For.get

For.get
GS. Masa lalu Part.17



Saat aku membuka mataku, aku sudah berada di rumah sakit, tanganku terhubung dengan impusan, semua orang berkumpul mengelilingiku, tuan aziz, paman abdul, ayla, laila, dan kakek juga ada


“ kakak kau sudah bangun, aku sangat cemas, apa kau tau, kau tidur seperti orang mati” ucap ayla


“ apa yang terjadi?” Tanyaku


“tidak ada apa-apa ghaisan, kau hanya kelelahan” ucap kakek


Entah kenapa aku tidak percaya pada kakek, aku merasa mereka menyembunyikan sesuatu dariku, tapi tidak ada yang bersedia memberi tahu ku kebenaran itu, waktu berlalu, cairan impusanku sudah habis, kakek membawaku pulang sambil menggendongku, badanku masih terasa sangat lemas, sesampainya di rumah aku hanya berbaring, laila mengatakan padaku bahwa mulai hari ini dia akan tinggal bersama kami sebelum ia pergi ke luar negri untuk sekolah, kakek akan membiyayai sekolahnya hingga selesai, kakek dan laila menjelaskan kepadaku bahwa apa yang aku lakukan itu, seharusnya tidak ku lakukan, karna hanya orang yang sudah menikah yang boleh melakukan hal itu, setelah mengetahui hal itu aku merasa bersalah, aku bahkan tidak bisa tidur karna terus memikirkannya,


Keesokan harinya, aku memutuskan untuk pergi ke rumah paman abdul, aku pergi di temani laila dan tuan aziz, setibanya di sana aku melihat paman abdul yang tergeletak di lantai dengan luka dan darah di sekujur tubuhnya, ia mencoba untuk bangkit namun dia tak mampu melakukannya, kami pun langsung berlari menghampiri paman, kemudian aku melihat dhahir tengah memaksa ayla, ayla terus memberontak tapi dhahir terus memaksa memasukan pistolnya ke tubuh ayla, ayla terus menjerit kesakitan, aku berlari mendekati mereka tapi para pengawalnya menghalangku


“Tuan lepaskan ayla dia masih terlalu kecil, apa kau tidak kasihan padanya, dia terus menjerit kesakitan” ucapku sambil teriak dan mencoba lelepaskan diri dari pengawal dhahir


“tahan dia, sampai aku menyelesaikan urusanku dengan bocah ini” ucapnya


“ tuan aziz, tolong selamatkan ayla” aku berteriak sambil menangis dan terus berusaha melepaskan diri dari para pengawal dhahir


“ laila kau bantu pak abdul” Ucap tuan aziz sambil berlari


Tuan aziz mengambil balok kayu yang ada di dekatnya dan menghantamkannya kepada para mengawal dhahir, namun mereka menepisnya, perkelahianpun tak terelakan,


“ Tuan muda cepat selamatkan ayla, aku akan mengurus mereka” ucap tuan aziz sambil berusaha menjauhkan para pengawal itu dariku


Aku berlari meninggalkan tuan aziz yang tengah melawan para pengawal dhahir, aku mencoba menjauhkan dhahir dari ayla, namun dhahir mendorongku, aku terjatuh hingga kepalaku terbentur meja,


“ Kakak” ayla berteriak saat melihatku jatuh dan terluka


Aku bangkit kemudian berusaha menjauhkan dhahir lagi, suara jerit tangis ayla seolah memberiku kekuatan hingga aku bisa menarik tangan dhahir dan menjauhkannya dari ayla, aku memeluk ayla dan mengajaknya berlari namun dhahir bangkit dengan cepat, ia menarik tangan ayla, tiba-tiba paman abdul datang dengan memaksakan diri dan memukul kepala dhahir, saat dhahir hendak membalas pukulan paman, paman jatuh pingsan, ayla yang berlari kemudian memeluk ayahnya terkena pukulan itu, tuan aziz muncul dan menendang dhahir hingga ia terpental, anak buah tuan aziz menangkap dhahir dan para pengawalnya, merekapun di bawa pergi.


Aku, tuan aziz dan laila membawa paman abdul dan ayla ke rumah sakit, paman abdul tidak sadarkan diri tapi ayla masih sadar dan terus saja bicara


“ kakak, kepalaku sakit, apa aku akan mati” ucap ayla sambil menangis di pangkuanku


“Tidak ayla kau akan baik-baik saja” ucapku


“ kakak penjahat itu...


“ Diamlah, kenapa kau terus saja bicara, aku janji kau akan baik-baik saja, dan kau tau ghaisan tidak pernah mengingkari janjinya” ucapku dengan suara lentang memotong perkataannya


Selang beberapa waktu kami tiba di rumah sakit, ayla dan paman abdul di bawa ke ruang UGD dengan cepat, saat itu aku sangat takut akan kehilangan ayla.


2 jam kemudian


Laila menyarankan untuk mengajak ayla pergi jalan-jalan ke luar, ia berpikir mungkin itu akan membuat ayla melupakan sejenak apa yang telah terjadi, setelah mendapat izin dari panan abdul , aku mengajak ayla jalan-jalan ke mall bersama tuan aziz, laila yang memberi saran tapi iya tidak bisa ikut pergi karna harus mengikuti ujian masuk sekolah baru, laila pergi di temani kakek.


kami berjalan mengelilingi wahana bermain anak-anak, iya hanya diam dan memperhatikan keadaan sekitar, aku mengajaknya bermain di salah satu permainan namun ayla menolaknya, ia terus saja berjalan, langkahnya terhenti di arena ice skating, sepertinya ia tertarik dengan wahana itu.


“ ayla kau suka ice skating?, ayo kita main” ucapku


“ Tidak kakak aku takut terjatuh, nanti saja jika aku sudah besar, kakak setelah aku besar nanti maukan kau mengajariku main itu” ucap ayla sambil menunjuk ke dalam arena ice skating


“ baiklah, saat kau besar nanti aku akan mengajakmu ke tempat ini lagi, dan mengajarimu main ice skating” ucapku


Kami berdiri cukup lama, memperhatikan orang-orang yang bermain ice skating, seorang pria tiba-tiba menjatuhkan diri, ia menekuk satu kakinya dan setengah berdiri, di tengah arena ice skating ia berlutut di depan seorang wanita, pria itu kemudian memberikan seikat bunga dan sebuah kotak kecil berwarna merah,


“ paman apa yang sedang mereka lakukan?” tanyaku ingin tau


“ pria itu sedang melamar kekasihnya” ucap paman aziz


“ kakak melamar itu apa?” tanya ayla


“ melamar itu artinya mengajak menikah, benarkan paman?” ucapku


Ayla tiba-tiba menjatuhkan diri


“ Ayla kau kenapa?” ucapku khawatir


“ kakak, tidak akan ada laki-laki yang mau menikahiku” ucap ayla sambil menangis


“ siapa yang mengatakan itu ayla, itu tidak benar” ucapku


“ penjahat itu bilang aku sudah kotor, tidak ada pria yang mau menikah denganku” ucap ayla sambil menangis


“ Aku mau menikahimu ayla, ayo kita menikah” ucapku


“ Kakak aku mau menikah sekarang, aku mau memakai gaun pengantin yang indah seperti princes” ucap ayla sambil menghapus air matanya


“ Baiklah, ayo kita melakukannya” ucapku


Aku membelikan ayla gaun putih yang cantik, meriasnya seperti seorang putri, dan aku berpakaian seperti pangeran, aku memegang tangan ayla, kami lari meninggalkan tuan aziz yang sedang membayar pakayan yang kami kenakan, ayla tersenyum saat kami lari keluar dari mall, sudah lebih dari sepekan aku tidak melihat senyum manisnya itu.


“ayla aku merindukanmu