For.get

For.get
GS. Kehawatiranku



Setelah melihat vidio itu aku langsung masuk kembali ke dalam mobil, aku mengendarai mobil dalam kecepatan penuh, aku pergi ke rumah fahim, saat aku tiba di sana tidak ada seorang pun di rumah, aku tidak bisa menemukan fahim di manapun, samar-samar aku mendengar suara teriakan orang minta tolong, aku berlari ke sana kemari mencari asal suara itu, hingga aku tiba di depan kamar fahim, teriakan minta tolong itu semakin jelas terdengar, aku mencoba mengetuk pintu kamar fahim sambil memanggilnya,


“ Tuan muda ghaisan, apa itu anda, tolong bantu kami tuan” Terdengar suara dari balik pintu


Aku mencoba membuka pintu namun pintunya terkunci dari dalam, aku pun memutuskan untuk mendobrak pintu hingga pintunya terbuka, aku melihat para pengawal fahim duduk terikat di lantai


“ Tuan syukurlah kau datang, cepat bantu lepaskan ikatan kami” ucap salah satu pengawal


“ apa yang terjadi, siapa yang melakukan ini, di mana fahim” tanyaku bertubi-tubi karna cemas


“ Aku akan ceritakan nanti, yang penting kita harus menemukan tuan muda fahim” ucap salah satu pengawal,


“Baiklah, sebaiknya kita berpencar” Ucapku


Aku pergi dengan seorang pengawal dan yang lainnya mencari secara terpisah,


“ Tuan, apa tuan muda fahim ada menghubungimu” tanya pengawal sambil menyetir,


“ tidak, katakan padaku apa yang terjadi


“ tuan ghaisan, beberapa hari yang lalu tuan fahim bertengkar hebat dengan tuan ikram dan nyonya viida, tuan fahim menemukan bukti kejahatan nyonya viida, tuan muda sangat marah, ia berniat memberi tahu anda namun tuan ikram menamparnya dengan keras dan merampas bukti-bukti itu, tuan fahim menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang telah terjadi, saat aku hendak melapor padamu tuan muda fahim memergoki kami, dia menyita semua ponsel kami, kami bahkan tidak bisa menghubungi keluarga kami, selain itu tuan fahim juga memutus telpon rumah, dan jaringan internet, hanya agar kami tidak bisa melapor padamu, tuan ghaisan keadaan tuan fahim sangat kacau, ia berkali-kali mencoba bunuh diri tapi kami tidak pernah membiarkan rencananya berhasil, karna kesal ia mengumpulkan kami semua di dalam kamar, ia pun mengikat kami dan mengunci pintunya, dia pergi dengan membawa mobil, aku tidak tahu tuan muda fahim pergi kemana, aku hanya takut ia akan mencoba bunuh diri lagi” ucap pengawal itu menjelaskan situasi yang terjadi sambil menyetir


“ Astaga... begitu banyak yang terjadi tapi aku bahkan tidak tahu, fahim kau dimana?” ucapku sambil menitihkan air mata


“ Tenangkan dirimu tuan, semua akan baik-baik saja”


“ Tuan lihat ke jembatan layang, bukankah itu mobil tuan fahim” ucapnya sambil menyetir


“ ayo cepat kita ke sana” ucapku


Kami pun mendekati mobil fahim, kami turun dari mobil dan melihat mobil itu kosong, setelah di cek ternyata mobil itu mati karna kehabisan bensin, kami mencari di sekitar sana namun tidak juga menemukan fahim, kami kembali masuk ke mobil,


“ Kemana arah jalan layang ini?” tanyaku


“ jika kita terus maju kita akan melewati jembatan yang terhubung dengan sungai kota, jalan ini adalah jalan alternatif menuju bandara internasional” ucap pengawal


Kami pun menyusuri jalanan sepi itu, kami melihat ada kecelakan di depan, aku pun segera turun dan melihat, pria yang berdiri di tengah jalan itu fahim, iya berdiri sambil menangis


“ kenapa? Kenapa sangat sulit untuk mati, aku hanya ingin mati tapi kenapa supir itu menghindariku” ucapnya sambil menangis


Aku berlari dan menarik fahim ketepi jaalan, aku memeluknya dengan kencang


“ Kakak, kakak.. ikram dan viida menjual ayla pada seseorang, mereka juga menjual informasi tentang keberadaan ayla, kakak mereka berniat mencelakan kalian berdua” ucapnya sambil memeluku dan menangis


Aku melepaskan pelukanku dan menjauhkannya dari diriku, aku menamparnya sampai ia terjatuh


“ apa kau sudah gila, inikah caramu menyayangiku fahim, kenapa, kenapa kau masih belum sadar juga” teriakku aku marah pada fahim karna ia tidak memanggil paman ikram dan bibi viida sebagai ayah dan ibu


Aku melihat mobil taksi yang menghindari fahim tertabrak oleh truk dari arah berlawanan hingga terjebur ke sungai kota,


aku melupakan fahim dan berlari ke arah mobil taksi itu terjatuh, tanpa memikirkan apa pun aku lompat ke sungai dan berusaha menyelamatkan sopir taksi itu, dia sudah membantuku dengan tidak menabrak fahim, aku tidak bisa membiarkannya tiada, hanya itu lah yang aku pikirkan saat itu


Aku menyelam dan mencoba mengeluarkan sopir taksi itu dari dalam mobil, setelah berhasil mengeluarkannya aku berenang membawanya ke tepian di sana fahim dan pengawal sudah menunggu


“ Kakak, kenapa kau lakukan ini padaku” ucap fahim memarahiku


Aku tau dia menghawatirkan keselamatanku


“ Diam dan tutup mulutmu” ucapku dengan kasar


Untunglah keadaan sopir itu tisak terlalu parah, setelah memberi pertolongan pertama sopir itu pun terbangun


“ uhuk... uhuk... pimpinan kota, terima kasih karna telah menyelamatkanku, uhuk...uhuk... tuan aku membawa seorang penumpang bersamaku, apa dia juga baik-baik saja” ucap sopir itu sambil memegang lenganku


Setelah mendengar hal itu aku kembali berenang ke tengah dan mencari penumpang itu, aku berenang ke sana ke mari namun belum bisa menemukannya, air yang terlanjur keruh menghalangi pandanganku, samar-samar aku melihat seorang wanita terdampar di dasar sungai tidak jauh dari tempat mobil itu terjatuh, saat mendekat aku tidak percaya, ternyata wanita itu adalah ayla, aku menariknya dan berenang ke tepian, aku mengabaikan suara-suara yang menyeruku, aku lari dan masuk ke dalam mobil sambil menggendong ayla , darah yang mengucur dari kepala ayla mengingatkanku akan kejadian di masa lalu, kejadian 17thn lalu, saat ayla terluka karna dhahir, dan itu membuatku gemetar, aku mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh dan membawanya ke rumah kakek yang tidak jauh dari sana, kakak adalah dokter yang hebat, namun izin praktiknya di cabut karna ia mengoprasi seorang bayi yang baru lahir dan menggunakan ramua herbal untuk menyelamatkan bayi itu, mereka menganggap kakek telah melakukan pelanggaran medis, setelah tiba di rumah kakek aku langsung menerobos masuk begitu saja, kakek dan nenek terkejut melihatku


“ Ghaisan siapa gadis ini?” Tanya nenek sambil berjalan mengikutiku


“apa yang terjadi dengannya?” tanya kakek sambil berjalan mengikutiku


Aku membawa ayla ke salah satu kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur,


“ Kakek, nenek, dia ayla, tolong selamatkan dia kakek, aku mohon” ucapku


“ baiklah, kau tidak perlu khawatir ghaisan” ucap kakek sambil menepuk pundakku


Nenek membawaku keluar dari kamar, memberiku handuk dan secangkir teh hangat


“ Tenang ghaisan, kau membawa ayla pada orang yang tepat, kakek pasti bisa menyembuhkannya” Ucap nenek mencoba menenangkanku


“ Iya nek, aku tidak bisa membawa ayla ke rumah sakit, karna aku takut dhahir akan menemukan ayla”


“ kawasan pegunungan ini tidak bisa sembarangan di masuki orang, jadi ayla pasti aman di sini”


Tidak lama kemudian


“ Kalian sudah bisa masuk sekarang” ucap kakek dari dalam kamar


Aku dan nenek bergegas masuk ke dalam kamar,


“ kakek bagaimana keadaan ayla?” tanyaku


“ dia baik-baik saja, dia hanya mengalami luka ringan, nenek gantikan baju ayla, aku akan mengurus bocah nakal ini, ayo keluar” ucap kakek sambil menariku ke luar,


Kakek mengajakku kekamarnya dan memintaku berganti pakayan, setelah berganti pakayan aku dan kakek kembali ke kamar tempat ayla berbaring, aku menjelaskan situasi dan alasan semua ini terjadi, kakek dan nenek mengatakan ia akan merawat ayla, aku jadi merasa lebih tenang, sebelum pergi aku mencium kening ayla kemudian mengambil foto di samping tempat tidur, aku memindahkan foto itu ke dekat pot bunga agar ayla langsung melihat foto itu saat ia sadar


“ ini akan menahanmu untuk pergi...