For.get

For.get
GS. Masa lalu Part.13



Aku memasukan tanganku kedalam saku celanaku untuk mengambil ponselku, saat aku menarik ponselku, aku melihat di selembar kertas terjatuh, aku mengambil kertas itu, karna seingatku, aku tidak menaruh kertas dalam saku, aku membuka lipatan kertas itu dan baca tulisan yang tertera di sana, * jln. Sabit no.12 _dhahir tamam* itulah yang tertulis dalam kertas itu, aku sama sekali tidak mengerti maksud dari tulisan itu, aku melipat kembali kertas itu dan melemparnya kedalam tong sampah, kemudian aku menelpon tuan aziz, aku meminta tuan aziz mencari tau kemana hilangnya ayla,


1 jam kemudian


Seorang pria datang kerumah, tubuhnya yang kekar ditambah kumis yang tebal membuat tubuhku sedikit gemetar, aku bersembunyi di balik tubuh paman Abdul, karena jujur saja tubuhnya yang kekar dan kumisnya yang tebal itu membuatku sedikit takut,


“ Tuan muda keluarlah, jangan takut saya aziz” Ucap pria itu


Setelah dia mengatakan bahwa dia adalah tuan aziz aku kembali berdiri di samping paman abdul


“kau benar-benar tuan Azis” tanyaku sedikit tak percaya,


“Kenapa kau begitu menakutkan, aku pikir kau adalah seorang penjahat” Ucapku


“Maafkan aku Tuan muda, jika aku membuatmu takut, tuan muda aku datang kemari untuk memberitahukan padamu informasi yang ku dapatkan tentang hilangnya ayla, aku sarankan sebaiknya kita tidak terlibat dengan masalah ini, karna...


“Tidak ada alasan tuhan Aziz, aku sudah memutuskan untuk membantu paman abdul menemukan ayla, jika kau tidak mau membantuku maka aku akan melakukannya sendiri” Ucapku dengan tegas


“tapi Tuan...


“ tidak ada tapi, katakan padaku informasi apa yang sudah Kau dapatkan?” tanyaku memotong ucapannya


“baiklah, jika ini keputusanmu, aku akan membantumu untuk mengurus masalah ini, tuan muda aku sudah melihat semua CCTV yang terpasang di jalan di sekitar taman bermain, aku melihat melihat dia memang dibawa pergi oleh seorang wanita, yang sepertinya sudah akrab dengannya, dari informasi yang aku dapat dia bernama viida, dari CCTV terlihat viida membawa Ayla ke arah pelabuhan, dan aku sudah memeriksa CCTV di sekitar pelabuhan juga, aku melihat wanita itu menukar ayla dengan uang kepada seorang pria, dan pria itu adalah dhahir tamam, dhahir adalah orang yang berbahaya, karna dia adalah penjahat yang menjual anak-anak, dia selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tidak ada yang pernah mengetahui ataupun bisa menangkapnya, dhahir dikenal sebagai rubah licik, kekuatan fisik yang ia miliki memang tidak seberapa, tapi kelicikannya selalu bisa membuat dia lolos dari tangkapan siapapun musuh yang mencoba mengejarnya” ucap tuan aziz


“adi kau bilang siapa tuan aziz, dhahir tamam? rasanya nama itu tidak asing, aku ingat tunggu sebentar” ucapku


aku mengambil kembali Kertas yang tadi kubuang dari tong sampah,


“tuan azis aku tidak tahu dari mana datangnya kertas ini, tiba-tiba kertas ini ada di sakuku, lihatlah apakah alamat ini benar atau tidak” Ucapku


“Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi bagaimana kita jika kita mencoba mencari Ayla di tempat ini, jika berurusan dengan dhahir tidak ada yang dapat di pastikan” ucap tuan aziz


kami semua bergegas pergi menuju alamat yang tertera di dalam kertas itu, saat tiba di Jalan sabit tempat itu ternyata kosong tak berpenghuni,


“ tuan muda sepertinya daerah ini sengaja dikosongkan untuk pembangunan, aku akan mencari tahu siapa yang membeli daerah ini dan untuk apa dia membeli daerah ini” ucap tuan aziz


Aku hanya menganggukan kepala menanggapi ucapan tuan aziz, kemudian tuan aziz menelpon dan meminta anak buahnya untuk mencari tahu informasi itu, tidak lama kemudian ponsel tuan aziz berdering


“ ini dari anak buahku tuan” ucap tuan aziz memberi tahuku padahal aku tidak bertanya


“ Katakan ” Ucap tuan aziz bicara pada anak buahnya di telpon


“ Baiklah” ucap tuan aziz lagi kepada anak buahnya ditelepon, entah apa yang anak buahnya katakan padanya


“tuan muda menurut informasi yang saya dapatkan, daerah ini adalah milik Arnaf Raizada, dia adalah pebisnis yang cukup terkenal, bisnisnya bergerak di bidang perhotelan, dan hotelnya tersebar di hampir seluruh negara, sepertinya dia hendak membangun sebuah hotel di daerah sini, dan proyek itu ditangani oleh perusahaan RC yang tidak lain adalah perusahaan mu sendiri” ucap tuan aziz


“ Ada apa paman, kenapa kau berkata seperti itu?” tanyaku


“ maafkan aku, aku tidak bermaksud merendahkan, hanya saja aku merasa kita berputar-putar di tempat yang sama” Ucap pak abdul


Aku tidak menyadari sudah berputar-putar di Jalan Sabit tapi tidak menemukan rumah nomor 12, Kemudian kami kembali ke Jalan depan, berawal dari rumah nomor 1 melewati rumah nomor 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 14, dan berhenti di depan ruamah nomor 15, kami semua turun dari mobil dan melihat kesekeliling


“aku tidak melihat rumah nomor 12, Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” tanya tuan aziz


“ Sebaiknya aku meminta bantuan anak buahku” Ucap tuan aziz lagi


kemudian Tuan Aziz menelepon anak buahnya, dan tidak lama setelah itu mereka datang dan kami berkumpul di depan rumah nomor 15,


“ Untuk menghemat waktu, kita berpencar saja, sebaiknya kita cari di setiap rumah” ucap tuan aziz memberi saran dan memerintah anak buahnya,


Kami berpencar dan meninggalkan mobil kami di sana, berjalan kaki mencari ke setiap rumah, kami saling berkomunikasi menggunakan handy talky (ht), untuk saling memberi informasi, beberapa orang memberi informasi bahwa rumah yang mereka datangi hanyalah rumah kosong


“ ada yang aneh, kenapa di Jalan Sabit tidak ada nomor 12” ucap ku sambil berjalan menyusuri jalan bersama tuan Azis


“bukankah aku sudah memberitahukan kepadamu dhahir bukanlah orang yang mudah” Ucap tuan aziz


Aku mengingat kembali apa yang terjadi siang ini, mungkin ada petunjuk dari setiap kejadian, dimulai dari saat fahim datang kerumah hingga dia pergi dan aku menemukan kertas itu,


“Kanan, kita ambil jalan ke arah kanan dari rumah no 11” ucapku berusaha memecahkan misteri keberadaan dhahir


“ apa yang kau katakan tuan muda” tanya tuan aziz ingin tau


“ tuan aziz aku menemukan kertas yang berisi alamat itu setelah adiku fahim pergi, aku menemukan kertas itu di saku kananku, dan saar adiku pergi iya mengedipkan satu matanya yaitu mata kanannya, aku merasa adiku ingin mengatakan sesuatu, saat adiku mengedipkan mata kanannya aku merasa ada pesan yang ingin dia katakam kepadaku, jadi ayo kita coba” jawabku


“ Baiklah tuan muda, tapi jika kita tidak menemukannya aku akan mengantarmu pulang, karna hari semakin sore” ucap tuan aziz mencoba bernegosiasi denganku


“ tapi aku masih ingin mencarinya” ucapku


“ setelah mengantarmu pulang aku dan anak buahku akan mencarinya hingga ketemu” ucap tuan aziz lagi


“Oke aku setuju, ayo kita kembali ke rumah no 11” ucapku


Aku dan tuan aziz kembali ke rumah no 11 dan mengambil jalan ke arah kanan, satu per satu anak buah tuan aziz memberikan laporan bahwa mereka tidak menemukan apapun di sana, entah sudah berapa lama aku dan tuan aziz, kakiku sudah mulai lelah, kami hanya berjalan, kemudian kami melihat sebuah kebun mangga yang sangat luas Di ujung Jalan,


“Tuan aziz, lihatlah disana, sepertinya ada rumah kecil di sana, kita belum melihat ke sana, ayo kita lihat “ucap ku sambil berlari,


“tunggu tuan muda, awas....