
Keesokan harinya Rombongan Hanna kembali pulang ke Kuil Langit dengan membawa Aspixia serta. Kedatangan mereka disambut para penghuni Kuil Langit dan para Chimera dengan senang. Kisah tentang Zorex, kelahiran Aspixia dan hubungan Hanna dengan Master para Chimera menjadi percakapan hangat yang dibahas tanpa akhir diantara mereka yang kemudian mereda setelah 1 bulan berlalu.
Kehidupan di Kuil Langit kembali berjalan seperti biasa, dengan ritmenya yang lamban, santai dan penuh kedamaian. Sesekali seseorang datang berkunjung dan kericuhan sedikit terdengar, namun secepat ia datang, maka secepat itu pulalah redanya.
Apabila telah merasa jenuh dengan tugas-tugas mereka, Zhouyou dan Ashia seringkali melarikan diri dari Istana Langit dan datang berkunjung untuk menghabiskan waktu dengan Hanna, Xiao Bao, Aspixia dan para Chimera. Seharusnya hal ini sulit untuk dilakukan karena Raja dan Ratu Langit memiliki segunung tugas yang tampak tiada habisnya. Namun Zhouyou yang merasa iba pada pengantinnya, memutuskan bahwa kerajaan tidak akan runtuh walaupun Raja dan Ratunya menyelinap keluar seharian. Ia sama sekali tidak memperdulikan rengekan, Omelan maupun ancaman yang dilontarkan asisten dan sekretaris kerajaan. Membuat keduanya semakin hari terlihat semakin menua karena stress yang berkepanjangan. Untungnya tak ada satupun yang berpikir untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Mereka terlalu mencintai prestise dan kebanggaan yang mereka peroleh dari pekerjaan sebagai orang terdekat Raja Langit.
Melihat rambut sang asisten Raja semakin lama semakin tipis, Ashia yang merasa iba, setiap tahunnya mengirimi sang asisten berbagai obat-obatan penyubur rambut. Sedangkan untuk sekretaris kerajaan yang wajahnya semakin lama semakin berkerut, Ashia membuatkan janji temu untuk perawatan di Salon Kerajaan baginya setiap minggunya. Awalnya sang sekretaris kerajaan selalu merasa penuh syukur pada kebaikan hati Ratunya. Namun berhubung janji perawatan tersebut selalu terjadi tepat sebelum sang Raja dan Ratu melakukan suatu kenakalan, setiap kali waktu perawatannya tiba, kening sang sekretaris selalu berkerut-kerut karena dipenuhi oleh kekhawatiran, mencoba menebak-nebak kekacauan apalagi yang akan ditinggalkan Raja dan Ratu kali ini. Akibatnya perawatan tersebut menjadi tak banyak gunanya.
selama 10.000 tahun itu, keluarga kerajaan menanti-nanti kabar kehamilan Ashia dengan harap-harap cemas. Mereka tidak pernah lupa pada kata-kata Zorex bahwa setelah Naganya dibangkitkan, walaupun Ashia tidak berubah menjadi seekor Naga, namun anak-anak yang dilahirkannya akan memiliki kemampuan untuk berubah wujud menjadi seekor naga. Sampai saat itu, tidak ada satu orangpun yang berniat untuk memberitahukan hal ini pada Ashia dan berharap bahwa masalah ini tidak perlu cepat-cepat mereka hadapi. Jadi begitulah, dibawah doa banyak orang, bahkan setelah 10.000 tahun berlalu, Ashia belum juga mengalami kehamilan.
Pada Saat itu Hanna telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Perawakannya mirip seorang gadis berusia 18 tahun. Tubuhnya tinggi semampai, dengan kulit seputih susu, dengan pipi dan bibir yang merah alami, serta rambut panjang yang seindah sutra yang paling hitam. Tubuhnya selalu menguarkan wangi bunga mawar yang tercium samar-samar, menimbulkan rasa penasaran bagi siapapun yang berada didekatnya, dan tiap jejak kakinya meninggalkan bayangan bunga-bunga yang apabila diinginkannya, akan mewujud menjadi rerumpunan bunga sungguhan yang sangat indah. Saat itu, Hanna telah kembali pindah ke Pulau Bunga 9.000 tahun lamanya. Ia membawa Aspixia serta dengannya.
Setelah 10.000 tahun, Aspixia baru tumbuh hanya sebesar seekor harimau dan tetap saja belum pernah berubah wujud menjadi seorang manusia. Ia sudah pandai berbicara; baik bahasa Naga maupun bahasa Manusia, namun sayangnya Aspixia belum juga menemukan inti kekuatan supranaturalnya. Hal ini sangat mengganggunya. Aspixia seringkali mengeluh bahwa ia merasa tidak berguna yang akan membuatnya sedih selama berhari-hari. Bila sudah begitu, Hanna akan menghubungi Xiao Bao di Kuil Langit dan meminta kakak angkatnya tersebut untuk mengunjungi mereka.
Aspixia sangat menyukai Xiao Bao. Ia merasa memiliki banyak persamaan dengan sang dewa peramal, terutama karena ia dan Xiao Bao terus saja berwujud menyerupai seorang anak. Lagipula Aspixia menyukai pembawaan Xiao Bao yang tenang dan beraura misterius, serta wajahnya yang sangat tampan. Andai saja ia bisa berubah wujud menjadi manusia, Aspixia pasti akan mengejar cinta Xiao Bao, sama sekali tak perduli pada tampilan sang dewa yang masih menyerupai anak berusia 12 tahun. Sayangnya menjadi manusia sepertinya hanya sebuah mimpi baginya. Kadangkala pikiran ini membuatnya merasa bersalah pada ayahnya yang seumur hidupnya menentang para Naga yang membuang kenagaan mereka demi banyak hal. Apa bedanya dirinya dan para Naga kuno tersebut? Well, mungkin itu sebabnya ia tak pernah mampu berubah menjadi manusia.
Hanna yang mengetahui kegundahan Aspixia hanya diam dan memeluk adiknya tersebut. Ia juga sangat ingin melihat wujud manusia Aspixia, namun sebagai seorang Naga yang tidak pernah berwujud Naga, ia tidak memiliki daya apapun untuk membantu. Karena itu biasanya Hanna mencoba menghibur adiknya dengan mengalihkan perhatiannya.
Kehidupan mereka di Pulau Bunga cenderung damai dan membosankan. Seringkali Hanna merindukan masa 1000 tahun ketika ia tinggal bersama Ibu, saudara-saudaranya dan para Chimera. Sekarang para Chimera senior yang menjadi teman mainnya dahulu sudah lama tiada dan Hanna sangat merindukan mereka. Disisi lain, janji paman Zhouyou untuk memberikannya seorang pangeran belum juga terpenuhi. Apabila ditinjau dari sifat Hanna dimasa lalu, ia pasti sudah akan merengek pada Zhouyou. Namun mengingat komplikasi yang akan dimiliki sang pangeran kelak yang masih tidak diketahui oleh calon ibunya, Hanna memahami mengapa semua orang enggan menuntut keberadaan putra mahkota dari pemimpin mereka. Bahkan rakyat yang tak memahami situasinya telah diperingati untuk tidak mengungkit-ungkit masalah ini.
Hanna merasa bosan. Aspixia pun merasa bosan. Ketika 2 orang Naga (eeeer... atau dua ekor Naga?) merasa bosan, maka Pulau Bunga harus siap menghadapi akibatnya. Pada suatu hari, Hanna yang merasa iri pada kemampuan Aspixia untuk terbang, ingin mencoba untuk terbang juga. Ia lalu menghabiskan seharian penuh untuk mempelajari sayap Aspixia dan merancang desain untuk membuat sayap palsu untuknya. Masalahnya di dalam Pulau Bunga tidak ada Ace Hardware atau toko yang menjual DIY Supply dan Tools serta sejenisnya, padahal Hanna tidak diijinkan untuk meninggalkan Pulau Bunga. Untuk mengatasi masalah itu, Hanna mengalihkan perhatiannya pada barang-barang yang ada di Pulau Bunga, mencoba mencari sebuah benda yang bisa ditransformasikan menjadi sayap buatan. Pilihannya jatuh pada selembar kain dari bahan kulit ringan berwarna merah bata yang ditemukannya tergantung di tempat jemuran. Kain tersebut akan dibuat Hanna menjadi lapisan luar sayap sementara kerangkanya akan dibuat dari potongan-potongan kayu.
Hanna dan Aspixia lalu pergi ke hutan untuk mencari kayu. Namun memotong kayu ternyata tak semudah yang dibayangkan oleh Hanna, sehingga mereka terpaksa pulang dengan tangan hampa. Dalam perjalanan pulang, mereka melewati ladang timun milik bibi Kayu. Ladang yang cukup besar itu dipagari oleh kayu-kayu yang terpotong rapi dengan ukuran yang sangat pas apabila dijadikan kerangka sayap impiannya. Karena berpikir bahwa sebenarnya ladang tersebut tidak memerlukan pagar, Hanna lalu menyuruh Aspixia untuk mencabut 4 batang kayu pagar tersebut sehingga meninggalkan sebuah lubang menganga pada salah satu sisi pagar. Lalu dengan bahagia mereka meninggalkan ladang.
Setelahnya Hanna menghabiskan 1 harian untuk membuat sayap sesuai dengan desain yang telah diciptakannya. Setelah selesai, dengan gagah berani Hanna melemparkan dirinya dari atas tebing yang tinggi. Namun beberapa kali pun ia mencoba mengepakkan sayapnya sebagaimana yang dilakukan Aspixia, tubuhnya tidak naik keatas seperti Aspixia. Hanna malah jatuh lebih cepat daripada yang seharusnya akibat sayapnya yang berat. Untung saja Aspixia yang turut melompat bersamanya dengan sigap menangkap kaki Hanna sehingga memperlambat jatuhnya. Tubuh Aspixia masih terlalu kecil untuk bisa mengangkat seluruh tubuh Hanna dan membawanya terbang ke angkasa luas. Tapi setidaknya ia bisa meletakkan tubuh kakaknya dengan lembut keatas tanah, meskipun hal itu menyebabkan kedua tangannya terasa sangat sakit.
Setelah sampai kembali dirumah, mereka dikejutkan oleh Lady Dahlia dan Lady Peony yang sudah menunggu di ruang tamu Hanna sambil memandangi kekacauan yang dibuatnya saat menciptakan sayap burungnya.
Lady Dahlia mengambil sepotong kain sisa dari atas meja dan bertanya,
Hanna menelan ludahnya sebelum menjawab.
"Itu kain sisa yang kugunakan sebagai bahan pembuatan sayap ini." jawab Hanna, menepuk sayap tak berguna yang dibawanya."
"Sayap?" Ulang Lady Dahlia. Hanna mengangguk.
Lady Dahlia kemudian mengambil kayu sisa dari atas meja dan menunjukkannya pada Hanna.
"Lalu ini apa?" Tanyanya. Tentu saja Lady Dahlia tahu benda apa itu, namun ia ingin mendengar alasan Hanna.
"Itu kayu yang kubuat sebagai kerangka sayap ini." Sahut Hanna takut-takut.
"Dimana kau memperoleh benda-benda ini?" Tanya Lady Dahlia lagi. Hanna mengedip-ngedipkan matanya sambil berpikir. Hanna bisa mencium bahaya mendekat dari nada suara Lady Dahlia. Tapi mau tak mau ia terpaksa menjawabnya.
"Kain itu kuperoleh di tiang jemuran... er... dan kayunya kuambil dari pagar ladang timun di pinggir hutan." Jawab Hanna. Mendengarnya Lady Dahlia menarik nafas panjang.
"Kau dihukum untuk tidak keluar dari cottage ini selama 1 bulan. Ucap Lady Dahlia tegas. Hanna langsung panik.
"Eh, tapi kenapa?" tanya Hanna. Lady Dahlia berbalik dan kembali mengangkat kain sisa dari atas meja.
"Ini adalah kain taplak meja konferensi pemberian dari Yang Mulia, Bao Yuan yang terbuat dari kulit Xuza Merah. Tak ternilai harganya." Mendengar jawaban ini, darah langsung terasa tersirap habis dari punggungnya. Xuza adalah binatang sejenis Rusa yang hidup di sekitar Terra. Dibandingkan Xuza biasa, Xuza merah tergolong langka dan sulit ditemukan.
"Lalu ini," Lady Dahlia mengambil potongan kayu dari atas meja. "Karena seseorang telah membiarkan pagar ladang timun Bibi Kayu terbuka, semua pohon timun di ladang tersebut sekarang rusak berat karena diobrak-abrik oleh Babi Emas." Babi emas adalah binatang hasil rekayasa genetik yang dihadiahkan oleh seorang jendral Qu pada Baotu, setelah ia melihat binatang serupa saat mampir ke Bumi. Ia terlihat seperti babi biasa, hanya saja berwarna emas. Babi bukan jenis binatang yang dimiliki Sirria sehingga tergolong langka. Namun perilakunya yang suka merusak membuat Babi Emas dibenci oleh penduduk langit. Mereka kemudian dilepaskan di hutan-hutan, tapi malah berkembang biak dengan kecepatan mengerikan dan selalu membuat kekacauan dengan merusak ladang warga. Sekarang ladang timun milik Bibi Kayu rusak karena perbuatan Hanna. Hal ini membuat Hanna merasa malu dan sedih sekali. Ia lalu menerima hukumannya dengan ihklas dan menulis surat permintaan maaf pada Bibi Kayu sambil berjanji bahwa begitu ia bebas dari hukuman, ia akan membantu Bibi Kayu di ladangnya.
Itu hanyalah salah satu contoh dari kenakalan Hanna dan Aspixia yang tidak ada habisnya. Mereka cepat merasa menyesal dan minta maaf, namun cepat pula merasa bosan dan melakukan kenakalan lainnya. Walhasil, Pulau Bunga tidak pernah kehabisan bahan cerita untuk ditertawakan. Entah kapan sang Pangeran akan datang dan menyelamatkan Hanna dari kebosanannya. Hanyalah Tuhan yang tahu.
Copyright @FreyaCesare