
"Aku?" Tanya Hanna tak yakin. Ashia mengangguk.
"Itu adalah satu kemungkinan yang cukup masuk akal. Contohnya aku. Aku mewarisi kekuatan untuk mengontrol angin yang dimiliki oleh Papa. Kau memiliki kemampuan yang sama dengan Aspixia dan juga berasal dari jenis Naga yang sama. Keberadaanmu di jaman ini kemungkinan besar di sebabkan oleh upaya Aspixia untuk melindungimu, seperti juga ia melindungi papa, Adonis, dan anak-anak Naga yang lain. Maka bisa jadi kau adalah Naga yang menetas dari telur biru milik Aspixia." ucap Ashia, mencoba menjelaskan dugaannya. Mendengarnya membuat Hanna tak mampu berbicara. Walaupun ia mulai bisa menerima kenyataan bahwa ia adalah bangsa Naga, namun ia masih tak mampu membayangkan bahwa dirinya keluar dari dalam sebuah telur.
"Itu mudah dibuktikan. kita tinggal melakukan tes DNA pada Zorex dan Hanna." Usul Zhouyou. Namun begitu mendengar usulnya, paman-pamannya tampak berpandang-pandangan, membuat kening Zhouyou berkerut heran.
"Apa?" Tanyanya.
"Eeer, tentang Zorex," Ucap Adonis. "Tes DNA terhadap Hanna dan Zorex tidak mungkin dilakukan."
"Kenapa?" Heran Zhouyou.
"Karena segera setelah Zorex menghembuskan nafas terakhirnya," ucap Adonis. "Aku, Hanna dan Xiao Bao menyaksikan tubuh Zorex terurai menjadi partikel-partikel menyerupai titik-titik cahaya kecil yang kemudian menyebar ke udara dan menghilang setelah naik ke langit." Penjelasan ini membuat mulut Zhouyou terbuka, sementara Ashia tertegun. Terurai menjadi partikel yang menyerupai titik-titik cahaya kecil? menyebar lalu menghilang? Yang benar saja!
"Hal itu menjawab mengapa selama ini kita tidak pernah menemukan sisa-sisa kehidupan bangsa Naga." Ucap Baozhu.
"Sisi positifnya adalah kita jadi tahu bahwa walaupun jantungnya sudah berhenti, selama tubuhnya masih utuh maka itu berarti anak Naga tersebut belum mati." komentar Sirrian.
"Tapi sayangnya kita tidak memiliki Zorex yang mampu membangunkan sisi Naga seseorang yang telah lama terpendam." Sahut Bao Chen Yang.
"Akan kutemukan caranya." Tekad Sirrian.
"Aku akan membantumu, nak." sahut Baozhu. Sirrian tersenyum hangat pada ibunya.
"Terimakasih ibu." ucapnya penuh rasa syukur.
"Tes DNA masih mungkin di lakukan kok." ucap Ashia tiba-tiba. Matanya berkilat karena penuh semangat.
"Bagaimana caranya?" Tanya Tarli. Ashia mengelus telur diatas pangkuannya.
"Begitu telur ini menetas, kita bisa membandingkan DNAnya dengan Hanna." jawab Ashia.
"Ah, benar juga." Zhouyou mengangguk membenarkan. "Kita bisa melakukannya. Apakah kita bisa mengestimasikan kapan telur ini akan menetas?"
"Solomon memperkirakan dalam minggu pertama bulan depan." Jawab Sirrian.
"Kalau begitu apakah kau akan tinggal disini sampai telur itu menetas, paman?" Tanya Zhouyou pada Sirrian.
Bao Yuan yang sejak tadi hanya berdiam diri mendengarkan, angkat bicara.
"Mereka semua akan tinggal disini sampai pesta pernikahannya selesai dilaksanakan." mendengarnya membuat kening Zhouyou berkerut.
"Apakah maksud ayah pernikahanku dan Ashia? Tapi aku bahkan belum mulai membuat rencana." Sanggah Zhouyou heran. Disaat itulah Hazrat dan Bao Yue memasuki perpustakaan.
"Tapi i... itukan tinggal beberapa hari lagi?" Ashia tergagap. Saat itu adalah awal Minggu keempat. "Apakah tidak terlalu cepat?"
"Kalau terserah pada Yuan, kalian sudah akan menikah besok." jawab Hazrat. Bao Yuan tersenyum lebar mendengarnya.
"Jangan khawatir, sayang. Aku, ayahmu dan Yuan sudah menyiapkan semuanya. Kau hanya perlu untuk menjaga kesehatanmu baik-baik saja." Bao Yue berusaha menenangkan. "Sekarang sudah cukup aktivitasmu hari ini. Aku akan membawamu ke kamar."
"Baiklah, ibu." Ashia menurut dengan patuh dan menyerahkan kotak kayu berisi telur Zorex pada Zhouyou. Bao Yue kemudian mendorong kursi rodanya menuju keluar.
"Aku kemari hanya untuk menjemput putriku, jadi teruskanlah percakapan kalian." Hazrat melemparkan ciuman jauhnya pada ibunya lalu berjalan menyusul istrinya yang di depan pintu perpustakaan, berbelok menuju ke kiri.
"Paman," panggil Zhouyou. "Kemana kau akan membawa Ashia? Kamarnya kan ada di sebelah kanan?"
Hazrat menoleh dan tersenyum.
"Malam ini, Yue dan aku ingin tidur bersama putri kami. Setelah hampir kehilangan Ashia, kami memutuskan, sebelum ia menikah denganmu maka ia akan menikmati posisinya sebagai bayi kami lagi dengan tidur bersama kami setiap malam." Hazrat mengedipkan sebelah matanya, lalu berbalik dan menghilang ke balik pintu, meninggalkan Zhouyou dengan mulut terbuka.
Setiap malam sebelum menikah? Tapi itu kan masih lama sekali? pikir Zhouyou. Di belakangnya Adonis tertawa kecil. Zhouyou menoleh dan mendapati semua orang sedang memandanginya sambil tersenyum iba. Bahkan si muka es, Xiao Bao.
Sirrian mendekat dan mengambil kotak telur Zorex dari tangan Zhouyou. Ia menepuk bahu Zhouyou dengan penuh simpati, kemudian turut menghilang ke balik pintu, diikuti oleh Xiao Bao dan Hanna, yang dengan manisnya menepuk lengan Zhouyou sebelum berlalu. Rowena yang menyusul di belakang mereka, berhenti sesaat di depan Zhouyou. Ia berjinjit dan mencium pipi Zhouyou penuh rasa penghiburan. Namun senyumnya terlihat geli. Kemudian iapun turut menghilang kebalik pintu, sementara Zhouyou masih mematung di tempatnya.
Tak lama kemudian Adonis sudah berdiri dihadapannya dan menepuk kedua pipi cucu keponakannya penuh rasa iba. Kepalanya digeleng-gelengkan dan senyum geli terkulum di bibirnya.
"Anak malang. Anak malang." ejeknya. Kemudian ikut menghilang ke balik pintu. Zhouyou menoleh pelan pada Nenek buyut, kakek dan ayahnya yang masih duduk di sofa mereka dengan senyum di bibir.
"Apakah mereka sedang menertawakan aku?" Tanyanya tak yakin. Mendengar pertanyaannya, senyum Bao Yuan bertambah lebar.
"Tentu saja, nak." Jawabnya. Tawa terdengar dalam nada suaranya, membuat Zhouyou meradang dalam hati. Sebagai seseorang yang memegang kekuasaan tertinggi di Sirria, entah kenapa keluarganya tidak pernah memperlakukan Zhouyou dengan penuh hormat layaknya memperlakukan seorang Raja. Sepertinya bagi mereka, Zhouyou masih sama saja dengan Zhouyou kecil yang selalu membuat keributan dan kehebohan. Zhouyou menarik nafas panjang. Belum-belum ia sudah merindukan Ashia.
Persiapan pernikahan Zhouyou berlangsung tanpa campur tangan pengantinnya. Tiba-tiba Zhouyou dan Ashia harus pasrah menerima perawatan khas pengantin yang tidak terduga-duga oleh mereka, disela berbagai kegiatan lainnya. Ashia praktis terkurung di kamar orangtuanya untuk beristirahat atas perintah Sirrian. Semua tindakan facial, massage dan pengepasan gaun pengantin dilakukan di dalam kamar. Sementara itu Zhouyou dipaksa membagi waktu antara mengurus urusan kenegaraan dengan perawatan tubuh serta ritual-ritual sebelum pernikahan.
Asistennya dengan murah hati mengurangi beban kerjanya dan membiarkan Zhouyou memiliki lebih banyak jam bebas agar dapat menikmati persiapan pernikahannya. Namun daripada menikmati, Zhouyou justru merasa sangat sebal, terutama karena ia harus melakukannya sendirian sementara Ashia terkurung dalam kamar orangtuanya. Hal ini menyebabkan Zhouyou menjadi uring-uringan. Sayangnya, bukan merasa simpati, seluruh anggota keluarganya malah menertawakannya. Seringkali mereka dengan sengaja menggoda Zhouyou sehingga membuatnya bertambah kesal.
Kalau sudah begitu, Zhouyou akan segera menuju ke kamar Hazrat untuk bisa menemui Ashia. Sayangnya, dengan tegas orangtua Ashia melarang mereka bertemu dengan dalih bahwa Ashia sedang dalam masa pingitan yang memang umum dilakukan pada 10 hari sebelum pernikahan sampai hari pernikahan tiba. Tak berhasil menemui Ashia, Zhouyou mencoba menghubunginya lewat video call. Namun lagi-lagi Hazrat memaksa mempersingkat komunikasi mereka dengan alasan bahwa Ashia masih perlu banyak istirahat. Melihat senyum jahil mengembang di bibir Hazrat sebelum ia memutuskan video call antar Zhouyou dengan Ashia membuat Zhouyou menyipitkan mata karena sebal, menyadari bahwa Hazrat benar-benar berniat menindasnya kali ini.
Keesokan harinya ketika Zhouyou memprotes sikap ayahnya pada Ashia, bukannya merasa simpati, Aisha malah tertawa terbahak-bahak. Pada akhirnya ia hanya berkata,
"Zhouyou yang malang." lalu mengakhiri video callnya begitu saja. Membuat Zhouyou harus menarik nafas panjang guna menahan kekesalannya. Sungguh si malang, Zhouyou.
Copyright @FreyaCesare