
"Hanna, kemarilah dan perkenalkan dirimu pada kakakmu dan keluarganya." Pinta Baozhu. Setelah menarik nafas untuk menenangkan diri, Hanna berjalan menemui Jendral Hazrat. Kisah tentang Hanna ternyata telah sampai ke telinga Hazrat dan ia mengaku tidak sabar ingin bertemu adik bungsunya itu. Hazrat mengingatkan Hanna pada Sirrian yang tenang dan diplomatis, membuat Hanna langsung menyukainya. Tapi sejauh ini Hanna tampaknya tidak pernah mendapatkan alasan untuk tidak menyukai seseorang sehingga perasaan sukanya pada Hazrat adalah sesuatu yang mudah di prediksi.
Istri Hazrat, Bao Yue adalah wanita yang manis dan sedikit pemalu. Tubuhnya yang mungil dan suaranya yang kekanakan membuat ia lebih mirip gadis remaja daripada wanita dewasa. Hanna merasa bahwa Bao Yue sangatlah cute.
Sedangkan putri mereka, Ashia, merupakan fotokopi dari ayahnya, yang diberi sentuhan keanggunan seorang wanita. Suaranya dalam dan tegas, namun merdu. Bila tidak tersenyum ia tampak mengintimidasi. Namun bila tersenyum, matahari seolah terbit di wajahnya. Hanna tidak bisa membayangkan bagaimana bila Zhouyou berhadapan dengan Ashia. Yang satu jahil dan selalu bercanda, sedangkan yang satu lagi tenang dan mengintimidasi. Mereka berdua adalah 2 pribadi yang sangat bertolak belakang. Entah bagaimana caranya sehingga mereka bisa saling jatuh cinta. Aku harus bertanya lebih jelas pada kak Xiao Bao mengenai mereka berdua, pikir Hanna.
Hanna yang menggemaskan membuat Ashia terpesona. Ia adalah anak tunggal dan baru sebentar lagi akan dikaruniai seorang adik. Tapi semua orang berharap bahwa adiknya berjenis kelamin laki-laki, padahal Ashia lebih suka bilang memperoleh adik perempuan. Dibesarkan bersama Zhouyou sudah cukup membuatnya merasa jera berurusan dengan anak laki-laki. Mereka jahil dan bisa sangat nakal. Walaupun setelah dewasa Zhouyou berubah menjadi pria yang menyenangkan, tapi Ashia harus tersiksa selama bertahun-tahun, menjadi objek kenakalannya.
Coba lihat, Hanna! Pikir Ashia. Ia luar biasa manis dan sangat imut. Apalagi caranya cemberut ketika Ashia memanggilnya bibi. Gadis itu melakukan protes keras dengan begitu cerewetnya. Tubuhnya bergerak-gerak menekankan maksudnya dan suaranya yang kekanakan bernada penuh tantangan. Ashia ingin membungkusnya dan membawanya kembali ke federasi antar bangsa agar bisa terus dihibur oleh Hanna.
"Baiklah! Baiklah! Aku akan memanggil namamu saja. Begitu tidak apa-apa kan?" tanya Ashia sambil tertawa. Hanna mengangguk kuat-kuat. Matanya yang indah berkerut penuh senyum membuat Ashia gemas ingin melihat senyum di bibir gadis kecil itu. Tapi ia menahan diri. Di planet ini tidak ada yang berani menentang perintah Baozhu dan perintah Baozhu sangat jelas; bahwa tidak ada yang boleh melihat wajah Hanna sebelum ia menikah. Ashia tak mengerti mengapa Baozhu memberikan perintah seekstrim itu. Yang jelas masih akan sangat lama bagi mereka semua untuk bisa mengetahui bagaimana rupa sang dewi bunga.
Saat makan siang tiba, Hanna memilih duduk di samping Ashia dan terus saja bertanya ini dan itu. Ashia dengan senang menjawabnya. Ia menceritakan masa kecilnya yang dihabiskan di Kuil Langit bersama Zhouyou dan anak-anak langit lainnya.
"Sewaktu kecil paman Zhouyou seperti apa?" Tanya Hanna.
"Paman?" Heran Ashia.
"Dia terlihat sangat tua jadi lebih pantas kalau dipanggil paman." ucap Hanna menjelaskan, membuat Ashia tersenyum geli.
"Tapi Hanna sayang, Zhouyou dan aku lahir di tahun yang sama. Aku malah lahir beberapa bulan lebih cepat."
"Benarkah? Tapi kakak, kau sama sekali tidak tampak tua! Kau terlihat seperti seorang kakak bagiku!"
"Hmmm... gadis kecil, kau manis sekali!" Ashia mencupit pipi Hanna gemas. "Zhouyou? Hmmm..." Ashia mencoba mencari kata yang tepat untuk menggambarkan Zhouyou. "Zhouyou waktu kecil adalah anak yang paling menyebalkan. Ia selalu sok kuasa dan suka sekali menjahili siapa saja. Ia juga sangat kompetitif. Ia tidak suka dikalahkan."
"Ckckck, ternyata dia dulu dan sekarang sama saja." Cela Xiao Bao.
"Oh, Tidak." sanggah Ashia. "Zhouyou saat masih kecil dan Zhouyou yang sudah dewasa agak berbeda. Zhouyou kecil tidak mau kalah. Ia tidak suka menerima kekalahan dan akan melakukan apapun untuk memutar balikkan keadaan. Tapi begitu ia dewasa, ia menjadi lebih santai dan pemalas."
"Semenjak kecil aku tidak pernah menang dalam pertarungan tangan kosong darinya. Ia lebih kuat, lebih sabar dan lebih cerdik dalam setiap gerakan apabila dibandingkan dengan diriku. Gara-gara dia, aku terdorong untuk berlatih sekuat tenaga agar bisa mengalahkannya. Lalu pada suatu hari aku berhasil. Aku membantingnya ke lantai berkali-kali dan tidak memberinya kesempatan untuk bangkit berdiri. Aku menang!" Ashia mengerutkan wajahnya dengan kesal. "Tapi bukannya merasa kesal karena telah kalah, Zhouyou malah berkata, 'Wah, syukurlah kau sudah lebih kuat daripada aku. Sudah seharusnya sebagai bodyguard, kau harus lebih kuat dari aku yang akan menjadi rajamu. Jadi aku bisa bersantai dan tidak perlu lagi melindungimu." Semua orang yang duduk di meja makan dan turut mendengarkan; tertawa. Kecuali Xiao Bao.
"Menyebalkan." Komentar Xiao Bao.
"Iya kan? Kau merasa begitu juga kan?" Suara Ashia meninggi dan ia melanjutkan ceritanya dengan bersemangat. "Bertahun-tahun aku berjuang untuk bisa menang darinya. Kalau responnya hanya begitu saja, bagaimana dengan usahaku selama itu? Sungguh menyebalkan." Hanna memandang Ashia dengan seksama. Sejak awal tadi ia bertemu Ashia, Ashia selalu menunjukan pembawaan yang anggun dan tenang. Namun hanya ketika mengenang masa lalunya dengan Zhouyou, Ashia menjadi lebih bersemangat dan sedikit berapi-api. Mungkinkaaaah....
"Darling Hanna," Tegur Adonis yang duduk di atas kursi tepat di seberang Hanna. "Kau ngiler." Hanna menjulurkan lidahnya pada Adonis, lupa bahwa tak seorangpun bisa melihatnya. Namun Adonis balas menjulurkan lidahnya membuat Hanna terbelalak kaget.
"Aku hidup bersamamu selama 100 tahun. Aku tidak akan pernah salah menebak apa yang sedang kau pikirkan dan apa kau lakukan di balik cadarmu itu." Adonis tersenyum jahil. di 100 tahun awal hidupnya, Hanna tinggal di pulau bunga bersama klan bunga didampingi oleh Adonis serta Tarli. Hanna tumbuh besar di atas bahu Adonis, saat semua wanita klan bunga tidak lagi kuat menggendongnya. Sebagai satu-satunya pria yang dijinkan untuk tinggal di kuil bunga, Adonis adalah figur seorang ayah bagi Hannah. Karena itulah Adonis sangat mengenal perilaku adik bungsunya itu.
Ashia memandang mereka berdua dengan heran.
Di sisi Hanna yang satunya lagi, Xiao Bao menjawab; "Dia melakukan ini;" lalu menjulurkan lidahnya pada Ashia. Mata Hanna semakin membesar. Bukan hanya Adonis, tapi juga Xiao Bao bisa membacanya dengan benar.
"Bagaimana kau bisa tahu?" heran Aisha.
"Dia mudah ditebak." Sahut Xiao Bao.
"Anak ini, tidak punya banyak kosa kata, tapi bahasa tubuhnya sangat aktif. Begitulah akibatnya kalau selalu bersama Xiao Bao dan Tarli." Tuding Adonis. Hanna memandang Xiao Bao penuh tanda tanya akan maksud kata-kata Adonis, tapi Xiao Bao hanya mengangkat bahu.
"Memang apa salahnya dengan hal itu?" Tanya Tarli. "Perilaku itu jauh lebih baik daripada menemukannya berlatih merayu gadis-gadis seperti dirimu." Cela Tarli.
"Aku kan tidak suka wanita." Sela Hanna, membuat Ashia tersenyum geli.
"atau merayu pemuda-pemuda..." Ralat Tarli.
"Dengan merayu ia akan belajar kosa kata lebih banyak." Kilah Adonis. "Sejauh ini variasi kosa kata yang dimiliki paling banyak adalah berupa geraman."
"Grrrr!" Tarli meradang.
"Nah," tunjuk Adonis. "Aku benar kan?"
"Kak Tarli bilang kalo kak Adonis terus bicara ia akan menggigit kepalamu." Ucap Hanna, menerjemahkan geraman Tarli.
"Kau bisa menerjemahkan begitu banyak hanya dalam geraman sependek itu?" Heran Ashia. Hanna mengangguk mengiyakan.
"Setiap geraman memiliki nada berbeda dan bahasa tubuh juga terlibat dalam komunikasi yang digunakan kucing. Kalau kita mengobservasinya dengan seksama, kita akan menemukan repetisi dari perilaku dan geraman sehingga pada akhirnya kita bisa menerjemahkannya. Meskipun begitu, aku yang telah hidup bersamanya sekian lamanya saja tidak selalu bisa memahami makna geraman Tarli." Kata Sirrian. "Hanya Hanna yang mampu mengartikan dengan tepat. Tapi untuk geramannya yang barusan, itu sih gampang."
"Geraman ini selalu berakhir dengan Tarli berubah wujud dan lalu mencoba menggigit kepala Adonis." ucap Xiao Bao melanjutkan.
"Tidak boleh berubah wujud di meja makan, Tarli." Tegur Baozhu tegas, namun sayangnya sudah terlambat, karena saat itu Tarli sudah berubah menjadi panther besar yang langsung menerjang ke arah Adonis. Untungnya Tarli hanya berhasil menerjang kursi kosong, sementara Adonis sudah melayang tinggi di atas kepalanya. Adonis menangkupkan kedua tangannya ke arah Baozhu,
"Maaf bu." Pintanya. Lalu dengan gerakan cepat ia menepuk keras kepala Tarli dan langsung melesat keluar dari ruangan. Tarli meraung dan mengejarnya, meninggalkan kursi yang hancur berserakan di lantai. Ajaibnya, tidak ada satupun piring berisi makanan yang jatuh dari meja. Melihat kejadian itu Hazrat spontan tertawa.
"Akhirnya, aku merasa sudah berada di rumah juga! Hahaha..." Semua orang ikut tersenyum mendengar tawanya. Memang pertengkaran dan kegaduhan seperti tadi adalah hal yang biasa terjadi ketika anak cucu Baozhu sedang berkumpul. Biasanya mereka akan berakhir dengan beberapa luka dan lebam yang tidak berbahaya dan sepertinya tidak pernah membuat jera. Hazrat adalah salah satu yang paling suka menggoda Tarli, selain Adonis. Pola pikirnya yang sederhana dan pembawaannya yang mudah emosi membuat Tarli menjadi sasaran empuk kejahilan mereka. Baik Baotu maupun Baozhu tidak pernah berusaha untuk melerai karena pada akhirnya itu semua hanya candaan sesama saudara yang selalu berakhir dengan gelak tawa. Bagi Hazrat yang telah lama jauh dari rumah, ia pasti sangat merindukan suasana ini.
Mendengar kata-kata ayahnya justru membuat Ashia tersenyum sedih.
"Aku pulang." pikir Ashia. "Tapi kau sudah tidak ada disini."
Copyright @FreyaCesare