
Begitu menghilang di balik pintu, Rowena langsung melepaskan semua kontrol dirinya dan menyandarkan diri ke dinding yang dingin. wajahnya merah padam dan jantungnya berdetak sangat kencang.
"...Setelah itu, kau bisa memelukku selama yang kau mau." Ya, Tuhan! Bagaimana bisa dirinya mengucapkan kalimat seberani itu di hadapan Adonis? Rowena memukul-mukul mulutnya dengan penuh penyesalan. Rowena tidak bisa membayangkan apa yang dipikirkan oleh Adonis saat mendengarnya. Iiiiih, sungguh memalukan! Maki Rowena dalam hati. Sambil menutupi wajah, ia berlari menuju perlindungan laboratoriumnya yang terkunci rapat.
Sementara itu Adonis masih terpaku di tempatnya. Seluruh wajah hingga telinganya memerah. Otaknya membeku, tak mampu memproses apa yang baru saja terjadi. Saat tadi ia mengikuti dorongan hati dan mengulurkan tangan untuk memeluk Rowena, Adonis sudah siap menerima penolakan keras dari wanita itu. Adonis telah terbiasa dengan penolakan dan tidak pernah menduga bahwa hal yang sebaliknya yang akan terjadi. Karena itu ia merasa tidak mampu mempercayai telinganya ketika mendengar respon Rowena.
Apakah seseorang telah menculik Rowena dan menukarnya dengan orang lain? Tapi tidak! Wangi tubuh Rowenalah yang menguasai Indra penciumanannya ketika Adonis menempelkan hidungnya tepat di lekuk leher wanita tersebut. Seorang penyamar dapat menirukan wajah, bentuk tubuh dan gerak-gerik, namun tidak mungkin dapat memalsukan aroma tubuh yang berhubungan erat dengan hormon-hormon biologis seseorang. Jadi wanita dalam pelukannya tadi memang Rowena!
Senyum lebar langsung mengembang di wajah tampan Adonis. Dengan bahagia ia melemparkan diri ke atas lantai marmer Kuil Langit yang keras dan berbaring terlentang sambil memandang langit-langit. Hatinya dipenuhi rasa bahagia. Dalam keadaan begitulah, beberapa saat kemudian, Baozhu menemukannya.
Respon pertama yang muncul dalam diri Baozhu adalah rasa panik karena takut telah terjadi sesuatu pada putra angkatnya tersebut. Namun begitu melihat wajah Adonis yang tersenyum-senyum layaknya orang bodoh, hati Baozhu kembali tenang.
"Kau sedang apa disitu?" Tanya Baozhu. Adonis tersenyum lebar pada ibunya.
"Putramu ini sedang jatuh cinta, Ibu." Sahut Adonis tanpa sungkan, membuat senyum turut mengembang di bibir Baozhu.
"Oh ya? Apakah akhirnya drama antara kau dan Rowena berujung bahagia?" Goda Baozhu. Mata Adonis langsung terbelalak lebar mendengar kata-kata ibunya yang membuatnya langsung bangkit dari atas lantai yang dingin.
"Ibu tahu?" Tanya Adonis, tak menyangka.
"Tentu saja!" Jawab Baozhu tegas. Senyum di wajah Adonis mengembang lebar. Pria itu merentangkan tangannya dan memeluk Baozhu penuh rasa sayang.
"Ibu, aku ingin menikah!" ucapnya, masih sambil memeluk ibunya. Baozhu balas memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Apa Rowena sudah setuju?" Tanya Baozhu.
"Aku akan merayunya terus sampai ia setuju!"
Mendengar jawaban Adonis, tepukan tangan di punggungnya tiba-tiba terhenti. Adonis bisa merasakan bahwa ibunya menarik nafas panjang dan melepaskan dekapan tangannya di tubuh Adonis. Setelah diam sesaat, Baozhu berucap dengan tenang,
"Tapi aku tidak setuju."
Adonis yang dikejutkan oleh respon ibunya, melepaskan Baozhu dari pelukan tangan-tangannya dan memandangi wajah ibunya dengan seksama.
"I... Ibu ...?" Panggilnya terbata. Suaranya diliputi rasa tidak percaya. Bagaimana bisa Baozhu tidak setuju? Bukankah Baozhu mencintainya? Apakah ia tidak pantas untuk dicintai oleh Rowena? Adonis memandang Ibunya dengan ekspresi terluka, persis seperti seekor anjing yang menyadari bahwa ia baru dibuang pemiliknya. Melihat ekspresi memelas putranya itu, Baozhu tersenyum geli. Ia mengangkat tangannya dan menjitak pelan kepala pria yang jauh lebih muda itu.
"Anak bodoh, apa yang sedang kau pikirkan?" tegur Baozhu.
"Apakah Ibu tidak menyukaiku lagi?" tanya Adonis pelan dengan mata berkaca-kaca. Membuat Baozhu mencubit kedua pipinya dengan gemas.
"Itu sangat tidak mungkin kan! Kau adalah putraku yang paling tampan!" Ah! Jadi apabila aku tidak tampan, apakah ibu tidak akan menyukaiku? Tanya Adonis dalam hati, sepenuhnya sadar bahwa pemikirannya telah turun ke tingkat terendah. Saat ini ia merasa bagaikan bayi yang terancam dibuang oleh ibunya. Melihat ekspresi putra angkatnya tersebut, senyum Baozhu semakin lebar.
"Anak ini! Berapa usiamu? Mengapa bersikap seperti bayi?" Ibu, selamanya, aku adalah bayimu! Sahut Adonis dalam hati. Menarik tangan Adonis, Baozhu membawanya duduk di sebuah kursi panjang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Setelah duduk, Baozhu membawa tangan Adonis keatas pangkuannya dan menepuk-nepuk punggung tangan tersebut perlahan.
"Tapi siapakah Rowena?" Tanya Baozhu. "Rowena adalah cucuku. Aku harus bersikap adil padanya. Apabila aku menginginkan wanita terbaik bagimu, maka aku juga menginginkan pria terbaik baginya. Apabila aku harus melihat dari sudut pandang Rowena, dirimu adalah pilihan terburuk baginya. Lalu bagaimana aku bisa rela menjodohkan cucuku dengan laki-laki seperti dirimu?" Kata-kata Baozhu bagaikan hantaman palu yang tanpa ampun meretakkan hati Adonis. Untuk sesaat Adonis tak mampu berkata-kata. Bagaimana ibu bisa mengataiku dengan wajah seperti itu? Wajah seorang ibu yang penuh cinta dan welas asih? Ibu! Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?
"I.. Ibu... menurutmu... aku laki-laki seperti apa?" tanya Adonis terbata.
"Hmmm... secara karakter, kau pria yang luar biasa. Kau penyayang, loyal dan luar biasa cerdas. Kau juga humoris dan sangat pandai menghidupkan suasana." Puji Baozhu. Adonis mengedipkan matanya perlahan. Lalu mengapa...
"Namun kau punya 1 keburukan yang akan menjadi petaka bagi wanita manapun yang berani menikahimu." Tambah Baozhu sesaat kemudian.
"Ke... keburukan? .... Petaka?... Bolehkah aku tahu apa yang ibu maksud?"
"Bayangkan bila disekitar Rowena ada begitu banyak pria yang berusaha untuk mengejar cintanya. Bayangkan setiap kali kau berjalan di sisi Rowena, selalu saja ada pria yang tersenyum dan memandangnya penuh ketertarikan, lalu berusaha untuk berbicara padanya sambil memegang tangannya dan menyentuh pipinya. Apa yang akan kau rasakan?" tanya Baozhu. Kening Adonis langsung berkerut. Tak perlu membayangkan, mendengar kata-kata Baozhu saja sudah cukup membuat darah Adonis serasa mendidih.
"Aku akan merasa sangat tidak nyaman!"
"Meskipun Rowena tidak menanggapi mereka?" tanya Baozhu lagi.
"Meskipun begitu!"
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan mematahkan tangan orang yang berani menyentuh milikku!" geram Adonis. Baozhu tidak bertanya lagi. Ia hanya diam dan memandangi Adonis dengan senyum bijak menghiasi wajahnya. Adonis memandang balik ibunya sambil berpikir mengenai apa yang ingin disampaikan ibunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang
diajukannya, dan mengapa sekarang Baozhu hanya memandanginya dalam diam. Melihat kebingungan terpancar dalam tatapan dan mimik wajah Adonis, Baozhu mengangkat tangannya dan mengetuk kepala putranya cukup keras, persis yang sering dilakukannya ketika Adonis masih belia.
"Anak bodoh! Apakah kau tidak sadar bahwa setiap hari inilah yang harus dialami Rowena? Ia dipaksa melihatmu setiap waktu dikejar-kejar, dirayu dan disentuh oleh wanita-wanita yang memujamu. Mungkin ia tidak merasa ingin mematahkan tangan wanita-wanita tersebut. Tapi itu pasti membuatnya merasa sangat terluka.
Apabila itu terjadi pada ayahmu, lama-kelamaan aku akan merasa jijik pada bagian tubuhnya yang telah disentuh oleh perempuan lain dan mungkin tidak akan menginginkan dirinya lagi." papar Baozhu tanpa ampun. Kata-katanya bagai palu yang menghantam hati Adonis. Jijik? Apakah Rowena juga merasa jijik padaku? Apakah itu sebabnya ia enggan menerima cintaku?
"Tidak! Tidak, Ibu! Rowena tidak merasa jijik padaku! Buktinya ia mengijinkan aku memeluknya!" Tolak Adonis setengah panik.
"Baguslah. Tapi sampai kapan Rowena bisa menahannya?" Tanya Baozhu. Adonis menundukkan kepalanya dengan sedih. Wanita-wanita itu, dirinya tidak pernah mengundang mereka ke sisinya. Namun setiap kali, mereka memaksa untuk berada di sekitarnya dan tidak mau pergi. Ia tidak pernah menerima cinta ataupun gairah mereka, namun ia juga tidak tega bersikap kejam dan kasar pada mereka semua karena ia selalu percaya bahwa wanita adalah mahluk yang lemah dan tidak seharusnya dikasari. Namun ternyata sikapnya inilah yang menjauhkan Rowena darinya.
"Apakah begitu sulit untuk mencintaiku, ibu?" tanyanya sedih. Baozhu mengusap kepalanya penuh rasa sayang.
"Tidak sulit untuk mencintaimu, nak. Yang sulit adalah untuk bertahan disisimu." Jawab Baozhu.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" Tanya Adonis lagi.
"Usir semua wanita itu dari sisimu karena mereka adalah keburukanmu! Apabila kau telah berhasil, baru aku akan mengijinkan engkau menikahi Rowena!" Perintah Baozhu.
copyright@FreyaCesare