
Tiba-tiba langkah Xiao Bao berhenti dan ia berbalik menghadang Zhouyou. Kedua tangannya terkepal kaku di sisi kiri dan kanan tubuhnya, serta matanya melotot garang.
"BERHENTI MENGIKUTI KAMI!" bentaknya.
Langkah Zhouyou langsung terhenti. Ia mengangkat kedua tangannya dengan telapak menghadap ke depan, mencoba menawarkan perdamaian.
"Whoa, Xiao Bao, tenanglah. Aku kan cuma ingin ngobrol dengan kalian."
Xiao Bao menarik Hanna untuk berlindung di balik punggungnya.
"DENGAR, menjauhlah dari adikku atau semua yang telah kau lakukan padaku akan kukembalikan padamu 10 KALI LIPAT!" Ancam Xiao Bao.
Hanna yang tak pernah sekalipun melihat Xiao Bao marah menjadi sangat terkejut. Sebaliknya Zhouyou merasa geli sekaligus iba. Kejahilannya dahulu pasti telah begitu menyusahkan Xiao Bao sehingga Xiao Bao sampai merasa perlu untuk melindungi Hanna darinya seperti itu.
"Ayolah Xiao Bao, itu kan sudah lama sekali terjadi. beberapa ratus tahun ini aku kan tak pernah lagi menjahilimu. Jadi tidak bisakah kau memaafkan aku dan melupakan semuanya?" Pinta Zhouyou. "Lagipula Hanna adalah seorang wanita. Mana tega aku menggodanya seperti itu."
Setelah sekali lagi menunjukan kemarahannya lewat tatapan garangnya, Xiao Bao kembali menarik tangan Hanna dan membawanya pergi. Zhouyou secara otomatis langsung mengikutinya kembali.
"Xiao Bao, bolehkan aku berbicara dengan Hanna?" tanya Zhouyou. Tapi Xiao Bao tidak menggubrisnya.
"Xiao Bao, kau kan tahu kalau aku tidak memiliki saudara satupun. Selama ini aku selalu menganggapmu sebagai adikku. Itulah sebabnya aku selalu menggodamu. Yah, waktu itu aku kan masih belum dewasa. Tapi sekarang sudah berbeda. Aku sudah tidak senakal dulu lagi, aku janji!" Bujuk Zhouyou lagi. Tapi Xiao Bao tetap saja berjalan cepat dengan setengah menyeret Hanna di belakangnya. Zhouyou yang enggan menyerah terus mengekori mereka memasuki koridor Kuil yang sepi.
"Ayolah, Xiao Bao. Ijinkan aku bicara dengan Hanna. Kau baru saja mengatakan bahwa Hanna akan menjadi menantuku. Aku yang tidak punya saudara satupun ini mendapatkan menantu bahkan ketika aku belum memiliki seorang putra? Waaah, itu sama saja aku baru memenangkan undian! Pria sepertiku mana bisa menolak seorang anak."
"Kalau kau menginginkan seorang anak, pergi sana dan buatlah sebanyak-banyaknya! Tidak ada yang akan menghalangimu!" Sahut Xiao Bao.
"Kenapa aku harus pergi dan membuatnya, padahal aku punya 1 disini?" tantang Zhouyou.
"Dia menantumu! Bukan putrimu! Pergi dan buat dulu suami untuknya baru kau bisa mengklaim Hanna sebagai milikmu!" Balas Xiao Bao.
"Menantu itu apa sih?" Tiba-tiba Hannah bertanya dengan polosnya. karena terkejut, langkah Xiao Bao langsung terhenti, dan Zhouyou pun ikut berhenti bersamanya.
"Kau tidak tahu artinya menantu?" Tanya Zhouyou.
"Dia berasal dari pulau bunga." Sahut Xiao Bao.
"Ah." Hal itu menjelaskan semuanya. Pulau bunga hanya dihuni oleh wanita. Mayoritas penghuninya tidak tertarik untuk menikah. Mereka yang memilih untuk menikah harus meninggalkan pulau bunga. Lagipula sudah 100 tahun ini pulau bunga menutup diri dari dunia luar. Eh, 100 tahun? Bukankah itu berarti semenjak Hanna muncul? Apa itu ada hubungannya dengan mengapa Hanna harus memakai cadar di wajahnya? Pikir Zhouyou.
Melihat kedua orang di hadapannya hanya berdiri diam sambil memandanginya, Hanna bertanya lagi.
"Menantu itu apa sih? Dan kakak, kau mengatakan bahwa paman ini akan menjadi mertuaku. Tapi mertua itu apa?" Pertanyaan gadis kecil itu membuat Zhouyou tersenyum. Tangannya terulur untuk mencubit pipi Hanna karena gemas, tapi Xiao Bao langsung menepisnya dengan cepat. Matanya kembali menyipit marah pada Zhouyou sehingga Zhouyou terpaksa mundur dan mengangkat kedua tangannya bertanda menyerah.
"Kakak, apa benar paman ini akan jadi mertuaku?" Ulang Hanna lagi.
"Kalau dewa peramal yang mengatakannya tentu saja itu benar." Ucap Zhouyou.
"Tapi mertua itu apa?" Tanya Hanna dengan polosnya.
"Mertua itu adalah... hmmm... begini; bila suatu hari nanti kau menikahi seorang pria, maka orangtua pria itu akan jadi orangtuamu juga. Ibunya akan jadi ibumu dan ayahnya akan jadi ayahmu juga. Tapi mereka disebut mertua; ayah mertua dan ibu mertua. Nah kalau menantu itu adalah sebutan dari orangtua untuk istri atau suami anaknya." ucap Zhouyou, mencoba menjelaskan. Penjelasannya tampaknya membuat Hanna tercenung. Matanya yang besar memandang Zhouyou dengan seksama.
"Paman akan jadi ayah mertuaku?" Tanyanya. Zhouyou mengangguk.
"Benar. Begitulah menurut ramalan Xiao Bao."
"Ayah mertua yang seperti ayahku sendiri?" Tanya Hanna lagi.
"Tentu saja." Zhouyou tersenyum lebar.
"Tapi aku tak punya ayah. Aku tak pernah tahu rasanya punya ayah." Hanna menunduk sedih, membuat Zhouyou merasa iba. Ia hampir saja lupa bahwa anak-anak seperti Hanna dan Xiao Bao, dengan tidak adanya Baotu dalam kehidupan mereka, tidak pernah memiliki figur ayah sebagai panutan.
"Sekarang kau punya." Zhouyou menepuk dadanya sambil tersenyum lebar. Di belakang Hanna, Xiao Bao mendengus. Zhouyou mengabaikannya.
"Ayahku?" Tanya Hanna lagi dengan suara lirih. Zhouyou mengangguk mengiyakan.
"Setelah menikahi anakmu, aku akan jadi putrimu?" Zhouyou mengangguk.
"Tapi memangnya paman punya putra?"
"Eeee... aku akan punya! Xiao Bao sudah memastikannya kan, jadi aku pasti akan punya." kilah Zhouyou.
"Jangan bawa-bawa aku!" Xiao Bao memperingatkan.
"Kapan?" Kejar Hanna lagi.
"Hmmm... entahlah. Sebelumnya aku harus mencarikan seorang ibu baginya terlebih dahulu." Zhouyou menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Mendengarnya, mata Hanna langsung terbelalak lebar. Dibalik cadarnya, mulutnya terbuka lebar.
"Eh? Mencarikan? Jadi paman belum menikah?" tanyanya.
"Apa aku terlihat seperti orang yang sudah menikah?"
"Usia paman sudah ratusan ribu tahun, mengapa paman tidak juga menikah?"
"Hmmm.... kenapa ya....???" Aku juga tak yakin pada jawabannya, pikir Zhouyou.
"Apa tidak ada yang mau padamu?" tanya Hanna dengan nada serius. Lagi-lagi Xiao Bao mendengus geli.
"Sayangku, Hanna, ayah mertuamu ini putra mahkota kerajaan langit. Wanita-wanita berbaris untuk mendaftar sebagai calon istriku. Tapi aku punya standar yang tinggi. Wanita biasa tak akan bisa membuatku menyukainya." Bantah Zhouyou cepat. "Hanya wanita istimewa sajalah yang layak menjadi istriku."
"Wanita istimewa menurutmu itu yang bagaimana sih?" Tanya Hanna lagi. Zhouyou menatapnya takjub.
"Aku tak percaya aku berdiskusi mengenai hal ini dengan seorang gadis kecil." ucapnya.
"Dan dengan mengenakan jubah mandi, di lobby Kuil Langit." tambah Xiao Bao dengan nada mengejek. Zhouyou meresponnya dengan mengangkat kedua bahunya. So what?
"Memangnya kenapa? Kan paman sendiri yang bilang bahwa apabila aku seorang Sirrian, aku pasti sudah jadi nenek-nenek. Oleh sebab itu aku cocok untuk diajak berbicara tentang apapun." Bantah Hanna.
"Tapi kau kan bukan seorang Sirrian." Zhouyou mengingatkan.
"Tentu saja bukan!" sahut Hanna.
"Kalau begitu jangan disamakan donk." dengan sengaja Zhouyou menggunakan kalimat yang sama yang diucapkan oleh Hanna saat mereka membahas mengenai masalah ini sebelumnya. Tapi saat mendengar jawaban itu, bukannya menyerah, Hanna malah menepuk dahinya keras.
"Paman, coba pikirkan, paman tahu berapa usiaku?"
"100."
"100."
"Walaupun wajah dan tubuhku masih anak-anak, tapi apakah aku tidak menempuh waktu hidup yang sama panjangnya dengan nenek-nenek Sirrian itu?"
"Benar."
"Bukankah Itu berarti pengalaman dan pengetahuanku tentang kehidupan juga sama banyaknya?" debatnya.
"Er, tentu saja tidak. Kau tidak pernah menikah dan memiliki anak." Sanggah Zhouyou.
"Apakah paman sudah menikah dan memiliki anak?" Tanya Hanna. Zhouyou menggeleng.
"Kalau begitu kau dan aku sama kan? Lalu mengapa kau tak boleh berdiskusi denganku mengenai masalah ini?" Debat Hanna lagi. Dibelakangnya Xiao Bao tergelak karena geli.
"Hmmmm... Lucu sekali. Mengapa aku tidak terpikirkan mengenai argumen ini sebelumnya ya?" komentar Bao Zhouyou masam.
"Tentu saja itu karena aku lebih cerdik darimu.'' ejek Hanna.
"Gadis nakal, kau sudah berani mengejek ayah mertuamu ya!" Protes Zhouyou, pura-pura marah. Suara tawa Hanna berderai riang. Zhouyou memandangnya dengan terpukau. Ia memang tidak dapat melihat wajah yang tersembunyi di balik cadar tipis itu, tapi suara tawanya yang indah, tutur katanya yang cerdas dan perilakunya yang manis membuat siapapun akan dengan mudah jatuh hati padanya.
"Gadis kecil, aku akan sabar menunggu saat ketika kau menikahi putraku dan tinggal bersamaku." Ucapnya sambil mengacak-acak rambut Hanna.
""Bagaimana perasaanmu? Apakah menjadi lebih baik?" Tanya Baozhu ketika Zhouyou menemuinya beberapa jam kemudian. Zhouyou mengangguk. Ia menyentuh sweater biru yang sedang dikerjakan neneknya. Sweater tersebut tampaknya telah selesai. Saat itu Baozhu sedang memotongi benang-benang lebih yang bergantungan dimana-mana.
"Ini warna kesukaanku. Nenek merajut untuk siapa?" Tanyanya.
"Untukmu." Jawab Baozhu sambil tersenyum. Setelah memotong benang lebih terakhir yang tersisa, ia mengulurkannya pada Zhouyou. "Kemarilah dan cobalah ini."
Dengan patuh Zhouyou membiarkan Baozhu memakaikan sweater tersebut padanya. Sweater tersebut terbuat dari bahan yang lembut dan terasa nyaman di kulit. Ukurannyapun sangat pas untuknya.
"Bagaimana? Apa kau menyukainya?" Tanya Baozhu. Zhouyou mengangguk. Ia memeluk Baozhu penuh rasa sayang.
"Terimakasih, nenek. Kau memang nenek terbaik dan tercantik di dunia." Pujinya. Baozhu mencubit pipinya pelan.
"Dasar perayu. Berapa banyak wanita yang sudah kau rayu dengan mulut manismu itu?"
"Aku kan bicara yang sebenarnya, nenek." rajuk Zhouyou.
"Ya ya. Kau sungguh mirip dengan ayahmu ketika ia masih muda; perayu dan luar biasa jahil." kenang Baozhu.
"Tidak mungkin! Ayahku yang kaku itu?" Bantah Zhouyou.
"Tunggulah sampai kau menjabat sebagai Raja langit selama 1 juta tahun. Kau pasti akan sama kakunya dengan dirinya."
"Hmmm... sulit untuk dibayangkan dan sungguh, aku enggan untuk membayangkannya." ujar Zhouyou. "Oh iya, Nenek, gadis kecil itu, Hanna, siapa dia?"
"Hanna? Dia dewi bunga yang baru." Sahut Baozhu.
"Mengapa wajahnya ditutupi dengan cadar?" Tanya Zhouyou.
"Tentu saja untuk melindunginya."
"Melindunginya? Melindunginya dari apa?"
Baozhu terdiam sesaat sebelum kemudian menjawab,
"Hanna diramalkan akan menjadi wanita tercantik yang pernah ada di planet ini."
"Wow." Zhouyou sudah membayangkan bahwa Hanna mungkin memiliki tanda lahir atau luka yang buruk di wajahnya, namun bukan itu. Wanita tercantik di planet ini? Dibuat saja belum, tapi anakku sudah memperoleh 1 skor keberuntungan. Luar biasa! Pikir Zhouyou.
"Dia juga diramalkan akan menjadi wanita yang paling berkuasa di planet ini." Lanjut Baozhu. Zhouyou mengangguk-angguk. Hanna akan menjadi Ratu Kerajaan Langit yang selanjutnya jadi tentu saja dia akan menjadi wanita yang paling berkuasa di Planet ini.
"Pria yang dinikahinya akan menjadi penyatu ketiga dunia." Ucap Baozhu lagi.
Satu-satunya masa ketika ketiga dunia bersatu adalah saat Baotu dan Baozhu masih duduk di singgasana Kerajaan Langit. Namun sepeninggal Baotu, Sirrian dan Tarli mulai mencoba untuk melepaskan diri sepenuhnya dari campur tangan Kerajaan Langit. Selain itu pertikaian di antara keduanya juga kerap terjadi. Baik kakeknya maupun ayahnya masih menaruh harapan positif bahwa Sirrian dan Tarli akan mampu menyelesaikan masalahnya di antara mereka sendiri, sehingga Negeri Langit tak perlu melibatkan diri. Namun Zhouyou berpikir bahwa saat ini pertikaian Sirrian dan Tarli sudah bagaikan magma gunung berapi yang menggelegak. Hanya perlu sedikit gempa saja maka magma tersebut akan mengalir keluar dan membawa kehancuran dimana-mana. Beri mereka 1 alasan untuk bertikai, maka perang mungkin tidak dapat dihindari. Seorang raja yang mampu menyatukan ketiga dunia? Putraku pasti adalah negarawan yang luar biasa.
"Bayangkan apabila ramalan ini diketahui dunia. Maka akan banyak orang yang datang untuk berusaha menikahi Hanna." Lanjut Baozhu. Pernyataan ini membuat kening Zhouyou berkerut bingung.
"Berusaha menikahi Hanna? Tapi bukankah Hanna akan menjadi menantuku? Bukankah Xiao Bao sudah meramalkannya?" Tanya Zhouyou.
"Sesungguhnya, ramalan tentang putramu hanyalah 1 dari 3 ramalan yang dilihat Xiao Bao, yang muncul tepat ketika kau menginjakkan kaki disini. Ramalan ini dapat berubah tergantung pada keputusan apa yang diambil oleh para pelakunya di masa depan. Jadi bukan takdir yang terukir di atas batu."
"1 dari 3 ramalan?"
"Benar. Ramalan kedua muncul ketika Xiao Bao berpapasan dengan Sirrian di koridor. Ia melihat seorang pemuda bermata gelap sedang memeluk Hanna dengan tangan yang penuh dengan noda darah."
"Ramalan ketiga muncul saat Tarli memeluk Xiao Bao tadi pagi. Ia melihat seekor Elang sedang terbang melintasi sungai Silver lalu berubah wujud menjadi seorang pria yang duduk di atas singgasana Kerajaan Langit, dengan Hanna duduk bersandar di kakinya dan para dewa mengenakan rantai di leher mereka."
"Apa...?" Zhouyou begitu tercengang sampai tak mampu melanjutkan kata-katanya. Tarli diatas singgasana Kerajaan Langit? Para dewa yang mengenakan rantai di leher? Yang benar saja!
'Satu-satunya ramalan dimana Hanna terlihat begitu bahagia adalah ketika ia berdiri bergandengan tangan dengan seorang pemuda di depan singgasana Kerajaan Langit, sementara kau berdiri di belakang mereka dan para dewa-dewi, Sirrian serta Tarli bersujud memberi hormat di hadapan mereka." Saat Baozhu menatap Zhouyou, Zhouyou bisa melihat kekhawatiran dalam mata neneknya. Neneknya yang selalu tenang dan tidak terpengaruh oleh masalah apapun, saat ini menunjukan perilaku yang tidak biasanya.
"Zhouyou, Inilah takdir yang kuharapkan akan terjadi. Yang diharapkan Xiao Bao untuk terjadi."
Darah seakan mengering dari kepala Zhaoyou saat mendengar penjelasan Baozhu. Pria yang menikahi Hanna akan menyatukan ketiga dunia? Putranya harus berkompetisi dengan Sirrian yang tangannya penuh noda darah dan Tarli yang dengan beraninya merampas dan memperbudak Kerajaan Langit? Sebuah pemikiran melintas di kepala Zhouyou. Pemikiran yang begitu mencengangkan dan enggan ia bayangkan.
"Apakah Itu sebabnya pulau bunga diisolasi dari dunia luar dan wajah Hanna harus ditutupi dengan cadar? Agar tak seorangpun berusaha untuk memilikinya setelah melihat wajahnya?" Tanya Zhouyou. Baozhu mengangguk.
Ragu sejenak, Zhouyou menahan bicaranya sebelum akhirnya bertanya,
"Nenek, apakah perang akan terjadi?"
Setelah menghela nafas panjang, Baozhu menjawab,
"Benar. Tampaknya perang akan mungkin terjadi. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan segala sesuatunya." Tegas Baozhu.
"Ayahmu tidak punya hati yang kuat untuk mempersiapkan perang. Tidak selalu perang itu dapat dihindari, tapi ia pasti tidak bersedia bahkan hanya untuk mempertimbangkan bahwa persiapan perlu dilakukan. Tapi kau," Baozhu menangkupkan telapak tangannya yang dingin pada kedua pipi Zhouyou.
"Zhaoyou, kau adalah seorang ahli strategi. Kau mungkin tidak menyukai dingin dan beratnya singgasana yang diduduki oleh seorang raja, tapi hanya dengan mendudukinya saja, kau baru bisa menciptakan peluang dan perlindungan; baik untuk putramu, untuk Hanna, dan juga untuk seluruh dunia." Nafas Zhouyou terasa tercekat di tenggorokan ketika ia melihat warna mata Baozhu berpendar dari coklat menjadi hijau. Saat ini ia tidak lagi berhadapan dengan Neneknya, tapi dengan Baozhu, sang Mahadewi.
"Jadi Zhouyou, maukah engkau melindungi kami?"
Copyright @FreyaCesare