
Hari itu telah memasuki bulan ke 8 kehamilan Ashia. Zhouyou memutuskan untuk menghubungi Hanna secara langsung dan memintanya untuk segera berangkat ke Istana Langit, setelah Baozhu memberikan ijinnya.
"Aku sudah menyiapkan kamar terbaik untukmu, Baby. Salah satu Paviliun dalam Istana telah di renovasi untuk menjadi tempat kediamanmu sehingga kalau kau mau pindah ke Istana mulai hari ini juga, semuanya sudah siap untuk menyambutmu." Ucap Zhouyou dari balik kamera, membuat Hanna tersenyum geli. Sirrian sudah memastikan bahwa jenis kelamin sang jabang bayi adalah laki-laki sehingga pertunangannya dengan Hanna sudah bisa dipastikan. Walaupun Lady Dahlia telah mengatakan adalah tidak baik bagi Hanna untuk terlibat dalam perawatan sang pangeran karena takut perasaan sebagai pengasuh akan menghancurkan kesempatan bagi rasa cinta muncul di antara keduanya, tapi Zhouyou tidak sependapat. Ia ingin Hanna segera menjadi bagian dari kehidupan putranya secepat mungkin, agar apabila efek samping yang diungkapkan Zorex muncul, Hanna ada disana untuk mendampinginya. Itulah sebabnya Zhouyou sudah mempersiapkan tempat tinggal Hanna sejak jauh-jauh hari. Dan hari ini ia meminta Hanna untuk segera memenuhi harapannya.
Tentu saja Klan Bunga tidak mampu menolak titah sang Raja Langit. Walau mereka merasa berat dan khawatir untuk melepas Hanna, mereka tahu bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghalangi kepergian Hanna dari Pulau Bunga. Karena itu walaupun dengan berat hati, Lady Dahlia memberikan ijinnya dan memerintahkan untuk mempersiapkan semua yang diperlukan bagi kepindahan sang Dewi Bunga ke istana. Beberapa pelayan pribadi dari pulau bunga dikirimkan terlebih dahulu untuk bisa mempersiapkan paviliun yang akan di tempati oleh Hanna.
Di tempat lain, di salah satu Paviliun luar Istana Langit, 2 orang wanita sedang duduk di beranda sambil minum teh. Wanita yang mengenakan gaun tradisional Qu yang berwarna pink dengan gambar bunga-bunga Cherry memenuhi sebelah pinggangnya, adalah salah satu cicit Xuming, mertua Bao Yuan, yang bernama Zhao Xuying. Ia adalah seorang wanita yang cantik dan anggun, dengan rambut berwarna pirang yang di tata rapi di atas kepalanya. Zhao Xuying berpembawaan lemah lembut dan bermartabat. Sedangkan yang duduk di hadapannya adalah Ibu kandungnya, Xuli, Kakak Kandung ibu suri Xu Menglun. Keduanya tidak memiliki hubungan langsung dengan keluarga kerajaan, kecuali dengan Xu Menglun. Xuli adalah seorang janda yang berpisah dengan suaminya karena suaminya tidak menyukai kehidupan di Sirria yang tidak memberinya posisi yang menguntungkan dalam pemerintahan.
Saat menyaksikan kehancuran Qu dengan mata kepalanya sendiri, tidak ingin mengikuti Baotu, Xuming memutuskan untuk membawa keluarganya tinggal di Federasi Antar Bangsa. Hal ini terutama disebabkan karena ia tidak ingin istri dan anaknya merasakan penderitaan hidup sebagai pionir. Ia baru menerima ajakan Baotu untuk pindah ke Sirria tepat 1 juta tahun setelah Sirria berubah menjadi planet yang layak untuk didiami manusia.
Selama tinggal di Sirria, Xuming memutuskan untuk tidak ikut campur dengan urusan kenegaraan dan hanya menjadi warga biasa di Negeri Langit. Lamaran dari baginda raja saat itu, Bao Yang, terhadap Xu Menglun untuk sang pangeran Bao Yuan, adalah sebuah kejutan yang luar biasa bagi Xuming. Pernikahan ini kemudian membawa banyak kemakmuran dan kemudahan bagi keluarga Xu. Tak sampai 100 tahun kemudian, keluarga Xu sudah menjadi salah satu keluarga terpandang yang terkenal di segala penjuru kuil langit, sejajar dengan keluarga Liang yang merupakan keluarga dari permaisurinya Bao Yang. Kejayaan mereka membuat anak-anak keluarga Xu hidup dengan mudah dan nyaman.
Namun bagi anak-anak yang tidak memahami beratnya kehidupan masa lalu bangsa Qu, rupanya bagi mereka, sekadar mudah dan nyaman tidaklah cukup. Xuli contohnya, ia selalu merasa tidak puas karena walaupun berbesanan dengan keluarga kerajaan, keluarganya hanyalah keluarga dari kalangan masyarakat biasa.
Gelar bangsawan hanya dimiliki oleh keturunan langsung keluarga Bao yang patriakal atau anak-anak angkat Baozu yang dikenal sebagai anak-anak yang terlahir dari ketiadaan. Gelar dewa atau Dewi hanya dimiliki oleh anak-anak Baozhu. Jabatan penting di pemerintahan hanya dipegang oleh keturunan langsung keluarga Bao. Mereka yang tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Bao atau bukan anak angkat Baozhu harus puas dengan jabatan kecil dan selamanya harus puas menjadi bawahan keluarga Bao. Hal ini dirasa Xuli sangat merendahkan. Padahal di masa kejayaan planet Qu, keluarga Xu memegang peranan penting dalam pemerintahan, jauh bila dibandingkan keluarga Bao yang waktu itu hanya berasal dari golongan ilmuwan dan penjelajah semesta biasa serta tidak terlibat dalam hiruk pikuknya perebutan kekuasaan di Qu. Keadaan ini sungguh membuat Xuli merasa tidak puas.
Saat Xu Menglun masuk ke dalam keluarga Bao dan menjabat sebagai wanita kedua paling berkuasa di seluruh planet pada waktu itu setelah Yang Agung, Baozhu, Xuli mengatur strategi agar dirinya dapat menggunakan kekuasaan yang dimiliki adiknya untuk melancarkan ambisinya menjadi salah satu wanita paling terhormat dan berkuasa di Sirria.
Namun Xuli masih belum berputus asa. Ia kemudian membesarkan Xuying dengan sangat hati-hati, memberinya berbagai keahlian seorang putri sekaligus seorang wanita, agar kelak Xuying bisa memikat hati Putra Mahkota Zhouyou. Siapa sangka bahwa dibandingkan putrinya yang luar biasa anggun dan terlihat lebih putri dan putri istana yang sesungguhnya, Putra Mahkota Zhouyou lebih memilih sepupunya yang liar dan memiliki temperamen seperti seorang pria. Sungguh wanita yang tidak pantas menjadi seorang Ratu! Tetap saja, gagal menarik hati Putra Mahkota Zhouyou, sekarang target Xuli adalah calon Putra Mahkota yang akan segera lahir.
Bagi bangsa yang memiliki umur sangat panjang seperti bangsa Qu, pernikahan berbeda generasi bukanlah hal yang aneh, terutama karena begitu bangsa Qu mencapai usia dewasa, penampilan mereka tidak akan banyak mengalami perubahan sampai berjuta-juta tahun kemudian. Karena itu mengincar pernikahan dengan Putra Mahkota yang baru akan dilahirkan untuk putrinya yang berasal dari generasi yang sama dengan ayah si putra mahkota, bukannya tidak mungkin.
Berhubung telah 2 kali mengalami kegagalan untuk mencapai tujuannya, kali ini Xuli memutuskan bahwa ia akan mempersiapkan rencananya dengan lebih detail lagi agar kegagalan tidak terjadi kembali. Sayangnya, berbarengan dengan pengumuman akan jenis kelamin bayi dalam kandungan sang Ratu, gosip mengenai adanya pertunangan sang jabang bayi dan Dewi Bunga yang telah diatur 10.000 tahun sebelumnya, menyebar ke seluruh penjuru Pulau Lata. Xuli meradang. Beraninya gadis rendahan yang tidak jelas asal-usulnya mencoba menguasai posisi yang seharusnya menjadi milik putriku! pikir Xuli. Sekarang, memandang putrinya yang sedang menyiapkan Teh Bunga Peony dengan anggunnya di hadapannya, Xuli berpikir bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk melindungi posisi Xuying di sisi putra mahkota. Mengambil selembar kertas dan sebuah pena, Xuli lalu mulai menulis sebuah surat pendek diatas kertas tersebut. Setelah selesai menulis surat, ia memasukkan surat tersebut ke dalam amplop.
"Bibi Ma!" Panggilnya pada kepala pelayan yang begitu setia mendampinginya selama ini. Bibi Ma, seorang wanita bertubuh kurus dan berwajah tidak menarik, datang mendekat. Ia lalu membungkuk di hadapan Xuli dan bertanya,
"Saya, nyonya?" tanya bibi Ma. Xuli mengulurkan surat tersebut pada bibi Ma. "Serahkan ini pada Tang Soo." perintahnya. Bibi Ma mengangguk, lalu setelah membungkuk memberi hormat, ia meninggalkan ruangan. Xuying yang sejak tadi memperhatikan ibunya, bertanya.
"Mengapa kau menghubungi Tang Soo, Ibu?" Tanyanya. Suaranya yang manis terdengar bagaikan lonceng angin di telinga Xuli. Xuli memandang putrinya dengan penuh kebanggaan. Ia tersenyum manis dan berkata,
"Ia perlu melakukan sebuah pekerjaan untukku. Bukan hal yang penting, sayang." Xuying memandang ibunya dengan skeptis. Namun tak ingin mengejar lebih jauh, ia balas tersenyum. Dengan anggun ia menyodorkan segelas teh hangat pada ibunya yang disambut oleh ibunya dengan suka cita.
Copyright @FreyaCesare