Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Sang Pangeran



Tapi sebenarnya Hanna tak lagi perlu menunggu lebih lama lagi. Setelah 10.000 tahun tanpa kabar berita, suatu hari Dokter Istana memberitahu bahwa Ashia sedang mengandung. Kabar itu datang ketika Zhouyou sedang berada laboratorium dan mencoba baju terbang teknologi terbaru yang sedang diuji cobakan. Ia sedang asyik belajar bermanuver di langit-langit lab ketika Sima memberitahu bahwa sang Ratu ingin bicara dengannya. Berpikir bahwa ia ingin sekalian memamerkan mainan terbarunya pada Aisha, Zhouyou membuka transmisi video dari atas ketinggian.


"Hallo, sayang. Ada apa?" Tanyanya, ketika wajah cantik sang istri muncul dalam bentuk hologram di depannya.


"Kau dimana?" Tanya Ashia.


"Di Lab. Aku sedang mencoba Flying Suit terbaru kita. Coba lihat!" Dengan jumawa, Zhouyou meliuk-liukkan diri dalam sebuah putaran dan belokan tajam.


"Berhenti!" perintah Ashia sambil menutup mata dan memijat keningnya. "Kau membuatku pusing." Zhouyou langsung menghentikan aksinya dan membiarkan dirinya mengambang diam di tengah-tengah ruangan. Sudah beberapa hari ini Aisha mengeluh tidak enak badan dan ia sudah meminta para Dokter istana untuk memeriksanya.


"Apakah kau sudah diperiksa Dokter?" Tanya Zhouyou khawatir.


"Sudah."


"Lalu apa hasilnya?"


"Dokter bilang aku baik-baik saja."


"Baik-baik saja? Tapi bagaimana dengan pusingmu? perutmu yang selalu terasa tidak nyaman? Tubuhmu yang selalu kelelahan? Itu kan merupakan petunjuk kalau ada masalah di tubuhmu?" Sanggah Zhouyou.


"Benar. Memang ada masalah, tapi bukan karena aku sakit."


"Lalu?"


"Karena aku hamil!" Pekik Ashia tiba-tiba. Zhouyou yang terkejut langsung kehilangan keseimbangan dan meluncur cepat ke lantai diiringi pekikan ketakutan Ashia. Tepat 2 meter sebelum ia menghantam lantai, Zhouyou berhasil mengendalikan dirinya kembali dan memperlambat laju jatuhnya. Ia mendarat dengan anggun di lantai.


"Bao Zhouyou! Aku melarangmu menggunakan mesin terkutuk itu lagi!" Amuk Ashia. Suaranya menggelegar memenuhi Lab, membuat para ilmuwan yang sedang melakukan pengetesan bersama Zhouyou saat itu menutup kuping mereka dengan kedua tangannya. Namun respon Zhouyou hanya tersenyum geli dan mulai melepaskan flying suitnya dibantu oleh beberapa ilmuwan.


"Baiklah. Baiklah. Aku hanya terkejut saja tadi. Jadi kau hamil? Apakah Dokternya yakin?" Tanya Zhouyou. Anggukan Ashia membuat Zhouyou tertawa bahagia. Melihat Raja mereka tertawa bahagia, para Ilmuwan yang ada di tempat itu ikut tertawa bersamanya.


"Selamat, Yang Mulia!" Ucap mereka, turut bersuka cita.


"Terimakasih! Terimakasih! Pekerjaan kalian hebat! Aku menyukainya!" Puji Zhouyou yang dibalas dengan senyum senang oleh para Ilmuwan. "Bonus sebulan gaji untuk kalian!" yang langsung disambut oleh gemuruh tepukan  dan pekikan riuh. Zhouyou kemudian berjalan cepat meninggalkan Lab, diikuti oleh Asistennya.


"Ling Zhen, batalkan semua kegiatan hari ini!" Perintah Zhouyou. Wajah Ling Zhen langsung memucat. Zhouyou memiliki sebuah janji temu kenegaraan dengan Duta Besar dari Federasi Antar Planet sore itu.


"Tapi Yang Mulia..." Ling Zhen mencoba membantah, namun Zhouyou hanya mengibaskan tangannya.


"Lakukan seperti yang diperintahkan!" Tegasnya, sebelum tubuhnya menghilang dalam lift yang akan membawanya langsung menuju ke condominium pribadinya untuk mendatangi istri tercintanya. Meninggalkan Ling Zhen yang terpaku tidak berdaya di depan Lift dengan wajah pucat pasi.


Begitu mencapai Condominiumnya, Zhouyou menemukan Ashia sedang duduk dengan nyaman di Sofa sambil memegang segelas susu. Zhouyou langsung mendekat, mengambil gelas itu dari tangan istrinya dan meletakkannya di atas meja, lalu langsung ikut duduk di sisi Ashia dan menarik istrinya dalam pelukan eratnya. Ashia terkekeh menanggapi perilaku suaminya. 5 menit kemudian Zhouyou melonggarkan pelukannya dan mulai menciumi Ashia. Ia mencium kupingnya, pipinya, keningnya, kedua matanya, hidungnya, dagunya lalu bibirnya dengan kecupan yang cepat namun kuat, sebelum kemudian mendekapnya kembali. Lagi-lagi Ashia menerima perlakuan tersebut sambil terkekeh.


Setelah beberapa saat, Zhouyou akhirnya melepaskan dekapannya dan memandang Ashia lekat-lekat.


"Apa kau benar-benar hamil?" Tanyanya. Ashia mengangguk.


"Apa jenis kelaminnya?"


"Terlalu cepat untuk mengetahui hal itu karena usia kandunganku baru 2 Minggu."


"Ah." Zhouyou memandang perut ramping Ashia dan tersenyum. "Tapi aku yakin bahwa dia adalah seorang pangeran." ucapnya sambil tersenyum.


"Bagaimana kalau yang lahir adalah seorang putri?" Tanya Ashia.


"Kalau begitu, kita akan segera hamil lagi."


"Aku yang akan hamil lagi! Walaupun aku akan sangat bahagia apabila kali berikutnya engkau yang hamil." Senyum Ashia. "Tapi bagaimana kalau aku hanya bisa hamil sekali ini saja? Apakah seorang putri tidak bisa mewarisi tahtamu?"


"Tentu saja seorang putri bisa mewarisi tahtaku. Tapi Xiao Bao sudah meramalkan bahwa kita akan memiliki seorang pangeran yang berjodoh dengan Hanna."


"Berjodoh dengan Hanna?" Sekian lama menikah dengan Zhouyou, baru kali ini ia mendengar mengenai masalah ini. Zhouyou mengangguk.


"sekitar 10.000 tahun yang lalu, sebelum kepulanganmu dari Federasi, Xiao Bao pernah mengatakan bahwa ia melihat Hanna bergandengan tangan dengan putra kita yang dalam sebuah acara penobatan keduanya menjadi Raja dan Ratu Langit yang berikutnya."


"Apa kau tidak suka bila Hanna jadi menantu kita?"


"Kau bercanda ya? Itu akan sangat sempurna!" Ashia tersenyum bahagia, membuat Zhouyou turut tersenyum bersamanya.


Berita mengenai kehamilan Ashia diterima Kuil Langit dengan penuh suka cita. Tapi suka cita penghuni Kuil Langit mungkin tidak sebanding dengan kebahagiaan yang dirasakan Hanna. Ia melompat-lompat girang layaknya Raagh saat memperoleh makanan kesukaannya. Ia langsung bersimpuh dan berdoa pada Tuhan, meminta agar bayi yang akan lahir adalah seorang Pangeran agar ia dapat segera meninggalkan Kuil Bunga untuk menjadi istrinya. Rasanya aneh bila berpikir bahwa janinnya bahkan masih berusia 2 Minggu, namun Hanna sudah berpikir untuk menikahinya. Namun berhubung pernikahan ini sudah diramalkan sejak 10.000 tahun yang lalu, Hanna merasa bahwa doanya cukup pantas untuk diucapkan. Setelah berdoa, Hanna berlari mencari Lady Peony untuk minta diajari caranya membuat bayi bahagia.


"Cara membuat bayi bahagia? Itu mudah." Sahut Lady Peony sambil tangannya sibuk memisah-misahkan biji bunga matahari dari dalam tampah yang besar ke 2 wadah yang lebih kecil.


"Benarkah? Bagaimana caranya?" kejar Hanna.


"Kau hanya perlu memberinya susu yang cukup, mengganti pakaian kotornya dan membiarkannya tidur dengan tenang. Lalu memeluknya ketika ia menginginkannya."


"Begitu saja?"


"Begitu saja? Tapi itu tidak mudah lho! Seorang bayi kecil belum mampu melakukan apapun dan tidak bisa berbicara. Ia bergantung sepenuhnya pada pengasuhnya. Pengasuhnya harus tahu kapan ia perlu makan, kapan ia perlu tidur, kapan ia harus berganti pakaian dan sejenisnya. Bayi bisa menangis hampir sepanjang hari dan perlu terus-menerus didampingi. Belum lagi ketika ia sakit. Pokoknya benar-benar melelahkan." Kata-kata Lady Peony membuat Hanna tercenung.


"Begitu ya." ucapnya setengah melamun.


"Tapi mengapa kau bertanya tentang hal ini, Hanna? Memang bayi siapa yang ingin kau bahagiakan?" Tanya Lady Dahlia yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Hanna. Hanna menoleh padanya dan tersenyum dengan gembira. Senyumnya membuat matahari seolah-olah terbit di wajahnya, begitu mempesona dan membuat semua orang yang melihatnya turut tersenyum bersamanya.


"Bayi pangeran milik paman Zhouyou!" Sahutnya.


"Bayi pangeran? Bukannya belum ada seorangpun yang mengetahui jenis kelamin bayi yang akan lahir itu?" Tanya Lady Dahlia.


"Tapi kak Xiao Bao sudah meramalkan bahwa paman Zhouyou akan mempunyai bayi laki-laki yang kelak akan menjadi suamiku!" Debat Hanna. Lady Dahlia dan Lady Peony langsung tersenyum geli.


"Belum tentu pangeran itu akan datang pada kelahiran yang ini. Bisa saja kan, bahwa dia baru akan lahir sebagai anak kedua Baginda Raja." bantah Lady Peony.


"Atau anak ketiga." Lady Dahlia menambahkan.


"Eeeeh, kalau begitu berapa lama lagi aku harus menunggu?"


"Hmmm... coba kita hitung," Ucap Lady Dahlia. "untuk memperoleh anak pertamanya, Baginda Raja perlu menunggu selama 10.000 tahun. Itu berarti kemungkinan kau harus menunggu sekitar 10.000 atau 20.000 tahun lagi."


"Selama itu?" Rengek Hanna tak percaya.  "Tidak! Tidak! aku tidak mau menunggu selama itu!" Tolak Hanna, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Lady Peony dan Lady Dahlia tersenyum geli melihatnya.


"Walaupun benar bayi yang akan lahir sekarang adalah sang pangeran yang kau tunggu, tapi sebaiknya kau tidak berada disampingnya sebelum ia dewasa." Kata Lady Peony.


"Kenapa?" Tanya Hanna heran.


"Kau sudah dewasa. Bagi seorang anak kecil, semua wanita dewasa yang ada disekitarnya, apalagi yang merawatnya hanya terdiri dari 3 kategori."


"Apa itu?" kejar Hanna. Lady Peony mengangkat tangannya dan mulai menghitung menggunakan jarinya.


"1. Ibunya, 2. Bibinya dan 3. Kakaknya. Ia tidak akan pernah mau menikahi ketiga jenis wanita ini. Mana ada pria yang akan jatuh cinta pada wanita yang menggantikan popoknya atau memberikannya botol susu saat masih bayi. Itu akan membuatnya geli."


"Begitukah? Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Hanna memelas.


"Kau tinggallah dengan tenang disini sampai sang pangeran dewasa dan datang sendiri untuk menjemputmu." Jawab Lady Dahlia.


"Tapi itu kan memerlukan setidaknya sekitar...." Hanna tak sanggup melanjutkan. Sehingga Lady Dahlialah yang kemudian melanjutkan kata-katanya.


"10.000 tahun lagi." Ucap Lady Dahlia tanpa basa-basi. Mendengarnya membuat tubuh Hanna langsung terasa lemas. Tanpa kata-kata, ia berdiri dan berjalan gontai meninggal bibi-bibinya tersebut. Melihat tingkahnya, walaupun merasa iba, tak urung Lady Peony dan Lady Dahlia tersenyum geli.


"Kakak, kapan Hanna kita akan menjadi dewasa?" Tanya Lady Peony.


"Mungkin tak akan pernah." Sahut Lady Dahlia sambil melemparkan sebuah biji bunga matahari ke dalam mulutnya.


Copyright @FreyaCesare