
4 tahun kemudian
Ayah dan ibu berencana memasukan aku ke sekolah, tapi mereka menyadari usiaku sudah 7thn tapi aku belum memiliki kartu penduduk, setiap anak berusia 5thn diwajibkan memiliki kartu penduduk, kartu itu akan membantu mempercepat akses sebelum mendaftar kesekolah dasar tingkat 1, ayah dan ibu mengajukan surat untuk mendapat kartu penduduk untukku tapi kantor pusat kota selalu menolaknya, ayah curiga pada kakek, dia menuduh kakek sengaja melakukan ini agar ayah minta maaf pada kakek dan kembali, setelah tiba di rumah aku naik ke lantai atas menuju kamarku, aku menelpon kakek dan menceritakan segalanya, kakek bilang dia sedang dalam perjalannan ke rumahku dan sebentar lagi sampai, aku menutup telpon dan lari ke lantai bawah, membuka pintu tidak lama kemudian kakek dan bu guru datang, ayah terkejut melihat mereka,
“ ayah, untuk apa kau datang kesini, dan siapa wanita yang bersamamu?” tanya ayah pada kakek
“ kita bicara di dalam” ucap kakek
Semua orang duduk di ruang tamu
“ Ghaisan, bagaimana kalo kita masuk ke kamarmu, ibu ingin melihat kamarmu?” pinta bu guru dengan lembut
“ Tidak bu guru, maafkan aku tapi aku tidak bisa membawamu ke kamarku, kau bukan istriku, tidak baik jika berduaan dalam kamar, apalagi kau seorang wanita” ucapku memberi alasan karna sebenarnya aku tau, ibu guru bermaksud menjauhkanku dari semua orang agar aku tidak mendengar percakapan mereka, karna seperti itulah orang dewasa, tapi karna kakek menatapku dengan tajam, akhirnya aku menuruti keinginan bu guru, aku mengajak bu guru ke kamarku, aku sangat penasaran dengan apa yang di bicarakan mereka, tapi perhatianku teralihkan ketika ibu guru mengajariku pelajaran yang hari ini di pelajari di sekolah, aku tidak bisa pergi sekolah hari ini karna ayah dan ibu tidak mengantarku ke taman bermain, tapi aku tidak akan tertinggal pelajaran karna bu guru mengajariku di rumah,
5 jam berlalu tanpa terasa, ibu guru berpamitan padaku, saat aku mengantar ibu guru turun ayah dan ibuku bersikap aneh, mereka jadi sangat menyayangiku, ayah menggendongku dan menciumiku berkali-kali, ibu juga melakukan hal yang sama, ayah dan ibu meminta maaf kepadaku, mereka menyadari kesalahan mereka yang telah mengabaikanku selama ini, aku tidak tau apa yang kakek lakukan, tapi aku jadi semakin menyayangi kakek, setelah hari itu, kehidupanku menjadi semakin indah, tapi kebahagian itu tidak berlangsung lama,
Suatu hari seorang wanita datang kerumah, aku membukakan pintu untuknya tapi kemudian ibu menyuruhku masuk ke kamar, tidak lama setelah itu adiku menerobos kamarku sambil menangis, dia lari kepelukanku seperti tengah ketakutan akan sesuatu
“ tenanglah fahim, ada apa katakan pada kakak?” tanyaku penasaran
“kakak-kakak ada seorang wanita yang datang menemui ibu, dia mengatakan bahwa aku bukan anak ibu tapi anaknya, dia juga mengatakan bahwa dia akan membawa aku, Kakak aku tidak mau ikut dengannya, aku mau dengan kakak,ibu dan ayah, aku tidak mau ikut dengan wanita, tidak mau, tidak mau, tidak mau, pokoknya tidak mau, Kakak tolong aku” ucap fahim sambil menangis
“fahim dia tidak akan membawamu, tidak akan ada yang akan membawamu pergi dan memisahkan kita, kau adalah adikku dan selamanya akan menjadi adikku” Ucapku berusaha membuatnya tenang
“ Kakak aku takut”
“tidak usah takut, adikku pemberani bukan, ikutlah dengan ku, kita bicara dengan ibu,” ucapku sambil memegang tangannya dan mengajaknya ke ruang tamu menemui ibu,
Saat kami menemui ibu wanita itu sudah pergi, aku bertanya pada ibu tentang wanita itu, tapi ibu mengatakan wanita itu hanya salah alamat, aku pikir apa yang ibu katakan itu benar, tapi keesokan harinya, wanita itu datang lagi, saat ibu memintaku pergi dengan fahim ke kamar, aku dan fahim tidak masuk ke kamar, kami berdiri di belakang pintu dan mendengarkan percakapan mereka,
“kau tidak bisa membawa fahim, dia anakku,putraku” ucap ibu dengan tegas
“tidak bisa kakak, fahim adalah Putraku, dan kau tau jelas kebenaran itu, aku tau kau sudah membesarkan dan merawat fahim 4thn ini, tapi bukan berarti dia jadi putramu, dia putraku, aku yang mengandung dan melahirkannya” jawab wanita itu
“ Kau yang mengandung, kau yang melahirkan, dan kau juga yang membuangnya, mungkin itu maksudmu”
“ aku tidak membuang fahim kakak, aku hanya menitipkannya pada suamimu, jika kau tidak mau memberikan putraku kepadaku, maka aku akan merebutnya dengan paksa” ucap wanita itu
“kau akan merebut fahim dari kami, katakan padaku bagaimana caranya, fahim secara hukum adalah putra kami” ucap ibu dengan sombong
“Jika tidak bisa lewat jalur hukum maka aku akan membuatmu tiada” uacp wanita itu sambil tersenyum kemudian pergi dari rumah kami
fahim sangat ketakutan sehingga tidak mau melepaskan pelukannya dariku, aku dan fahim pergi karena takut ketahuan mengintip dari balik pintu, aku mencoba menenangkan fahim di kamar, aku mengatakan padanya bahwa Ibu tidak akan membiarkan fahim ikut dengan wanita itu,
keesokan harinya
Ibu mengantar aku pergi ke sekolah, saat Ibu pergi dari sana aku melihat sebuah mobil mengikuti Ibu dari belakang, untung saja saat itu kakek tiba di sana, aku langsung naik ke mobil kakek dan mengatakan semuanya kepada kakek, kemudian aku dan kakek mengikuti mobil itu, kakek mengatakan ada sesuatu yang janggal, kakek memintaku untuk menelepon anak buahnya dan mengirimkan lokasi tempat kami berada, benar saja mobil itu tiba-tiba menabrak mobil Ibu dari belakang hingga mobil ibu berputar dan tertabrak oleh mobil lain yang datang dari arah berlawanan, saat itu aku menangis kakek meminta anak buahnya untuk membawa ibu ke rumah sakit sementara aku dan kakek mengejar mobil itu, kami berhasil mengejar mobil itu, dan menghentikannya, aku pikir orang yang mengendarai mobil itu adalah wanita yang kemarin mengancam ibu, ternyata yang membawanya bukan wanita itu, kakek menahan pria itu dan mengintrogasinya, ternyata dia diperintahkan oleh seseorang untuk melenyapkan ibu dan membuatnya seperti kecelakaan, jadi dia sengaja menabrak mobil ibu, kakek memaksa pria itu untuk memberitahu siapa yang memberinya perintah, tapi dia tidak mau memberi tahu, kakek memukuli pria itu tapi pria itu masih tetap tidak bergeming, dia tetap pada pendiriannya untuk tidak memberitahu siapa orang yang memerintahkannya, tidak lama kemudian kakek mendapatkan telepon, kakek membawaku ke rumah sakit ke tempat Ibu dirawat, saat aku tiba di sana Ibu tengah berbaring tak berdaya, tubuhku menjadi gemetar melihat tubuh ibuku yang dilumuri oleh begitu banyak darah,
“sayang Kembalilah, mungkin Ibu tidak akan bisa bertahan, jika Ibu meminta sesuatu darimu, apakah kau akan mengabulkannya” ucap Ibu sambil membelai pipiku
“tentu saja Ibu, apa yang Ibu inginkan?” tanyaku sambil menangis
“ Ghaisan putra ibu, pangeran ibu yang pintar, bisakah kau jaga adikmu dan juga ayahmu untuk ibu, kau tahu adikmu masih membutuhkan perhatian, berikan dia kasih sayang yang cukup hingga dia tidak merasa kesepian....
“tidak, tidak, ibu.......