
Di Pulau bunga, Hanna sedang duduk di bukit ungu bersama teman-teman Chimeranya. Di langit yang biru di atas mereka, Aspixia sedang terbang jumpalitan bersama chimera-chimera yang memiliki kemampuan terbang. Mereka bermain dengan ceria dan tak kenal lelah. Suara tawa Aspixia memenuhi udara pulau bunga dengan kegembiraan, sehingga siapapun yang mendengarnya turut tersenyum.
"Waaaah, mereka terlihat gembira sekali!" ucap Chichi.
"Senangnya kalau aku juga bisa terbang seperti mereka!" ucap Koko dengan iri. Kata-katanya di hadiahi dengan tamparan keras di belakang kepalanya oleh saudara kembarnya, Chichi.
"Sadar, woooi! Kalau Raagh bisa terbang, kau akan jadi satu-satunya Raagh yang merangkak di tanah!" seloroh Chichi.
"Kok gitu?" tanya Koko heran.
"Kau kan takut ketinggian!" Chichi mengingatkan
"Aku takut ketinggian karena aku tidak bisa terbang. Naluriku mengajariku bahwa terbang itu bisa membawa celaka bagiku yang tidak punya sayap ini. Tapi kalau Raagh bisa terbang, aku pasti akan dibekali dengan sayap-sayap yang kuat dan keberanian untuk menjadi penjelajah angkasa." Khayal Koko.
"Mimpi!" ejek Chichi sambil mendengus geli.
"Mimpi itu sesuatu yang bagus. Jadi tak ada salahnya bermimpi." komentar Chiko. Hanna mengulurkan tangan untuk mengusap-usap kepala Chiko dan bertanya,
"Kalau kau, apa mimpimu, Chiko?" tanya Rainy.
"Hmmm... Aku bermimpi makan siang dengan menu ikan Mutiara Jiwa!" Ucap Chiko dengan mata berbinar-binar. "Ikan mutiara jiwa bakar... Ikan mutiara jiwa tumis... Sup Ikan mutiara jiwa..." Chiko nyaris ngiler membayangkannya. Kata-katanya membuat yang mendengarnya tercengang. Ikan Mutiara Jiwa adalah ikan yang dianggap sakral oleh Klan Tarli. Bukan saja karena ukurannya yang melebihi besar ikan paus, namun juga karena Klan Tarli percaya Bahwa ikan mutiara jiwa memiliki kesadaran sama seperti Chimera.
"Orang gila." tuduh Koko.
"Apa? Memangnya salah?" Tanya Chiko, heran pada respon mereka yang memandangnya dengan tatapan aneh.
"Coba lihat tubuhmu! Ukuranmu tidak sampai seperseratus dari ukuran ikan Mutiara Jiwa. Beraninya mau makan ikan itu buat makan siang! Adanya kamu kali yang bakal jadi santapan." omel Chichi.
"Katanya ditanya soal mimpi. Mimpi kan boleh apa aja ya? Terserah aku dunk!" ucap Chiko membela diri.
"Bermimpilah sesuatu yang lebih masuk akal." suruh Chichi.
"Kenapa? Kalau cuma memimpikan sesuatu yang masuk akal saja, betapa membosankan nya hidup ini. Kalau kau ingin bermimpi maka bermimpilah mengenai sesuatu yang epik. Jangan membiarkan mimpimu dibatasi oleh kekurangan, kelebihan dan kedunguanmu!" beritahu Chiko.
"Sebentaaaaar! Kenapa kelebihan kau kategorikan sebagai batasan?" Tanya Koko heran.
"Emm. Kelebihan lemak atau kelebihan bulu seperti dirimu misalnya, itu kan sesuatu yang bisa menjadi gangguan." bulu kapas di tubuh Raagh sangat tebal hingga membuat ia seringkali terlihat seperti karpet bulu daripada seekor Chimera. Karena sangat tebal, bulunya sangat mudah menyerap kotoran sehingga harus disikat sesering mungkin. Bila tanpa sengaja basah, maka akan butuh waktu yang lama untuk mengeringkannya. Jujur saja cukup merepotkan bagi pengasuh mereka a.k.a Hanna.
"Buluku indah, lembut dan menyenangkan untuk disentuh!" protes Koko dengan hidung terangkat tinggi.
"Ya ya. Terserah kau saja." sahut Chiko sambil menguap.
"Kalau Hanna, apa mimpimu?" Tanya Chichi.
"Aku? Emm..." Hanna mengangkat kepala dan memandang Aspixia yang masih asyik bermain di angkasa. "Aku ingin merasa bagaimana rasanya terbang dengan kekuatanku sendiri, seperti Aspixia." ucap Hanna sambil tersenyum. Mereka semua turut memandang Aspixia dan memaklumi dari mana datangnya keinginan Hanna tersebut. Chiko menghela nafas panjang dan berkata,
"Hanna ingin merasakan rasanya jadi naga yang terbang di angkasa luas. Aspixia ingin merasakan rasanya jadi manusia karena ia benci pada penampilannya. Dalam hidup ini sungguh sulit untuk merasa puas."
"Tapi impian Hanna bukannya tidak mustahil kan, karena para naga di masa lalu berganti-ganti wujud dengan mudah. Hanna hanya belum menemukan caranya saja." bantah Chichi, membuat Hanna tersenyum. Benar, yang perlu Hanna lakukan adalah belajar dan belajar lebih banyak lagi untuk mewujudkan mimpinya.
"Setidaknya mimpi Hanna masih masuk akal. Tapi mimpimu... Sungguh mahluk yang tahu diri." ejek Koko pada Chiko.
Chiko menyeringai kesal yang disambut oleh gelak tawa Chichi dan Koko.
"Apa itu?" tanya Hanna.
"Makan siang dengan menu sate Raagh dan Raagh asam manis!"
"Hah?" kata-katanya membuat Koko dan Chichi tercengang, terutana Koko. Apalagi ketika ia melihat Chiko melangkah perlahan-lahan ke arahnya dengan wajah penuh nafsu membunuh. Membuat Koko secara otomatis melangkah mundur.
"Jangan mendekat! Tubuhku kurus dan tidak ada lemaknya. Sangat tidak enak! Yang tebal hanya buluku saja karena sesungguhnya tubuhku hanyalah tinggal tulang dibalut kulit. Sama sekali tidak enak!"
"Enak atau tidak bukan masalah. Yang penting salah satu impianku bisa terwujud." bantah Chiko.
"Ah! Jangan mendekat!!!" pekik Koko. Secepat kilat ia berlari menjauh, membuat Chiko menyeringai geli.
"Lho? Kok lari? Hei, makan siangku, kau mau sembunyi dimana?" Chiko langsung mengejar Koko dan keduanya berlarian mengelilingi bukit ungu, dengan ramai. Koko terus berteriak-teriak memberi tahu bahwa dirinya tidak enak. Sementara Chiko terus mengatakan bahwa ia tidak peduli pada rasa yang akan dihasilkan oleh tubuh Koko, karena ia hanya ingin mewujudkan salah satu impiannya. Tingkah antik mereka mengundang tawa mereka yang melihatnya. Saat itu Aspixia datang ke sisi Hanna dan ikut tertawa bersamanya.
Karena mengantuk, Hanna dan Aspixia membaringkan tubuh diatas rumpun bunga ungu dan memejamkan mata. Ketika membuka matanya kembali, Jantung Hanna hampir melompat keluar dari tempatnya karena terkejut. Ia baru saja memejamkan matanya di bukit Ungu. Mengapa ketika membuka mata, ia telah pindah ke lokasi yang berbeda. Hilang sudah rumpun bunga-bunga berwarna ungu yang menutupi nyaris semua permukaan bukit bunga, berganti dengan panel-panel listrik dan meja kontrol. Ini? Dimana ini? Hanna menemukan dirinya sedang duduk di atas sebuah kursi yang menyerupai kursi kerja milik Sirrian, dalam sebuah ruangan yang dipenuhi oleh panel listrik dan meja kontrol di ke empat dindingnya. Hanna ingat pernah memasuki ruangan serupa ini dahulu sekali. Hanna bangkit dari duduknya untuk melihat ke punggung kursi yang didudukinya. Benar saja! Hanna menemukan lambang keluarga Bao terukir disana. Ini adalah ruang kontrol mesin di pesawat penjelajah milik Baotu! Tapi bagaimana ia bisa ada disini? Apakah ini mimpi?
Hanna bergegas mencari pintu dan begitu menemukannya, ia langsung berjalan keluar. Pintu tersebut mengarahkan Hanna menuju lorong panjang. Tanpa ragu, Hanna berbelok ke kanan. Lorong tersebut mengarahkannya ke sebuah pintu besi yang langsung terbuka ketika sensor merasakan keberadaan Hanna. Begitu Pintu terbuka, perhatian Hanna langsung tercurah pada pemandangan antariksa yang gelap, dengan sebuah bintang tampak menyala di kejauhan, yang terlihat dari balik sebuah jendela yang sangat besar. Hanna berlari mendekati jendela dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Wuaaaah!" serunya terpesona.
"Hanna?" beberapa suara terdengar menyebut namanya dengan nada terkejut. Hanna menoleh dan melihat Baotu dan Bao Youzi, serta beberapa kru pesawat itu sedang memandangnya dengan terkejut. Melihat ada orang lain yang bukan anggota keluarganya disitu, Hanna reflek mencari cadarnya dengan panik. Namun ketika ingat bahwa ini hanyalah mimpi, Hanna menarik nafas lega. Ini hanya mimpi jadi tak apa bila mereka melihat wajahku. Kan mereka itu cuma figment dari imajinasiku, pikir Hanna.
Melihat wajah ayah yang sangat dirindukannya, senyum Hanna mengembang indah. Ia langsung berlari masuk ke dalam pelukan Baotu.
Sang Mahadewa, Baotu, sebagaimana juga istrinya, Baozhu, sudah hidup lebih dari 11 juta tahun. Namun wajah dan penampilannya terlihat seperti pria yang masih berusia 30 tahun apabila di bandingkan dengan Sirrian. Bertubuh tinggi, tegap dan langsing, Baotu memiliki aura seorang dewa yang bijaksana dan penuh welas asih. Wajahnya yang luar biasa tampan memberikan perasaan nyaman bagi yang memandangnya. Rambutnya yang berwarna perak membuatnya tampak seperti seorang pangeran yang datang dari dunia mimpi, terlalu indah untuk menjadi sosok yang nyata. Bahkan Hanna yang sudah imun terhadap wajah tampan karena selalu berada di sekitar Adonis, selalu terpukau setiap kali memandang ayahnya. Hanna memeluk Baotu erat dan menggosokkan kepalanya ke dada Baotu, layaknya seekor kucing.
"Ayah, aku sangat merindukanmu!" ucap Hanna senang. Baotu balas memeluk puterinya dengan kening berkerut.
"Apakah kau benar-benar Hanna? Apakah ini nyata?" Tanya Baotu.
Hanna mengangkat kepalanya dari dada Baotu dan menggeleng.
"Tentu saja tidak nyata. Ini kan cuma mimpi." seloroh Hanna.
"Eh, mimpi? Benarkah? Tapi aku kan tidak sedang tidur?" Sebuah suara bertanya heran. Hanna mengangkat kepalanya dari dada Baotu dan bertatapan dengan Bao Youzi. Bao Youzi adalah anak pertama Bao Yang atau lebih jelasnya, ia adalah si putra mahkota kerajaan langit yang melarikan diri dari rumah untuk bisa menjadi penjelajah angkasa seperti kakeknya, Baotu. Bao Youzi memiliki kemiripan sekitar 80% dengan Bao Zhouyou, baik dalam hal wajah maupun pembawaan, sehingga walaupun jarang bisa bertemu dengan Bao Youzi, Hanna merasa mudah akrab dengannya.
"Tapi ini adalah mimpiku." bantah Hanna.
"Hanna sayang, Youzi benar; ini sama sekali bukan sebuah mimpi." beritahu Baotu.
"Eh?"
Copyright @FreyaCesare
Author Note:
Chapter ini seharusnya di upload kemarin malam. Namun karena terlalu lelah, saya tertidur saat sedang mengetik chapter ini. Saat terbangun dan mencoba melanjutkan untuk mengetik kembali, saya kembali tertidur untuk yang kedua kali. Akhirnya saya menyerah. Maaf ya.
Selamat membaca, guys. Jangan lupa selalu pakai masker dan stay healthy ya. Sampai besok.
Freya.