
Hari itu 2 orang wanita bersama seorang pria muncul di pintu gerbang Pulau Bunga. Ketiganya mengenakan busana bisnis dengan kualitas yang baik, namun sederhana dan hanya dihiasi dengan sedikit assesories. Sikap ketiganya menunjukkan bahwa mereka adalah para pekerja ahli yang berasal dari golongan menengah; tenang dan sopan namun tidak merendahkan diri sendiri.
Salah satu wanita yang tampak lebih dominan dari keduanya, mendekati penjaga pintu gerbang Pulau Bunga dan dengan sopan memperkenalkan diri mereka sebagai pegawai baru dari Biro Kepegawaian Jiuling dan memohon ijin untuk bertemu dengan Lady Dahlia. Lady Dahlia yang memang sering melakukan kerjasama bisnis dengan Biro Kepegawaian Jiuling, mengijinkan kedua wanita itu masuk, namun memerintahkan agar si pria tetap menunggu di pintu gerbang karena Pulau Bunga terlarang bagi pria. Kedua wanita tersebut lalu diantar untuk memasuki Pulau Bunga dan menuju Aula Istana Bunga. Lady Dahlia menyambut mereka dengan senyum ramah dan jabatan tangan.
"Hallo, selamat datang di Pulau Bunga." Sapa Lady Dahlia. Kedua tamunya tersenyum sopan dan mengangguk. "Anda siapa?" tanya Lady Dahlia.
"Maaf kami mengganggu, Lady." Wanita yang lebih dominan, angkat suara sambil tersenyum ramah. "Saya Lang Yuxiu dan ini rekan kerja saya, San Szi. Kami adalah pegawai baru dari Biro Kepegawaian Jiuling. Kami datang untuk memperkenalkan diri. Mulai sekarang kamilah yang akan mewakili Biro untuk membahas masalah kerja sama antar Biro dengan Pulau Bunga."
Lady Dahlia mengangguk dan balas tersenyum.
"Nona Chen Jiuling telah menghubungi saya untuk memberitahukan tentang kedatangan anda berdua hari ini. Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk anda?"
***
Hari sudah menjelang siang ketika Hanna meninggalkan Cottage dan berjalan menuju hutan sambil memanggul keranjang rotan di punggungnya dan tas selempang yang talinya melintang di dadanya. Hari ini ia akan pergi mencari jamur di hutan sebagai oleh-oleh untuk Rowena. Tadinya ia ingin mengajak Aspixia, namun melihat Naga merah itu masih tertidur dengan begitu nyenyaknya, Hanna memutuskan untuk hanya membawa Chichi dan Koko bersamanya. Karena hari ini akan ada beberapa tamu yang akan datang dari Biro Kepegawaian Jiuling, sebelum meninggalkan Cottage, Hanna memasang cadarnya hingga rapat menutupi wajah.
Untuk menuju ke hutan, Hanna harus melewati ladang bunga yang membentang luas di hampir setiap sudut terbuka Pulau Bunga. Saat itu bunga tulip kuning, Hydrangea ungu dan Peony merah sedang bermekaran dengan kekuatan penuh, menutupi seluruh ladang dengan warna-warnanya yang indah. Hanna tersenyum bahagia menikmati keindahannya. Dari dalam tas selempangnya, separuh tubuh Chichi dan Koko menyembul keluar. Keduanya ramai mengobrol di dalam kepala Hanna, membicarakan tentang makanan apa yang ingin mereka makan siang ini dan apa yang ingin mereka cari di hutan. Hanna hanya tersenyum diam dan mendengarkan.
Ketika melewati ladang Hydrangea yang tinggi, 3 orang wanita muncul di gang yang berada di antara 2 ladang yang berbeda. Hanna mengenali 1 diantara sebagai anggota klan Bunga, bernama Desember, namun tidak mengenal 2 wanita lainnya. Begitu melihatnya, Desember langsung membungkuk dengan hormat dan menyapanya. Kedua wanita yang bersamanya, begitu melihat Desember membungkuk hormat, ikut membungkuk hormat bersamanya. Hanna menganggukkan kepalanya, pertanda ia menerima salam hormat mereka dan mereka sudah bisa menegakkan tubuh mereka kembali.
"Dewi, selamat pagi."
"Selamat pagi, Desember. Siapa ini?" Tanya Hanna ramah.
"Selamat pagi, Dewi. Kami adalah perwakilan dari Biro Kepegawaian Jiuling, Lang Yuxiu dan San Tzi." Salah satu dari wanita tersebut menjawab.
"Ah. Apakah Kak Jiuling ikut bersama kalian?" Tanya Hanna. Hanna mengenal baik Jiuling karena Jiuling pernah tinggal selama 10.000 tahun di Pulau Bunga untuk berguru pada Lady Dahlia, sebelum akhirnya ia kembali ke dunia luar dan mendirikan Biro Kepegawaian Jiuling.
"Tidak, Dewi. Nona Chen sedang sibuk mengurus pekerjaan di Istana guna mempersiapkan kelahiran sang Putra Mahkota." Jawab wanita itu lagi. Hanna mengangguk.
"Baiklah. Aku tidak akan mengganggu kalian. Silahkan nikmati waktu kalian disini ya." Hanna sedikit menundukkan kepalanya ke arah mereka yang langsung di jawab oleh ketiganya dengan membungkuk kembali untuk memberi hormat. Setelah itu Hanna langsung berbalik dan melanjutkan perjalanannya kembali menuju hutan.
Ketika memasuki hutan, Hanna langsung disambut dengan sepasang jamur yang sangat besar yang menempel angkuh di sebuah batang kayu busuk. Setelah menurunkan Chichi dan Koko ke atas tanah kering, Hanna memasang sarung tangannya dan mulai bekerja untuk memanen jamur tersebut. Itu adalah sebuah jamur yang sangat indah, namun sangat beracun. Karena itulah Hanna memasukkannya ke dalam wadah yang terpisah, sebelum menyimpannya ke dalam keranjang rotan di punggungnya.
Ketika Hanna kembali berjalan memasuki hutan, Chichi memanggilnya dengan berisik. Dengan mengikuti asal suara Knyn mungil tersebut, Hanna menemukan Chichi sedang berdiri di depan sebuah pohon di mana di bawah kerindangan daunnya, jamur-jamur tumbuh dengan melimpah ruah. Ini adalah jenis jamur yang sangat disukai Zhouyou karena rasanya yang enak.
"Anak pintar." Puji Hanna sambil mengusap kepala Chichi. "Paman pasti akan sangat menyukai ini." berpikir bahwa ia akan membawakannya sebagai oleh-oleh untuk Zhouyou, Hanna langsung bekerja untuk memanen jamur tersebut dengan giat.
'Maaf Dewi, saya tidak bermaksud untuk mengganggu anda." Ucapnya.
"Kau tidak seharusnya berada disini. Untuk apa kau kemari?" tanya Hanna dengan kening berkerut. Wanita itu menunduk semakin dalam.
"Maafkan hamba, Dewi. Sebenarnya hamba bukan hanya seorang pegawai biasa, tapi hamba memiliki bakat sebagai seorang peramal." Ucap si wanita. "Ketika melihat Dewi tadi, saya melihat sesuatu yang khusus pada diri Dewi, yang membuat saya penasaran. Apakah boleh kalau saya meramal anda, Dewi?" pintanya.
"Aku tidak percaya pada hal serupa ramalan." Jawab Hanna datar. Benar. Ia hanya percaya pada ramalan Xiao Bao saja.
"Tapi ini tidak akan memakan waktu lama, Dewi. Saya hanya perlu melihat baik-baik wajah dan garis tangan anda." pinta si wanita mendesak. Hanna menatapnya ragu. Lalu setelah menatap wanita tersebut sesaat, ia berkata;
"Kau tidak bisa melihat wajahku, tapi kau boleh melihat telapak tanganku."
"Baik, Dewi. Itupun tidak mengapa!" Jawab wanita tersebut. Ia lalu mengulurkan kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap ke langit-langit. Hanna lalu meletakkan sebelah tangannya di atas tangan wanita tersebut dengan posisi yang sama. Si wanita lalu memegang tangan Hanna erat, awalnya tampak mengamati garis tangannya dengan seksama, namun kemudian ia memejamkan mata, membuat Hanna merasa sedikit khawatir. di dekat kaki-kakinya, Chichi dan Koko berkumpul dan memperhatikan.
Wanita tersebut tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. Namun yang mengejutkan, bagian hitam bola mata wanita itu telah menghilang ke balik matanya sehingga hanya terlihat bagian putihnya saja. Kalau saja tangannya tidak sedang berada dalam genggaman erat wanita tersebut, Hanna pasti sudah lari meninggalkannya.
Tiba-tiba wanita tersebut berkata dengan suara yang aneh dan ekspresi yang menyeramkan.
"Aku melihat kematian dalam takdirmu. Mati! Kau akan menjadi penyebab dari kematian ribuan, tidak, jutaan orang yang tidak berdosa! Keberadaanmu akan menjadi alasan bagi kematian jutaan orang dan apapun yang kau lakukan tidak akan dapat menghentikan takdir ini!" seru si wanita dengan tiba-tiba. Hanna tersentak kaget dan wajahnya langsung berubah pucat pasi. Dengan segera ia menarik tangannya kuat-kuat hingga terlepas dari genggaman wanita tersebut.
Saat tangannya terlepas dari genggaman tangan wanita tersebut, si wanita membuka matanya. Wajahnya kembali normal dan tampak sedikit kebingungan. Namun ketika mengangkat kepala dan memandang Hanna, ia langsung bertanya.
"Maaf Dewi, apakah tadi hamba mengatakan sesuatu pada anda?" Tanyanya ragu-ragu dengan suara yang sudah kembali normal. Perlahan Hanna menggeleng.
"Anda yakin? Tapi wajah anda sangat pucat dan terkejut, seolah anda sudah mendengar atau melihat sesuatu yang buruk." Tanya wanita itu lagi. Hanna kembali menggelengkan kepalanya.
"Aneh sekali. Ketika meramalkan sesuatu yang sangat buruk, seringkali saya kehilangan kesadaran dan tidak mampu mengingat detail dari ramalan yang saya lihat." Jelasnya, masih tampak tak yakin. "Benarkah saya tidak mengatakan sesuatu yang aneh, Dewi?" Hanna mencoba mengatur nafasnya dan menenangkan diri, lalu ia berkata dengan nada yang tenang.
"Jangan khawatir. Kau tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang aneh kok. Sekarang pergilah! Ini bukan tempat yang boleh didatangi oleh orang luar."
Wanita tersebut membungkukkan tubuhnya kembali untuk memohon maaf. Lalu berbalik dan berjalan cepatĀ untuk keluar dari hutan.
Copyright @FreyaCesare