
Sepeninggal Lady Tarli dan Lord Sirrian, klan bunga terus mendaki pelan menuju ke puncak. Dibutuhkan waktu selama 3 jam sebelum akhirnya mereka bisa melihat pintu gerbang menuju Kuil Langit. Sesuai yang dijanjikan, kedatangan klan bunga sudah ditunggu oleh sekelompok orang berpakaian militer yang salah satunya dikenali Peony sebagai Jendral Bao Yi Rang, sang pemimpin pasukan pelindung pribadi milik Baozhu.
Jendral Bao Yi Rang adalah anak kedua Baozhu yang terlahir secara alami. Selama hidupnya di Sirria, Baozhu sudah melahirkan 7 orang putra, dan 4 orang putri. Putra pertamanya, Bao Yang menjadi Raja pertama Kerajaan Langit. Putra kedua, Bao Yi Rang dan saudara kembarnya Bao Chen Yang memilih untuk menjadi pengawal pribadi ibu mereka. Putra keempat, Bao Zhou, dan Putra keenam, Bao Tuo, memutuskan untuk menemani ayah mereka menjelajahi alam semesta, sedangkan sisanya tersebar ke penjuru Kerajaan Langit dan menjadi dewa-dewi utama pelindung Sirria.
Tak banyak yang beruntung bisa bertemu langsung dengan anak-anak kandung Baozhu, bahkan bagi masyarakat Kerajaan Langit sendiri, seperti juga halnya klan bunga. Karena sejak jutaan tahun yang lalu, mereka semua memilih untuk menarik diri dari kehidupan duniawi. Sebagian bahkan memutuskan untuk tidak kembali ke Kuil Langit dan menciptakan tempat pengasingan mereka sendiri. Namun lukisan wajah mereka terus di duplikasi dan disebar luaskan ke seluruh Sirria untuk dipuja di altar-altar persembahan. Itu sebabnya baik Peony maupun anggota klan bunga lainnya langsung bisa mengenali pimpinan pasukan yang menyambut mereka.
Sampai di depan pasukan tersebut, Dahlia memimpin klannya untuk membungkuk dan memberi hormat, yang diterima dengan anggukan oleh Jendral Bao Yi Rang. Seorang pria tampan berpakaian layaknya bangsawan Negeri Langit muncul dari balik punggung Jendral Bao Yi Rang dan menyapa klan bunga dengan senyum lebar.
"Hallo, aku Adonis. Selamat datang di kuil Langit." Adonis adalah Dewa Sastra yang tercipta dari dalam sebuah buku tentang Bumi yang sedang dibaca oleh Baozhu. Namanya diambil dari salah satu karakter dalam buku tersebut yang meninggalkan kesan di hati Baozhu. Adonis tumbuh besar menjadi dewa yang menginspirasi siapapun yang melihatnya untuk menulis karya sastra tentang dirinya; membuat dirinya menjadi dewa nomor 1 yang paling banyak dituliskan kisahnya dan yang karakternya paling banyak diperankan orang dalam film dan drama. Memandang sang legenda berdiri dihadapan mereka, klan bunga yang saat itu seluruhnya adalah wanita tanpa sadar mendesah terpesona. Adonis yang sudah terbiasa dengan respon sejenis itu, hanya tersenyum lebar.
"Mari, aku akan mengantarkan kalian ke Aula Kuil Langit." ucapnya sambil mengarahkan klan bunga untuk mengikutinya. Adonis membawa mereka melintasi taman bunga yang terbentang luas di antara pintu gerbang dan bangunan Kuil Langit. Saat itu sebagian Sirria mulai memasuki musim dingin. Di kaki gunung tadi, udara dinginpun telah mulai terasa menusuk tulang. Namun begitu memasuki pintu gerbang menuju Kuil Langit, klan bunga diterpa oleh hangatnya udara musim semi. Bunga-bunga di taman bunga Kuil Langit sedang berkembang dengan sangat indahnya.
Walaupun pulau bunga juga selalu berada dalam musim semi sepanjang tahun, namun tetap saja tak membuat mereka berhenti mengagumi taman bunga Kuil Langit yang katanya keindahannya merupakan sumber inspirasi bagi Baotu untuk menciptakan pulau bunga.
Kuil Langit sendiri, daripada sebuah kuil, tampaknya lebih layak disebut sebagai Kastil. Dibangun oleh Baotu untuk istrinya tercinta, Kuil Langit yang memiliki semua kemegahan sebuah istana, namun berukuran relatif kecil dari umumnya, menjadi tempat kediaman Baozhu dan anak-anak mereka sepeninggal Baotu. Berdiri di atas bebatuan pegunungan, Kuil Langit tampak bagaikan bunga yang tumbuh di tebing curam. Bangunannya berwarna putih kebiruan, yang akan berubah menjadi keemasan dibawah cahaya matahari sore. Pintu-pintu dan jendelanya tinggi dan besar. Pilar-pilarnya juga besar dan kokoh.
Ketika mereka sampai di depan pintu Aula yang tertutup rapat, pintu-pintu tersebut terbuka secara otomatis, seolah mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam ruangan. Aula Kuil Langit adalah sebuah ruangan luas yang berfungsi sebagai ruang penerima tamu. Di bagian depan ruangan terdapat sebuah singgasana kayu sederhana yang dibuat dari kayu berat berwarna gelap. Kursi dan meja yang tertata disisi kiri dan kanan singgasana juga terbuat dari kayu gelap dengan sedikit ukiran sebagai hiasannya. Namun itu sajalah perabotan yang ada di ruangan yang luas tersebut. Seluruh dinding-dindingnya berwarna putih polos tanpa hiasan; lantai batu marmernya yang dingin tidak ditutupi oleh karpet; dan jendela-jendelanya yang lebar tidak dihiasi oleh Gorden. Sejauh mata memandang, bangunan yang seindah istana itu benar-benar diperlakukan hanya sebagai sebuah kuil. Dingin dan bersahaja.
Ketika mereka memasuki ruangan, Aula tersebut sedang dalam keadaan kosong. Adonis mempersilahkan klan bunga untuk menempati kursi-kursi yang tersedia sambil menunggu kedatangan Baozhu, sementara ia segera menghilang ke balik salah satu pintu yang langsung tertutup kembali di belakangnya.
Klan Bunga menunggu selama hampir 10 menit ketika akhirnya pintu dimana Adonis tadi menghilang, terbuka kembali. Seorang wanita muda berjalan memasuki ruangan sambil menggendong Hanna. Sirrian, Tarli, Adonis dan seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun berjalan mengikuti di belakangnya. Wanita muda tersebut berpakaian sederhana dan tanpa riasan di wajahnya. Namun kesederhanaan tersebut tidak dapat menutupi keanggunan, kecantikan dan keagungan yang terpancar dari gerak-geriknya. Hanya dengan melihat sorot matanya, Peony menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Yang Suci, Baozhu, Ibu dari seluruh Sirria. Sedangkan anak kecil yang berjalan di belakangnya adalah Xiao Bao, sang Dewa Peramal.
Begitu Baozhu menduduki singgasananya, Klan bunga langsung bersujud memberi hormat serendah-rendahnya kepada mahadewi tertinggi mereka.
"Klan Bunga bersujud memberi hormat pada ibunda mahadewi yang suci, Baozhu."
"Bangunlah." perintah Baozhu. Klan bungapun perlahan-lahan bangkit berdiri dari sujudnya. "Duduklah kembali. Aku tahu bahwa kalian semua sudah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan pasti sudah sangat kelelahan. Jadi silahkan duduk." klan bungapun duduk kembali.
"Yang Suci, Ibunda Mahadewi Baozhu, maksud kedatangan kami adalah untuk memohonkan berkah bagi Hanna." Ucap Dahlia pada Baozhu.
Baozhu menganggukkan kepalanya dan tersenyum penuh sayang saat memandang wajah Hanna.
"Tentu saja. Berkahku akan selalu bersamanya. Lagipula ia adalah putriku. Akulah yang harus berterimakasih pada klan bunga karena sudah mengantarkannya padaku."
"Kami sungguh tak layak menerimanya, Ibunda Mahadewi." Jawab Dahlia, kembali membungkukkan tubuhnya. Seluruh klan bunga langsung mengikuti teladannya dan ikut membungkuk penuh hormat. Baozhu hanya tersenyum dan mengangguk.
"Klan bunga, ada 1 hal yang harus kubicarakan dengan kalian." Ujar Baozhu, setelah klan bunga, untuk ketiga kalinya, kembali duduk di kursinya masing-masing.
"Kami siap mendengarkan, Ibunda Mahadewi." Jawab Dahlia, mewakili klan bunga.
"Beberapa saat yang lalu, putraku, Xiao Bao mengungkapkan padaku mengenai nasib yang tertulis pada suratan takdir Hanna. Aku rasa penting bagi kalian untuk mendengarnya."
Baozhu menoleh pada Xiao Bao dan mengangguk pelan. Xiao Bao mengeluarkan kristal ramalan milik Hanna dan meletakkannya di atas telapak tangannya. Xiao Bao lalu menyentuh salah satu sudut kristal tersebut, yang menyebabkan kristal tersebut melompat dari tangannya, dan melayang tinggi, sebelum akhirnya berhenti tepat di atas kepala Hanna yang masih tertidur dengan lelapnya dalam gendongan Baozhu. Tiba-tiba suara ramalan yang tadi diucapkan Xiao Bao di hadapan Baozhu, terdengar kembali.
Hanna kami membawa bencana perang dalam takdirnya? Ya Mahadewa, bagaimana Hanna akan mampu menghadapinya? Jerit Peony dalam hati.
Perang, kematian dan perebutan kekuasaan adalah hal-hal yang selalu dijauhi oleh klan bunga sejak awal berdirinya. Mereka tidak mau terlibat dalam pertikaian apapun sebagaimana mereka enggan memihak pada siapapun. Sepanjang eksistensi mereka, klan bunga hanya mencurahkan perhatiannya pada pemeliharaan dan perkembangan tanaman pangan dan bunga-bungaan. Namun kini klan bunga terancam untuk menjadi pusat dari peperangan dengan nyawa dewi mereka sebagai taruhannya. Membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi membuat air mata Peony menetes di pipinya.
Dengan tubuh gemetar karena cemas, Peony langsung bersujud dihadapan Baozhu.
"Ibunda Mahadewi, tolong beritahu kami apa yang harus kami lakukan untuk mencegah agar ramalan ini tidak terjadi?"
Baozhu menarik nafas panjang sesaat sebelum ia menggelengkan kepalanya.
"Apa yang sudah digariskan tidak akan dapat dihindari. Yang bisa kita lakukan hanyalah membantu mempersiapkan Hanna untuk mampu menghadapi ujiannya dengan sebaik mungkin."
"Ibunda Mahadewi, klan bunga bukanlah klan yang memahami tentang perang, bela diri maupun politik. Kami dibesarkan untuk menjadi penyedia serta pemelihara tanaman dan bahan pangan. Mengenai apa yang harus kami lakukan dalam keadaan seperti ini, kami sungguh tak mengerti. Karena itu kami mohon, dapatkah ibunda mahadewi memberi kami petunjuk mengenai apa yang harus kami lakukan untuk membantu Hanna." Pinta Dahlia.
Baozhu terdiam sesaat lalu bertanya,
"Apakah kalian menginginkan aku yang mengambil keputusan mengenai masa depan Hanna?"
"Apabila Ibunda mahadewi berkenan melakukannya maka kami akan sangat bersyukur. Engkau adalah Mahadewi kami dan Hanna adalah putrimu. Keputusan Ibunda pasti lebih baik daripada pemikiran kami. Kami akan patuh sepenuhnya pada perintahmu." jawab Dahlia.
Baozhu tampak tercenung. Sejak memutuskan untuk menarik diri dari kehidupan duniawi, baik ia maupun suaminya tidak pernah lagi melibatkan diri pada perputaran dunia. Ketika 3 bangsa penghuni Sierra datang untuk meminta berkah maupun petunjuknya, Baozhu biasanya hanya sekedar memberikan pandangan mengenai hal terbaik yang bisa mereka lakukan dan membiarkan mereka mengambil keputusannya sendiri. Namun memandang wanita-wanita klan bunga di hadapannya dan bayi mungil tak berdosa yang masih tertidur dengan pulas dalam buaian tangan-tangannya, mau tidak mau Baozhu ingin melibatkan dirinya.
Baozhu menarik nafas panjang sesaat sebelum berkata,
"Bawalah Hanna pulang bersama kalian. Ajarkan padanya mengenai keahlian, tugas dan kehidupan seorang dewi bunga."
"Mulai hari ini tutuplah pulau bunga bagi orang luar. Jangan biarkan orang yang tidak berkepentingan, terutama pria, memasukinya. Dan jangan biarkan Hanna keluar dari pulau bunga, kecuali apabila tujuannya adalah untuk menuju kuil ini. Apabila terpaksa harus pergi keluar dari pulau bunga, pastikan ia mengenakan cadar untuk menutupi wajahnya."
"Setelah Hanna berusia 100 tahun, Tarli dan Sirrian akan menjemputnya dan ia akan tinggal di Kuil Langit untuk belajar mengenai dunia. Aku akan memulangkannya setelah ia siap."
"Mulai hari ini tidak seorangpun yang ada di ruangan ini diijinkan untuk mengucapkan sepatah katapun mengenai isi ramalan Hanna. Klan Bunga, bawalah Kristal ramalan milik Hanna pulang bersama kalian. Simpanlah sebaik-baiknya sehingga Hanna tidak akan menemukannya sebelum waktunya tiba."
"Jagalah putriku baik-baik. Berikan masa kecil yang terindah baginya. Bila kalian melakukannya, aku akan merasa sangat bahagia."
Klan bunga kembali berdiri dari duduknya dan membungkuk untuk memberikan hormat.
"Kami akan mematuhi semua perintah Ibunda Mahadewi." ucap mereka serentak. Baozhu mengangguk pada mereka sebelum mengalihkan perhatiannya pada Hanna.
"Selamat jalan, putriku. Aku akan merindukanmu." Bisiknya pelan. Baozhu mengecup kening Hanna dengan penuh rasa sayang dan berdoa dalam hati bahwa malapetaka baru akan tiba jutaan tahun lagi.
Copyright @FreyaCesare