
Seminggu berlalu dengan damai. Hari-hari Hanna dihabiskan dengan belajar dibawah bimbingan Sirrian dan Adonis, dan berlatih bela diri, dibawah bimbingan Tarli dan Jendral Bao Chen Yang. Seisi kuil sedang menantikan saat kelahiran adik Ashia. Prospek akan adanya seorang bayi mungil untuk dimanjakan membuat atmosfer kuil menjadi lebih ceria. Namun selama seminggu, Hanna tidak mendengar kabar dari Bao Zhouyou dan hal itu sedikit membuatnya sedih. Hanna merindukannya dan Hanna juga ingin melihat hubungan antara Zhouyou dan Ashia membaik, tapi Xiao Bao selalu mengingatkannya untuk bersabar.
Malam itu entah mengapa, Hanna terbangun dari tidur dan tidak bisa kembali memejamkan mata. Ia memandang iri pada Ashia yang terlelap tak bergerak disebelahnya. Hanna merasa sangat lelah tapi tubuhnya menolak bekerja sama. Menarik nafas panjang, Hanna bangkit dari ranjang dan berjalan menuju pintu untuk mencari ibunya. Saat ia membuka pintu, Hanna dikejutkan oleh seekor kucing yang duduk diam di depan pintu, seolah sedang menunggunya.
Kucing tersebut berukuran 2 kali lebih besar dari ukuran kucing rumah pada umumnya. Bulu panjangnya yang seputih salju, tampak sangat tebal dan membuat kucing tersebut terlihat begitu menggemaskan di mata Hanna. Matanya berwarna biru terang dan hidungnya berwarna pink. Terdapat sebuah benda yang terlihat seperti permata berwarna merah dan berbentuk oval di keningnya. Saat itu si kucing mendongak dan menatap Hanna dengan matanya yang besar. Hanna membungkuk agar bisa melihat dengan lebih jelas, dan bicara pada si kucing dengan cara yang diajarkan oleh Spoutfire.
"Hallo. Kau siapa?" Tanya Hanna dalam hati. Sebuah suara maskulin terdengar dalam kepalanya.
"Apa kau Hanna?" Hanna mengangguk.
"Bagus. Kalau begitu ikut denganku!" Perintah si kucing. Kucing itu berbalik dan berjalan tenang menyusuri koridor. Hanna mengikutinya dengan tenang. Koridor tersebut membawa mereka ke teras belakang. Si kucing berbalik dan memandang Hanna.
"Buka pintunya." Perintahnya. Hanna membuka pintunya perlahan. Begitu pintu terbuka sedikit, si kucing langsung menyelinap keluar. Hanna mengikutinya. Udara dingin langsung menyergap Hanna ketika ia melewati pintu dan berjalan mengikuti si kucing. Mengabaikan rasa dinginnya, Hanna setengah berlari menyusul si kucing yang telah berada cukup jauh darinya. Si kucing membawa Hanna memasuki hutan yang gelap. Mereka terus berjalan selama 15 menit tanpa henti. Semakin memasuki hutan udara menjadi semakin dingin. Hanna mencoba menghangatkan dirinya dengan menggosok-gosok kulitnya dengan telapak tangan, namun upaya itu tak cukup untuk menghangatkannya.
Ia baru hendak bertanya kemana si kucing akan membawanya, ketika kucing tersebut tiba-tiba berhenti. Mereka berdiri di depan pintu sebuah gua. Kucing tersebut memasuki gua. Hanna memandang ekornya yang berkibar pelan ketika ia berjalan, merasa ragu untuk mengikutinya. Ruangan di dalam gua tampak begitu gelap dan ia bukan kucing yang bisa melihat dalam gelap. Namun melihat ekor si kucing hampir menghilang di telan kegelapan malam, Hanna tak memiliki pilihan lain selain berlari untuk mengejarnya.
Udara dalam gua sedikit lebih hangat dari pada di luar. Namun kegelapannya membutakan Hanna. Hanna berhenti berjalan ketika ia tidak lagi mampu melihat apapun. Tiba-tiba dalam kepalanya ia mendengar sebuah suara kekanakan.
"Hanna?"
"Spoutfire? Apa itu kau?"
"Iya."
"Kau ada dimana? Aku tidak bisa melihat apapun." Hanna mendengar suara-suara seperti kayu dilemparkan, tak lama kemudian sebuah cahaya muncul sekejap dari sebuah tempat di depan Hanna, yang bergerak cepat menuju lantai yang berada sekitar 5 meter jauhnya dari asal cahaya. Lalu sebuah api unggun muncul di tempat dimana cahaya tersebut berhenti. Ruangan yang tadinya gelap gulita sekarang menjadi terang.
Di hadapan Hanna, Spoutfire berdiri di atas keempat kakinya, sementara itu disekitarnya, berbagai chimera dalam berbagai bentuk, warna dan ukuran mengisi sekeliling dinding gua. Namun yang menarik perhatian Hanna adalah Chimera dewasa yang terbaring di lantai gua, di belakang Spoutfire.
"Spoutfire, ada apa dengan ibumu?" Hanna langsung mendekatinya agar dapat melihat lebih jelas. Induk Spoutfire tampak sedang tertidur nyenyak. Namun seluruh tubuhnya sangat dingin. Tidak seperti saat terakhir kali Hanna menyentuhnya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan ibu. Aku sudah mencoba membangunkannya berkali-kali, tapi ia tidak bangun juga." Sahut Spoutfire setengah terisak. Rasa khawatir menguasai Hanna. Ia menempelkan tangan ke tubuh induk Spoutfire, mencoba mengira-ngira dimana jantungnya berada. Saat tangan Hanna bergerak ke bawah kaki kanannya, Hanna menemukan detak pelan. Induk Spoutfire masih hidup, tapi detaknya sangat lemah. Hanna mencoba mencari-cari luka di seluruh tubuhnya, namun tidak menemukannya.
"Spoutfire, aku akan kembali ke kuil dan membawa dokter untuk ibumu. Boleh kan?" Spoutfire mengangguk. Hanna langsung berlari keluar gua. Tak lama kemudian suara sayap mengepak terdengar di atas kepalanya. Hanna mendongak dan menemukan seekor chimera berbentuk burung yang sangat jelek, terbang di atas kepalanya.
"Aku akan menunjukan jalannya agar kau tidak tersesat." suara si burung terdengar dalam kepalanya. Hanna mengangguk penuh syukur dan berlari mengikuti si burung. Karena ditempuh dengan berlari, perjalanan tersebut tidak makan waktu lama. Hanna langsung berlari memasuki kuil sementara si chimera menunggu di luar sambil bertengger di kursi teras. Hanna berlari sekencang mungkin ke infirmary. Namun karena tidak menemukan siapapun disana, Hanna berlari ke kamar Sirrian. Pintu Kamar Sirrian tidak terkunci dan pria itu sedang duduk membaca di meja kerjanya. Saat Hanna menerobos masuk, Sirrian mengangkat wajah dari buku yang sedang dibacanya. Keningnya langsung berkerut melihat Hanna yang wajahnya memerah karena habis berlari.
"Spoutfire! Ibunya sedang sakit! Tolonglah dia, kak Sirrian!" Kata Hanna panik, disela-sela nafasnya yang tersengal-sengal. Sirrian langsung bangkit dari duduknya.
"Dimana?"
"Di gua dalam hutan."
"Kau..." Sirrian hampir mengomel tapi ia menahan diri. Sebagai seorang dokter, Sirrian memahami bahwa ada hal yang lebih mendesak dari pada memberitahu Hanna tentang bahayanya pergi ke Hutan sendirian di tengah malam.
"Apakah jauh dari sini?" Tanya Sirrian. Tangannya sibuk mengumpulkan barang-barang yang ia butuhkan ke dalam tas kerjanya
"Sedikit."
"Ambil jaketmu." Suruh Sirrian. Tapi kemudian ia berubah pikiran dan mengulurkan jaketnya sendiri pada Hanna. "Tidak. Pakai ini saja." dengan patuh Hanna menerima jaket tersebut dan memakainya. Jaketnya sangat besar dan mencapai betis Hanna. Dengan fisik yang masih menyerupai anak berusia 10 tahun, jaket pendek Sirrian terlihat seperti jaket panjang pada tubuh Hanna. Dengan susah payah Hanna berusaha mengeluarkan tangannya dari dalam tangan jaket yang kepanjangan baginya. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan.
Sirrian mengambil jaket lain yang tergantung di coat hanger dan memerintahkan Tucson, AI pribadinya untuk membangunkan Tarli. Suara Tarli mengerang kesal di ikuti dengan geraman yang terdengar seperti,
"Apa?"
"Bangunlah! Hanna membutuhkanmu." Perintah Sirrian. 1 menit kemudian Tarli sudah berdiri di depan pintu kamar Sirrian. Rambut ikal panjangnya terurai dan sedikit berantakan, namun wajahnya tampak waspada.
"Ada apa?"
"Tolong antarkan kami ke dalam hutan. Hanna, apa kau ingat jalannya?" Tanya Sirrian.
"Ada chimera yang akan memandu kita di luar." Jawab Hanna. Sirrian langsung berjalan cepat keluar kuil, diikuti oleh Hanna dan Tarli. Begitu sampai di teras, Tarli segera berubah ke wujud aslinya. Sirrian memeluk pinggang Hanna dan membawanya melompat naik ke punggung Tarli. Setelahnya Tarli langsung melesat mengikuti seekor burung yang sudah menunggu mereka.
Chimera yang satu ini sungguh aneh. Pikir Tarli. Ia tampak seperti seekor burung dan berperilaku seperti seekor burung, namun bagian tubuhnya yang memiliki bulu hanyalah sayapnya saja. Mata, paruh dan cakarnya berwarna hitam pekat. Bulu tebal di sayapnya berwarna biru, sementara sekujur tubuhnya yang tidak berbulu berwarna merah. Sebuah permata berbentuk oval berwarna biru tertanam di tenggorokannya. Paruh hitamnya tampak terlalu kecil dan pendek di wajahnya. Walau tidak berbulu, ia terbang dengan cepat.
Tak sampai 5 menit mereka sudah sampai di pintu gua. Sirrian dan Hanna segera turun dari punggung Tarli dan bergegas memasuki gua, sementara Tarli yang kembali menjadi seorang wanita, mengikuti di belakang mereka.
Copyright @FreyaCesare