Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Bara Dalam hati



"Ngomong-ngomong," mulai Adonis. "Mengenai apa yang kau katakan tadi pagi… kapan aku bisa melakukannya?" Tanya Adonis tiba-tiba. Sepasang matanya yang indah menatap lurus ke mata Rowena, membuat Rowena terpaku ditempatnya. tangannya yang memegang sendok mungil dan baru saja menyuapkan es krim dingin kedalam mulutnya, berhenti setengah jalan, membuat sendok es krim yang terjepit diantara jarinya tampak mengapung di udara. Kedua bola matanya membelalak lebar. Melihat reaksinya membuat Adonis tersenyum geli. Dengan gugup Rowena meletakkan sendoknya ke dalam kotak es krim dan meletakkan kotak tersebut ke atas meja. Wajahnya merah merona.


"Ngo…ngomong apa sih?" cetus Rowena tergagap.


Melihat Rowena mencoba mengelak, Adonis menaikkan sebelah alisnya. Adonis kemudian bangkit dari kursinya, lalu membungkukkan tubuhnya melintasi meja, ke arah Rowena. Menghadapi wajah Adonis yang mendekat ke arahnya, Rowena reflek mencoba menjauh, sehingga ia akhirnya bersandar dengan kaku di kursinya tak bisa melarikan diri lagi. Sementara itu Adonis masih terus merangsek maju, membuat Rowena tanpa sadar menahan nafasnya. Sekarang wajah mereka hanya berjarak sekitar 5 cm. Rowena bisa merasakan nafas hangat Adonis yang berhembus di wajahnya, membuat wajahnya serasa terbakar.


Tatapan Adonis jatuh pada bibir Rowena, membuat gadis itu tanpa sadar merapatkan bibirnya. Ia akan menciumku! Pekik Rowena dalam hati. Jantungnya serasa hampir meledak di dadanya. Namun tiba-tiba Adonis berhenti bergerak. Pria itu memiringkan sedikit kepalanya dan menggerakkan tangannya untuk mengetuk kening Rowena dengan ujung jari telunjuknya.


"Bernafas!" Perintahnya. Reflek membuat mata Rowena terbuka lebar. Rowena yang bisa mendengar tawa pada suara Adonis; menjadi gusar. Ia sudah merasa malu karena telah berpikiran terlalu jauh dan gusar karena Adonis dengan sengaja membuat ia memiliki pemikiran tersebut.


Kemarahan adalah senjata yang paling ampuh yang telah digunakan Rowena untuk mengontrol perasaannya terhadap Adonis selama bertahun-tahun sehingga ketika ia terdesak oleh tingkah Adonis, secara otomatis ia akan menghasilkan reaksi yang serupa; termasuk juga saat ini.


Mata Rowena menyipit sesaat. Ia mendorong kepalanya sedikit ke belakang untuk mengambil ancang-ancang dan kembali menutup matanya sebelum tanpa ampun menghantamkan  kepalanya ke depan; meyakini bahwa keningnya akan menabrak wajah Adonis dengan keras. Namun ternyata sesuatu menahan gerakan kepalanya. Rowena membuka mata dan menemukan bahwa telapak tangan Adonis menempel erat di keningnya dan pemuda itu sedang menatapnya dengan senyum geli menghiasi bibirnya yang indah.


"Oooh, hati-hati! Bagaimana kalau kepalamu terluka? Kau kan tahu mukaku terbuat dari apa." Seloroh Adonis.


"Tembok!" Tukas Rowena cepat.


Senyum Adonis bertambah lebar mendengarnya; teringat  bahwa Rowena selalu mengatainya sebagai mahluk bermuka tembok dan berkulit badak. Adonis selalu dengan santai meralat gadis itu dengan mengatakan bahwa dirinya berkulit Naga yang sudah pasti jauh lebih tebal dan kokoh apabila dibandingkan dengan kulit badak.


"Pintar." Pujinya sambil kembali duduk ke atas kursinya.


"Cih…." Cibir Rowena.


"Jangan mengumpat atau aku akan menghukummu!" Ancam Adonis. Yang benar saja! Adonis terus mengusilinya dan ia tidak boleh mengumpat?


Kalau ada satu hal buruk yang dikembangkan oleh Rowena selama kehidupan panjang yang telah dijalaninya, itu adalah mengumpati Adonis dengan berbagai umpatan sadis yang bisa membuat wajah Baozhu menjadi gelap bila ia mendengarnya. Dan semakin Adonis melarangnya, maka semakin ingin ia melakukannya. Karena itu, mengabaikan ancaman Adonis, Rowena bersiap untuk mengumpati Adonis sekeras-kerasnya.


Namun sebelum Rowena sempat melakukannya, bibirnya dibungkam oleh secara tiba-tiba oleh  sesuatu yang lunak dan hangat. Mata Rowena kembali terbelalak lebar begitu merasakan sepasang bibir Adonis yang tiba-tiba saja sudah menempel rapat di bibirnya. Nafas hangat Adonis mengusap wajah Rowena dan membuatnya kembali lupa bernafas.


Ciuman itu awalnya hanya sentuhan pelan, namun kemudian Adonis membuka mulutnya dan mulai menggerakan bibirnya dengan lembut, menggoda bibir Rowena yang tertutup rapat. Ciuman pria itu lembut namun penuh emosi membuat Rowena merasa hangat dan sedikit pusing.


Tanpa sadar Rowena menutup matanya. Ia terbuai oleh alunan gerak bibir Adonis; tak mampu berpikir dan sepenuhnya lupa bernafas. Ketika akhirnya ciuman itu selesai, Rowena tak segera mampu mengangkat kabut yang menutupi kesadarannya. Ia hanya diam terpaku di tempatnya masih dengan mata tertutup dan wajah memerah sampai ke telinga. Membuat Adonis merasa gemas dan tak tahan untuk mengodanya.


"Jangan lupa bernafas." Tegurnya.


Mata Rowena langsung terbuka mendengarnya. Dengan sekuat tenaga ia mendorong bahu Adonis menjauh dan langsung bangkit untuk berlari keluar dari ruangan tersebut sambil tak lupa mengutuki Adonis dalam hati. Adonis yang ditinggalkan begitu saja segera berteriak mencoba mengingatkan.


"Hei, makananmu…."


***


Rowena memasuki pintu pesawat pribadi Istana Langit dengan jantung berdebar. Kemungkinan untuk bertemu Adonis dalam waktu hanya 2 jam setelah ciuman mereka dirasa Rowena terlalu cepat. Namun mereka harus segera berangkat ke Istana Langit sehingga Rowena mau tidak mau harus menghadapinya.


Di dalam pesawat tampak lenggang. Hanya ada beberapa beberapa penumpang berpakaian militer yang dikenali Rowena sebagai Jenderal yang merupakan tangan kanan Zhouyou dan 3 orang anak buahnya serta seorang pramugara tampan yang tampak terlalu bermartabat untuk berdiri di gang pesawat dan melayani penumpang, bahkan walaupun penumpang pesawat tersebut semuanya adalah tokoh-tokoh penting Sirrian.


Mengabaikan komentar random dalam pikirannya, Rowena berjalan mendekat dan menyapa mereka. Setelah berbasa-basi sebentar, Rowena berjalan menuju kursi terjauh dari pintu masuk,  berharap ia bisa melihat ketika Adonis berjalan memasuki pesawat. Namun yang memasuki pesawat berikutnya bukanlah Adonis, melainkan Chen Jiuling, sang pengusaha jelita yang serba bisa. Melihat wanita ini Rowena merasa sebuah tangan dingin merayapi punggungnya.


Rowena tidak terlalu mengenal Chen Jiuling secara pribadi walau sebenarnya secara tidak langsung ia masih merupakan salah satu anggota keluarga Bao. Hal ini bukannya karena kurangnya usaha dari pihak Chen Jiuling. Wanita itu telah beberapa kali mencoba membangun koneksi dengannya yang dengan canggung diabaikan oleh Rowena. Bukan karena ia tidak menyukai Chen Jiuling. Rowena tidak cukup mengenalnya untuk bisa memutuskan apakah ia akan menyukai Chen Jiuling atau tidak. Dan berdasarkan sifatnya yang lurus, Rowena tidak merasa adalah adil untuk menilai seseorang bila dirinya tidak terlalu mengenalnya. Namun Rowena tidak ingin mencoba mengenal Chen Jiuling.


Chen Jiuling adalah salah satu wanita jelita dalam lingkaran pertemanan Adonis. Chen Jiuling memang tidak pernah dilihatnya berada atas pangkuan Adonis atau menjadi salah satu wanita yang digosipkan menghabiskan malam bersama Adonis. Namun diantara wanita-wanita yang dikenal Adonis, tampak jelas bahwa Adonis menaruh penghargaan yang besar pada sosok Chen Jiuling. Wajar saja sih, siapa yang tidak menaruh kekaguman padanya. Wanita itu bukan hanya cantik, ia juga cerdas dan sangat berkuasa di bidangnya.


Chen Jiuling adalah salah satu wanita pengusaha yang kesuksesannya mengalahkan banyak pengusaha pria lainnya di bidang yang sejenis. Ia cerdas, perfeksionis, pemberani, tegas dan keras dalam mengejar tujuannya, namun sangat adil dan murah hati pada pegawainya. Namanya harum sebagai salah satu orang yang berpengaruh dalam perkembangan ekonomi di Negeri Langit. Bahkan Rowenapun diam-diam mengaguminya. Namun kekaguman tersebut membuat Rowena mau tidak mau jadi membandingkan dirinya dengan Chen Jiuling yang menghasilkan kekecewaan pada dirinya sendiri.


Rowena berpikir bahwa sampai kapanpun ia tidak akan mampu menandingi kecemerlangan wanita tersebut. Well, sesungguhnya itupun tidak masalah seandainya ia tidak mencurigai bahwa ada sesuatu yang berkembang dalam pertemanan Chen Jiuling dengan Adonis.


Sejarah persahabatan Chen Jiuling dan Adonis berlangsung jauh sebelum Rowena datang untuk tinggal di Kuil Langit. Dahulu kala Chen Jiuling adalah salah satu staff militer dengan pangkat tinggi dengan keahlian khusus sebagai penerbang pesawat tempur dan ahli diplomasi. Kemampuannya dalam mengembangkan koneksi yang luas dengan pihak luar militer dan tentu saja karena ikatan kekeluargaan diantara mereka, membuat Chen Jiuling kemudian menjadi salah satu tangan kanan Adonis yang mengatur pasokan logistik militer dalam berbagai peperangan kecil yang terjadi sepanjang sejarah Sirrian; sebelum akhirnya Chen Jiuling merasa lelah dengan kehidupan militer dan memutuskan untuk melepaskan karirnya itu dan memulai karir baru sebagai pengusaha. Namun sesekali, dalam masa liburnya, Chen Jiuling duduk di sisi Adonis dalam kokpit untuk menjadi co-pilot pesawat pribadi milik kuil langit atau Istana Langit. Siapa yang bersedia menghabiskan waktu libur untuk bekerja apabila tidak ada sesuatu antara dirinya dan bossnya? Dan hari ini, melihat pakaian yang dikenakan Chen Jiuling, Rowena menyadari bahwa alasan mengapa ia belum melihat Adonis adalah karena pria itu pasti sekarang berada di kokpit pesawat, sedang menunggu Chen Jiuling untuk menemaninya menerbangkan pesawat ini.


Ingin rasanya Rowena berlari keluar dari pesawat saat ini juga! Pria itu baru saja menciumnya 2 jam yang lalu dan sekarang sudah bersiap-siap untuk menghabiskan waktu yang indah bersama salah satu wanitanya yang lain. Sungguh keterlaluan!


Tapi apa yang bisa aku lakukan? Keluh Rowena dalam hati. Salahku sendiri dengan bodohnya melupakan siapa Adonis yang sesungguhnya. Karena bujukan Hanna, Rowena sesaat lupa bahwa Adonis adalah sosok yang telah dikenalnya begitu lama. Bagaimana mungkin waktu selama itu yang ia gunakan hanya untuk memandang satu pria saja, bisa membuatnya salah menilai pria tersebut? Seharusnya Rowena tidak boleh lupa bahwa Jinxiu bahkan pernah kehilangan nyawanya karena patah hati akibat cintanya pada Adonis. Rowena tidak mau jadi orang selanjutnya yang kehilangan jiwanya karena mencintai Adonis. Tidak mau! Demi seluruh masa depannya yang masih begitu panjang, Rowena merasa tidak boleh membiarkan dirinya kembali lengah. Hatinya adalah miliknya dan miliknya seorang! Adonis boleh menceburkan dirinya ke dalam lava yang bergolak apabila Adonis menginginkannya tapi Rowena tidak akan lagi mau perduli padanya melebihi seorang keponakan kepada pamannya.


Tidak akan lagi! Tekad Rowena dalam hati. Jadilah batu, hatiku! Perintah Rowena pada hatinya yang merana.


Tiba-tiba seseorang telah berdiri di sisi kursinya dan menyodorkan sebuah kotak makanan setinggi 3 tingkat ke depan wajahnya. Rowena menoleh dan menemukan Adonis sedang berdiri di sampingnya dengan senyum lebarnya yang penuh percaya diri. Rowena terpaku ditempatnya dengan mulut terbuka lebar. Semua tuduhan, kemarahan, kepahitan dan tekad yang tadi membara dengan riuh rendah dipikiran dan hatinya, seketika langsung terdiam membisu.


"Hei, kok malah bengong? Ambil ini!" Tegur Adonis lagi.


Pria itu melemparkan kotak makanan tersebut ke pangkuan Rowena dan berbalik untuk duduk di kursi di seberang kursi yang Rowena duduki.


"Kau belum makan kan? Makanlah itu. Aku sudah membawanya susah-susah, mengapa kau tinggalkan begitu saja tadi? Ayo sekarang habiskan!" Perintah Adonis.


Masih terpaku, Rowena menerima kotak makanannya sambil matanya mengikuti sosok Adonis yang tampak begitu nyaman di atas kursinya. Kepalanya kemudian berputar kearah tempat dimana ia melihat Chen Jiuling tadi berada. Wanita itu sedang berdiri di depan pintu menuju kokpit dan tampaknya sedang terlibat percakapan serius dengan pramugara.


"Hmmm… Jiuling yang menjadi co-pilot? Ckckck… apa gunanya keluar dari militer dan jadi pengusaha kaya raya dengan banyak pegawai bila pada akhirnya ia akan selalu merangkak kemari untuk bisa bertemu dengannya. Sampai rela menjadi co-pilot segala." Eh?


Copyright @FreyaCesare