Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Breaking Of The Heart



Hanna bermimpi. Ia bermimpi tentang Zorex dalam sosok manusianya dan Aspixia, ibunya. Ia tidak dapat melihat wajah mereka dan  juga sehingga ia tidak tahu bagaimana rupa mereka, tapi di dalam kepalanya ia tahu bahwa dua orang yang sedang bersamanya itu adalah Zorex dan Aspixia. Ia bermimpi sedang berada di pantai dan bermain air bersama keduanya di suatu pagi yang indah. Mereka saling menyerang dengan air satu sama lain. Tawa mereka memenuhi udara. Sesekali Zorex dan Aspixia menarik Hanna masuk ke dalam pelukan mereka, atau mengacak-acak rambutnya, atau berbicara padanya. Hanna dipenuhi rasa bahagia.


Pada suatu waktu, permainan mereka akhirnya terhenti dengan sendirinya karena ketiganya merasa kelelahan. Hanna membungkuk dan menyangga tubuhnya dengan meletakkan kedua tangan di atas lututnya sementara ia memperhatikan Zorex dan Aspixia berpelukan dan saling mengecup mesra di antara derai tawa mereka. Membuat Hanna ikut tertawa bersama mereka. Hanna merasa sangat bahagia melihat kebahagiaan kedua orangtuanya.


"Aku sangat bahagia." Pikir Hanna. Namun, segera setelah pikiran tersebut melintas di kepalanya, perlahan tawanya menghilang. Sedikit demi sedikit dunia di sekitarnya memudar dan berganti dengan gelapnya malam. Kedua orangtuanya menghilang, meninggalkan Hanna sendirian dalam kegelapan yang sangat kelam.


Hanna merasa kebahagiaan perlahan tapi pasti terangkat dari dadanya. Lalu ia mendengar suara benda beradu dari segala arah di sekelilingnya. Awalnya sayup-sayup, namun perlahan-lahan mulai menjadi nyaring, seolah-olah apapun yang menghasilkan suara tersebut sedang berjalan mendekatinya dari segala arah. Lalu tiba-tiba cahaya redup muncul di kejauhan, menyinari pemandangan di sekitar Hanna.


Ketika perlahan-lahan cahaya redup meningkat, mengusir pergi kegelapan yang tadinya menyelimuti, Hanna terhenyak karena shock. Di sekitarnya ia melihat orang-orang yang mengenakan baju besi saling beradu pedang. Ia berada di tengah-tengah Medan perang! Di dekat kakinya tubuh-tubuh tak bernyawa berserakan bagai sampah tak berguna. Hanna mulai terisak. Dadanya menjadi sesak dan ia kesulitan bernafas. Semakin lama isaknya menjadi semakin kencang saat ia terus memandang berkeliling ke sekelilingnya.  Tiba-tiba peramal wanita itu muncul di hadapannya. Wajah wanita itu tampak keji dan penuh kebencian.


"Pembunuh! Kau yang membunuh mereka semua! Kau seorang pembunuh!" Tudingnya pada Hanna. Hanna menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk menyangkalnya, namun kata-kata tak bisa keluar dari mulutnya. Hanna mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajah dan kepalanya dan ketika isaknya semakin keras, Hanna membungkukkan tubuhnya, kemudian berjongkok diatas kedua kakinya yang terasa begitu lemah. Ia mulai menangis sekeras-kerasnya.


***


Aspixia mengerutkan kening dengan khawatir melihat air mata mengalir dari sudut-sudut mata Hanna. Ia mengusap kepala Hanna selembut yang dimungkinkan oleh tangannya yang menyerupai cakar. Aspixia merasa ingin menangis juga namun matanya tetap kering. Apakah Naga tidak bisa menangis? Aspixia tidak mengetahui jawabnya. Ia hanya tahu bahwa dalam hatinya, tangisnya sudah menganak sungai.


Aspixia tidak pernah menyangka bahwa Hanna menanggung ramalan yang semengerikan itu. Bertanggung jawab atas kematian jutaan orang? Yang benar saja! Siapa yang bisa menanggung tudingan sekeji itu? Tidak Aspixia dan tentu saja tidak juga Hanna. Kakaknya yang lembut hati itu terlalu penyayang dan baik hati untuk bisa mengakibatkan bencana sebesar itu. Terkutuklah para peramal! Mereka menghancurkan hati orang dengan mengungkapkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aspixia merasa sedikit antipati pada Xiao Bao.


***


Ketika berita tentang Hanna sampai di telinga Zhouyou, ia sedang berada di Infirmary bersama Sirrian untuk membahas kondisi kesehatan Ashia dan calon bayi mereka. Hal ini membuat Zhouyou merasa ingin segera terbang menuju ke tempat Hanna berada, namun saat itu prioritas utama Zhouyou adalah sang Ratu dan Putra Mahkota, sehingga ia harus menahan dirinya.


Menjawab pertanyaan Baozhu, Zhouyou mengakui bahwa ia telah sempat mengungkapkan mengenai rencana pertunangan Hanna dengan Putra Mahkota pada beberapa orang menterinya dan telah memutuskan untuk mengumumkan pertunangan tersebut pada upacara pemberian nama setelah kelahiran bayinya. Namun Zhouyou tidak pernah mengumumkannya secara terbuka. Zhouyou kemudian menanyakan hal ini pada menteri-menterinya tersebut, namun tidak satupun dari mereka mengaku telah membicarakan masalah ini pada orang lain.


Zhouyou tidak yakin bahwa rencana pertunangan ini adalah penyebab dari kejadian yang menimpa Hanna, namun iapun tidak bisa menganulir kecurigaan Baozhu begitu saja tanpa bukti yang kuat. Karena itu Zhouyou memerintahkan kepada bawahannya untuk menyelidiki kebenarannya. Apabila benar seseorang mencoba menyakiti Hanna karena masalah pertunangan ini, maka orang itu harus siap untuk kehilangan kepalanya!


***


Untung saja kemampuannya tidak berhenti pada memanipulasi proses kimia dalam obat-obatan, namun juga memanipulasi prosesnya dalam tubuh manusia, sehingga dengan cepat ia berhasil melakukan detox pada tubuh Hanna. Sayangnya, walaupun seluruh obat-obatan sudah berhasil dikeluarkan dari dalam tubuh Hanna dan semua tanda-tanda vital gadis itu terlihat normal, namun setelah kembali tertidur selama hampir 16 jam, saat ini Hanna tidak juga kunjung bangun.


Rowena menggigiti bibirnya dengan cemas. Adonis yang melihat perilaku Rowena, mendekat dari samping dan mengulurkan tangan untuk menekan dagu Rowena guna menghentikan gerakan rahangnya. Rowena sampai tersentak karena terkejut.


"Hentikan!" perintah Adonis. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Rowena yang refleks bergerak menjauh.


"Kalau kau tidak berhenti menggigiti bibirmu, aku akan melakukannya untukmu!" Ancam Adonis. Mata Rowena langsung terbelalak lebar. Adonis mengigiti bibir Rowena? Adegan Adonis menunduk dan mencium serta menggigiti bibirnya langsung terbayang di benak Rowena dan membuat wajah gadis itu langsung merah membara. Merasa sangat malu, tanpa sadar Rowena meninggikan suaranya.


"Dasar mesum..." Namum belum sempat ia menyelesaikan makiannya, Adonis telah membekap mulut Rowena dengan telapak tangannya.


"Ssst! Jangan meninggikan suara di dekat Hanna! Kau akan mengganggu istirahatnya!" tegur Adonis. Senyum terkulum di sudut bibirnya saat matanya bertatapan dengan Rowena yang memicingkan mata kearahnya dengan kesal. Namun Rowena menurut. Ia menarik lepas tangan Adonis dari wajahnya dan kembali menghadap ke arah Hanna. Adonis menepuk-nepuk kepala Rowena sesaat dan kembali menegakkan tubuhnya. Bibirnya menyunggingkan senyum puas menyadari bahwa Rowena tak sepenuhnya imun dari pesonanya. Adonis yakin bahwa saat ini Rowena pasti sedang memaki-makinya di dalam hatinya.


Mereka telah memainkan permainan kucing dan tikus ini selama beberapa ratus tahun sekarang dan Adonis yakin Rowena mulai tersandung-sandung di banyak lubang. Sepertinya Rowena membutuhkan Sejumlah serangan penuh yang frontal sebelum bersedia mengakui ketertarikannya pada Adonis dan Adonis akan memastikan bahwa Rowena tidak akan bisa lari darinya, tak perduli seberapa lamapun waktu yang dibutuhkannya. Waktu adalah satu-satunya hal yang Adonis miliki tanpa batas. Ketika beberapa menit kemudian Rowena tanpa sadar kembali menggigiti bibirnya, Adonis hanya perlu untuk menepuk-nepuk kepalanya perlahan dan rahang Rowena langsung berhenti bergerak.


Aspixia yang sedang duduk diatas kursi goyang tidak jauh dari mereka dan melihat semua itu mendengus jijik. Ia merasa melihat seekor anjing sedang dilatih oleh tuannya dan otak remajanya tak mampu memprosesnya. Ia bersyukur bahwa kak Xiao Bao pujaan hatinya bukan pria jenis yang provokatif seperti Adonis atau Aspixia akan mengurung diri dalam gua tersembunyi dan tidak akan keluar selamanya. Lagipula Xiao Bao tidak akan mengambil kesempatan untuk bermesraan di depan putrinya yang sedang sakit, dasar Adonis mesum! Maki Aspixia dalam hati.


Di atas tempat tidur, Hanna mulai bergerak-gerak dengan gelisah.


Copyright @FreyaCesare