
Kakek membawaku ke rumah sakit ke tempat Ibu dirawat, saat aku tiba di sana Ibu tengah berbaring tak berdaya, tubuhku menjadi gemetar melihat tubuh ibuku yang dilumuri oleh begitu banyak darah,
“sayang Kembalilah, mungkin Ibu tidak akan bisa bertahan, jika Ibu meminta sesuatu darimu, apakah kau akan mengabulkannya” ucap Ibu sambil membelai pipiku
“tentu saja Ibu, apa yang Ibu inginkan?” tanyaku sambil menangis
“ Ghaisan...putra ibu..., p..angeran ibu yang pintar..., bisakah... kau jaga adikmu.... dan juga ayahmu... untuk ibu..., k...au tahu a...dikmu masih... mem...butuhkan perhatian..., be.berikan dia kasih sayang... yang cukup... hingga... dia tidak merasa kesepian..., Jajangan... marah-marah... lagi kepadanya..., ibu mohon....nak, Ibu... bersalah kepadamu..., sejak ada fa..him..., Ibu lebih .. memperhatikan adikmu... diban..dingkan di..ri..mu.., tapi nak.. kasih sayang ibu... tidak pernah berkurang... kepadamu, sedikitpun tidak..., ibu menyayangimu..., Ibu sangat.. me..nya..yangimu..., Kau adalah pangeran ibu..., dan selamanya... akan tetap.. begitu..., kau tahu ayahmu... dia terlihat ..besar dan kuat.., tapi sebenarnya... dia sangat rapuh..., jaga dia juga... untuk ibu..., dan.. pas..tikan dia akan... baik-baik saja.. tanpa ibu disisinya...” ucap ibu dengan terbata-bata dan nafas yang terengah-engah
“Baiklah Ibu aku berjanji aku akan menjaga adikku dan juga Ayah, Ibu tidak usah khawatir, Ibu tahu kan bahwa putra Ibu ini mampu melakukan apapun untuk ibu, karna ghaisan sayang ibu” ucapku sambil menangis dalam pelukan ibu
“Ayah mertua... tolong.. maafkan sikapku.., aku tahu.. aku sudah ke..ter..laluan.., aku.. tidak bisa.. men..jadi..menantu ... yang baik..” ucap ibu dengan terbata-bata dan nafas yang semakin berat, sambil memegang tangan kakek
“lupakan saja apa yang telah terjadi, aku akan memastikan kau akan baik-baik saja” ucap kakek
“tidak.. ayah mertua..., a..ku.. su..dah..ti..dak...bisa... bertahan lagi.., a..ku mo..hon.. kepada..mu, sebisa.. mung...kin didik...lah ghai...san.. menjadi.. or...ang.. he..bat... se..per..ti di..rimu.., kau.. tahu.. ke..ada..an.. su..amiku... de..ngan...baik.. a..yah ..mer..tua, jika...dia... ta.hu.. ke..benaran..nya... maka.. dia... akan.. men..ca..ri...orang...itu...dan mem...buat... diri..nya... da..lam... ba..ha..ya.., aku.. tidak.. me..ngi..ngin...kan.. hal.. itu.., apa..pun... yang... ter...jadi.. pa..da..ku.. itu.. ha..nya..lah ke..cela...kaan” ucap ibu dengan terbata-bata dan nafas yang semakin berat
“kau tahu segalanya?” tanya kakek
“ya... Ayah.. aku.. ta..hu.. se..gala..nya.., dia.. tid..ak.. pe..rnah.. ber..bu..at.. ja..hat.., se..mua.. yang..dia...la..ku..kan.. se..ma..ta..-ma..ta..ha..nya.. ka..re..na..dia.. men..cin..tai.. put..ra..nya” ucap ibu dengan terbata-bata dan nafas yang semakin berat
“Kau tidak perlu khawatir nak, aku akan menjaga ghaisan dan juga fahim “ ucap kakek sambil memegang tangan ibu
tidak lama kemudian Ibu menghembuskan nafas terakhirnya...
“ Tidak, tidak, ibu.... Jangan tinggalkan ghaisan ibu, ghaisan sayang ibu, ibu buka matamu,,, ghaisan janji ghaisan akan jadi anak yang baik, ghaisan akan jaga adik dan ayah, ibu...buka mata ibu...jangan tinggalkan ghaisan ibu...” ucapku sambil menangis histeris
“menangislah sepuasmu ghaisan tapi kau harus bisa tenang dirimu sayang, kendalikan dirimu setelah itu, kau sudah janji akan menjaga adik dan ayahmu bukan, jika kau seperti ini siapa yang akan menjaga adik dan ayahmu” ucap kakek
Setelah itu kakek menelpon ayah dan memberitahu ayah untuk datang ke rumah sakit, kami menunggu ayah di depan ruang mayat tapi beliau tidak kunjun datang, kakek mencoba menelponnya lagi, entah apa yang kakek dengar hingga membuat beliau begitu terkejut, kakek memegang tanganku dan mengajakku pergi, langkah kaki kaket berhenti di depan ruang ICU, ada seorang pria dewasa di depan ruangan itu, kakek bicara dengan pria itu aku tidak tau siapa dia sampai akhirnya dia memperkenalkan dirinya.
“ Kau...?” tanya kakek
“ Nama saya Abdul gaffar, saya adalah salah satu pegawai RC, kebetulan saya sedang metting di luar dengan tuan”
“ aku tidak tau pastinya tuan, tapi dia baik-baik saja setelah menerima telepon, tuan mengakhiri rapat saat tuan besar menelpon, dia baik-baik saja setelah menerima telepon dari tuan besar, tapi dia menjadi seperti ini saat menerima telepon lagi”
“ kau tau dari siapa telpon itu?” tanya kakek lagi
“ Tidak tuan besar, anda bisa memeriksa sendiri dari ponselnya, ini” ucap pak abdul sambil memberikan ponsel pada kakek
“ apa yang terjadi ke?, siapa yang ada di dalam?, kenapa kakek terlihat cemas?” tanyaku penasaran
“ Tidak usah hawatir ghaisan, ghaisan dengarkan kakek ya” ucap kakek sambil memegang pipiku
“ Sekarang lebih baik ghaisan pulang ke rumah dan jaga fahim”sambung kakek dengan lembut
Aku hanya menganggukan kepala menanggapi permintaan kakek
“ tolong antarkan cucuku pulang dengan selamat, kau mengerti” ucap kakek kepada salah satu pengawalnya
Pengawal itu kemudian menggendongku dan membawaku pergi dari sana, aku meninggalkan tempat itu dengan banyak pertanyaan, tentan siapa orang yang berada di ruang ICU itu? Kenapa kakek terlihat cemas? Dan tentang alasan ayah tidak muncul di rumah sakit bahkan setelah kakek telepon, dan beberapa pertanyaan tentang kematian ibu.
Pengawal kakek menurunkan aku di depan pintu rumah sakit dan memintaku menunggu sementara ia mengambil mobil dari parkiran, saat aku sedang menunggu tiba-tiba sebuah mobil jeep berhenti tepat di depanku, beberapa orang bertubuh besar keluar dari dalam mobil, mereka menggendongku dan membawaku secara paksa makuk ke dalam mobil, aku meronta-ronta berusaha meloloskan diri, meski aku berlatih bela diri, tapi tubuh mereka lebih tinggi dan lebih besar dariku, aku tidak mampu melawan mereka, sialnya lagi mereka membekap mulutku hingga aku tidak bisa berteriak, di dalam mobil mereka mengikat tangan dan kakiku dengan tali yang kencang, aku yakin 100% bekasnya akan merusak ketampananku, aku berhenti meronta, duduk manis di dalam mobil membiarkan mereka menculiku, jika aku teruskan mereka akan melukaiku dan merusak ketampananku yang sudah kudapatkan sejak lahir, mobil berhenti tepat di depan sebuah gedung tua, salah satu dari mereka menggendongku turun dari mobil membawaku kesuatu tempat yang nampak tak terawat,
“oh tidak... Tempat ini begitu kotor, kuman dan bakteri bertebaran dimana-mana, dasar kalian penculik tak berperasaan, tempat ini tidak baik bagi kesehatan dan juga ketampananku” gumamku dengan mulut tertutup kain
Mereka mengabaikan ucapanku dan membawaku masuk ke rumah kosong itu, mereka membawaku ke salah satu ruangan, mendudukan di sebuah kursi dan mengikatku di kursi itu,
Aku lebih takut pada kuman dan bakteri di sana dibandingkan dwngan mereka semua yang memiliki tubuh besar, aku lebih takut lagi bertemu si coklat yang memiliki dua antena di kepalanya dan juga sayap di punggungnya, jika aku bertemu si coklat aku akan pastikan tempat ini musnah jadi debu.
Dari cara mereka mengikatku, aku tahu mereka menganggap remeh diriku, mereka mengikatku dengan simpul hidup, mereka berpikir aku hanya anak kecil biasa.
“mereka tidak tau guru karateku tidak hanya mengajariku untuk bertarung, tapi juga mengajariku untuk bertahan dan melepaskan diri, tidak hanya dari sembilan simpul tali tapi juga dari tangan manusia, aku belum belajar melepaskan diri dari tangan manusia tapi aku sudah belajar cara melepaskan diri dari 9 simpul tali selama 3thn ini, jika aku bisa melepaskan diri dari simpul tali mati apalagi simpul tali hidup, aku merasa kasihan pada mereka semua, mereka pasti akan kena damprat bos mereka, karna saat ada kesempatan maka aku akan melarikan diri, jika kesempatan itu tidak datang maka aku yang akan membuatnya, lihat saja nanti....