjara, pergi dari ibu kota, aku membawa mobilku melaju dengan cepat dan berhenti di perbatasan kota, aku mengambil leptopku dan mulai menyusun rencana, aku melihat jam tanganku waktu menunjukan pukul 21:58 aku mulai menghitung mundur waktu yang berjalan, aku melepas jas dan kemejaku, aku mengambil koper dari bawah kursi mobil, aku membuka dan mengambil kaus hitam dan juga jaket yang tersimpan di sana, aku memakai semuanya dan terakhir aku memasang topi, aku menutup atap kemudian keluar dari mobil, aku pergi setelah memastikan mobilku terkunci, aku mergi menyusup ke ibu kota dengan menaiki kereta bawah tanah hingga tiba di penjara kota, aku menyelinap menyusuri tembok dengan menghidari kamera CCTV yang ada di sana, aku menggunakan cara dhahir membuka kunci untuk membuka gembok sel, aku menyuntikan ramuan kepada kolompok gerbong narkoba republic satu persatu setelah itu aku pergi dengan cara yang sama saat aku datang, aku langsung kembali ke kotaku dan pulang ke rumah, saat tiba di depan rumah dan hendak memasukan mobil aku melihat seseorang turun dari pagar, aku turun dari mobil dan menghampiri orang itu, aku terkejut saat melihat ternyata orang itu tidak lain adalah ayla


“seorang pencuri diam-diam masuk ke dalam rumah tapi apa yang aku lakukan, aku justru melakukan kebalikannya, ayla... Kau memang luar biasa” ucapnya bicara pada diri sendiri dengan sombong, melihatnya seperti itu aku ingin sekali memeluknya karna gemas,


“Kau mau kemana? Kenapa kau mengendap-ngendap seperti pencuri” tanyaku iseng


“G Sebenarnya aku merasa bosan dan ingin pergi jalan-jalan, aku tidak akan jauh-jauh dari rumahmu, dan aku hanya akan berjalan-jalan di sekitar sini sebentar lalu kembali” ucapnya sambil menggigit kuku ibu jarinya,


Ayla selalu melakukan itu saat merasa takut setelah ketahuan telah melakukan kesalahan, melihat kebiasaannya sejak kecil aku jadi teringat pada janjiku untuk mengajaknya ke arena ice skating,


“kenapa kau terdengar ketakutan, jika kau ingin pergi pergi saja, aku tidak pernah melarangmu, dan aku juga tidak akan marah” ucapku dengan lembut karna aku merasa ayla takut padaku


“Selama beberapa hari aku tidak meluangkan waktu untuk bersama ayla, aku selalu sibuk dengan pekerjaanku, bisakah aku menghabiskan waktu dengannya hari ini, tapi jika aku pergi bersamanya apa dia akan merasa nyaman? Tidak, bagaimana jika ayla justru tidak menikmati harinya karna aku, bagaimana jika aku hanya mengganggu kesenangannya, lagi pula jika aku tiba-tiba bilang ingin menemaninya apa yang akan ia pikirkan, ah... Sudahlah biarkan saja.” ucapku dalam hati


“ G Aku ingin pergi jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan, tapi aku tidak tahu banyak tentang kota ini “ ucapku sambil tersenyum manis


“ pucuk di cinta ulam pun tiba, g ini kesempatan kau tidak boleh melewatkannya” ucapku dalam hati


“kau mau kutemani? Masuklah ke dalam mobil” ucapku sambil melempar kunci mobil padanya dengan maksud agar ia menungguku di mobil


“Aku akan ganti pakaian Sebentar” ucapku lagi


Aku masuk ke dalam rumah, kemudian aku berlari ke kamar, aku pergi mandi sebentar karna merasa tubuhku bau keringat, aku membuka lemari dan mengeluarkan seluruh pakayanku untuk melihat apa yang bisa ku kenakan, aku baru sadar aku tidak mempunyai baju santai, lemariku di penuhi oleh kemeja, jas dan celana hitam panjang, dan beberapa pakayan tidur, aku memutuskan untuk memakai pakayan terbaiku, setelah selesai berpakayan rapih,


“ astaga... Aku ingin mengajaknya kencan tapi berpakayan seolah akan pergi ke pesta, g kau benar-benar payah” ucap ku bicara pada diri sendiri saat melihat cermin,


Aku ingin berganti pakayan, namun saat aku melihat jam tangan aku sadar sudah membuatnya menunggu lama, jika aku berganti pakayan akan membuatnya menunggu lebih lama lagi, mungkin ayla akan merasa bosan, aku pun memutuskan untuk tetap memakai pakayan itu, aku keluar dari kamar kemudian berjalan keluar rumah, melihat wajah ayla sepertinya....