
Hanna duduk diam di atas sebuah batu, di tengah hutan. Otaknya sibuk memutar ulang kata demi kata yang diucapkan wanita itu dibawah kondisi trans barusan.
"Aku melihat kematian dalam takdirmu. Mati! Kau akan menjadi penyebab dari kematian ribuan, tidak, jutaan orang yang tidak berdosa! Keberadaanmu akan menjadi alasan bagi kematian jutaan orang dan apapun yang kau lakukan tidak akan dapat menghentikan takdir ini!"
Adakah makna berbeda dari kalimat "menjadi penyebab dari kematian"? Hanna rasa tidak. Mati adalah mati! Kata 'pergi', 'meninggal' atau 'tiada' bisa menggantikan posisi kata 'mati'. Namun ketika kata 'mati' digunakan dalam kalimat serupa itu, maknanya pasti hanya 1 yaitu mati yang sesungguhnya.
Hanna tahu bahwa kalimat yang digunakan dalam sebuah ramalan bisa muncul dalam bentuk yang ambigu; seambigu yang dimungkinkan. Mungkin hal itu disebabkan oleh karena takdir enggan berbagi informasi yang dimilikinya sehingga ketika para peramal mengintip ke dalam buku catatan milik takdir, kalimat yang mereka gunakan untuk menjelaskannya bisa berupa kata yang campur aduk sehingga terkadang tak mungkin untuk bisa langsung dipahami. Namun kalimat yang diucapkan wanita tersebut begitu jelas dan sederhana.
"Aku melihat kematian dalam takdirmu. Mati! Kau akan menjadi penyebab dari kematian ribuan, tidak, jutaan orang yang tidak berdosa! Keberadaanmu akan menjadi alasan bagi kematian jutaan orang dan apapun yang kau lakukan tidak akan dapat menghentikan takdir ini!"
Apa lagi yang perlu dimaknai dari kalimat-kalimat tersebut diatas? Tidak ada! Kelak jutaan orang akan mati karena diriku, tak perduli apapun yang kulakukan untuk mengubahnya. Sungguh ramalan yang luar biasa!
Hanna ingin tidak mempercayainya. Sungguh, ia ingin melakukannya! Namun bila mengingat semua yang telah dilakukan Baozhu untuk melindunginya dari melakukan kontak dengan dunia luar, Hanna merasa bahwa pasti ada sebuah ramalan yang tidak baik mengenai dirinya. Dengan seorang peramal hebat seperti Xiao Bao di sisi Baozhu, Baozhu pasti telah mengetahui semua ini jauh sebelum orang lain melihatnya.
Menekan tombol dial di atas smartwatchnya, Hanna mencoba menghubungi Baozhu. Setelah deringan ketiga, suara lembut Baozhu terdengar. Entah mengapa, mendengar suara ibunya, mata Hanna langsung berkaca-kaca. Hanna menarik nafas panjang dan berusaha mengatur suaranya.
"Ibu, bagaimana kabarmu?" tanya Hanna.
"Aku baik-baik saja, nak. Tapi aku merindukanmu. Bisakah kau mampir kesini terlebih dahulu sebelum berangkat ke Istana?" Pinta Baozhu.
"Baiklah, Bu. Aku akan mampir kesana terlebih dahulu untuk mengunjungi ibu." Jawab Hanna.
"Hanna, ada apa? Suara terdengar sedikit serak. Apa kau sedang menangis?" Tanya Baozhu setelah diam sesaat. Bulir-bulir air mata langsung mengalir jatuh dari mata indah Hanna yang sekarang memerah begitu mendengar pertanyaan tersebut. Karena tidak mendengar jawaban dari putrinya, Baozhu memanggil kembali.
"Hanna?"
"Ibu, mengapa engkau memerintahkan agar aku di isolasi di Pulau Bunga ini?" Tanya Hanna dengan suara bergetar. Baozhu diam, tak langsung menjawabnya.Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, Hanna bertanya lagi.
"Mengapa aku harus selalu mengenakan cadar ini?" Ia menarik lepas cadar yang telah basah dari wajahnya dan meremas-remasnya dalam genggamannya.
"Mengapa, Bu?" Tanya Hanna lagi.
"Hanna, ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Baozhu hati-hati.
"Jawablah, Bu. Kumohon!" Pinta Hanna.
"Datanglah kemari dan kita bicarakan berdua." terdengar suara Baozhu yang tenang, namun enggan dibantah.
"Mengapa, Bu? Tidak bisakah kau menjawabnya sekarang?" tanya Hanna.
"Hal seperti ini bukan untuk dijelaskan melalui telepon, Hanna. Karena itu lebih baik kita bicarakan saat engkau sudah ada disini." Jawab Baozhu.
"Tapi aku ingin mendengar alasannya sekarang." sahut Hanna pelan, namun Baozhu tidak menjawabnya. Hanya suara helaan nafasnya yang terdengar dari speaker.
"Hanna?" Suara Baozhu memanggilnya pelan terdengar menyiratkan rasa takut. Ibunya tidak pernah takut. Baozhu adalah wanita berhati besi yang selalu menghalau semua rasa takut dengan penuh percaya diri. Satu-satunya saat ketika Baozhu menunjukkan bahwa ia juga memiliki rasa takut adalah saat ketika ia khawatir bahwa sesuatu yang benar-benar buruk telah terjadi pada anak-anaknya. Pemahaman ini membuat Hanna semakin kalut.
"Seseorang mengatakan padaku, bahwa aku akan menjadi penyebab dari kematian jutaan orang yang tidak berdosa," ucap Hanna perlahan. Suaranya bergetar, namun setiap katanya terdengar dengan jelas. "Dan bahwa apapun yang kulakukan... tak akan bisa menghentikan takdir ini." lanjut Hanna. Suara dengusan terkejut terdengar dari speaker. Tak lama kemudian suara Baozhu terdengar.
"Hanna, siapa yang mengatakannya padamu? Kau jangan asal mempercayai begitu saja apa yang kau dengar ya! Ibu bisa menjelaskannya..."
Ah!
"Ibu tidak menyangkalnya." ucap Hanna. Hatinya terasa hancur berkeping-keping.
"Hanna, dengar! Dimanapun kau berada saat ini, segera pergi dan temui Lady Dahlia, lalu tinggallah di sisinya sampai aku tiba disana! Aku akan berangkat sekarang. Kau dengar?" perintah Baozhu tergesa.
"Iya, ibu." Sahut Hanna pelan.
"Jangan lakukan apapun dan jangan pikirkan apapun! Pergilah ke sisi Lady Dahlia saat ini juga!" perintah Baozhu lagi. Hanna mengangguk.
"Baik, ibu." sahutnya pelan. Sambungan telepon langsung dimatikan dari seberang.
***
Baozhu berteriak memanggil Xiao Bao sambil bergerak mengambil semua yang dibutuhkannya untuk dilemparkan ke dalam tas tangannya. Ketika putranya yang shock karena seumur hidupnya belum pernah mendengar ibunya berteriak seperti itu, muncul di ambang pintu; Baozhu langsung memberikan perintahnya.
"Sesuatu telah terjadi pada Hanna. Beritahu Adonis bahwa kita akan terbang ke Pulau Bunga sekarang juga!" Xiao Bao hanya perlu melihat wajah panik ibunya untuk bisa menilai bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada adik bungsunya tersebut. Tanpa berkata-kata ia segera menghubungi Adonis dan menyampaikan perintah Baozhu padanya. Ketika Baozhu dan Xiao Bao sampai di halaman Kuil Langit, sebuah shuttle mungil sudah menunggu dengan Adonis duduk di belakang kursi pilotnya. Baozhu langsung memasuki shuttle dengan diikuti oleh Xiao Bao di belakangnya. Ia kemudian memerintahkan agar Adonis segera membawa mereka semua menuju Pulau Bunga tanpa ditunda-tunda lagi.
Begitu duduk di atas kursi penumpang, Baozhu langsung menghubungi Lady Dahlia, sepenuhnya mengabaikan seatbelt yang seharusnya terpasang di tubuhnya sebelum shuttle tersebut mengudara. Tanpa suara, Xiao Bao menarik Seatbelt tersebut dan memasangkannya ke tubuh Baozhu, sementara Baozhu menunggu Lady Dahlia menjawab sambungan teleponnya dengan tidak sabar.
"Hallo..."
"Seseorang telah memberitahukan isi ramalannya pada Hanna!" Cetus Baozhu. Kemarahan terdengar jelas di setiap katanya.
"Apa..."
"Apa Hanna bersamamu?"
"Tidak..."
"Cari dia! Cari sekarang juga!" Setelah itu Baozhu langsung mematikan sambungan teleponnya. Kemurkaan dan ketakutan telah mewarnai wajahnya yang biasanya teduh dan damai. Siapa? Siapa yang berani mengatakan masalah ini pada Hanna tanpa seijinku? Pikir Baozhu murka.
Xiao Bao dan Adonis yang mendengarkan percakapan Baozhu dan Lady Dahlia di telepon, saling berpandangan dengan terkejut. Tanpa disuruh, Adonis mempercepat laju shuttlenya secepat yang dimungkinkan. Hanna, apakah kau baik-baik saja? Tanya Adonis dalam hati. Ketika hantu dalam lemari akhirnya keluar, semoga semua orang memiliki cukup keberanian dan kekuatan hati untuk menghadapinya.
Copyright @FreyaCesare