
Mendengar rengekannya membuat Baotu tersenyum. Ia mengangkat tangannya dan mengusap kepala Hanna dengan penuh sayang.
"Jangan khawatir. Ayah rasa, ayah tahu sebabnya."
"Benarkah?"
"Emm." Baotu mengangguk. "Kalau benar apa yang dikatakan Youzi bahwa alasan kau bisa berada disini adalah karena kau melakukan proyeksi Astral, itu berarti yang datang kemari hanyalah rohmu, sementara tubuhmu masih berada di tempat terakhir engkau tertidur." Hanna mengangguk.
"Nah, itu berarti kau yang sedang duduk disini saat ini hanyalah jiwa."
Hanna mengangguk kembali dan Bao Youzi turut mengangguk bersamanya.
"Jiwa hanyalah sebuah kesadaran yang tidak berwujud..."
"Tapi aku berwujud..." potong Hanna sambil menunjuk ke arah hidungnya sendiri. Dengan gemas Baotu menarik hidungnya keras-keras dan membuat Hanna mengaduh.
"Emm. Menurut dugaan Ayah, karena rohmu memerlukan wujud untuk bisa memunculkan eksistensimu di hadapan orang lain, alam bawah sadarmu kemudian menciptakan 'soul Body' untuk menutupi kebutuhan tersebut. Soul Body itu menggunakan wujud fisikmu sebagai contoh, terutama karena wujud fisikmu adalah wujud yang paling kau kenali, sehingga lebih mudah untuk diciptakan daripada mencari wujud lain. Namun 'soul body'mu hanyalah proyeksi dari ingatan yang tersimpan dalam jiwamu. Kau terlihat memiliki hidung dan mulut, tapi sesungguhnya rohmu tidak benar-benar memiliki itu semua. Karena tidak memiliki hidung yang sesungguhnya maka kau tidak bisa mencium dan karena tidak memiliki lidah yang sesungguhnya, maka kau tidak bisa merasakan. Bila kelak kau kembali ke tubuh aslimu, maka kemampuan itu akan kembali."
"Bagaimana dengan mata dan telinga? Bukankah 'soul body' seharusnya juga tidak sungguh-sungguh memilikinya?" tanya Hanna.
"Sesungguhnya nak, Ayah tidak sungguh-sungguh mengerti tentang 'soul'. Yang Ayah ungkapkan padamu hanyalah sebuah asumsi yang didasari oleh logika semata. Tapi menurut pemikiran Ayah, bagaimana sebuah kesadaran bisa memiliki pemahaman tentang dunia ketika ia tidak memiliki kemampuan untuk melihat dan mendengar?"
"Betul juga." sahut Hanna sambil mengangguk-angguk. "Itu berarti soul tidak memerlukan tubuh sungguhan untuk bisa melihat dan mendengar, tapi membutuhkan tubuh sungguhan untuk bisa merasa dan mencium bau? Ah, tapi itu berarti..."
Hanna menunduk dan memandang kotak pastry di pangkuannya. Ekspresi Hanna langsung memburuk begitu menyadari bahwa ia tidak akan dapat menikmati pastry yang sudah dibelinya. Melihat ekspresinya membuat Bao Youzi yang bisa membaca makna dari ekspresi wajahnya, langsung tertawa tergelak-gelak sampai bergulingan di atas rerumputan. Membuat Hanna menyipitkan matanya karena kesal.
"Tenang saja, Hanna. Kalau Ayah pulang nanti, Ayah akan meminta Kafe itu menyiapkan Pastry yang sama untuk oleh-oleh bagimu." janji Baotu. Dengan sedih Hanna mengangguk. Itu mungkin baru akan terjadi bertahun-tahun lagi. Pikir Hanna sedih. Baotu menepuk-nepuk kepala Hanna dengan penuh sayang.
Mereka menghabiskan seharian untuk berkeliling ke ruangan-ruangan yang belum Hanna masuki. Lalu sebagai perhentian terakhir, Baotu membawa Hanna ke ruangan yang sangat besar yang tampak mirip dengan sebuah hanggar pesawat, namun kosong melompong. Hanna memandang berkeliling dengan heran.
"Ayah, ini tempat apa?" Tanyanya.
"Tunggu sebentar." Jawab Baotu. "Huolan, tolong tampilkan Kota Saff." perintah Baotu pada AI pribadinya. Dalam sekejap ruangan yang kosong melompong, berubah menjadi pemandangan kota dilihat dari atas. Hanna merasa seolah sedang berdiri di atas tebing yang tinggi, memandang ke arah lembah dimana sebuah kota pencakar langit terhampar luas, seolah tak berbatas. Gedung-gedung pencakar langit rapat memenuhi kota, sementara itu tepat di atas kota, mobil-mobil dan pesawat kecil berterbangan dengan teratur. Kota tampak berasap dan Langit di atasnya berwarna abu-abu. Itu adalah gambaran sebuah kota yang telah tercemari oleh limbah dan polusi udara.
"Ayah, itu..."
"Itu adalah Saff, kota Federasi Bangsa-bangsa di planet Qu. Kota tempat Ayah dan Ibu berasal." ucap Baotu. "Hanna, coba lihat ke belakangmu." suruh Baotu. Hanna menoleh dan menemukan bahwa ia sedang berdiri di halaman depan sebuah bangunan berbentuk unik yang di cat dengan warna putih. Rumah tersebut tampak menyolok karena berada di tebing yang tinggi, tanpa bangunan lain di sekitarnya. Dari kejauhan, Hanna bisa melihat beberapa rumah tunggal beraneka rupa di atas tebing-tebing, yang berderet di sekitar mereka. Namun tak ada rumah yang seunik rumah yang ada di hadapannya itu. Rumah itu berbentuk seperti rumah keong berwarna putih dengan jendela-jendela yang tertutup kaca berwarna-warni, yang berkilauan ketika terkena cahaya matahari.
"Ayah, rumah ini lucu sekali!" Seru Hanna.
"Ini adalah rumah yang dibuatkan oleh ayahku untuk ibuku." ucap Baotu sambil tersenyum. Matanya menyiratkan berjuta nostalgia yang belum juga pudar walaupun waktu telah berlalu lebih dari sepuluh juta tahun. "Apakah kau suka?" tanya Baotu. Hanna mengangguk kuat-kuat.
"Deal!" pekik Hanna girang. Ia langsung berlari masuk ke dalam pelukan Baotu dan memeluk ayah angkatnya itu erat-erat, membuat Baotu tertawa geli.
Suara Huolan yang menginformasikan bahwa sedang ada panggilan Video dari Baozhu menghentikan obrolan mereka. Bermaksud mengejutkan ibunya, Hanna mendorong ayahnya untuk segera menerima panggilan video tersebut, sementara ia sendiri menunggu di sisi yang tidak terlihat kamera. Ketika Baotu memberitahu Huolan bahwa ia akan menerima panggilan tersebut, sebuah lubang berbentuk kotak yang terbagi menjadi 4 bagian muncul di hadapan Baotu dan Hanna. 4 bagian itu kemudian terpisah ke 4 penjuru dan dari dalamnya muncul sebuah meja dan sebuah kursi berwarna putih yang trendy. Baotu kemudian duduk di kursi tersebut. Di bagian meja menyembul sebuah proyektor mini berbentuk setengah bola. Bagian atasnya yang bundar tampak berkedip sesaat, kemudian sisi seberang meja yang tadinya kosong, kini terdapat sebuah kursi yang identik dengan kursi yang diduduki Baotu, dengan Baozhu duduk diatasnya. Ini adalah hologram dengan visual yang nyaris menyerupai aslinya, sehingga seolah-olah Baozhu benar-benar sedang ada disitu bersama mereka berdua. Dari sisi tempat Hanna berdiri, Baotu dan Baozhu tampak sedang duduk berhadapan di depan sebuah meja, dan bukannya terpisah jarak milyaran kilometer jauhnya.
Begitu melihat suaminya, Baozhu yang biasanya selalu anggun dan penuh karisma, tiba-tiba memasang wajah sedih. Air mata berurai dari kedua matanya dan wajahnya berkerut-kerut penuh kesedihan.
"Suamikuuuu!!!" rengeknya. Mengingatkan Baotu pada wajah merengek yang ditunjukan Hanna barusan, membuat Baotu mengalami kesulitan untuk menahan senyum. Sementara itu, di sisi yang tidak terlihat oleh kamera, Hanna terpana dengan mulut terbuka lebar. Ibu? Apakah kau benar-benar ibuku? Seumur hidupnya, Hanna belum pernah sekalipun melihat Baozhu menangis atau bahkan hanya sekedar kehilangan ketenangannya yang tampak telah mendarah daging dalam perilakunya. Namun kali ini Baozhu tampak tak memperdulikan semuanya kecuali untuk mencurahkan emosi dan rasa takutnya pada suaminya.
"Eh, mengapa belum-belum kau sudah menangis? Ada apa, istriku?" tanya Baotu, memandang geli pada wajah istrinya yang bersimbah air mata. Sudah sangat tua tapi mengapa Baozhu masih sangat menggemaskan? Pikir Baotu.
"Hanna... Dia... Dia... Huwaaaa...." Baozhu tampak tidak mampu meneruskan kata-katanya dan malah menangis semakin keras. Baotu yang sudah mengenal istrinya sejak masih sangat belia, sudah sangat terbiasa pada tangisan manjanya yang begitu dimulai, biasanya sulit dikendalikan. Namun Hanna yang tak pernah sekalipun melihat Ibunya menunjukkan sisi lemahnya yang memang eksklusif hanya untuk suaminya saja itu, menjadi terpaku dan tak mampu berkata-kata.
"Istriku, berhentilah dulu menangisnya dan ceritakan dengan jelas apa masalahnya. Setelah jelas, baru kau boleh menangis sepuasnya." ucap Baotu. Mendengar kata-kata Baotu, bibir Hanna berkedut. Ayaaaaah, mengapa kedengarannya kau sedang menggoda ibu daripada sedang mencoba menenangkannya? Tanya Hanna dalam hati.
Hologram Baozhu tampak berusaha mengendalikan diri. Untuk sesaat ia berusaha menarik nafas di antara isak tangisnya. Lalu setelah beberapa kali menarik nafas panjang, Baozhu berusaha berbicara,
"Hanna... dia... Dia... Mereka menemukannya... Tak sadarkan diri.... Hiks... Dan sampai sekarang... Hiks... Dia belum bangun juga. Huhuhu!!!" upaya Baozhu itu hanya bertahan selama beberapa detik sebelum dibuyarkan oleh emosi yang tidak terkendali.
*Suamiku, aku takut sekali! Huhuhu..." Baozhu menyandarkan kepalanya pada meja dan menangis keras. Baotu memandang ke arah Hanna dengan tatapan tidak berdaya. Memahami permintaan tanpa kata yang diucapkan oleh ayahnya, Hanna segera mendekat dan berdiri di belakang ayahnya.
"Ibu? Ibu? Ada apa, ibu? Berhentilah menangis dan beritahu Hanna kenapa ibu menangis." panggil Hanna. Suara Hanna tampaknya membuat Baozhu bingung dan langsung membuat tangisannya terhenti. Baozhu mengangkat kepalanya dan menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari putrinya.
"Hanna?" tanya Baozhu sambil mencari-cari. Tak terpikirkan olehnya untuk mencari Hanna di sisi suaminya yang masih duduk di tempatnya dengan tenang.
"Iya, Ibu. Aku ada disini. Cepat beritahu aku, mengapa ibu menangis?" tanya Hanna lagi. Menyadari arah suaranya, kali ini Baozhu memandang lurus ke arah Baotu. Matanya langsung terbuka lebar begitu melihat putri bungsunya sedang berdiri di belakang suaminya.
"Hanna! Apa yang sedang kau lakukan disana?" pekik Baozhu keras.
Copyright @FreyaCesare
Author Note:
Guys, mohon maaf karena saya telah melewatkan 1 hari kemarin tanpa update. Sudah beberapa hari ini saya sangat sibuk sehingga sangat sulit mencuri-curi waktu untuk bisa menulis. Mudah-mudahan besok saya bisa up dengan lancar. Kalau ternyata tidak, tolong maafkanlah lagi ya.
Selamat membaca.
Freya